Chapter 5 of 51
Chapter 5 — Serangan yang Terlalu Dini
1.1k words
Ledakan kedua terdengar sebelum Monn sempat meninggalkan balkon.
BOOM!
Getarannya merambat melalui lantai batu kediaman Veylcrest.
Beberapa burung yang bertengger di atap beterbangan panik. Dari kejauhan terdengar teriakan para penjaga, langkah kaki yang berlarian, dan suara lonceng peringatan yang dipukul berkali-kali.
Monn berdiri diam.
Matanya masih tertuju pada kaca jendela.
Tulisan KAU TERLAMBAT perlahan menghilang bersama embun yang mengering.
Namun sesuatu masih terlihat.
Satu garis merah tipis.
Keluar dari dadanya.
Melintasi ruangan.
Kemudian menghilang ke arah timur.
Monn mengepalkan tangannya.
“Jadi ini yang kau inginkan?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara lonceng.
Monn berbalik dan berlari keluar kamar.
Koridor kediaman yang biasanya tenang berubah menjadi kekacauan.
Para pelayan menyingkir ketika para prajurit berlari menuju tangga. Beberapa bangsawan keluarga Veylcrest keluar dari ruangan masing-masing dengan wajah tegang.
“Tuanku!”
Seorang prajurit berhenti di depan Monn.
“Gerbang timur ditembus?”
“Belum, Tuan Muda! Mereka baru menghancurkan bagian luar pertahanan!”
“Siapa mereka?”
“Belum diketahui.”
Monn mengerutkan kening.
Belum diketahui?
Dalam kehidupan pertamanya, serangan terhadap Veylcrest bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba.
Ia masih mengingatnya.
Dua tahun dari sekarang.
Pasukan kecil.
Penyusup.
Kemudian konflik politik yang jauh lebih besar.
Tetapi sekarang?
Ia baru berusia tujuh belas tahun.
Dan semuanya terjadi terlalu cepat.
“Berapa jumlah mereka?”
“Tidak lebih dari dua puluh orang yang terlihat.”
“Dua puluh?”
Monn berhenti.
Itu terlalu sedikit untuk menyerang kediaman Duke.
Terlalu sedikit untuk perang.
Tapi mungkin cukup untuk sesuatu yang lain.
Pengalihan.
“Jangan ke gerbang timur.”
Prajurit itu terkejut.
“Apa?”
“Panggil sepuluh orang dan periksa gudang senjata, ruang arsip, dan lorong bawah tanah.”
“Tapi gerbang—”
“Gerbang timur adalah tujuan yang mereka ingin kita lihat.”
Prajurit itu ragu.
Monn menatapnya.
“Kalau aku salah, kau boleh menyalahkanku setelah semuanya selesai.”
Beberapa detik berlalu.
Akhirnya prajurit itu mengangguk.
“Baik!”
Ia segera berlari.
Monn melanjutkan langkahnya.
Namun baru beberapa meter—
“Monn!”
Ia mengenal suara itu.
Seraphine.
Gadis itu berlari dari arah tangga dengan pakaian akademi yang belum sepenuhnya rapi. Rambut putih keperakannya bergerak mengikuti langkahnya.
“Apa yang terjadi?”
“Serangan.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu jangan berada di sini.”
Seraphine menatapnya tajam.
“Kau menyuruhku pergi?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu siapa musuhnya.”
Seraphine terdiam.
Monn melanjutkan.
“Dan itu membuat situasinya lebih berbahaya daripada kalau kita tahu siapa mereka.”
Seraphine memandang wajahnya beberapa saat.
“Kau berbeda.”
Monn berhenti.
“Sudah pernah kau katakan.”
“Tidak.”
Seraphine menggeleng.
“Kali ini berbeda.”
Tatapan gadis itu turun ke tangan Monn.
“Kau terlihat seperti seseorang yang sudah pernah menghadapi ini.”
Monn tidak menjawab.
Karena kalimat itu terlalu dekat dengan kebenaran.
Tiba-tiba—
KRAK!
Sebuah anak panah menancap di dinding di samping mereka.
Seraphine tersentak.
Monn langsung menariknya menjauh dari lorong.
“Turun!”
Mereka berlindung di balik pilar.
Beberapa detik kemudian, tiga prajurit berlari melewati mereka.
“Penyusup!”
Monn mengintip dari balik pilar.
Satu sosok berpakaian gelap bergerak cepat di ujung koridor.
Bukan menuju gerbang.
Melainkan menuju bagian dalam kediaman.
Monn menyipitkan mata.
Jadi benar.
Serangan di gerbang hanyalah umpan.
Ia mengaktifkan Blood Thread.
Dunia di depannya berubah.
Garis-garis merah bermunculan di antara manusia.
Penjaga.
Pelayan.
Prajurit.
Seraphine.
Dan sosok berjubah hitam itu.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Benang sosok tersebut sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Monn mencoba mengikuti arahnya.
Lalu ia melihat satu garis.
Garis hitam.
Terhubung dari sosok itu menuju tempat lain.
Bukan ke luar kediaman.
Ke bawah.
Ruang bawah tanah.
Monn langsung berdiri.
“Aku tahu tujuan mereka.”
Seraphine memandangnya.
“Dari mana?”
“Percayalah.”
