Chapter 48 of 51
Bab 48 — Suara dari Luar
1.3k words
Ribuan mata terbuka secara bersamaan.
Monn mundur satu langkah.
Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki benang.
Namun sekarang semuanya menatap ke arahnya.
Tidak marah.
Tidak sedih.
Tidak pula bingung.
Hanya menunggu.
Suara tadi masih menggema di seluruh ruangan.
"AKU."
Monn menatap kegelapan di atas mereka.
"Siapa kau?"
Tidak ada jawaban.
Kemudian salah satu kemungkinan melangkah maju.
Seorang pria tua.
Wajahnya tidak dikenal Monn.
Ia membuka mulut.
"Aku memilih..."
Suara itu terdengar kosong.
Kemudian seorang perempuan di sebelahnya berkata,
"Aku memilih..."
Lalu seorang anak.
"Aku memilih..."
Ribuan suara mulai bersahutan.
"Aku memilih."
"Aku memilih."
"Aku memilih."
Monn merasakan Blood Thread di tubuhnya bergetar.
Bukan karena kekuatan mereka.
Melainkan karena kalimat itu tidak terdengar seperti keputusan.
Mereka hanya mengulanginya.
"Berhenti!"
Suara Monn menggema.
Semua sosok langsung diam.
Monn menatap mereka.
"Kalian tidak perlu memilih sekarang."
Seorang anak bertanya,
"Kalau kami tidak memilih?"
Monn terdiam.
Ia tidak punya jawaban.
Kemudian wanita yang menyerupai Evelyne berbicara.
"Itulah yang mereka inginkan."
Monn menoleh.
Wanita itu berdiri beberapa meter darinya.
Benang putih yang sebelumnya menghubungkan mereka sudah putus.
Namun ia masih ada.
"Siapa 'mereka'?"
Wanita itu tidak menjawab.
Ia menatap ke atas.
"Orang yang berada di luar ruangan ini."
Monn mengikuti pandangannya.
Tidak ada apa-apa.
Hanya kegelapan.
Kemudian—
TOK.
Satu suara terdengar.
Seperti seseorang mengetuk kaca.
Semua kemungkinan menoleh ke atas.
TOK.
Ketukan kedua.
Lalu sebuah retakan muncul di ruang kosong.
Monn membeku.
Retakan itu tidak muncul di dinding.
Tidak muncul di lantai.
Ia muncul di udara.
Seperti dunia sendiri adalah sebuah kaca.
Caelum langsung mundur.
"Jangan."
Monn menoleh.
"Kau tahu itu?"
Caelum mengangguk.
"Ya."
"Apa?"
Caelum menatap retakan tersebut.
"Sesuatu yang tidak seharusnya bisa masuk."
KRAK.
Retakan semakin besar.
Edrin yang tersusun dari benang tiba-tiba bergerak.
"Monn!"
Monn menoleh.
"Jangan biarkan dia masuk!"
"Siapa?!"
Edrin menunjuk ke atas.
"Pengamat."
Monn mengerutkan kening.
"Pengamat?"
Edrin mengangguk.
"Dia tidak memilih."
Monn menatap retakan.
"Lalu apa yang dia lakukan?"
Edrin menjawab:
"Dia membuat orang lain memilih."
Kalimat itu membuat Monn terdiam.
Selama ini ia berpikir masalahnya adalah seseorang yang mengendalikan benang.
Namun mungkin lebih buruk.
Seseorang tidak perlu menarik benang.
Cukup membuat seseorang percaya bahwa hanya ada satu pilihan.
Kemudian orang itu akan menarik benangnya sendiri.
Monn melihat ribuan kemungkinan di sekelilingnya.
Mereka tidak dikendalikan.
Mereka sedang dipengaruhi oleh gagasan tentang pilihan.
Sebuah suara terdengar dari atas.
"Bagus."
Sangat tenang.
"akhirnya kau mengerti."
Monn menatap retakan.
"Turun."
Tidak ada jawaban.
"Kalau kau memang ingin berbicara denganku, turun dan bicara langsung."
Suara itu tertawa kecil.
"Aku tidak perlu turun."
"Takut?"
"Pengamatan tidak membutuhkan keberanian."
Monn mengepalkan tangan.
"Apa tujuanmu?"
"Mengetahui."
"Mengetahui apa?"
