Chapter 7 of 51
Chapter 7 — Tujuh Belas Tahun Sebelum Aku Lahir
1.1k words
Malam itu, kediaman Veylcrest tidak tidur.
Para penjaga memeriksa setiap sudut bangunan. Pelayan membawa lampu ke lorong-lorong yang gelap. Para bangsawan keluarga berkumpul di ruang utama, membicarakan serangan yang berakhir tanpa korban dan tanpa satu pun penyerang yang berhasil ditangkap.
Namun Monn tidak mendengarkan mereka.
Ia berada di ruang kerjanya.
Di atas meja terdapat tiga benda.
Token logam.
Buku hitam.
Dan selembar catatan berisi tanggal yang ditemukan di halaman terakhir.
Tujuh belas tahun sebelum kelahirannya.
Monn menatap angka tersebut untuk kesekian kalinya.
“Tidak masuk akal.”
Seraphine yang duduk di seberangnya tidak menjawab.
Ia juga telah melihat catatan itu.
“Kalau tanggal itu benar,” katanya akhirnya, “berarti seseorang sudah mempersiapkan sesuatu sebelum kau lahir.”
“Bukan hanya itu.”
Monn mengetuk buku hitam dengan jarinya.
“Buku ini berada di arsip keluarga Veylcrest.”
“Dan?”
“Kalau catatan ini memang berasal dari tujuh belas tahun sebelum aku lahir, seseorang dari keluarga kami pasti sudah mengetahui tentang kemampuan ini.”
Seraphine mengerutkan kening.
“Blood Thread?”
Monn mengangguk.
“Dan mungkin tentang Mortis.”
Nama itu membuat suasana kembali hening.
Beberapa saat kemudian Seraphine bertanya,
“Kenapa kau tidak menceritakannya kepada keluargamu?”
Monn menatapnya.
“Karena aku belum tahu siapa yang bisa dipercaya.”
“Bahkan keluargamu?”
Monn tidak menjawab.
Seraphine langsung memahami jawabannya.
“Kau benar-benar berubah.”
“Aku sudah bilang.”
“Bukan itu maksudku.”
Seraphine menatapnya serius.
“Dulu kau selalu percaya pada keluargamu.”
Monn tersenyum tipis.
“Dulu aku bodoh.”
“Tidak.”
Seraphine menggeleng.
“Kau hanya terlalu percaya.”
Monn terdiam.
Kalimat itu mengenai sesuatu di dalam dirinya.
Ia menunduk melihat tangannya.
Dalam kehidupan pertama, ia selalu berpikir bahwa mempercayai keluarganya adalah bentuk kesetiaan.
Ia mengikuti keputusan ayahnya.
Menerima nasihat ibunya.
Mendukung Lucien.
Melindungi Elara.
Bahkan ketika semua keputusan itu membawa mereka menuju kehancuran, ia tetap percaya bahwa orang lain lebih tahu apa yang harus dilakukan.
Sampai akhirnya ia mati.
Dan baru saat itu ia menyadari—
ia bahkan tidak pernah mencoba memilih.
“Seraphine.”
“Hmm?”
“Kalau seseorang memberimu pilihan antara hidup yang aman tapi bukan milikmu, dan hidup yang penuh risiko tetapi benar-benar kau pilih sendiri...”
Monn berhenti.
“Mana yang akan kau pilih?”
Seraphine tidak langsung menjawab.
Ia memandang keluar jendela.
“Yang kedua.”
Monn sedikit terkejut.
“Tanpa berpikir?”
“Aku tidak bilang aku akan langsung memilihnya.”
Seraphine tersenyum kecil.
“Aku akan mendengarkan semua orang yang ingin memberiku nasihat.”
Kemudian ia kembali menatap Monn.
“Tapi keputusan akhirnya tetap milikku.”
Monn terdiam.
Jawaban sederhana.
Namun justru itu yang selama ini tidak pernah ia lakukan.
Tiba-tiba—
Tok. Tok.
Pintu diketuk.
Monn segera menutup buku hitam.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Lucien berdiri di sana.
Wajahnya jauh lebih serius daripada biasanya.
“Monn.”
“Apa?”
“Ayah memanggilmu.”
“Kenapa?”
“Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di ruang bawah tanah.”
Monn menatap Lucien.
“Bagaimana dia tahu?”
Lucien tidak langsung menjawab.
“Ada penjaga yang melihatmu masuk bersama Seraphine.”
Monn menghela napas.
“Baik.”
Ia berdiri.
Sebelum keluar, ia mengambil token dan menyimpannya di balik pakaiannya.
Buku hitam tetap berada di meja.
Seraphine memandangnya.
“Aku akan menjaganya.”
Monn mengangguk.
Mereka berpisah.
---
Ruang rapat keluarga berada di bagian tertua kediaman.
Duke Alaric duduk di ujung meja.
Di sampingnya Evelyne.
Lucien berdiri di sebelah kiri.
Elara tidak ada.
Monn masuk dan menutup pintu.
Ayahnya langsung berbicara.
“Duduk.”
Monn duduk.
Alaric menatapnya cukup lama.
“Serangan tadi bukan serangan biasa.”
“Aku tahu.”
“Bagaimana kau tahu?”
Monn tidak menjawab.
Alaric menyipitkan mata.
“Kau menuju ruang bawah tanah sebelum pasukan kami menemukan penyusup.”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Aku melihat mereka bergerak.”
“Dari mana?”
Monn terdiam.
Ia tidak mungkin mengatakan Blood Thread.
Belum.
“Insting.”
Lucien menghela napas.
“Monn.”
“Apa?”
“Jangan berbohong kepada ayah.”
Monn menatap kakaknya.
