Chapter 51 of 51

Epilog — Benang Itu Milikmu

1.3k words

Tiga tahun telah berlalu. Tidak ada lagi mahkota hitam di langit Blackvale. Tidak ada lagi ruang yang menyimpan kemungkinan. Tidak ada lagi suara yang mengaku mengetahui seluruh kebenaran tentang hidup Monn. Dunia tetap berjalan. Dan ternyata, dunia tidak membutuhkan seseorang untuk mengendalikannya. --- Di sebuah kota kecil di sebelah timur Asterra, seorang pemuda duduk di atas atap penginapan. Rambut hitamnya diterpa angin. Di tangannya terdapat secangkir teh yang mulai dingin. Monn memandang jalan di bawah. Pedagang berteriak menawarkan dagangan. Anak-anak berlari. Dua orang tua berdebat mengenai harga makanan. Seorang penjaga membantu seorang pengembara menemukan arah. Tidak ada yang istimewa. Dan justru karena itulah Monn menyukainya. Dulu ia mengira kehidupan yang damai berarti kehidupan tanpa masalah. Sekarang ia tahu itu salah. Masalah tetap ada. Orang tetap kehilangan. Orang tetap membuat keputusan buruk. Ada orang yang menyesal. Ada orang yang memilih sesuatu yang tidak dipahami orang lain. Namun selama mereka masih mampu memilih— hidup masih menjadi milik mereka. "Melamun lagi?" Suara Seraphine terdengar dari belakang. Monn tidak menoleh. "Aku sedang mengamati." "Kau menyebut melamun sebagai mengamati sekarang?" "Lebih terdengar intelektual." Seraphine duduk di sampingnya. "Jadi, Profesor Monn, apa hasil pengamatanmu?" Monn menunjuk ke bawah. "Orang itu membeli tiga apel." "Ya." "Padahal dia hanya membutuhkan dua." Seraphine mengerutkan kening. "Lalu?" "Entahlah." Monn mengangkat bahu. "Mungkin dia suka apel." Seraphine menatapnya beberapa detik. "Kau benar-benar sudah berubah." Monn tertawa. "Semua orang mengatakan itu." "Karena memang benar." Mereka terdiam. Kemudian Seraphine bertanya, "Apakah kau pernah menyesal?" Monn tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu pernah menjadi sesuatu yang sangat ia takuti. Sekarang tidak. "Ya." Seraphine menoleh. "Masih?" "Masih." "Kenapa tidak kau ubah?" Monn memandang tangannya. Benang hitam masih melingkar di jarinya. Tipis. Hampir tidak terlihat. "Aku bisa." Seraphine diam. Monn melanjutkan, "Tapi aku tidak mau." "Kenapa?" "Karena penyesalan juga bagian dari pilihan." Angin bertiup melewati mereka. Monn tersenyum kecil. "Dulu aku ingin menghapus semua hal yang salah." Ia memandang kota. "Sekarang aku hanya ingin belajar dari hal-hal yang salah." Seraphine mengangguk. "Lebih sulit." "Jauh lebih sulit." Mereka tertawa kecil. --- Di bawah mereka, Cael berteriak. "MONN!" Monn menoleh. "Apa?" "Kau belum membayar makanan!" Monn melihat ke arah meja tempat mereka makan sebelumnya. "Oh." Seraphine menatapnya. "Kau lupa?" "Sepertinya." Cael mengangkat tangan dengan kesal. "Bagaimana seseorang yang pernah menghadapi kekuatan yang bisa mengubah takdir bisa lupa membayar makan?" Monn menjawab santai, "Karena membayar makanan tidak membutuhkan Blood Thread." Cael menatapnya beberapa detik. "Kadang aku tidak tahu apakah kau bercanda." "Aku juga." Seraphine tertawa. Untuk beberapa saat, semuanya terasa begitu biasa. Dan Monn menyukai hal itu. Tidak ada rahasia. Tidak ada eksperimen. Tidak ada seseorang yang berdiri di balik