Chapter 6 of 51
Chapter 6 — Nama yang Seharusnya Tidak Diketahui
1.2k words
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sempit.
Bukan karena ukurannya.
Melainkan karena tiga keberadaan di dalamnya seolah menarik udara dari tempat tersebut.
Monn berdiri di depan meja batu.
Seraphine berada beberapa langkah di belakangnya.
Sementara sosok berjubah hitam itu—Asterion—berdiri tenang di ambang pintu.
Dan di antara mereka semua...
Mortis.
Bayangan hitam yang selama ini hanya muncul sebagai bisikan dan pertanda kini berdiri dengan wujud yang jauh lebih jelas.
Monn menatapnya.
“Jadi kau mengenalnya.”
Mortis tidak menjawab.
“Aku bertanya.”
Kali ini suara Monn terdengar lebih keras.
Mortis perlahan mengangkat kepalanya.
“Tidak semua nama harus kau ketahui.”
Monn tertawa pendek.
“Lucu.”
Ia menunjuk Asterion.
“Orang ini mengetahui kehidupan pertamaku.”
Kemudian ia menunjuk Mortis.
“Dan kau mengenalnya.”
Tangannya mengepal.
“Tapi aku yang menjadi pusat semua ini justru tidak tahu apa-apa.”
Asterion tersenyum tipis.
“Itulah masalahmu, Monn.”
“Apa?”
“Kau terlalu terbiasa menganggap ketidaktahuan sebagai sesuatu yang harus segera kau kuasai.”
Monn menatapnya tajam.
“Karena setiap kali aku tidak tahu sesuatu, seseorang mati.”
Ruangan menjadi sunyi.
Seraphine menoleh kepadanya.
Monn sendiri baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.
Asterion tidak menunjukkan keterkejutan.
“Jadi kau masih mengingatnya.”
Monn membeku.
“Masih?”
Asterion berjalan perlahan menuju meja.
“Dalam kehidupan pertama, kau juga memiliki kebiasaan itu.”
“Berhenti bicara seolah kau mengenalku.”
“Aku mengenal pilihanmu.”
Asterion berhenti di depan buku hitam.
“Dan pilihan seseorang sering kali lebih jujur daripada dirinya sendiri.”
Monn melihat Blood Thread di sekitar tubuh Asterion.
Ada sesuatu yang aneh.
Benang miliknya tidak seperti manusia lain.
Tidak banyak.
Tidak sedikit.
Hampir tidak ada.
Seolah Asterion bukan seseorang yang memiliki hubungan dengan dunia.
Atau—
Seolah seluruh hubungan miliknya telah dipotong.
Monn mengangkat tangannya.
Satu benang merah melesat.
Sret!
Asterion menghindar dengan gerakan kecil.
Benang itu menghantam dinding.
Batu retak.
Seraphine terkejut.
“Monn!”
“Aku tidak akan membiarkannya pergi.”
Monn menarik tangannya.
Benang yang tertanam di dinding bergerak kembali.
Namun Asterion sudah berada di sisi lain ruangan.
Cepat.
Terlalu cepat untuk seseorang yang terlihat santai.
“Kau semakin kasar,” katanya.
“Aku tidak peduli.”
Monn kembali menyerang.
Kali ini beberapa benang muncul sekaligus.
Satu menuju kaki.
Satu menuju tangan.
Satu lagi melingkar dari samping.
Asterion melompat mundur.
Benang-benang tersebut saling bertabrakan dan membentuk jebakan.
Monn tersenyum tipis.
Terperangkap.
Ia menarik tangan.
Namun Asterion justru berhenti bergerak.
Benang itu menembus tubuhnya tanpa menyentuh apa pun.
Monn membeku.
“Mustahil.”
Tubuh Asterion seperti bayangan.
Bukan benar-benar tidak ada.
Tetapi tidak sepenuhnya berada di tempat yang sama.
Asterion menatap benang di udara.
