Chapter 45 of 51
Bab 45 — Catatan yang Tidak Seharusnya Ada
1.2k words
Ruangan itu sunyi.
Terlalu sunyi.
Monn berdiri di depan meja tua dengan kedua tangannya mengepal. Di hadapannya, sosok Edrin yang jauh lebih muda masih duduk dengan tenang.
Tidak ada tanda bahwa ia menyadari keberadaan Monn.
Ia hanya menulis.
Satu baris.
Berhenti.
Menulis lagi.
Monn memperhatikan gerakan tangannya.
Tulisan itu berbeda dari catatan yang baru saja mereka lihat.
Hari ke-17.
Subjek mulai menunjukkan kemampuan untuk melihat benang.
Monn membeku.
"Subjek?"
Edrin muda tidak menjawab.
Monn mendekat.
Di halaman berikutnya terdapat gambar seseorang.
Seorang anak laki-laki.
Wajahnya sama dengan Monn.
Di bawah gambar itu tertulis:
MONN — OBSERVASI AWAL.
Jantung Monn berdetak lebih cepat.
"Caelum."
Caelum berdiri beberapa langkah di belakang.
"Aku melihatnya."
"Kenapa ada catatan seperti ini?"
"Aku tidak tahu."
Monn menatapnya.
"Kau bilang kau membawa aku kembali."
Caelum diam.
"Kau bilang kehidupan ini adalah kesempatan."
"Aku memang mengatakan itu."
"Tapi kau tidak pernah bilang bahwa ada orang yang sudah mengamatiku sejak aku lahir."
Caelum tidak menjawab.
Monn membuka halaman berikutnya.
Ada daftar.
Usia 1 — Tidak ada respons terhadap benang.
Usia 3 — Mulai menunjukkan sensitivitas terhadap energi darah.
Usia 5 — Kontak pertama dengan Ruang Awal.
Monn berhenti.
"Usia lima..."
Itulah usia yang disebut Alaric.
Usia ketika anak misterius itu muncul di Ruang Awal.
Monn membalik halaman.
Usia 8 — Tidak mengingat kejadian di Ruang Awal.
Usia 12 — Mulai menunjukkan kecenderungan menyerahkan keputusan kepada orang lain.
Usia 15 — Ketergantungan terhadap ekspektasi keluarga meningkat.
Tangan Monn berhenti.
Dadanya terasa berat.
Ia membaca baris berikutnya.
Usia 17 — Subjek belum memilih jalannya sendiri.
Di bawahnya ada satu kalimat.
"Jika kondisi berlanjut, siklus akan dimulai."
Monn menutup buku.
"Jadi..."
Ia menatap Caelum.
"Sejak awal hidupku memang sudah diamati."
Caelum menggeleng.
"Belum tentu."
Monn menatapnya tajam.
"Belum tentu?"
"Catatan bisa dibuat oleh siapa saja."
"Dan wajah Edrin ada di sini."
Caelum melihat sosok Edrin muda.
"Benar."
Monn berjalan mendekati Edrin muda.
"Siapa kau?"
Tidak ada jawaban.
Monn mengulurkan tangan.
Sebelum menyentuh bahunya—
"Jangan."
Suara Caelum terdengar keras.
Monn berhenti.
"Kenapa?"
"Karena itu bukan Edrin."
Monn menatap sosok tersebut.
"Dia terlihat seperti Edrin."
"Karena dia adalah rekaman."
Monn terdiam.
Caelum menjelaskan,
"Ruang ini tidak menyimpan manusia. Ia menyimpan pilihan, kemungkinan, dan kejadian yang pernah terjadi."
Monn melihat Edrin muda lagi.
"Jadi dia..."
"Hanya sesuatu yang pernah terjadi."
Tiba-tiba Edrin muda berhenti menulis.
Tangannya diam di atas kertas.
Kemudian kepalanya perlahan terangkat.
Matanya menatap tepat ke arah Monn.