“Aku tidak berbohong.”
“Kau menyembunyikan sesuatu.”
“Itu berbeda.”
Alaric mengetuk meja.
“Cukup.”
Ruangan kembali sunyi.
Duke Veylcrest menatap putranya.
“Sejak beberapa minggu terakhir, perilakumu berubah.”
Monn tidak bereaksi.
“Kau menolak rencana yang sudah disiapkan untukmu.”
“Karena aku tidak menginginkannya.”
“Kau mulai menyelidiki arsip keluarga.”
Monn diam.
“Kau mempertanyakan penjaga.”
Diam.
“Dan sekarang kau berada di ruang bawah tanah yang bahkan sebagian besar anggota keluarga tidak mengetahui keberadaannya.”
Alaric menyandarkan tubuh.
“Aku ingin tahu apa yang kau cari.”
Monn menatap ayahnya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di balik ekspresi dingin itu.
Kekhawatiran.
Bukan sekadar kemarahan.
Ayahnya mungkin benar-benar takut.
Tetapi takut terhadap apa?
“Kalau aku mengatakan yang sebenarnya,” kata Monn perlahan, “apakah Ayah akan mempercayaiku?”
Alaric menjawab tanpa ragu.
“Tidak jika ceritamu tidak masuk akal.”
Monn hampir tersenyum.
“Jawaban yang jujur.”
“Monn.”
“Aku menemukan sesuatu tentang keluarga kita.”
Alaric menegang.
“Darah kita.”
“Blood Art?”
“Bukan.”
Monn menatapnya.
“Blood Thread.”
Untuk pertama kalinya—
wajah Alaric berubah.
Hanya sepersekian detik.
Namun Monn melihatnya.
Mata ayahnya sedikit melebar.
Jarinya berhenti mengetuk meja.
Kemudian semuanya kembali normal.
Tapi terlambat.
Monn sudah melihatnya.
Dia tahu.
“Ayah mengenalnya.”
Tidak ada jawaban.
“Ayah tahu apa itu Blood Thread.”
Evelyne perlahan menoleh kepada Alaric.
Bahkan ia tampak terkejut.
Lucien juga diam.
Alaric akhirnya berkata,
“Dari mana kau mendengar nama itu?”
“Jadi benar.”
Monn berdiri.
“Ayah tahu.”
“Duduk.”
“Tidak.”
Suasana berubah.
“Aku sudah menghabiskan satu kehidupan dengan menerima semua keputusan keluarga.”
Alaric berdiri.
“Jangan bicara seolah kau tahu segalanya.”
“Aku memang tidak tahu.”
Monn menatapnya lurus.
“Itulah masalahnya.”
Alaric tidak berkata apa-apa.
Monn melanjutkan.
“Aku tidak tahu kenapa keluarga kita memiliki arsip tentang kemampuan yang seharusnya tidak diketahui siapa pun.”
“Monn.”
“Aku tidak tahu kenapa ada orang yang menyerang rumah kita hanya untuk meninggalkan pesan.”
“Aku bilang cukup.”
“Dan aku tidak tahu kenapa Ayah terlihat takut ketika aku menyebut Blood Thread.”
Kalimat terakhir membuat ruangan membeku.
Evelyne berdiri perlahan.
“Alaric...”
Duke Veylcrest menutup matanya sesaat.
Kemudian berkata,
“Blood Thread bukan kemampuan keluarga kita.”
Monn terdiam.
“Lalu apa?”
“Kesalahan.”
Satu kata.
Monn mengerutkan kening.
“Apa maksudnya?”
Alaric berjalan menuju jendela.
“Dahulu, ada seseorang dalam keluarga Veylcrest yang memiliki kemampuan itu.”
“Siapa?”
“Adikku.”
Monn membeku.
“Ayah punya saudara?”
Lucien terlihat sama terkejutnya.
Alaric mengangguk.
“Namanya Edrin Veylcrest.”
“Di mana dia sekarang?”
Alaric tidak menjawab.
Monn sudah mengetahui jawabannya sebelum mendengarnya.
“Dia meninggal?”
“Tidak.”
Alaric menatap keluar jendela.
“Dia menghilang.”
Monn merasa dingin.
“Berapa lama?”
“Tujuh belas tahun sebelum kau lahir.”
Jantung Monn seolah berhenti.
Tanggal.
Buku.
Edrin.
Semuanya terhubung.
Monn perlahan mengeluarkan token dari sakunya dan meletakkannya di atas meja.
Alaric langsung pucat.
Evelyne menutup mulut.
Lucien menatap benda itu dengan bingung.
“Dari mana kau mendapatkan itu?”
Monn tidak menjawab.
Ia justru bertanya,
“Siapa yang terakhir melihat Edrin?”
Alaric menatap token itu.
Kemudian berkata dengan suara rendah,
“Aku.”
“Dan apa yang terjadi?”
“Dia mengatakan satu hal kepadaku.”
“Apa?”
Alaric menatap Monn.
“Katanya suatu hari nanti akan lahir seorang anak yang membawa kemampuan itu kembali.”
Ruangan menjadi sunyi.
Monn merasakan sesuatu bergerak di belakangnya.
Bayangan Mortis muncul samar di dinding.
Namun kali ini Mortis tidak berkata “Tarik.”
Ia hanya berbisik:
“...Terlambat.”
Monn menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Ketika ia kembali melihat ayahnya, Alaric masih menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan—
Monn menyadari bahwa keluarganya mungkin telah menunggu kelahirannya jauh sebelum dirinya sendiri mengetahui bahwa ia akan ada.
Namun satu pertanyaan masih belum terjawab.
Jika Edrin mengetahui bahwa Monn akan lahir...
siapa yang memberitahunya?