“Blood Thread tidak dapat menarik sesuatu yang tidak terikat.”
Monn langsung mengerti.
Tidak terikat.
Itu sebabnya ia tidak bisa melihat benangnya.
Bukan karena Asterion tidak memiliki benang.
Melainkan karena—
“...kau sudah memutus hubunganmu dengan orang lain.”
Asterion tersenyum.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Monn menatapnya dengan kebencian.
“Kenapa?”
“Karena keterikatan adalah kelemahan.”
“Omong kosong.”
“Benarkah?”
Asterion menunjuk Seraphine.
Monn menoleh.
Asterion kemudian menunjuk dirinya sendiri.
“Kau memiliki keluarga.”
Jarinya bergeser kepada buku.
“Kau memiliki rumah.”
Kemudian kepada Seraphine.
“Kau memiliki seseorang yang ingin kau lindungi.”
Seraphine mengerutkan kening.
“Jangan libatkan aku.”
Asterion mengabaikannya.
“Dan selama kau memiliki semua itu, akan selalu ada sesuatu yang dapat digunakan untuk mengendalikanmu.”
Monn diam.
Kalimat itu terasa familiar.
Terlalu familiar.
Karena pada kehidupan pertama—
keluarganya memang telah menjadi alasan untuk setiap keputusan yang ia buat.
Kehormatan keluarga.
Keinginan ayahnya.
Harapan ibunya.
Masa depan Lucien.
Keselamatan Elara.
Bahkan Seraphine.
Semuanya menjadi alasan untuk tidak pernah bertanya:
Apa yang sebenarnya kuinginkan?
Asterion tersenyum melihat perubahan ekspresi Monn.
“Itulah yang ingin kau hindari.”
Monn menatapnya.
“Tapi kau salah.”
“Di mana?”
“Aku tidak ingin menjadi seperti kau.”
Asterion terdiam.
“Aku tidak ingin memutus semua hubungan hanya agar tidak bisa dikendalikan.”
Monn menurunkan tangannya.
“Aku hanya ingin bisa memilih.”
Untuk beberapa detik, Asterion tidak berkata apa-apa.
Kemudian—
Ia tertawa.
Bukan tawa keras.
Hanya suara pendek yang sulit dibaca.
“Bagus.”
“Apa?”
“Setidaknya kau belum sepenuhnya berubah.”
Monn mengerutkan kening.
“Belum?”
Asterion berbalik menuju pintu.
“Jangan terlalu percaya diri.”
Monn langsung mengangkat Blood Thread.
“Kau tidak akan pergi.”
Asterion berhenti.
“Lihat ke atas.”
Monn mendongak.
Atap ruangan bergetar.
BOOM!
Debu berjatuhan.
Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.
Kemudian teriakan.
“Tuanku!”
“Penyusup di ruang bawah tanah!”
Asterion melirik ke arah tangga.
“Waktu kita habis.”
Monn maju.
“Siapa yang mengirimmu?”
Asterion tidak menjawab.
“Kenapa kau tahu aku akan kembali?”
Tetap diam.
“Siapa yang mengatur semua ini?”
Asterion akhirnya menoleh.
“Pertanyaan terakhir.”
Monn menunggu.
“Kenapa kau berpikir seseorang harus mengatur semuanya?”
Monn terdiam.
Asterion mengangkat tangannya.
Sebuah benda kecil dilemparkan ke lantai.
Ting.
Sebuah token logam.
Monn langsung mengenalinya.
Token yang sebelumnya ditemukan pada Garrick.
Matanya melebar.
“Jadi kau—”
“Garrick hanya satu simpul kecil.”
Asterion melangkah mundur.
“Jangan buang waktumu mengejar simpul.”
“Kalau begitu apa yang harus kukejar?”
Asterion tersenyum.
“Cari siapa yang memegang ujungnya.”
Tubuhnya perlahan tertutup bayangan.
Monn segera menarik Blood Thread.
Namun kali ini—
tidak ada apa pun yang bisa ditarik.