tirai. Hanya kehidupan. Sederhana. Tidak sempurna. Tetapi nyata. --- Malamnya, Monn berjalan sendirian keluar kota. Ia berhenti di sebuah bukit kecil. Langit penuh bintang. Ia duduk di atas rerumputan. Benang hitam di tangannya berkilau samar. Monn mengangkat tangan. Dulu, hanya dengan melihat benang itu, ia akan memikirkan kekuatan. Bagaimana menggunakannya. Bagaimana menariknya. Bagaimana mengikat orang lain. Sekarang ia melihatnya sebagai pengingat. Ia tidak menariknya. Ia juga tidak memutuskannya. Ia hanya membiarkannya berada di sana. "Masih bersamaku?" Tidak ada jawaban. Monn tersenyum. "Aku kira kau akan mengatakan sesuatu." Angin bertiup. Tidak ada Mortis. Tidak ada suara. Monn menghela napas. "Bagus." Ia menurunkan tangan. Kemudian sebuah pikiran muncul. Tentang kehidupannya yang pertama. Tentang kehidupan yang pernah ia jalani tanpa benar-benar memilih. Tentang dirinya yang pernah percaya bahwa mengikuti semua orang berarti menjalani hidup dengan benar. Tentang dirinya yang kemudian melakukan hal sebaliknya— mencoba mengendalikan semua orang. Dua kesalahan yang terlihat berlawanan. Tetapi sebenarnya memiliki akar yang sama. Ia tidak pernah benar-benar bertanya: "Apa yang sebenarnya kuinginkan?" Monn tersenyum pahit. "Lucu." Ia berbaring di rumput. "Aku membutuhkan dua kehidupan hanya untuk memahami satu hal sederhana." Langit tetap diam. Namun Monn tidak lagi membutuhkan jawaban. --- Keesokan paginya, sebelum meninggalkan kota, Monn menemukan seorang anak duduk sendirian di dekat jalan. Anak itu terlihat bingung. Monn berhenti. "Kenapa?" Anak itu menunjuk dua jalan di depannya. "Aku tidak tahu harus memilih yang mana." Monn melihat kedua jalan tersebut. Satu menuju kota. Satu menuju hutan. Ia bisa saja memberitahunya jalan mana yang lebih aman. Namun ia berhenti. "Kenapa kau ingin pergi?" "Aku ingin mencari ayahku." "Dia di mana?" "Aku tidak tahu." Monn berpikir sebentar. Kemudian bertanya, "Kalau begitu, menurutmu jalan mana yang mungkin membawamu kepadanya?" Anak itu melihat kedua jalan. "Yang itu." Ia menunjuk jalan menuju kota. Monn mengangguk. "Kalau begitu pergilah ke sana." Anak itu menatapnya. "Benarkah?" "Entahlah." Anak itu tampak bingung. Monn tersenyum. "Itu pilihanmu." Anak tersebut akhirnya tersenyum dan berlari menuju jalan yang dipilihnya. Monn memperhatikannya pergi. Seraphine yang berdiri di belakangnya berkata, "Kau bisa saja langsung menunjukkan jalannya." "Aku tahu." "Kenapa tidak?" Monn memandang anak itu. "Karena mungkin aku salah." Seraphine tersenyum. "Dan kalau dia salah?" Monn memasukkan tangannya ke saku. "Maka dia akan belajar." Ia mulai berjalan. Seraphine mengikutinya. "Dan kalau dia menyalahkanmu?" Monn tertawa kecil. "Kalau begitu, dia berhak." Mereka terus berjalan. Tidak ada takdir yang menunggu di depan. Tidak ada suara yang menentukan. Tidak ada Pengamat. Hanya jalan panjang. Dan pilihan-pilihan kecil yang akan muncul satu demi satu. --- Bertahun-tahun kemudian, orang-orang mungkin akan membicarakan Monn Veylcrest. Sebagian akan menyebutnya bangsawan. Sebagian akan menyebutnya pengguna Blood Thread. Sebagian mungkin akan menulis kisah tentang seseorang yang pernah berdiri di antara