Monn membeku.
"Itu rekaman, katamu?"
Caelum tidak menjawab.
Edrin muda berdiri.
Gerakannya kaku.
Seperti seseorang yang baru belajar bergerak.
Ia mengambil buku dari meja.
Lalu berjalan menuju Monn.
Setiap langkahnya terdengar jelas.
Tok.
Tok.
Tok.
Ia berhenti di depan Monn.
Kemudian memberikan buku tersebut.
Monn menerimanya.
Halaman yang sebelumnya tertutup kini terbuka sendiri.
Ada tulisan baru.
Tulisan yang belum pernah Monn lihat.
"Jika kau membaca ini, berarti aku gagal."
Monn mengerutkan kening.
Kalimat berikutnya muncul perlahan di halaman.
Seolah-olah ditulis oleh tangan yang tidak terlihat.
"Jangan percaya kepada orang yang mengatakan bahwa mereka tahu seluruh kebenaran."
Monn menoleh kepada Caelum.
Caelum tidak bergerak.
Kalimat lain muncul.
"Termasuk aku."
Monn kembali melihat buku.
Edrin muda mengangkat tangannya.
Menunjuk satu nama.
ALERIC Veylcrest.
Monn terdiam.
Nama ayahnya.
Di bawah nama tersebut terdapat catatan:
"Dia menemukan Ruang Awal."
Halaman berikutnya.
"Dia mencoba menghancurkannya."
Halaman berikutnya.
"Dia gagal."
Monn menarik napas.
"Kenapa?"
Tidak ada jawaban.
Kemudian halaman berikutnya terbuka.
Ada gambar Ruang Awal.
Sebuah ruangan bundar.
Di tengahnya terdapat seorang anak kecil.
Anak yang sama.
Tetapi kali ini ada seseorang berdiri di belakangnya.
Seorang perempuan.
Rambut panjang.
Wajah samar.
Monn langsung mengenalinya.
"Evelyne..."
Caelum melangkah maju.
"Jangan menyimpulkan terlalu cepat."
Monn menunjuk gambar itu.
"Ini ibuku."
"Mungkin."
"Mungkin?"
Caelum menatap gambar tersebut.
"Itu bisa jadi Evelyne."
"Atau?"
"Versi lain dari Evelyne."
Monn terdiam.
Misteri itu semakin dalam.
Namun kali ini ia tidak ingin langsung menemukan jawabannya.
Ia sudah belajar.
Setiap jawaban yang terlalu cepat sering kali berubah menjadi tali baru.
Monn menutup buku.
"Aku ingin bertemu ayahku."
Caelum mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Karena dia tahu lebih banyak daripada yang dia katakan."
Monn berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, ia berhenti.
Ia melihat Edrin muda.
Sosok itu kembali duduk.
Kembali menulis.
Monn memperhatikannya sebentar.
Kemudian bertanya,
"Kalau kau benar-benar hanya rekaman..."
Edrin muda tidak menoleh.
"...kenapa kau memperingatkanku?"
Tangannya berhenti.
Untuk beberapa detik, tidak terjadi apa-apa.
Lalu ia menulis satu kalimat.
Monn dapat membacanya dari jauh.
"Karena aku pernah membuat pilihan yang sama."
Monn diam.
Pintu terbuka.
Cahaya dari Blackvale masuk ke ruangan.
Ketika Monn melangkah keluar, suara Edrin muda terdengar untuk pertama kalinya.
"Monn."
Monn menoleh.
Sosok itu masih duduk membelakanginya.
"Jangan mencari orang yang membawamu kembali."
Monn menunggu.
"Apa yang harus kucari?"
Edrin muda menjawab pelan.
"Orang yang memutuskan bahwa kau harus kembali."
Monn membeku.
Kemudian ruangan di belakangnya menghilang.
Ia kembali berdiri di alun-alun Blackvale.
Seraphine langsung mendekat.
