Chapter 47 of 51

Bab 47 — Ruang yang Tidak Pernah Memilih

1.2k words

"Caelum." Suara Mortis terdengar dari balik pintu. Bukan suara yang keras. Bukan pula suara yang mengancam. Justru terlalu tenang. Caelum membeku. Monn menoleh kepadanya. Untuk beberapa detik, Caelum tidak mengatakan apa pun. Kemudian ia menghela napas. "Sudah lama." Monn mengerutkan kening. "Kau mengenal Mortis?" Caelum tidak menjawab. Dari balik pintu terdengar langkah. Tok. Tok. Tok. Sosok Mortis akhirnya muncul. Jubah hitamnya bergerak perlahan meskipun tidak ada angin. Wajahnya masih tersembunyi di balik bayangan tudung. Namun kali ini, ia tidak berdiri di belakang Monn. Ia berdiri di antara Monn dan Caelum. Seolah-olah sedang memisahkan mereka. "Mortis," panggil Monn. Mortis tidak menoleh. "Caelum." Caelum menatapnya. "Aku tahu." "Sudah waktunya." Caelum tersenyum tipis. "Belum." Mortis mengangkat kepalanya. "Justru karena itu." Monn melihat keduanya bergantian. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Caelum akhirnya menatap Monn. "Mortis bukan hanya bagian dari kemampuanmu." Monn terdiam. "Aku sudah tahu itu." "Tidak." Caelum menggeleng. "Kau belum tahu." Mortis perlahan mengangkat tangannya. Satu benang hitam muncul dari telapak tangannya. Benang itu tidak menuju Monn. Ia menuju Caelum. Monn langsung menyadari sesuatu. "Benang kalian..." Caelum menatap benang tersebut. "Ya." "Apa hubungan kalian?" Caelum tidak menjawab. Mortis yang berbicara. "Dia adalah salah satu orang yang pernah mencoba memutuskan pilihanmu." Monn langsung menatap Caelum. Caelum memejamkan mata. "Aku tahu kau akan sampai pada kesimpulan itu." "Apakah itu benar?" "Sebagian." Monn tertawa kecil. "Tentu saja." Ia menggeleng. "Selalu sebagian." Caelum tidak membalas. Monn berjalan mendekatinya. "Jadi kau benar-benar terlibat." "Ya." "Sejak kapan?" "Sejak sebelum kau lahir." Monn berhenti. Ruangan menjadi sunyi. Alaric menatap Caelum dengan tatapan tajam. "Aku tahu." Caelum menoleh. Alaric melanjutkan. "Kau adalah orang yang datang ke Ruang Awal." Monn membeku. "Apa?" Alaric menatap Caelum. "Dua puluh tahun lalu." Caelum diam. Alaric mengepalkan tangan. "Kau berdiri di depan anak itu." Caelum akhirnya mengangguk. "Ya." Monn menatapnya. "Anak yang ada di Ruang Awal..." "Adalah kau." "Dan kau ada di sana?" "Ya." Monn menarik napas. "Kenapa?" Caelum menatap pintu. "Karena saat itu aku mencoba mencari seseorang." "Siapa?" Caelum tidak langsung menjawab. Kemudian ia berkata: "Diriku sendiri." Monn mengerutkan kening. "Aku tidak mengerti." "Aku juga tidak mengerti saat itu." Caelum berjalan menuju pintu. "Ruang Awal bukan tempat untuk menemukan asal seseorang." Ia menyentuh permukaan pintu. "Tempat ini menyimpan kemungkinan yang belum memilih bentuknya." Monn menatap anak kecil yang sebelumnya berdiri di belakang mereka. Namun anak itu sudah tidak ada. Caelum melanjutkan. "Aku menemukan banyak kemungkinan." "Termasuk aku?" "Termasuk kau." "Kenapa kau memilihku?" Caelum menatap Monn. "Aku tidak memilihmu." Monn diam. "Justru itu masalahnya." Caelum membuka pintu sedikit. "Ketika aku menemukanmu, kau sudah ada." Monn mengerutkan kening. "Kalau begitu siapa yang membuatmu kembali?" Caelum tersenyum pahit. "Aku tidak tahu." "Mustahil." "Memang." Caelum menatap Monn. "Itulah yang membuat semuanya lebih buruk." Mortis tiba-tiba mengangkat tangan. Benang hitam yang menghubungkannya dengan Caelum bergetar. Caelum menatapnya. "Jangan." Mortis tidak berhenti. Benang itu perlahan menarik Caelum menuju pintu. Monn refleks ingin menggunakan Blood Thread. Namun ia berhenti. Ia teringat Seraphine. Kalau kau memutuskannya sekarang, bukankah kau sedang memilih untukku? Monn menurunkan tangannya. Caelum melihatnya. "Kau tidak akan menolongku?" Monn menggeleng. "Kalau kau ingin keluar, kau bisa memilih sendiri." Caelum tersenyum. "Jawaban yang benar." "Jangan memujiku." "Aku tidak memujimu." Caelum menatap Mortis. "Aku sedang memastikan bahwa kau benar-benar berubah." Monn mengerutkan kening. "Berubah dari apa?" Caelum tidak menjawab. Mortis menarik benangnya sekali lagi. Caelum akhirnya masuk ke dalam ruangan. Monn mengikuti. Di balik pintu tidak ada kegelapan. Justru ada cahaya putih yang menyilaukan. Ketika penglihatannya kembali normal, Monn melihat sesuatu yang membuatnya terdiam. Tidak ada dinding. Tidak ada lantai. Tidak ada langit. Hanya ruang kosong yang luas. Dan di dalamnya... ada ribuan