"Apakah manusia benar-benar mampu memilih ketika semua pilihan mereka memiliki konsekuensi."
Monn terdiam.
Suara itu melanjutkan.
"Kau menarik benang untuk menyelamatkan orang."
"Kau menolak menarik benang untuk membiarkan mereka memilih."
"Kau bahkan sekarang mencoba menentukan apakah mereka harus memilih atau tidak."
Monn tidak menjawab.
Karena ia tahu ada bagian yang benar.
Suara itu sedang menggunakan kata-kata untuk membuatnya ragu.
Tetapi kali ini Monn tidak mencari jawaban dari suara tersebut.
Ia menatap Seraphine.
Tidak ada Seraphine di sana.
Hanya kemungkinan.
Namun ia membayangkan apa yang akan dikatakannya.
Jangan membuat keputusan untuk orang lain hanya karena kau takut mereka memilih salah.
Monn menarik napas.
Kemudian ia menatap ribuan kemungkinan.
"Kalian dengar aku."
Semua mata mengarah kepadanya.
"Aku tidak akan memilih untuk kalian."
Beberapa mulai bergerak.
"Tapi aku juga tidak akan mengatakan bahwa kalian harus memilih sekarang."
Mereka diam.
"Kalau kalian ingin pergi, pergilah."
Tidak ada yang bergerak.
"Kalau kalian ingin tinggal, tinggal."
Masih tidak ada yang bergerak.
"Kalau kalian belum tahu..."
Monn tersenyum tipis.
"...kalian boleh belum tahu."
Satu anak mengangkat tangan.
"Kalau aku takut?"
Monn menjawab,
"Takut bukan berarti kau tidak bisa memilih."
"Kalau aku salah?"
"Kau mungkin salah."
"Kalau aku menyesal?"
"Kau mungkin menyesal."
Anak itu terdiam.
Kemudian bertanya,
"Kalau begitu kenapa harus memilih?"
Monn tidak langsung menjawab.
Karena pertanyaan itu terlalu penting untuk dijawab dengan kalimat sederhana.
Akhirnya ia berkata,
"Karena hidupmu bukan milik orang lain."
Anak itu menatapnya.
Monn melanjutkan.
"Tapi bukan berarti kau harus selalu memilih sekarang."
Sunyi.
Lalu sesuatu terjadi.
Satu benang muncul.
Tipis.
Hampir transparan.
Bukan pada anak itu.
Melainkan di antara dirinya dan sebuah pintu jauh di belakang.
Anak itu melihat benang tersebut.
"Aku ingin membuka pintu itu."
Monn tidak bergerak.
"Kenapa?"
"Aku ingin tahu apa yang ada di baliknya."
"Itu pilihanmu."
Anak itu berjalan.
Benang lain muncul.
Kemudian satu lagi.
Satu demi satu.
Tidak semuanya memilih.
Tidak semuanya bergerak.
Tetapi untuk pertama kalinya, pilihan mereka muncul tanpa ada yang menariknya.
Retakan di langit bergetar.
Suara dari luar berubah.
"Menarik."
Monn menatapnya.
"Apakah kau marah?"
"Tidak."
Suara itu terdengar lebih dingin.
"Aku hanya belum selesai."
Tiba-tiba benang putih yang sebelumnya putus dari wanita mirip Evelyne muncul kembali.
Namun kali ini benang itu tidak terhubung kepada Monn.
Benang tersebut mengarah ke atas.
Menuju retakan.
Wanita itu terkejut.
"Jangan..."
Monn langsung menyadarinya.
"Dia sedang menarikmu."
Wanita itu menggeleng.
"Bukan aku."
Monn melihat benang tersebut.
"Kalau begitu siapa?"
Wanita itu menatap Monn.
"Dirimu."
Monn membeku.
"Apa?"
"Kau yang membuat benang itu."
Monn menatap tangannya.
Tidak ada Blood Thread.
Namun sebuah benang putih tipis keluar dari dadanya.
Benang itu bergerak menuju wanita tersebut.
Monn mundur.
"Aku tidak melakukan apa pun."
Wanita itu tersenyum sedih.
"Itulah masalahnya."
Benang tersebut tiba-tiba menegang.
Monn merasakan sesuatu ditarik keluar dari dirinya.
Bukan darah.
