Chapter 43 of 51
Bab 43 — Kemungkinan yang Memilih
1.1k words
Debu beterbangan di seluruh alun-alun.
Pecahan kaca dari jam raksasa jatuh satu demi satu, memantulkan cahaya merah dari mata hitam di langit.
Monn tidak bergerak.
Bukan karena takut.
Melainkan karena sesuatu di hadapannya membuat pikirannya berhenti bekerja.
Seorang anak berdiri di tengah pecahan jam.
Usianya sekitar lima tahun.
Rambut hitam.
Kulit pucat.
Mata merah gelap.
Wajah itu...
adalah wajah Monn.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Anak itu tidak memiliki benang.
Tidak satu pun.
Monn langsung teringat pada Ruang Awal.
Dua puluh tahun lalu.
Anak yang sama.
Anak yang pernah ditemukan Alaric dan Evelyne sebelum Monn lahir.
Anak yang seharusnya hanya sebuah kemungkinan.
Tetapi sekarang berdiri di hadapannya.
Nyata.
"Jadi kau akhirnya keluar."
Suara Other Monn terdengar.
Anak itu menoleh.
"Kau bukan aku."
Other Monn tersenyum tipis.
"Aku juga tidak pernah mengatakan bahwa aku adalah kau."
"Bagus."
Anak itu menatap Monn lagi.
"Aku juga bukan dia."
Monn mengerutkan kening.
"Siapa kau?"
Anak itu diam cukup lama.
Kemudian menjawab.
"Aku belum punya nama."
Jawaban sederhana itu justru membuat Monn merasa tidak nyaman.
"Kalau begitu..."
Monn berhenti.
Dulu, ia akan langsung menentukan nama untuknya.
Menentukan siapa dia.
Menentukan apa yang harus ia lakukan.
Menentukan ke mana ia harus pergi.
Tetapi kali ini Monn tidak melakukannya.
"Namamu harus kau pilih sendiri."
Anak itu menatapnya.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah.
"Kenapa?"
"Karena itu hidupmu."
Anak itu memiringkan kepalanya.
"Kalau aku memilih nama yang salah?"
"Mungkin kau akan menyesal."
"Kalau begitu?"
"Carilah nama lain."
Anak itu terdiam.
Seraphine memperhatikan mereka tanpa menyela.
Lucien juga tidak mengatakan apa pun.
Bahkan Alaric, yang biasanya akan langsung memberikan perintah, hanya berdiri diam.
Anak itu akhirnya tersenyum kecil.
"Menarik."
Monn menatapnya.
"Apa?"
"Dulu kau berbeda."
Monn membeku.
"Dulu?"
Anak itu mengangguk.
"Kau selalu ingin menentukan semuanya."
Sebuah tekanan tiba-tiba memenuhi udara.
Blood Thread di tubuh Monn bergetar.
Bukan karena serangan.
Melainkan karena ingatan.
Potongan-potongan kehidupan yang bukan miliknya mulai muncul.
Sebuah kota.
Eldoria.
Orang-orang berlutut.
Benang merah memenuhi langit.
Dan Monn—
berdiri di tengah semuanya.
Tangannya terangkat.
Ratusan orang bergerak mengikuti kehendaknya.
Kemudian Mortis muncul di belakangnya.
Monn menutup mata.
"Cukup."
Penglihatan itu menghilang.
Anak tersebut memperhatikannya.
"Kau masih ingat."
"Sedikit."
"Bagus."
Anak itu berjalan mendekat.
Setiap langkahnya membuat udara terasa lebih berat.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu."
"Apakah aku harus mengikutimu?"
"Tidak."
Anak itu menunjuk ke tanah.
"Kalau kau mau, kau bisa tetap di sini."
Monn terdiam.
Itulah perbedaannya.
Tidak ada paksaan.
Tidak ada benang.
Tidak ada perintah.
Hanya pilihan.
Monn akhirnya melangkah maju.
"Aku ikut."
Anak itu berbalik.
Namun sebelum mereka pergi, Seraphine memanggil.
"Monn."
Monn menoleh.
Seraphine menatapnya dengan serius.
"Jangan pergi hanya karena dia memintamu."
"Aku tahu."
"Dan jangan tinggal hanya karena kami menginginkanmu tetap di sini."
Monn terdiam.
Kemudian tersenyum.
"Ya."
Seraphine mengangguk.
"Kalau begitu pergilah."
Monn berjalan mengikuti anak itu.
Namun baru beberapa langkah—
DUK.
Seseorang menghentikannya.
Alaric.
Tangannya mencengkeram bahu Monn.
"Jangan."
Monn menatap ayahnya.
"Ayah tahu siapa dia?"
Alaric tidak menjawab.
"Ayah."
"Monn."
Suara Alaric lebih rendah dari biasanya.
"Jika kau mengikuti anak itu, kau mungkin tidak akan bisa kembali."
Monn memandang tangan ayahnya.
Dulu, ia mungkin akan menurut.
Tetapi sekarang ia bertanya.
"Apakah itu alasan Ayah melarangku?"
Alaric diam.
"Atau karena Ayah takut aku mengetahui sesuatu yang Ayah sembunyikan?"
Tatapan Alaric berubah.
Monn melepaskan tangan ayahnya.
"Aku tidak akan membiarkan ketakutan Ayah menentukan pilihanku."
Alaric mengepalkan tangannya.
Namun ia tidak mengejar.
"Kalau begitu..."
Alaric menarik napas.
"...kembalilah."
Monn mengangguk.
"Aku akan berusaha."
Ia kembali mengikuti anak tersebut.
Mereka masuk ke dalam retakan yang sebelumnya menjadi tempat jam berdiri.