"Kau baik-baik saja?"
Monn mengangguk.
"Ya."
Lucien memperhatikan wajahnya.
"Apa yang kau lihat?"
Monn hendak menjawab.
Namun suara lain terdengar.
"Dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat."
Semua menoleh.
Edrin berdiri di ujung alun-alun.
Edrin yang sekarang.
Monn menggenggam buku yang baru saja dibawanya.
"Kalau begitu, mungkin kau bisa menjelaskannya."
Edrin menatap buku itu.
Wajahnya berubah.
Bukan takut.
Bukan marah.
Melainkan seperti seseorang yang melihat masa lalunya sendiri kembali menghantuinya.
"Kau menemukannya."
Monn mengangguk.
"Catatan tentangku."
Edrin diam.
"Catatan yang dimulai sejak aku lahir."
Tidak ada jawaban.
Monn melangkah maju.
"Siapa yang membuatnya?"
Edrin menatap Monn.
"Aku."
Semua orang terdiam.
Alaric langsung maju.
"Kau?"
Edrin mengangguk.
"Aku yang menulis sebagian besar catatan itu."
Monn menggenggam buku lebih erat.
"Kenapa?"
Edrin menatap langit.
Mahkota hitam masih menggantung di sana, tetapi mata merahnya telah tertutup.
"Aku ingin mengetahui apakah seseorang bisa benar-benar bebas jika diberi kesempatan kedua."
Monn menatapnya.
"Jadi aku percobaan?"
Edrin menggeleng.
"Awalnya."
Monn terdiam.
"Awalnya?"
Edrin menatap langsung ke matanya.
"Kemudian aku sadar..."
Ia menarik napas.
"...aku bukan orang yang membuatmu kembali."
Monn membeku.
"Kalau begitu siapa?"
Edrin tidak menjawab.
Ia hanya melihat buku di tangan Monn.
"Orang yang melakukannya..."
Suara Edrin menjadi sangat pelan.
"...bahkan tidak berada di dalam siklus."
Monn merasakan Blood Thread di tubuhnya bergetar.
Bukan karena Edrin.
Bukan karena Caelum.
Melainkan karena sesuatu jauh di bawah tanah.
Sesuatu yang selama ini belum pernah muncul.
Tanah Blackvale tiba-tiba bergetar.
DUUM!
Retakan kecil menjalar dari kaki Monn.
Alaric langsung menarik Lucien dan Seraphine menjauh.
"Semua mundur!"
Retakan itu semakin lebar.
Dari dalam tanah terdengar suara.
Bukan suara manusia.
Bukan suara monster.
Melainkan suara seperti ribuan benang ditarik bersamaan.
Srrrkkk...
Monn menatap ke bawah.
Sebuah cahaya putih muncul dari celah.
Dan bersama cahaya itu...
muncul sebuah kalimat.
Bukan di dinding.
Bukan di kaca.
Bukan di langit.
Melainkan langsung di benang milik Monn.
"KAU BUKAN YANG PERTAMA MEMILIH."
Monn terdiam.
Kalimat kedua muncul.
"DAN KAU JUGA BUKAN YANG TERAKHIR."
Kemudian satu benang baru muncul.
Benang yang belum pernah Monn lihat sebelumnya.
Benang itu tidak menghubungkan dirinya dengan siapa pun.
Benang itu mengarah...
ke luar dunia.
Monn menatapnya dengan wajah kosong.
Caelum berdiri di sampingnya.
Untuk pertama kalinya, ia berbisik:
"...akhirnya ditemukan."
Monn menoleh.
"Ditemukan apa?"
Caelum tidak menjawab.
Karena dari balik retakan tanah terdengar suara seorang anak.
Suara yang sama dengan anak di Ruang Awal.
Namun kali ini suaranya tidak berasal dari anak itu.
Suara tersebut datang dari bawah Blackvale.
"Pintu berikutnya sudah terbuka."