Chapter 46 of 51

Bab 46 — Pintu di Bawah Blackvale

1.3k words

Retakan di tanah terus melebar. Monn berdiri tepat di depannya, menatap benang putih yang keluar dari celah tersebut. Benang itu berbeda dari Blood Thread. Tidak berwarna merah. Tidak berwarna hitam. Ia hampir transparan, seperti garis cahaya yang memanjang tanpa ujung. Dan yang paling aneh— Monn tidak bisa melihat ke mana ujungnya pergi. Benang itu menembus tanah. Kemudian menembus sesuatu yang lebih dalam. Jauh lebih dalam. Seolah-olah ia tidak menghubungkan dua manusia. Ia menghubungkan dua tempat yang seharusnya tidak pernah bertemu. "Jangan sentuh." Suara Alaric terdengar tegas. Monn menoleh. Ayahnya berdiri beberapa meter darinya dengan wajah serius. "Ayah tahu apa ini?" Alaric tidak langsung menjawab. Lucien menatap ayah mereka. "Ayah." Alaric menarik napas. "Aku pernah melihatnya." Monn terdiam. "Di Ruang Awal?" "Lebih dalam." Jawaban itu membuat semua orang diam. Seraphine melangkah mendekat. "Lebih dalam dari Ruang Awal?" Alaric mengangguk. "Ketika pertama kali menemukan Ruang Awal, aku mengira tempat itu adalah sumber semuanya." Ia menatap retakan. "Ternyata aku salah." Monn melihat Caelum. "Dan kau?" Caelum tidak menjawab. Monn menghela napas. "Semua orang tahu sesuatu." Ia memandang satu per satu wajah di sekitarnya. "Ayah." "Caelum." "Edrin." "Dan mungkin bahkan kau." Tatapannya berhenti pada Other Monn. Other Monn tidak membantah. Monn tersenyum tipis. "Hebat." Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Sepertinya aku satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa tentang hidupku sendiri." Seraphine langsung menatapnya. "Kau tahu." Monn menoleh. "Setidaknya sekarang kau tahu satu hal." "Apa?" Seraphine menunjuk dadanya. "Kau masih bisa memilih." Monn terdiam. Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk membuat napasnya kembali teratur. Tiba-tiba tanah kembali bergetar. DUUM! Retakan melebar. Dari dalamnya muncul tangga batu. Tangga itu turun menuju kegelapan. Tidak ada cahaya. Tidak ada suara. Hanya udara dingin yang naik dari bawah. Alaric langsung berdiri di depan Monn. "Tidak ada yang turun." Monn mengangkat alis. "Kenapa?" "Karena aku pernah turun." Monn membeku. Alaric menatap tangga itu. "Dan aku kehilangan seseorang di sana." "Siapa?" Alaric tidak menjawab. Lucien terlihat terkejut. "Ayah..." Alaric menggeleng. "Belum." Monn mengerutkan kening. "Belum?" "Aku akan menjelaskannya." Alaric memandang Monn. "Tapi tidak di sini." Monn menatap tangga. Sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa jawaban yang selama ini dicari berada di bawah sana. Namun suara lain mengatakan agar ia tidak turun. Dua suara. Dua arah. Untuk pertama kalinya, Monn menyadari bahwa ia tidak perlu langsung mengikuti salah satunya. Ia bisa berhenti. Berpikir. Kemudian memilih. "Aku akan turun." Alaric langsung berkata, "Tidak." Monn menatapnya. "Ayah bisa melarangku." "Aku bukan sedang mencoba mengendalikanmu." "Lalu?" "Aku sedang memperingatkanmu." Monn diam. Alaric melanjutkan. "Jika kau turun, jangan berharap semua yang kau temukan akan membuat hidupmu lebih mudah." Monn tersenyum tipis. "Aku tidak turun untuk mencari hidup yang mudah." Ia melangkah ke tangga. Seraphine mengikutinya. Lucien juga. Cael menghela napas. "Kenapa setiap kali aku berpikir semuanya sudah cukup aneh, kalian malah menemukan tangga ke tempat yang lebih aneh?" Tidak ada yang menjawab. Cael akhirnya ikut. Alaric berdiri sendirian beberapa detik. Kemudian ia turun paling belakang. Edrin tetap di atas. Monn menoleh. "Kau tidak ikut?" Edrin menggeleng. "Belum." "Kenapa?" "Aku sudah pernah melihat apa yang ada di bawah." Monn menatapnya. "Dan?" Edrin tersenyum tipis. "Beberapa pintu lebih aman ketika tetap tertutup." Monn melanjutkan langkah. Tangga itu panjang. Sangat panjang. Mereka berjalan selama beberapa menit tanpa menemukan ujung. Dinding di kiri dan kanan terlihat seperti batu biasa. Namun semakin jauh mereka turun, semakin banyak ukiran yang muncul. Benang. Pintu. Mata. Dan simbol mahkota hitam. Seraphine menyentuh salah satu ukiran. "Ini lebih tua dari Blackvale." Alaric menjawab dari belakang. "Jauh lebih tua." Lucien melihat ukiran lain. "Ada tulisan." Monn mendekat. Tulisan itu hampir hilang karena usia. Tetapi masih bisa dibaca. "Jangan mencari asal dari benang." Di bawahnya: "Carilah alasan mengapa benang membutuhkan manusia." Monn mengerutkan kening. "Apa maksudnya?" Alaric diam. "Alaric." Duke Veylcrest akhirnya berkata, "Benang bukan sumber pilihan." Ia menunjuk ukiran. "Benang hanya muncul karena manusia