Pertanyaan itu tetap menggantung di dalam kepala Monn.
Jika kau tidak bisa menyelamatkan semua orang, siapa yang akan kau pilih untuk tidak kau selamatkan?
Tidak ada jawaban.
Dan untuk pertama kalinya, Monn tidak memaksa dirinya untuk menemukannya.
Ia hanya berdiri.
Diam.
Memikirkan semua orang yang pernah ia temui.
Keluarganya.
Seraphine.
Cael.
Bahkan orang-orang yang pernah menjadi korban dari keputusannya.
Kemudian ia memandang ribuan kemungkinan yang memenuhi ruang tersebut.
"Jadi ini ujian terakhir?"
Tidak ada jawaban dari Pengamat.
Namun satu pintu muncul di hadapan Monn.
Berbeda dari pintu-pintu sebelumnya.
Pintu itu berwarna putih.
Tidak memiliki gagang.
Di atasnya hanya ada satu tulisan.
PILIH.
Caelum berdiri di samping Monn.
"Jangan masuk."
Monn menoleh.
"Kenapa?"
"Karena aku tahu apa yang ada di baliknya."
"Apa?"
Caelum memandang pintu tersebut.
"Semua orang yang pernah kau kehilangan."
Monn terdiam.
Caelum melanjutkan.
"Semua orang yang gagal kau selamatkan."
Monn menatap pintu.
"Dan kalau aku masuk?"
"Kau bisa mendapatkan mereka kembali."
Monn mengerutkan kening.
"Benarkah?"
Caelum menggeleng.
"Bukan benar-benar."
"Jadi?"
"Kau akan mendapatkan kemungkinan bahwa mereka tidak pernah pergi."
Monn memahami maksudnya.
Sebuah kehidupan tanpa kehilangan.
Tanpa kematian.
Tanpa penyesalan.
Tanpa rasa bersalah.
Sebuah kehidupan yang sempurna.
Dan justru karena itu—
Monn tidak percaya.
"Berapa harganya?"
Caelum tersenyum pahit.
"Satu pilihan."
"Pilihan apa?"
"Dirimu sendiri."
Monn terdiam.
Pintu itu terbuka sedikit.
Cahaya keluar.
Di baliknya terdengar suara.
"Monn..."
Monn membeku.
Suara itu milik Elara.
Adiknya.
"Monn, pulanglah."
Kemudian suara Seraphine.
"Monn, kita masih punya banyak hal yang belum selesai."
Kemudian Lucien.
"Adikku."
Kemudian Alaric.
"Monn."
Kemudian Evelyne.
"Anakku."
Satu demi satu.
Suara-suara itu memenuhi ruangan.
Monn menutup matanya.
Dulu, suara seperti itu akan membuatnya bergerak.
Karena ia selalu takut kehilangan.
Takut mengecewakan.
Takut menyesal.
Takut hidup tanpa orang-orang yang ia cintai.
Tetapi sekarang ia menyadari sesuatu.
Rasa takut kehilangan bisa menjadi tali yang paling kuat.
Jika seseorang menawarkan semua yang pernah hilang...
mungkin yang sebenarnya ia beli adalah kebebasanmu.
Monn membuka mata.
"Aku tidak akan masuk."
Suara-suara itu berhenti.
Pintu tertutup.
Caelum menatapnya.
"Kau yakin?"
"Tidak."
Jawaban itu membuat Caelum terdiam.
Monn tersenyum kecil.
"Aku tidak yakin."
Ia menatap pintu.
"Aku hanya memilih untuk tidak masuk."
Untuk beberapa saat tidak terjadi apa-apa.
Lalu pintu putih itu retak.
KRAK.
Satu retakan.
Kemudian dua.
Lalu seluruh pintu pecah.
Di baliknya tidak ada apa-apa.
Hanya ruang kosong.
Monn menghela napas.
"Ternyata benar-benar tidak ada mereka."
Caelum menggeleng.
"Bukan begitu."
"Apa?"
"Mereka memang ada."
Monn menatapnya.
"Di mana?"
Caelum menunjuk dada Monn.