“Monn—”
“Aku tidak punya waktu menjelaskan.”
Ia berlari.
Seraphine mengikutinya.
Mereka melewati tangga menuju lantai bawah.
Semakin jauh mereka turun, semakin sunyi keadaan.
Suara pertempuran di atas mulai terdengar jauh.
Monn berhenti di depan sebuah pintu tua.
Di atasnya terdapat lambang keluarga Veylcrest.
Pintu yang selama kehidupan pertamanya hampir tidak pernah ia perhatikan.
Arsip Darah.
Monn menatapnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Dalam kehidupan pertama, tempat ini selalu dikunci.
Ia bahkan tidak pernah tahu apa yang ada di dalamnya.
“Monn,” bisik Seraphine.
“Ada sesuatu di balik pintu ini.”
Monn menyentuh gagangnya.
Dingin.
Kemudian—
Klik.
Pintu terbuka sendiri.
Monn membeku.
“Mustahil.”
Tidak ada kunci.
Tidak ada mekanisme.
Seolah seseorang sudah membukanya dari dalam.
Mereka masuk.
Ruangan itu dipenuhi rak-rak tua.
Buku.
Dokumen.
Lukisan.
Dan benda-benda yang bahkan Monn tidak mengenali.
Di tengah ruangan terdapat sebuah meja batu.
Di atasnya ada satu buku besar.
Sampulnya hitam.
Tanpa judul.
Namun Blood Thread di sekitar buku itu begitu padat sampai Monn hampir tidak bisa melihat meja di bawahnya.
Seraphine menarik napas.
“Itu...”
“Kau mengenalinya?”
“Tidak.”
Seraphine menggeleng.
“Tapi aku tahu lambang di sampulnya.”
Monn menatap lambang tersebut.
Sebuah lingkaran.
Di dalamnya terdapat garis yang saling berpotongan.
Seperti ribuan benang yang bertemu di satu titik.
“Thread of Origin.”
Suara lain terdengar dari belakang.
Monn dan Seraphine langsung berbalik.
Seorang pria berdiri di pintu.
Jubah hitam.
Wajah tertutup.
Sama seperti sosok yang pernah ditemui Monn sebelumnya.
Monn merasakan hawa dingin menjalar di tubuhnya.
“Kaulah orangnya.”
Pria itu tidak menjawab.
Monn maju satu langkah.
“Kenapa kau menyerang keluargaku?”
“Serangan?”
Pria itu tertawa kecil.
“Kalau aku ingin menghancurkan keluargamu, Monn Veylcrest, menurutmu aku akan mengirim dua puluh orang?”
Monn terdiam.
Pria itu menunjuk buku di meja.
“Aku datang untuk mengambil sesuatu.”
“Apa?”
“Bukan milikku.”
Monn menatap buku tersebut.
“Kalau begitu kenapa membawanya?”
“Karena benda itu sudah lama menunggu pemiliknya.”
Pria itu mengangkat tangannya.
Blood Thread di ruangan bergetar.
Monn refleks mengangkat tangannya juga.
Garis merah muncul di udara.
Pria tersebut berhenti.
Untuk pertama kalinya, Monn melihat perubahan pada sikapnya.
Bukan takut.
Lebih seperti...
tertarik.
“Jadi akhirnya kau benar-benar menggunakannya.”
Monn mengepalkan tangan.
“Kau tahu kemampuanku.”
“Aku tahu lebih banyak daripada itu.”
“Siapa kau?”
Pria itu diam.
Kemudian ia berkata,
“Orang yang memastikan kehidupan keduamu dimulai tepat waktu.”
Monn merasa seluruh tubuhnya menegang.
“Jadi kau yang mengembalikanku?”
“Bukan.”
Jawaban itu terlalu cepat.
“Aku hanya membuka pintu.”
“Lalu siapa yang berada di baliknya?”
Pria itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia memandang Monn dengan tenang.
“Pertanyaan yang salah.”
“Apa?”
“Seharusnya kau bertanya... kenapa kau begitu mudah percaya bahwa kehidupan keduamu adalah kesempatan?”
Monn terdiam.
Seraphine menatap pria itu dengan curiga.
“Kalau begitu apa sebenarnya yang kau inginkan?”
Pria tersebut menunjuk dada Monn.
“Dia.”
Monn membeku.
“Siapa?”
“Yang berdiri di belakangmu.”
Udara terasa membeku.
Monn perlahan menoleh.
Bayangan hitam muncul di lantai.
Tinggi.
Memanjang.
Dua mata merah samar terbuka di dalam kegelapan.
Mortis.
Namun kali ini—
Mortis tidak menatap Monn.
Ia menatap pria berjubah hitam itu.
Untuk pertama kalinya sejak Monn kembali ke masa lalu, Mortis berbicara tanpa menyuruhnya menarik sesuatu.
“...Asterion.”
Pria berjubah hitam itu tersenyum.
“Sudah lama, Mortis.”
Monn membeku.
Dia mengenal Mortis.
Dan lebih buruk lagi—
Mortis mengenalnya juga.
Di atas mereka, suara ledakan kembali terdengar.
Namun kali ini Monn tidak peduli.
Karena ia akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Serangan ini bukan awal dari perubahan sejarah.
Serangan ini adalah bagian dari sejarah yang sudah berubah sebelum ia kembali.