memilih." Monn mengangguk. "Itu sudah kita ketahui." "Belum seluruhnya." Alaric menatap ke bawah. "Karena jika pilihan menciptakan benang..." Ia berhenti. "...maka sesuatu yang bisa menyentuh semua benang juga bisa memengaruhi cara pilihan itu lahir." Monn terdiam. "Jadi Blood Thread bukan akar masalahnya." "Bukan." "Dan Ruang Asal juga bukan." "Bukan." "Ruang Awal?" Alaric menggeleng. "Bukan." Monn menatap kegelapan di depan. "Lalu apa?" Alaric menjawab: "Manusia." Monn berhenti. Alaric melanjutkan. "Semua tempat itu hanya bereaksi terhadap manusia. Ruang Awal menyimpan kemungkinan. Ruang Asal menyimpan pilihan yang tidak terjadi. Blood Thread menyentuh hubungan antara keinginan dan keputusan." Ia menatap Monn. "Tetapi tidak satu pun dari mereka yang menciptakan kehendak." Monn mulai memahami. "Karena kehendak berasal dari manusia." "Ya." "Kalau begitu..." Monn melihat benang putih yang masih terlihat jauh di bawah. "...siapa yang bisa berada di luar semua itu?" Tidak ada jawaban. Mereka terus turun. Kemudian— DUK. Kaki Monn menyentuh lantai. Mereka sudah sampai. Ruangan di bawah Blackvale sangat luas. Tidak seperti Ruang Awal. Tidak seperti Ruang Asal. Tidak ada pintu. Tidak ada jam. Tidak ada kristal. Hanya satu benda. Sebuah cermin besar berdiri di tengah ruangan. Permukaannya hitam. Monn mendekat. Tidak ada pantulan. Namun setelah ia berdiri beberapa langkah di depannya— cermin itu menyala. Menampilkan Blackvale. Kemudian Eldoria. Kemudian seluruh Asterra. Kemudian dunia. Monn melihat dirinya sendiri dari atas. Seolah-olah seseorang sedang mengamati seluruh dunia dari tempat yang sangat jauh. "Ini..." Seraphine berbisik. "Siapa yang melihat kita?" Cermin berubah. Sekarang hanya Monn yang terlihat. Kemudian muncul tulisan: SUBJEK: MONN VEYLCREST STATUS: MEMILIH Monn membeku. Tulisan berikutnya muncul. HASIL: TIDAK DAPAT DIPREDIKSI Lalu— PENGAMATAN DITOLAK. Cermin mendadak retak. Caelum, yang sejak tadi diam, akhirnya maju. "Jangan." Monn menoleh. "Kau tahu benda ini." Caelum menatap cermin. "Aku pernah melihatnya." "Di mana?" Caelum menjawab dengan suara pelan. "Di tempat yang bahkan Edrin tidak pernah bisa masuki." Monn menunggu. Caelum akhirnya menyebut namanya. "Di luar siklus." Cermin kembali bergerak. Sebuah bayangan muncul di dalamnya. Seseorang sedang duduk di kursi. Wajahnya tidak terlihat. Namun suaranya terdengar jelas. "Jadi akhirnya kau sampai juga." Monn menatap cermin. "Siapa kau?" Bayangan itu tertawa kecil. "Aku?" Ia berdiri. "Pertanyaan yang lebih menarik adalah..." Bayangan itu mendekati permukaan cermin. "...siapa yang memberimu hak untuk menganggap hidupmu milikmu?" Monn terdiam. Seraphine langsung maju. "Jangan dengarkan dia." Bayangan itu tertawa. "Menarik." Ia menatap Seraphine. "Masih ada orang yang mempertahankan pilihannya." Kemudian ia kembali menatap Monn. "Namun kau belum memahami satu hal." "Apa?" "Bahwa bahkan keputusan untuk bebas..." Bayangan itu mengangkat tangannya. "...bisa menjadi bentuk lain dari kendali." Monn mengepalkan tangan. Kalimat itu terasa seperti pukulan. Karena ia tahu ada benarnya. Jika ia terlalu terobsesi untuk tidak dikendalikan, ia bisa mulai mengendalikan dirinya sendiri dengan satu aturan: Aku tidak boleh membiarkan siapa pun menentukan apa pun untukku. Dan itu pun bisa menjadi penjara. Bayangan tersebut tersenyum. "Bagaimana, Monn?" Cermin retak semakin besar. "Maukah kau tetap memilih..." Suara itu berubah menjadi bisikan. "...jika kau tahu bahwa setiap pilihanmu mungkin sudah diperhitungkan?" Monn menatap bayangannya sendiri di cermin yang retak. Kemudian ia tersenyum. "Aku tidak perlu tahu." Bayangan itu diam. Monn melanjutkan. "Kalau pilihanku bisa diperhitungkan, itu tidak berarti pilihan itu bukan milikku." Ia maju satu langkah. "Aku bisa salah." Satu langkah lagi. "Aku bisa menyesal." Satu langkah lagi. "Aku bahkan bisa memilih sesuatu yang tidak kau inginkan." Monn berdiri tepat di depan cermin. "Tapi selama aku yang memilih..." Ia mengangkat tangannya. "...kau tidak bisa memilikinya." CRAAAK! Cermin pecah. Namun sebelum hancur sepenuhnya, bayangan itu berbisik: "Kalau begitu..." Sebuah mata merah terbuka di balik pecahan cermin. "...buatlah pilihan terakhir." Seluruh ruangan bergetar. Dinding runtuh. Dan di balik cermin yang pecah, Monn melihat sesuatu yang membuatnya membeku. Sebuah pintu. Di atasnya tertulis: RUANG YANG TIDAK PERNAH MEMILIH. Pintu itu terbuka perlahan. Dan dari dalamnya terdengar suara Mortis. Namun kali ini— Mortis tidak memanggil Monn. Ia memanggil nama orang lain. "Caelum."

End of Chapter 46