manusia. Mereka berdiri diam. Tidak bergerak. Tidak berbicara. Tidak memiliki benang. Monn langsung merasa dingin. "Mereka..." Caelum mengangguk. "Pilihan yang tidak pernah dibuat." Monn melihat lebih dekat. Seorang pria yang seharusnya menjadi petani. Seorang perempuan yang seharusnya menjadi penyihir. Seorang anak yang seharusnya meninggalkan keluarganya. Seorang bangsawan yang seharusnya menolak gelarnya. Semua kemungkinan. Semua hidup yang tidak pernah terjadi. Semua berdiri di tempat itu. "Kenapa mereka ada di sini?" Caelum menjawab, "Karena seseorang tidak membiarkan mereka menghilang." Monn menatapnya. "Siapa?" Caelum menggeleng. "Aku tidak tahu." Mortis berdiri di samping mereka. Untuk pertama kalinya, Monn melihat sesuatu yang berbeda pada sosok itu. Bukan ketenangan. Bukan kemisteriusan. Melainkan kesedihan. "Mortis?" Mortis tidak menjawab. Ia berjalan menuju salah satu sosok. Seorang anak kecil. Anak itu memiliki wajah Monn. Namun bukan salah satu versi yang pernah ia lihat. Mortis berlutut di depannya. "Dia..." Monn mendekat. Mortis menyentuh kepala anak itu. "Pilihan yang tidak pernah kau ambil." Monn menatap anak tersebut. "Apa maksudmu?" Mortis menjawab: "Pada satu kehidupan..." Ia berhenti. "...kau memilih untuk tidak kembali kepada keluargamu." Monn terdiam. Ia melihat sosok anak itu. Kemudian gambaran muncul di udara. Monn kecil berdiri di depan gerbang Veylcrest. Ia bisa pergi. Tidak ada yang menahannya. Tidak ada yang memaksanya. Namun dalam kehidupan itu... ia pergi. Ia memilih hidup sebagai orang biasa. Monn menatap pemandangan tersebut. "Jadi kehidupan itu juga nyata?" Caelum menjawab, "Nyata sebagai kemungkinan." Monn menggeleng. "Kalau begitu..." Ia menatap ribuan sosok di sekelilingnya. "...berapa banyak hidup yang seharusnya bisa kumiliki?" "Tak terhitung." Monn terdiam. Kemudian ia melihat sesuatu. Di antara ribuan sosok itu, ada satu orang yang berbeda. Tidak seperti yang lain. Ia memiliki benang. Benang putih. Benang itu terhubung langsung ke Monn. Monn berjalan mendekatinya. Wajah sosok tersebut tidak terlihat. Ia mengenakan pakaian sederhana. Namun saat Monn semakin dekat— sosok itu mengangkat kepala. Monn membeku. Itu adalah Evelyne. Bukan ibunya. Bukan versi yang muncul bersama Caelum. Melainkan seseorang yang tampak lebih muda. Seseorang yang belum pernah Monn lihat. Ia tersenyum. "Monn." Monn tidak mampu menjawab. Sosok itu mengulurkan tangan. "Jadi kau akhirnya datang." Monn menatap benang putih di antara mereka. "Siapa kau?" Wanita itu tersenyum. "Pertanyaan yang sama seperti sebelumnya." Ia menatap benang mereka. "Aku adalah pilihan yang dibuat seseorang..." Tatapannya bergeser kepada Caelum. "...tetapi kemudian ditinggalkan." Caelum langsung menegang. Monn menoleh kepadanya. "Caelum." Caelum tidak menjawab. Wanita itu melanjutkan. "Dia pernah memilihku." Monn membeku. "Untuk apa?" Wanita itu tersenyum tipis. "Untuk menjadi ibumu." Sunyi. Alaric langsung melangkah maju. "Apa?" Wanita itu menatap Alaric. "Kau mengenalku." Wajah Alaric berubah. "Mustahil." "Memang." Wanita itu menatap Monn. "Karena aku bukan Evelyne yang kau kenal." Monn menatap Caelum. "Berapa banyak ibu yang seharusnya kumiliki?" Caelum menundukkan kepala. "Lebih dari satu." Monn terdiam. Kemudian wanita itu mengatakan sesuatu yang membuat seluruh ruangan mendadak bergetar. "Dan salah satu dari mereka..." Ia menatap Monn. "...adalah orang yang pertama kali memilih agar kau kembali." Benang putih di antara mereka menyala. Jauh di belakang mereka, ribuan kemungkinan mulai bergerak. Satu per satu. Dan dari kejauhan terdengar suara yang sangat familiar. Suara Edrin. "Monn." Monn menoleh. Edrin berdiri di antara ribuan kemungkinan. Namun kali ini ia tidak terlihat seperti manusia. Tubuhnya tersusun dari benang. Dan di tangannya ada satu benang merah. "Jangan biarkan dia menyelesaikan pilihannya." Monn menatap wanita itu. Wanita tersebut hanya tersenyum. Kemudian benang putih di antara mereka putus. Bukan karena Monn. Bukan karena wanita itu. Melainkan karena seseorang dari luar ruangan menariknya. Wanita itu tersentak. Monn langsung maju. "Siapa yang menariknya?!" Tidak ada jawaban. Namun seluruh ruang tiba-tiba dipenuhi satu suara: "AKU." Dan semua kemungkinan yang sebelumnya diam— membuka mata mereka bersamaan.

End of Chapter 47

Chapter 47: Bab 47 — Ruang yang Tidak Pernah Memilih - THE THREADS OF DEATH | Novel AI Studio