Chapter 50 of 51

Bab 50 — Benang yang Tidak Lagi Ditarik

1.3k words

Pagi datang tanpa suara. Tidak ada mahkota hitam di langit. Tidak ada jam yang menghitung mundur. Tidak ada bisikan dari balik dinding. Blackvale hanya menjadi sebuah kota yang perlahan kembali menjalani kehidupannya. Para penjaga membuka gerbang. Pedagang mulai menata barang. Anak-anak kembali berlarian di jalan. Orang-orang berbicara tentang kejadian malam sebelumnya, meskipun sebagian besar dari mereka bahkan tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi. Monn berdiri di atas balkon kediaman Veylcrest. Tangannya berada di pagar batu. Ia memperhatikan kota. Dulu, pemandangan seperti ini akan membuatnya berpikir tentang bagaimana menjaga semuanya. Siapa yang harus dilindungi. Siapa yang berpotensi mengkhianatinya. Siapa yang harus diawasi. Benang mana yang harus ditarik sebelum sesuatu terjadi. Sekarang tidak. Ia hanya melihat. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan sebuah pagi berlalu tanpa berusaha mengubahnya. "Masih berdiri di sana?" Suara Seraphine terdengar dari belakang. Monn tidak menoleh. "Sepertinya begitu." "Kau sudah hampir satu jam." "Benarkah?" "Benar." Monn tersenyum kecil. "Aku sedang belajar melakukan sesuatu yang tidak berguna." Seraphine berjalan mendekat. "Melihat matahari?" "Ya." "Itu tidak terlalu buruk." "Aku biasanya lebih suka memikirkan sepuluh kemungkinan buruk yang bisa terjadi." Seraphine tertawa kecil. "Dan sekarang?" Monn menatap langit. "Sekarang aku mencoba melihat apa yang terjadi tanpa memikirkan sepuluh kemungkinan." Seraphine berdiri di sampingnya. Beberapa saat mereka diam. Kemudian Seraphine berkata, "Kau berubah." Monn mengangkat alis. "Buruk?" "Entahlah." "Jawaban yang aman." "Aku tidak sedang mencoba membuatmu nyaman." Monn tersenyum. "Aku tahu." Seraphine menatap tangannya. "Benang itu masih ada?" Monn melihat benang hitam tipis yang melingkari jarinya. "Masih." "Kau masih bisa menggunakannya?" "Ya." Seraphine menghela napas. "Dan kau tidak takut?" Monn terdiam. Dulu ia pasti akan menjawab tidak. Sekarang jawabannya berbeda. "Takut." Seraphine menoleh. Monn melanjutkan, "Justru karena itu aku tidak ingin menggunakannya sembarangan." Seraphine tersenyum. "Bagus." "Bagus?" "Setidaknya sekarang kau takut pada kekuatanmu sendiri." Monn tertawa pelan. "Kalimat itu terdengar seperti penghinaan." "Anggap saja pujian." Mereka kembali diam. Lalu suara langkah terdengar. Lucien muncul di balkon. "Aku mengganggu?" "Ya," jawab Seraphine. Lucien menghela napas. "Aku bahkan belum bicara." "Itu bukan masalah." Monn tertawa. Lucien menyerahkan sebuah surat kepadanya. "Ini datang pagi tadi." Monn menerima surat tersebut. Tidak ada lambang keluarga. Tidak ada nama pengirim. Hanya satu kalimat di bagian depan. UNTUK MONN VEYLCREST. Monn membuka surat itu. Isinya pendek. > "Kami tidak akan mengawasimu lagi." Monn membaca kalimat itu dua kali. Di bawahnya terdapat satu tulisan tambahan. "Sekarang pilihanmu benar-benar milikmu." Tidak ada tanda tangan. Monn melipat surat itu. "Pengamat?" Lucien menggeleng. "Entahlah." Monn memasukkan surat ke dalam sakunya. "Dulu aku pasti akan mencari tahu siapa yang mengirimnya." "Dan sekarang?" Monn memandang surat itu. "Aku tidak perlu tahu." Lucien terdiam. "Serius?" "Ya." "Kenapa?" "Karena kalau aku terus mencari siapa yang mengawasi hidupku, aku masih membiarkan mereka menentukan ke mana perhatianku harus pergi." Lucien tersenyum. "Kau benar-benar berubah." Monn mengangkat bahu. "Mungkin." Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil. Elara muncul dari pintu balkon. "Monn!" Monn langsung menoleh. Elara berlari ke arahnya. Monn berjongkok dan membiarkan adiknya memeluknya. "Aku dengar kau mau pergi." Monn mengerutkan kening. "Siapa yang bilang?" "Ayah." Monn melirik Lucien. Lucien langsung mengangkat kedua tangannya. "Jangan lihat aku." Elara melepaskan pelukannya. "Kau mau ke mana?" Monn tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu sederhana. Namun dulu pertanyaan sederhana seperti itu selalu memiliki jawaban yang sudah ditentukan orang lain. Sekolah. Keluarga. Politik. Pernikahan. Kewajiban. Sekarang ia benar-benar tidak tahu. "Entahlah." Elara tampak bingung. "Jadi kau tidak punya tujuan?" "Belum." "Kalau begitu aku ikut." "Elara." "Kenapa?" "Kau masih harus belajar." "Aku bisa belajar di perjalanan." Lucien tertawa. Seraphine menutup mulutnya agar tidak ikut tertawa. Monn menghela napas. "Belum tentu aku pergi jauh." Elara memandangnya dengan mata penuh harapan. "Janji?" Monn terdiam. Dulu ia mungkin akan membuat janji. Janji bahwa semuanya akan baik-baik saja. Janji bahwa ia akan kembali. Janji bahwa tidak ada yang akan kehilangan siapa pun lagi. Sekarang ia tidak ingin memberikan janji yang tidak bisa ia pastikan. "Aku akan berusaha." Elara mengangguk. "Baik." Sederhana. Tidak ada tuntutan. Tidak ada paksaan. Hanya sebuah pilihan. Monn tersenyum. Kemudian langkah berat terdengar dari belakang. Duke Alaric muncul. Semua orang menjadi sedikit lebih diam. Alaric memandang Monn. "Kau akan pergi?" "Ya." "Berapa lama?" "Aku tidak tahu." "Ke mana?" "Aku juga tidak tahu." Alaric menghela napas. "Dulu aku akan melarangmu." Monn menatap ayahnya. "Aku tahu." "Tapi sekarang..." Alaric berhenti. Sepertinya bahkan dirinya sendiri kesulitan mengucapkan kalimat berikutnya. "Pergilah." Monn terdiam. Alaric melanjutkan, "Jika kau kembali, kembali karena kau ingin." Monn menatap ayahnya beberapa saat. "Dan jika aku tidak kembali?" Alaric tidak menjawab untuk beberapa detik. Kemudian berkata, "Maka aku akan belajar menerima bahwa itu pilihanmu." Monn tersenyum kecil. "Terima kasih." Alaric mengangguk. Tidak ada pelukan. Tidak ada kata-kata dramatis. Hanya dua orang yang akhirnya memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah mereka pahami. Bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti menentukan jalannya. --- Beberapa jam kemudian, Monn berdiri di depan gerbang Blackvale. Seraphine berdiri di sebelahnya. Cael juga ikut. Lucien mengantar sampai gerbang. Elara berdiri sedikit jauh bersama Evelyne. Duchess itu tidak mengatakan banyak. Ia hanya memandang putranya. Monn mengangkat tangan. Evelyne membalas. Tidak ada manipulasi. Tidak ada kata-kata yang disusun agar Monn merasa bersalah. Hanya perpisahan. Monn melangkah keluar. Satu langkah. Kemudian langkah berikutnya. Ia berhenti sebentar. Menatap jalan panjang di hadapannya. Dulu ia pernah menjalani kehidupan kedua untuk memperbaiki kehidupan pertama. Dan sekarang ia sadar— ia tidak membutuhkan kehidupan ketiga. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk menjalani kehidupan yang sedang dimilikinya. Monn melanjutkan perjalanan. Seraphine menyusul. Cael berjalan beberapa langkah di belakang. "Jadi," kata Cael, "tujuan pertama?" Monn berpikir. Kemudian menunjuk ke arah jalan. "Ada kota di sana." "Namanya?" "Entahlah." "Kau bahkan tidak tahu?" "Belum." Cael menghela napas. "Kau benar-benar tidak punya rencana." Monn tersenyum. "Untuk pertama kalinya." Seraphine tertawa. Mereka terus berjalan. Di belakang mereka, Blackvale perlahan mengecil. Monn tidak menoleh lagi. Bukan karena ia tidak peduli. Tetapi karena ia tahu bahwa pulang bukan berarti harus terus melihat ke belakang. Di tangannya, benang hitam masih ada. Tipis. Tenang. Tidak ditarik. Tidak diputus. Hanya ada. Monn memandangnya sebentar. Kemudian mengepalkan tangan. "Aku tidak akan membiarkanmu memilih untukku." Benang itu tidak bergerak. Monn tersenyum. "Dan aku juga tidak akan menggunakannya untuk memilih bagi orang lain." Ia membuka tangannya kembali. Benang itu mengikuti gerakannya. Bukan sebagai rantai. Bukan sebagai kendali. Melainkan sebagai pengingat. Bahwa kekuatan terbesar yang ia miliki bukanlah kemampuan untuk mengendalikan benang. Melainkan kemampuan untuk melepaskan benang itu dari tangannya. Angin pagi berhembus. Jalan di hadapannya panjang. Tidak ada peta. Tidak ada jawaban. Tidak ada seseorang yang memberitahunya apa yang harus dilakukan. Dan anehnya— Monn tidak takut. Ia justru merasa lega. Karena untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan... tidak ada siapa pun yang menulis kalimat berikutnya untuknya. Ia sendiri yang memegang pena. Dan kisah itu— akhirnya menjadi miliknya. --- Jauh di tempat yang tidak diketahui siapa pun, sebuah ruangan kosong tetap berdiri. Tidak ada Pengamat. Tidak ada Caelum. Tidak ada Edrin. Tidak ada Mortis. Hanya sebuah meja tua. Di atasnya terdapat sebuah buku. Halaman terakhirnya terbuka. Tulisan baru muncul perlahan. MONN VEYLCREST STATUS: HIDUP TAKDIR: TIDAK TERBACA PILIHAN: MILIK SENDIRI Tulisan itu berhenti. Kemudian sebuah kalimat terakhir muncul. "Tidak semua benang harus ditarik." Buku tersebut tertutup. Dan untuk pertama kalinya— tidak ada seorang pun yang membukanya kembali. --- Monn berjalan semakin jauh. Ia tidak tahu apa yang menunggunya. Mungkin kebahagiaan. Mungkin kegagalan. Mungkin kehilangan lain. Mungkin penyesalan. Tetapi kali ini ia tidak akan mencoba menghapus semuanya. Karena ia akhirnya mengerti. Hidup bukan tentang menemukan jalan yang tidak memiliki kesalahan. Hidup adalah tentang memilih jalanmu sendiri, lalu berani menerima ke mana jalan itu membawamu. Dan mungkin... itulah arti sebenarnya dari kebebasan. Bukan kemampuan untuk mengendalikan dunia. Bukan kemampuan untuk menyelamatkan semua orang. Bukan kemampuan untuk mengubah takdir. Melainkan keberanian untuk berkata: "Aku memilih ini." Kemudian menerima apa pun yang datang setelahnya. Monn menatap langit. Untuk sesaat, ia tersenyum. "Jadi..." Ia menarik napas panjang. "Ke mana sekarang?" Tidak ada jawaban. Monn tertawa kecil. "Bagus." Lalu ia terus berjalan. Karena kali ini, tidak ada yang tahu jawabannya. Termasuk dirinya sendiri. Dan untuk pertama kalinya— Monn tidak membutuhkan jawaban itu.

End of Chapter 50