"Di dalam ingatanmu."
Monn diam.
Kemudian sebuah suara terdengar.
Bukan dari luar.
Bukan dari langit.
Bukan dari pintu.
Suara itu berasal dari belakang Monn.
"Akhirnya."
Monn berbalik.
Mortis berdiri di sana.
Untuk pertama kalinya, tudungnya terbuka sedikit.
Monn tidak melihat wajah manusia.
Hanya bayangan.
Namun dua mata merah redup terlihat jelas.
"Mortis."
"Aku tidak pernah meminta kau menyelamatkan semua orang."
Monn menatapnya.
"Aku tahu."
"Aku juga tidak pernah meminta kau mengendalikan mereka."
"Aku tahu."
Mortis mendekat.
"Kalau begitu apa yang kau inginkan dariku?"
Monn terdiam.
Pertanyaan itu terasa aneh.
Selama ini ia mengira Mortis adalah kekuatan.
Kemudian konsekuensi.
Kemudian bagian dari dirinya.
Tetapi mungkin Mortis juga memiliki kehendak sendiri.
Monn akhirnya menjawab.
"Aku tidak tahu."
Mortis berhenti.
"Kau tidak tahu?"
Monn menggeleng.
"Aku ingin hidup."
Sederhana.
Tidak ada ambisi besar.
Tidak ada janji menyelamatkan dunia.
"Aku ingin memilih apa yang kulakukan."
Ia melihat semua orang yang ada di ruangan itu.
"Tapi aku juga ingin membiarkan orang lain memilih hidup mereka."
Mortis diam.
Kemudian benang hitam muncul dari tangannya.
Ia menyerahkan ujung benang tersebut kepada Monn.
Monn tidak langsung mengambilnya.
"Apa ini?"
"Pilihan."
"Untuk apa?"
Mortis menjawab,
"Untuk memutuskan hubungan antara kita."
Monn membeku.
Jika ia memutus benang itu—
Mortis mungkin akan hilang.
Seluruh kekuatan Blood Thread miliknya mungkin ikut lenyap.
Dan bersama itu...
sebagian besar kekuatan yang telah menemaninya selama ini.
Monn menatap benang tersebut.
Ia mengangkat tangannya.
Namun berhenti sebelum menyentuhnya.
"Kalau aku memutuskannya..."
Mortis mengangguk.
"Kau akan kehilangan sebagian dari dirimu."
Monn tersenyum tipis.
"Kalau tidak?"
"Kau akan terus membawaku."
Monn terdiam.
Kemudian ia menurunkan tangannya.
"Aku tidak akan memutusnya."
Mortis diam.
"Bukan karena aku membutuhkan kekuatanmu."
Monn menatapnya.
"Tapi karena aku tidak mau menghapus bagian diriku hanya karena aku takut menjadi seperti dulu."
Mortis menundukkan kepala.
"Jawaban yang cukup."
Tiba-tiba semua kemungkinan di ruangan mulai menghilang.
Satu demi satu.
Tidak ada suara.
Tidak ada ledakan.
Mereka hanya berubah menjadi cahaya.
Monn melihat anak kecil yang tadi ia beri kebebasan.
Anak itu tersenyum.
Kemudian menghilang.
Wanita yang menyerupai Evelyne juga mulai memudar.
Sebelum menghilang, ia menatap Monn.
"Jangan hidup untuk membuktikan bahwa seseorang salah."
Monn terdiam.
"Termasuk dirimu sendiri."
Cahaya menelannya.
Kemudian Caelum berdiri sendirian.
Monn menatapnya.
"Kau juga akan hilang?"
Caelum menggeleng.
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku masih memiliki pilihan yang harus kuselesaikan."
"Apa?"
Caelum menatap Monn.
"Meminta maaf."
Monn tidak mengatakan apa-apa.
Caelum menundukkan kepala.
"Maaf."
Hanya satu kata.
Namun terdengar jauh lebih berat daripada semua rahasia yang pernah ia simpan.
Monn mengangguk.
"Aku menerimanya."
Caelum menatapnya.