takdir dan manusia. Mereka mungkin salah. Mereka mungkin benar. Monn tidak akan bisa mengendalikan cerita yang dibuat orang lain tentang dirinya. Dan untuk pertama kalinya— ia tidak merasa perlu melakukannya. Karena hidupnya bukan milik mereka. Bukan milik keluarganya. Bukan milik masyarakat. Bukan milik orang yang pernah mengawasinya. Bukan milik masa lalunya. Bahkan bukan milik takdir. Hidup itu miliknya. Dan begitu pula hidup setiap orang. Benang mungkin menghubungkan manusia. Benang mungkin menunjukkan konsekuensi. Benang mungkin bahkan memperlihatkan kemungkinan. Tetapi pada akhirnya— benang tidak seharusnya menjadi tali yang menyeret seseorang ke arah yang tidak mereka pilih. Monn pernah menyerahkan benangnya. Kemudian ia pernah mencoba menarik semua benang orang lain. Keduanya membuatnya kehilangan sesuatu. Dirinya sendiri. Sekarang ia tahu. Benang itu tidak perlu diserahkan. Dan tidak perlu digunakan untuk mengendalikan siapa pun. Cukup digenggam. Kemudian dipilih arahnya. --- Malam terakhir sebelum mereka meninggalkan Asterra untuk sementara waktu, Monn berdiri di atas kapal. Seraphine berada di dekat pagar. Cael sedang tidur di dalam kabin. Angin laut berhembus. Monn memandang garis cakrawala. Ia mengeluarkan benang hitam dari telapak tangannya. Benang itu melayang di udara. Ia menatapnya cukup lama. Kemudian perlahan membuka jarinya. Benang itu tidak menghilang. Tidak putus. Ia hanya terbawa angin. Monn tersenyum. "Dulu aku pikir kebebasan berarti tidak memiliki benang." Ia menatap benang yang bergerak di udara. "Sekarang aku tahu." Ia membiarkannya kembali ke tangannya. "Kebebasan berarti aku yang memutuskan apa yang kulakukan dengannya." Seraphine menatapnya. "Dan sekarang?" Monn melihat lautan luas di depan. "Aku tidak tahu." Ia tersenyum. "Tapi aku akan mencari tahu sendiri." Kapal terus bergerak. Menuju tempat yang belum pernah mereka lihat. Menuju kehidupan yang belum mereka kenal. Menuju kesalahan-kesalahan yang belum mereka buat. Menuju pilihan-pilihan yang belum mereka ambil. Dan mungkin, suatu hari nanti, Monn akan kembali menyesali beberapa di antaranya. Mungkin ia akan gagal. Mungkin ia akan kehilangan seseorang lagi. Mungkin ia akan membuat keputusan yang salah. Namun kali ini— itu akan menjadi hidupnya. Bukan hidup yang dipilih orang lain untuknya. Bukan hidup yang ia jalani demi memenuhi harapan dunia. Bukan hidup yang ia gunakan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari orang lain. Hanya hidupnya sendiri. Dan ketika seseorang bertanya kepadanya apa yang telah ia pelajari dari dua kehidupan— Monn mungkin hanya akan tersenyum dan menjawab: > "Dengarkan semua orang." > "Tapi jangan serahkan keputusan hidupmu kepada siapa pun." Karena pada akhirnya— benang itu milikmu. Hidup itu milikmu. Dan sebelum kau mengikuti jalan yang ditunjukkan seseorang kepadamu, berhentilah sejenak. Lihat tanganmu. Lihat benang yang sedang kau pegang. Lalu tanyakan kepada dirimu sendiri— "Apakah yang kulakukan benar-benar keinginanku..." "...atau hanya sesuatu yang kulakukan untuk memuaskan egoku?" Tidak ada orang lain yang bisa menjawabnya untukmu. Karena jawaban itu— sejak awal— selalu menjadi milikmu.

End of Chapter 51