Chapter 4 of 51

Bab 4 — Orang yang Seharusnya Tidak Ada

1.3k words

Pagi datang tanpa membawa jawaban. Monn duduk di ruang baca keluarga Veylcrest dengan sebuah buku terbuka di hadapannya. Sejak matahari terbit, ia sudah mencoba mencari informasi mengenai kemampuan yang muncul dalam dirinya. Hasilnya tetap sama. Tidak ada. Tidak ada catatan tentang Blood Thread. Tidak ada ilustrasi. Tidak ada legenda yang menyebut benang merah yang dapat menghubungkan manusia dengan keinginan mereka. Bahkan dalam arsip kuno keluarga, kemampuan tersebut seolah tidak pernah ada. Monn menutup buku. “Kalau ini bukan Blood Art... lalu dari mana asalnya?” Ia mengusap pelipis. Sosok tanpa benang yang muncul tadi malam juga tidak bisa ia lupakan. Semua makhluk memiliki benang. Setidaknya itulah yang ia lihat. Tetapi orang itu tidak memiliki satu pun. Bukan benang merah. Bukan benang putih. Bukan benang hitam. Tidak ada apa-apa. Seolah dunia sendiri tidak mengakui keberadaannya. Monn bangkit. Hari ini ia memiliki urusan lain. Jika masa depan telah berubah sejak ia kembali, ia membutuhkan informasi sebanyak mungkin. Dan tempat terbaik untuk mendapatkannya adalah Royal Arcane Academy. Dalam kehidupan pertama, akademi hanya menjadi tempat yang ia jalani karena keluarga menginginkannya. Kali ini, ia akan datang dengan kemauannya sendiri. Namun sebelum itu, ada satu hal yang harus diselesaikan. Garrick. --- Ruang bawah tanah kembali sunyi ketika Monn masuk. Garrick masih berada di sana. Pria itu duduk dengan kedua tangan terikat. Ketika melihat Monn, wajahnya langsung berubah. “Tuan Muda.” Monn menarik kursi dan duduk di depannya. “Aku ingin bertanya lagi.” Garrick tidak menjawab. “Siapa orang yang memberimu keping logam itu?” “Aku sudah bilang—” “Kau tidak tahu namanya.” Garrick mengangguk. Monn menatapnya. “Kalau begitu, jelaskan wajahnya.” Garrick tampak ragu. “Dia memakai mantel hitam.” “Banyak orang memakai mantel hitam.” “Wajahnya tertutup.” “Rambut?” “Tidak tahu.” “Suara?” Garrick menelan ludah. “Tenang.” Monn menyandarkan tubuh. “Pria atau wanita?” “Pria.” “Usia?” “Sulit dipastikan.” Monn menghela napas. “Kalau begitu, apa yang membuatmu mau bekerja untuknya?” Garrick diam. Kali ini Monn tidak memaksanya. Ia hanya menunggu. Beberapa detik berlalu. Akhirnya Garrick berkata, “Dia tahu tentang utangku.” Monn mengangkat alis. “Utang?” “Anakku sakit.” Garrick menunduk. “Aku membutuhkan uang. Orang itu menawarkannya.” Monn terdiam. Dalam kehidupan pertama, ia tidak pernah mengetahui hal ini. Garrick bukan pengkhianat besar. Dia hanya seseorang yang mengambil keputusan buruk karena berada dalam keadaan terdesak. Monn tiba-tiba merasa familiar dengan situasi tersebut. Seseorang memiliki masalah. Kemudian orang lain datang menawarkan jalan keluar. Tidak ada paksaan. Tidak ada ancaman. Hanya sebuah pilihan yang terlihat sederhana. Monn menatap benang Garrick. Ada satu benang yang sangat kuat. Keluarga. Itulah yang menariknya. Bukan uang. Bukan kekuasaan. Bukan kesetiaan kepada orang asing. Keluarganya. Monn berdiri. “Siapa pun orang itu, dia tahu bagaimana menemukan kelemahan seseorang.” Garrick menatapnya. “Apakah saya akan dihukum?” Monn berhenti di depan pintu. “Belum.” “Kenapa?” Monn menoleh. “Karena aku ingin tahu