Bukan energi.
Melainkan sebuah ingatan.
Monn melihat sebuah ruangan.
Evelyne.
Alaric.
Caelum.
Dan seorang anak kecil.
Dirinya.
Namun kali ini ia melihat sesuatu yang belum pernah diperlihatkan kepadanya.
Evelyne menangis.
Alaric berdiri di sampingnya.
Caelum berada di depan mereka.
Dan di tengah ruangan—
sebuah lingkaran putih.
Caelum mengatakan sesuatu.
Monn tidak bisa mendengar suaranya.
Kemudian Evelyne menggeleng.
Alaric berteriak.
Caelum mengangkat tangan.
Cahaya memenuhi ruangan.
Lalu—
Monn kecil membuka mata.
Ingatan itu berakhir.
Monn terengah.
"Caelum..."
Ia menoleh.
Caelum berdiri diam.
Wajahnya pucat.
"Kau melihatnya."
"Apa yang kau lakukan?"
Caelum tidak menjawab.
Monn berjalan mendekat.
"Apa yang kau lakukan padaku saat aku masih kecil?"
"Aku..."
Caelum berhenti.
Untuk pertama kalinya, ia terlihat kesulitan menemukan kata.
"Aku membuat pilihan."
Monn menatapnya.
"Pilihan apa?"
Caelum mengangkat wajah.
"Aku memilih untuk menyelamatkanmu."
Monn terdiam.
Kemudian ia bertanya pelan,
"Tanpa bertanya kepadaku?"
Caelum tidak menjawab.
Monn tersenyum pahit.
"Jadi akhirnya aku tahu."
Ia menatap benang putih yang menghubungkan dirinya dengan wanita itu.
"Kau tidak membawaku kembali."
Caelum menundukkan kepala.
"Kau melakukan sesuatu yang jauh lebih awal."
Monn menatapnya.
"Kau memilih hidupku untukku."
Caelum mengangkat mata.
"Ya."
Sunyi.
Namun Monn tidak marah.
Tidak berteriak.
Tidak menarik benang.
Ia hanya menatap Caelum.
Kemudian berkata,
"Itu bukan berarti aku membencimu."
Caelum terdiam.
"Tapi pilihan itu tetap bukan milikmu."
Caelum mengangguk perlahan.
"Aku tahu."
Retakan di langit mulai menutup.
Suara Pengamat terdengar sekali lagi.
"Kalian akhirnya mengerti."
Monn menatap ke atas.
"Belum."
"Belum?"
Monn menggeleng.
"Aku baru mulai mengerti."
Ia melihat ribuan kemungkinan.
Kemudian Caelum.
Kemudian wanita yang mungkin merupakan versi lain dari Evelyne.
Lalu Mortis.
"Aku tidak tahu siapa yang memulai semua ini."
Ia menarik napas.
"Aku juga tidak tahu berapa banyak keputusan yang sebenarnya bukan milikku."
Monn mengangkat kepalanya.
"Tapi mulai sekarang..."
Blood Thread muncul.
Bukan untuk menarik siapa pun.
Bukan untuk mengendalikan.
Benang itu melingkari tangannya sendiri.
"...aku akan memeriksa setiap keputusan yang kubuat."
Retakan di langit berhenti bergerak.
Pengamat tidak berkata apa-apa.
Monn tersenyum tipis.
"Dan kalau ternyata aku salah?"
Ia melihat seluruh kemungkinan di ruangan itu.
"Aku akan menanggung akibatnya."
Retakan itu akhirnya tertutup.
Namun sebelum menghilang sepenuhnya, suara terakhir terdengar.
"Kalau begitu, bersiaplah."
"Karena pilihan terakhirmu bukan tentang siapa yang ingin kau selamatkan."
Monn menatap kegelapan.
Suara itu melanjutkan:
"Pilihan terakhirmu adalah tentang siapa yang bersedia kau lepaskan."
Retakan tertutup.
Ruangan kembali sunyi.
Monn tidak mengatakan apa pun.
Karena untuk pertama kalinya...
ia sadar bahwa mungkin musuh terakhirnya bukanlah seseorang.
Melainkan satu pertanyaan yang jauh lebih sulit:
Jika kau tidak bisa menyelamatkan semua orang, siapa yang akan kau pilih untuk tidak kau selamatkan?