Di baliknya tidak ada ruangan.
Tidak ada lorong.
Hanya kegelapan.
Tetapi setelah beberapa langkah, Monn melihat cahaya.
Sebuah ruangan.
Dindingnya penuh dengan pintu.
Puluhan.
Ratusan.
Mungkin ribuan.
Setiap pintu memiliki nama.
MONN Veylcrest.
MONN Veylcrest.
MONN Veylcrest.
Nama yang sama.
Namun setiap pintu memiliki bentuk berbeda.
Anak itu berhenti.
"Ini semua adalah pilihanmu."
Monn menatap pintu-pintu tersebut.
"Aku?"
"Ya."
"Berapa banyak?"
"Tidak ada yang tahu."
Monn berjalan mendekati salah satu pintu.
Pada permukaannya tertulis:
MONN YANG TIDAK PERNAH MENJADI ANAK DUKE.
Pintu berikutnya:
MONN YANG MENINGGALKAN Veylcrest.
Yang lain:
MONN YANG TIDAK PERNAH BERTEMU SERAPHINE.
Monn berhenti.
Tangannya mengepal.
"Jadi ini Ruang Asal?"
Anak itu menggeleng.
"Bukan."
"Ruang Awal?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
Anak itu menatap seluruh ruangan.
"Tempat sebelum pilihan."
Monn merasa dadanya berat.
Tempat sebelum pilihan.
Tempat di mana semua kemungkinan belum menjadi kenyataan.
"Kenapa aku dibawa ke sini?"
Anak itu menatapnya.
"Karena seseorang ingin membuatmu memilih."
"Siapa?"
Anak itu tidak menjawab.
Monn melihat ke belakang.
Pintu tempat ia masuk tadi sudah tidak ada.
"Jadi aku terjebak?"
"Tidak."
Anak itu menggeleng.
"Kau masih bisa pergi."
"Bagaimana?"
"Pilih."
Monn tertawa kecil.
"Lucu."
"Apa?"
"Setelah semua yang terjadi, sekarang aku hanya disuruh memilih."
Anak itu menatapnya tanpa ekspresi.
"Karena itulah yang selama ini tidak kau lakukan."
Monn terdiam.
Kalimat itu mengenai sesuatu yang dalam.
Ia pernah berpikir bahwa masalahnya adalah orang lain.
Ayahnya.
Ibunya.
Keluarganya.
Masyarakat.
Takdir.
Bahkan dunia.
Tetapi mungkin...
sebagian masalah memang berasal darinya sendiri.
Bukan karena ia lemah.
Bukan karena ia tidak memiliki pilihan.
Tetapi karena ia terlalu sering menyerahkan keputusan kepada sesuatu yang menurutnya lebih besar daripada dirinya.
Monn menatap pintu-pintu itu.
Kemudian ia melihat sebuah pintu kecil di ujung ruangan.
Tidak memiliki nama.
Tidak memiliki simbol.
Tidak memiliki benang.
"Yang itu apa?"
Anak itu tersenyum.
"Itu milikku."
Monn berjalan mendekat.
"Kau ingin aku membukanya?"
"Tidak."
Anak itu menatap pintu tersebut.
"Aku ingin membukanya sendiri."
Monn berhenti.
Untuk beberapa detik, ia tidak berkata apa-apa.
Kemudian ia mundur.
"Silakan."
Anak itu berjalan menuju pintu.
Tangannya menyentuh gagang.
Namun sebelum membukanya—
KLIK.
Suara langkah terdengar dari belakang.
Monn berbalik.
Seseorang berdiri di antara pintu-pintu.
Rambut putih.
Pakaian hitam sederhana.
Mata merah.
Caelum.
Namun wajahnya tidak seperti biasanya.
Ia tidak tersenyum.
"Monn."
Monn menatapnya.
"Caelum."
Caelum memandang anak kecil itu.
"Aku sudah menduga kau akan sampai di sini."
Anak itu menoleh.
"Dan aku sudah menduga kau akan datang."
Monn melihat keduanya.
"Kalian saling mengenal?"
Caelum tidak menjawab.
Anak itu yang menjawab.
"Dia mengenalku."
Caelum akhirnya berkata,
"Karena aku pernah melihatnya sebelum kau lahir."
Monn membeku.
Caelum melanjutkan.
"Dan aku tahu satu hal yang mungkin tidak ingin kau dengar."
"Apa?"
Caelum menatap pintu kecil itu.
"Anak itu bukan bagian dari siklus."
Monn menyipitkan mata.
"Lalu apa?"
Caelum menjawab pelan.
"Dia adalah alasan kenapa siklus itu bisa ada."
Anak itu tersenyum.
Kemudian pintu di depannya terbuka sedikit.
Dari celahnya keluar cahaya putih.
Dan suara yang sangat familiar terdengar dari dalam.
Suara Evelyne.
"Monn..."
Anak itu menatap ibunya yang mungkin bukan ibunya.
Kemudian menatap Monn.
"Jangan khawatir."
Ia membuka pintu sedikit lebih lebar.
"Aku tidak akan memilih untukmu."
Senyumnya menghilang.
"Aku hanya ingin menunjukkan siapa yang selama ini memilih untuk kita."
Monn menatap ke dalam.
Di balik pintu itu...
berdiri seseorang.
Seseorang yang tidak seharusnya berada di sana.
Dan ketika sosok itu mengangkat wajahnya—
Monn melihat dirinya sendiri.
Bukan dirinya yang sekarang.
Bukan Other Monn.
Bukan Noctis.
Melainkan Monn dari kehidupan pertama.
Versi dirinya yang seharusnya sudah mati.
Dan ia sedang tersenyum.