siapa yang berada di balikmu.” Garrick tampak ketakutan. “Tuan Muda, jangan cari orang itu.” “Kenapa?” “Karena dia tidak mencari keluarga Veylcrest.” Garrick menunduk. “Dia mencari Anda.” Monn tidak menjawab. Pintu ditutup. --- Siang harinya, Monn pergi ke perpustakaan utama. Ia membutuhkan arsip yang lebih tua. Di lantai paling bawah terdapat koleksi dokumen yang bahkan jarang disentuh para bangsawan. Monn menyusuri rak. Debu memenuhi beberapa buku. Ia menemukan catatan mengenai sejarah keluarga Veylcrest. Buku pertama membahas pendiri keluarga. Buku kedua mengenai Blood Art. Buku ketiga mengenai perang lama. Kemudian sebuah judul membuat langkahnya berhenti. The First Blood Records Monn menarik buku tersebut. Sampulnya hampir hancur. Ia membuka halaman pertama. Tidak ada nama penulis. Hanya satu kalimat. > “Darah mengingat apa yang dilupakan manusia.” Monn mengerutkan kening. Ia membalik halaman. Catatan pertama menjelaskan asal-usul Blood Art keluarga. Namun semakin jauh ia membaca, semakin aneh isinya. Ada sebuah bagian yang disensor. Beberapa halaman telah dicabut. Monn menyentuh bekas sobekan tersebut. “Siapa yang merobeknya?” “Orang yang tidak ingin seseorang membacanya.” Monn langsung menoleh. Seorang gadis berdiri di ujung rak. Rambut putih keperakan. Mata biru pucat. Seragam bangsawan berwarna putih dan biru. Monn mengenalnya. Seraphine Aurelia. Untuk beberapa detik, keduanya hanya diam. Monn merasakan sesuatu yang belum ia rasakan sejak bangun. Kehidupan pertama. Kenangan yang terlalu banyak. Sore-sore di taman. Percakapan kecil. Hari-hari di akademi. Sebuah hubungan yang pernah tumbuh perlahan. Kemudian kehancuran. Monn segera mengalihkan pandangan. Seraphine berjalan mendekat. “Kau menatapku seperti melihat seseorang yang sudah mati.” Monn terdiam. Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya. “Aku hanya terkejut melihatmu di sini.” “Kenapa?” “Aku tidak menyangka.” Seraphine mengambil buku di tangannya. “Buku ini bukan bacaan biasa.” “Aku tahu.” “Dan kau tidak seharusnya membacanya.” Monn menatapnya. “Kenapa?” “Karena bagian pentingnya sudah dihapus.” Monn memperhatikan wajah Seraphine. “Bagaimana kau tahu?” Seraphine tersenyum tipis. “Aku juga pernah mencarinya.” “Kenapa?” “Karena keluargaku memiliki catatan serupa.” Monn terdiam. Seraphine menutup buku. “Ada banyak keluarga bangsawan yang menyimpan catatan mengenai Blood Art. Beberapa memiliki kesamaan.” “Dan?” “Beberapa catatan menyebut sesuatu yang disebut Thread of Origin.” Jantung Monn berdetak lebih cepat. “Benang Asal?” Seraphine mengangguk. “Legenda lama. Tidak banyak yang percaya.” Monn menatap buku. “Apa hubungannya dengan Blood Art?” “Tidak diketahui.” Seraphine berjalan menuju jendela. “Beberapa orang percaya semua kemampuan supernatural berasal dari sumber yang sama.” Monn berdiri. “Dan kau percaya?” Seraphine menatapnya. “Aku percaya bahwa sesuatu tidak menjadi tidak nyata hanya karena manusia tidak memahaminya.” Monn terdiam. Kalimat itu sederhana. Tetapi terasa seperti peringatan. Kemudian Seraphine bertanya, “Kenapa kau berubah?” Monn membeku. “Berubah?” “Kau.” Seraphine menatapnya dengan serius. “Dulu kau selalu menghindari konflik.” Monn tidak menjawab. “Sekarang kau membantah ayahmu.” Diam. “Kau menangkap