"Tapi aku tidak melupakan apa yang kau lakukan."
"Aku tahu."
"Aku juga tidak akan menyerahkan keputusan hidupku kepadamu."
Caelum tersenyum.
"Itu yang kuharapkan."
Ruangan mulai runtuh.
Monn merasakan tubuhnya tertarik ke belakang.
Suara terakhir yang ia dengar adalah suara Mortis.
"Monn."
"Ya?"
"Kau akhirnya memilih sesuatu untuk dirimu sendiri."
Monn menatapnya.
"Apa?"
Mortis menjawab:
"Untuk tidak menjadi siapa pun selain dirimu."
Cahaya memenuhi ruangan.
---
Monn membuka mata.
Ia kembali berada di Blackvale.
Langit sudah mulai terang.
Matahari pagi muncul dari balik pegunungan.
Alun-alun yang sebelumnya kacau kini sunyi.
Warga mulai bergerak.
Beberapa tampak kebingungan.
Beberapa mengingat apa yang terjadi.
Sebagian tidak mengingat apa pun.
Namun benang mereka kembali.
Tidak semuanya.
Ada yang berubah.
Ada hubungan yang putus.
Ada keputusan yang tidak bisa dikembalikan.
Tetapi mereka kembali memiliki sesuatu yang paling penting.
Pilihan.
Seraphine berdiri di dekat Monn.
"Kau kembali."
Monn mengangguk.
"Ya."
Lucien mendekat.
"Apa yang terjadi di bawah?"
Monn memandang langit.
"Jawaban yang panjang."
Cael menghela napas.
"Jangan bilang kita harus turun lagi."
Monn tersenyum.
"Semoga tidak."
Alaric berdiri agak jauh.
Untuk beberapa saat, ayah dan anak itu hanya saling menatap.
Kemudian Alaric berkata,
"Monn."
"Ya?"
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Monn memandang Blackvale.
Kemudian Eldoria yang terlihat jauh di balik pegunungan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan takdir.
Tidak memikirkan siklus.
Tidak memikirkan siapa yang mengawasinya.
Tidak memikirkan bagaimana menyelamatkan semua orang.
Ia hanya memikirkan dirinya.
"Aku ingin hidup."
Alaric mengangguk perlahan.
"Dan setelah itu?"
Monn tersenyum.
"Aku belum tahu."
Ia berjalan melewati ayahnya.
Seraphine mengikuti.
Lucien dan Cael juga.
Namun setelah beberapa langkah, Monn berhenti.
Ia menoleh ke belakang.
Di atas Blackvale, mahkota hitam sudah tidak ada.
Langit bersih.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai—
tidak ada suara.
Tidak ada pesan.
Tidak ada perintah.
Tidak ada benang yang bergerak sendiri.
Monn menatap tangannya.
Blood Thread masih ada.
Satu benang hitam melingkari jarinya.
Ia tidak menariknya.
Tidak memutuskannya.
Ia hanya membiarkannya berada di sana.
Kemudian ia tersenyum.
"Benang itu milikku."
Ia menatap jalan di depannya.
"Begitu juga hidupku."
Dan untuk pertama kalinya...
Monn berjalan tanpa mengetahui ke mana ia akan pergi.
Bukan karena seseorang telah menentukan jalannya.
Bukan karena takdir memaksanya.
Bukan karena ia ingin membuktikan sesuatu.
Ia berjalan—
karena ia memilih untuk berjalan.
Namun jauh di bawah Blackvale, di ruangan yang telah runtuh...
sebuah buku tua terbuka sendiri.
Halaman terakhirnya bergerak tertiup angin yang tidak ada.
Di sana tertulis:
SIKLUS: DITOLAK.
Tulisan berikutnya muncul perlahan.
PENGAMATAN: SELESAI.
Kemudian satu kalimat terakhir.
SUBJEK TIDAK LAGI MEMBUTUHKAN PENGAMAT.
Buku itu tertutup.
Dan dari kegelapan terdengar suara kecil.
"Bagus."
Lalu—
"Sekarang lihat apa yang dia lakukan ketika tidak ada yang mengawasinya."