Chapter 44 of 51

Bab 44 — Wajah dari Kehidupan Pertama

1.1k words

Monn tidak berkedip. Di balik pintu itu berdiri seseorang yang seharusnya tidak mungkin ada. Dirinya sendiri. Namun bukan Monn yang sekarang. Rambutnya lebih panjang. Wajahnya lebih pucat. Tatapannya jauh lebih tua daripada usia tubuhnya. Dan yang paling membuat Monn sulit bernapas adalah mata itu. Mata yang pernah ia lihat setiap kali berdiri di depan cermin dalam kehidupan pertamanya. Mata seseorang yang telah kehilangan terlalu banyak hal. Mata seseorang yang pada akhirnya memilih untuk mengendalikan semuanya. Monn dari kehidupan pertama. Versi itu tersenyum. "Akhirnya." Suara itu sama. Terlalu sama. Monn tidak sadar bahwa tangannya sudah mengepal. "Kau..." Versi di balik pintu mengangguk. "Ya." "Bagaimana kau bisa ada?" "Pertanyaan yang salah." Versi pertama melangkah mendekat. "Pertanyaan yang benar adalah..." Ia berhenti di balik pintu. "...mengapa kau mengira aku sudah tidak ada?" Monn tidak menjawab. Caelum berdiri beberapa langkah di belakangnya. Untuk pertama kalinya sejak Monn mengenalnya, Caelum terlihat benar-benar waspada. "Jangan mendekat." Monn menoleh. "Kenapa?" Caelum menatap versi pertama dengan tajam. "Karena dia bukan sekadar ingatan." Versi pertama tertawa kecil. "Benar." Ia mengangkat tangannya. Sebuah benang merah muncul dari telapak tangannya. Benang itu tidak menuju Monn. Tidak menuju Caelum. Tidak menuju anak kecil. Benang itu menuju sesuatu yang tidak terlihat. Kemudian benang tersebut bergerak. Seperti sedang mencari. Monn langsung mengenalinya. Blood Thread. Namun ada sesuatu yang berbeda. Benang itu lebih gelap. Lebih tua. Dan terasa jauh lebih berat daripada miliknya. "Dia memiliki Blood Thread," gumam Monn. Caelum menjawab, "Bukan." Monn menatapnya. "Kalau begitu apa?" "Jejak." Versi pertama tersenyum. "Caelum selalu suka menggunakan kata-kata yang terdengar rumit." Ia menarik benang tersebut sedikit. Seluruh ruangan bergetar. Pintu-pintu di sekeliling mereka terbuka bersamaan. Monn melihat puluhan kehidupan. Seorang Monn menjadi prajurit. Seorang Monn meninggalkan keluarga. Seorang Monn menjadi penyihir. Seorang Monn tidak pernah bertemu Seraphine. Seorang Monn mati muda. Seorang Monn hidup sebagai rakyat biasa. Dan di antara semuanya— ada satu kehidupan yang membuat Monn terdiam. Eldoria. Kota itu penuh dengan benang. Ribuan. Jutaan. Semua mengarah kepada satu titik. Kepada Monn. Versi pertama berdiri di tengah kota. Tangannya terangkat. Benang-benang bergerak mengikuti kehendaknya. Orang-orang berjalan. Pedagang membuka toko. Tentara meninggalkan pos. Para bangsawan menandatangani perjanjian. Perang berhenti. Kelaparan berakhir. Kejahatan menurun. Semuanya terlihat... sempurna. Monn menatap pemandangan itu. "Ini..." "Kehidupanku." Versi pertama menjawab. "Aku berhasil." Monn terdiam. "Kau berhasil?" "Ya." Versi pertama tersenyum. "Aku menyelamatkan mereka semua." Monn memandangi kota itu. Tidak ada mayat. Tidak ada kehancuran. Tidak ada perang. Tidak ada tangisan. Namun juga... tidak ada pilihan. Semua orang bergerak dengan pola yang sama. Semua keputusan telah diarahkan. Semua keinginan telah dibentuk. Kota itu damai. Tetapi kota itu tidak hidup. "Kenapa kau menunjukkan ini kepadaku?" "Karena kau terus berpikir bahwa aku adalah kesalahan." Versi pertama mendekat. "Padahal aku adalah hasil dari keputusanmu." Monn mengerutkan kening. "Aku tidak memilih menjadi seperti itu." "Benarkah?" Versi pertama menunjuk dadanya sendiri. "Setiap kali kau berkata, 'Aku harus menyelamatkan mereka.'" Ia menunjuk Monn. "Setiap kali kau berkata, 'Aku tahu apa yang terbaik untuk mereka.'" Benang merah di sekeliling mereka bergetar. "Setiap kali kau mengorbankan pilihan seseorang demi hasil yang menurutmu benar..." Ia tersenyum. "...kau menciptakanku." Monn terdiam. Kata-kata itu menyakitkan bukan karena terdengar asing. Tetapi karena terlalu familiar. Ia pernah berpikir demikian. Jika aku bisa menyelamatkan mereka, bukankah aku harus melakukannya? Jika aku tahu pilihan terbaik, mengapa membiarkan mereka memilih yang salah? Kalau