penjaga tanpa meminta izin.” Diam. “Dan sekarang kau mencari arsip terlarang.” Monn memandangnya. “Kau memperhatikanku?” Seraphine mengangkat bahu. “Sulit tidak memperhatikan seseorang yang tiba-tiba bertingkah seperti orang lain.” Monn tersenyum kecil. “Aku hanya mulai berpikir.” “Berpikir tentang apa?” Monn memandang jendela. “Tentang hidup.” Seraphine tidak tertawa. “Jawaban yang aneh.” “Mungkin.” Mereka terdiam. Untuk sesaat, suasananya hampir terasa seperti kehidupan pertama. Namun Monn segera mengingat sesuatu. Ia tidak boleh mengulangi semuanya. Ia tidak boleh membiarkan perasaan lama menentukan jalan baru. Bukan karena Seraphine buruk. Justru sebaliknya. Karena Monn tahu betapa mudahnya ia kembali mengikuti jalur yang sama. Ia menutup buku. “Aku harus pergi.” Seraphine menatapnya. “Monn.” Ia berhenti. “Jangan terlalu percaya pada kemampuanmu sendiri.” Monn menoleh. Seraphine melanjutkan, “Orang yang merasa bisa mengendalikan segala sesuatu biasanya tidak sadar ketika dirinya sendiri mulai dikendalikan.” Monn tidak menjawab. Ia hanya meninggalkan ruangan. Namun kalimat itu tetap mengikuti langkahnya. --- Malam tiba. Monn berdiri di balkon kamarnya. Ia mencoba memanggil Blood Thread. Tidak ada benang. Ia mencoba lagi. Masih tidak ada. “Kenapa?” Ia menarik napas. Kemudian sesuatu muncul. Satu benang. Merah gelap. Benang tersebut berasal dari dadanya sendiri. Monn menatapnya. Benang itu bergerak menuju kegelapan di luar mansion. Bukan menuju orang lain. Bukan menuju keluarganya. Menuju sesuatu yang jauh. Monn menyentuhnya. Sekejap kemudian— DOR! Sebuah suara ledakan terdengar dari luar wilayah mansion. Monn langsung menoleh. Lampu-lampu di Blackvale bergerak. Teriakan terdengar dari kejauhan. Alarm berbunyi. Monn berlari keluar kamar. Di lorong, para penjaga bergerak menuju gerbang. “Apa yang terjadi?” “Gerbang timur diserang!” Monn membeku. Gerbang timur. Dalam kehidupan pertama, serangan pertama terhadap keluarga Veylcrest terjadi... dua tahun kemudian. Bukan sekarang. Monn berlari menuju jendela. Di kejauhan, cahaya merah terlihat di balik pepohonan. Ia mengaktifkan Blood Thread. Puluhan benang muncul. Kemudian ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Di antara benang-benang itu ada satu garis hitam. Benang yang sama seperti yang ia lihat sebelumnya. Dan kali ini... benang tersebut bergerak. Seolah seseorang di ujung sana sedang menariknya. Monn mengepalkan tangan. “Tidak mungkin.” Sebuah suara terdengar dari belakang. “Kau akhirnya melihatnya.” Monn berbalik. Tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangannya sendiri di kaca. Namun sesaat kemudian, sebuah tulisan muncul pada permukaan kaca. Bukan tinta. Bukan darah. Hanya embun yang membentuk huruf. KAU TERLAMBAT. Monn menatap tulisan itu. Kemudian huruf berikutnya muncul perlahan. KEHIDUPAN KEDUAMU SUDAH DIMULAI SEBELUM KAU TERBANGUN. Tulisan tersebut menghilang. Monn berdiri tanpa bergerak. Di luar, suara pertempuran semakin dekat. Untuk pertama kalinya, dia menyadari kenyataan yang jauh lebih buruk daripada perubahan takdir. Ada seseorang yang sudah mengetahui masa depan sebelum Monn mengubahnya. Dan malam itu... sejarah yang seharusnya baru dimulai dua tahun lagi, dimulai lebih cepat.

End of Chapter 4