Asterion menghilang.
Seraphine berjalan mendekat.
“Monn.”
Ia tidak menjawab.
Matanya tertuju pada token logam di lantai.
Ia mengambilnya.
Ada simbol baru di bagian belakang.
Sebuah lingkaran.
Dengan satu garis yang menembus tengahnya.
Simbol yang sama seperti buku hitam.
“Ini bukan sekadar token.”
Seraphine mengangguk.
“Aku rasa tidak.”
Monn membuka buku hitam di atas meja.
Halaman pertama kosong.
Halaman kedua juga.
Ketika ia membuka halaman ketiga—
sebuah kalimat muncul perlahan.
Bukan ditulis oleh tangan.
Bukan tinta.
Melainkan garis merah tipis yang terbentuk sendiri di atas kertas.
SESEORANG TELAH MEMEGANG BENANGMU JAUH SEBELUM KAU MENYADARINYA.
Monn menatap kalimat itu.
Kemudian tulisan berikutnya muncul.
DAN KAU SUDAH MENARIKNYA.
Jantung Monn berdegup keras.
“Tidak...”
Seraphine membaca tulisan tersebut.
“Monn?”
Ia membuka halaman berikutnya.
Kosong.
Halaman berikutnya.
Kosong.
Sampai halaman terakhir.
Di sana hanya ada satu nama.
MONN VEYL CREST
Di bawahnya terdapat sebuah tanggal.
Tanggal yang membuat wajah Monn kehilangan warna.
Tanggal itu bukan hari ini.
Bukan tanggal kematiannya dalam kehidupan pertama.
Bukan pula tanggal ia kembali.
Tanggal itu adalah—
tujuh belas tahun sebelum kelahirannya.
Monn perlahan menutup buku.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia tidak merasa sedang mengejar masa depan.
Ia merasa sedang mengejar sesuatu yang sudah menunggunya sejak sebelum ia lahir.
Di atas mereka, lonceng darurat berhenti.
Suasana mendadak sunyi.
Terlalu sunyi.
Lalu seorang prajurit berteriak dari tangga.
“TUAN MUDA!”
Monn menoleh.
Prajurit itu berdiri dengan wajah pucat.
“Serangan di gerbang timur sudah berhenti.”
Monn menghela napas pendek.
“Berapa korban?”
Prajurit itu menunduk.
“Tidak ada.”
Monn terdiam.
“Tidak ada?”
“Tidak ada satu pun penyerang yang tertangkap.”
“Lalu kenapa mereka berhenti?”
Prajurit itu menelan ludah.
“Mereka meninggalkan sesuatu.”
“Apa?”
“Di depan gerbang.”
Prajurit itu menatap Monn.
“Pesan untuk Anda.”
Monn berjalan menaiki tangga.
Seraphine mengikuti.
Ketika mereka tiba di halaman, para penjaga telah berkumpul mengelilingi gerbang.
Di tengah tanah terdapat puluhan benda kecil.
Token logam.
Semuanya sama.
Semuanya memiliki simbol lingkaran dengan satu garis di tengah.
Dan di antara token-token itu terdapat sebuah tulisan yang dibuat menggunakan tinta merah.
Monn berdiri di depannya.
Ia membaca perlahan.
“KAU TIDAK KEMBALI UNTUK MENYELAMATKAN MEREKA.”
Angin malam berembus.
Lalu satu kalimat lain terlihat di bawahnya.
“KAU KEMBALI UNTUK MENYELESAIKAN APA YANG KAU MULAI.”
Monn tidak bergerak.
Seraphine menatapnya.
“Monn... apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupanmu yang pertama?”
Monn ingin menjawab.
Namun tidak ada kata yang keluar.
Karena untuk pertama kalinya—
ia mulai meragukan ingatannya sendiri.
Dan jika ingatannya memang tidak lengkap...
maka mungkin tragedi yang selama ini ia kira sebagai akhir dari hidupnya—
sebenarnya hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.