mereka menderita karena pilihannya sendiri, bukankah lebih baik aku mengambil keputusan untuk mereka? Itulah awalnya. Bukan kebencian. Bukan kegilaan. Melainkan keinginan untuk menyelamatkan. Monn menatap tangannya sendiri. "Aku tidak ingin menjadi seperti itu lagi." Versi pertama tersenyum. "Bagus." Ia melepaskan benangnya. "Aku juga tidak." Monn mengangkat kepala. "Apa?" Versi pertama menatapnya. "Aku lelah." Kalimat itu sederhana. Namun untuk pertama kalinya, Monn melihat sesuatu yang berbeda dari versi dirinya tersebut. Bukan kebanggaan. Bukan kesombongan. Melainkan penyesalan. "Aku menghabiskan hidupku memastikan semua orang mendapatkan akhir yang kuinginkan." Ia menundukkan kepala. "Tapi aku tidak pernah bertanya apakah mereka menginginkan akhir itu." Monn diam. "Jadi..." Versi pertama mengangkat wajahnya. "...aku ingin kau melakukan sesuatu yang tidak bisa kulakukan." "Apa?" "Biarkan mereka memilih." Monn terkejut. Caelum memejamkan mata. Anak kecil itu juga diam. Versi pertama kemudian mengulurkan tangannya. "Ambil benang ini." Monn melihat benang merah tersebut. "Untuk apa?" "Untuk mengakhiri semuanya." Monn tidak langsung menjawab. "Kalau aku mengambilnya?" "Kau akan mendapatkan semua ingatanku." "Dan?" "Kau akan mengetahui seluruh siklus." Monn menatap benang itu. Godaan itu besar. Ia ingin tahu. Tentang Ruang Awal. Tentang Ruang Asal. Tentang Caelum. Tentang Edrin. Tentang Mortis. Tentang alasan ia kembali. Tentang siapa yang memulai semuanya. Namun ada sesuatu yang lebih penting. Ia sudah pernah berada di sini. Setiap kali seseorang menawarkan jawaban lengkap, ada harga yang tersembunyi di baliknya. Monn mundur satu langkah. "Aku tidak akan mengambilnya." Versi pertama tersenyum. "Aku tahu." "Kenapa?" "Karena kalau kau mengambilnya..." Versi pertama menatapnya. "...kau akan kembali menjadi aku." Sunyi. Tiba-tiba— KRAK! Benang merah di tangan versi pertama retak. Wajahnya berubah. "Pergilah." Monn mengerutkan kening. "Apa?" "SEKARANG." Pintu-pintu di sekitar mereka mulai menutup. Caelum langsung menarik Monn menjauh. "Jangan melawan." "Apa yang terjadi?" "Dia sedang melepaskan dirinya." Versi pertama tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, senyum itu terlihat damai. "Monn." Monn menoleh. "Jalani hidupmu." Benang merah di tubuh versi pertama mulai menghilang. "Aku sudah mencoba mengendalikan semuanya." Ia menatap Monn untuk terakhir kalinya. "Jangan ulangi kesalahanku." Tubuhnya berubah menjadi cahaya. Namun sebelum menghilang sepenuhnya, ia berkata: "Dan kalau suatu hari kau bertemu Mortis..." Monn menahan napas. "...jangan perlakukan dia sebagai senjata." Cahaya itu lenyap. Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi. Monn berdiri tanpa bergerak. Caelum menatapnya. "Dia memilih untuk menghilang." Monn mengangguk. "Ya." "Tanpa kau memaksanya." "Ya." Anak kecil itu tersenyum. "Bagus." Monn menoleh. "Kau puas?" "Belum." Anak itu berjalan menuju sebuah pintu lain. "Karena sekarang kau sudah melihat siapa dirimu." Ia menyentuh gagang pintu. "Tapi kau belum melihat siapa yang membuatmu kembali." Monn langsung menatap Caelum. Caelum tidak menjawab. Anak itu membuka pintu. Di baliknya bukan kehidupan lain. Bukan Ruang Awal. Bukan Ruang Asal. Melainkan sebuah ruangan kecil. Sebuah meja. Satu kursi. Dan seseorang duduk membelakangi mereka. Rambut putih. Tubuh kurus. Tangannya sedang menulis sesuatu pada sebuah buku. Monn melangkah mendekat. Orang itu berhenti menulis. Kemudian perlahan menoleh. Monn membeku. Karena wajah itu— adalah wajah Edrin. Namun bukan Edrin yang mereka kenal. Lebih muda. Jauh lebih muda. Dan di atas meja di depannya terdapat sebuah catatan. Tulisan di halaman pertama hanya terdiri dari satu kalimat: "Percobaan pertama dimulai pada hari Monn dilahirkan." Monn menatap tulisan itu. Lalu melihat Caelum. "Katamu kehidupan sekarang bukan percobaan." Caelum diam. Monn kembali menatap buku itu. Dan untuk pertama kalinya... Caelum tidak punya jawaban.

End of Chapter 44

Chapter 44: Bab 44 — Wajah dari Kehidupan Pertama - THE THREADS OF DEATH | Novel AI Studio