Chapter 42 of 51

Bab 42 — Ketika Pilihan Menjadi Beban

1.1k words

Angka empat pada jam itu menghilang. Bukan berubah menjadi tiga. Angka itu hanya... padam. Monn menatap lingkaran jam raksasa di tengah alun-alun Blackvale. Jarumnya tidak bergerak, tetapi sesuatu di sekelilingnya berubah. Satu orang berlutut. Lalu dua. Kemudian puluhan. Tidak ada yang memerintahkan mereka. Tidak ada benang yang menarik tubuh mereka. Mereka hanya berhenti. Seolah-olah dunia telah mengajarkan mereka satu hal sederhana: Tidak memilih jauh lebih mudah daripada memilih. "Monn." Suara Seraphine terdengar di sampingnya. Monn menoleh. Mata gadis itu masih biru. Benangnya masih terlihat. Tetapi tangannya gemetar. "Aku mulai merasa..." Seraphine menarik napas. "Aku tidak ingin memilih apa pun." Monn terdiam. Itu bukan kalimat yang seharusnya membuatnya takut. Namun justru itulah yang membuatnya takut. Karena jika seseorang kehilangan kemampuan untuk memilih, maka tidak ada lagi keputusan yang bisa disalahkan. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada tanggung jawab. Hanya kekosongan. Monn memandang warga Blackvale yang berdiri di sekeliling mereka. Seorang pedagang menjatuhkan keranjangnya. Seorang penjaga meletakkan pedangnya. Seorang ibu memeluk anaknya tanpa ekspresi. "Aku tidak perlu memilih." "Aku tidak perlu memikirkan." "Aku tidak perlu menyesal." Kalimat-kalimat itu keluar dari mulut mereka dengan nada yang sama. Datar. Seragam. Monn merasakan sesuatu dingin menjalar di punggungnya. Bukan karena Blood Thread. Karena ia mengenali kalimat itu. Ia pernah mengucapkannya. Dalam kehidupannya yang pertama. Ketika ayahnya menentukan jalan hidupnya. Ketika keluarganya menentukan siapa yang harus ia percaya. Ketika masyarakat menentukan seperti apa seorang Veylcrest seharusnya hidup. Ia tidak melawan. Ia hanya berpikir— Tidak apa-apa. Biarkan mereka memilih. Ini lebih mudah. Dan akhirnya... Ia mati tanpa pernah benar-benar memilih apa pun. "Jadi ini yang ingin kau tunjukkan kepadaku?" Monn mengangkat kepalanya. Tatapannya tertuju kepada Edrin yang berdiri jauh di atas bangunan. Edrin tidak menjawab. Di belakangnya, bayangan hitam berbentuk mahkota masih menggantung di langit. Mata merah di tengahnya perlahan terbuka. "TIGA." Suara itu terdengar dari segala arah. Seraphine menatap jam. "Monn..." "Aku tahu." "TIGA PILIHAN TELAH DITINGGALKAN." Monn mengepalkan tangan. "Pilihan siapa?" Tidak ada jawaban. Namun sebuah suara terdengar dari belakangnya. "Aku." Monn berbalik. Other Monn berdiri beberapa meter darinya. Versi dirinya yang seharusnya tidak ada. Rambut hitam. Wajah yang sama. Mata yang sama. Tetapi ekspresinya berbeda. Ia tampak lelah. "Aku meninggalkan pilihanku." Monn menatapnya. "Apa maksudmu?" Other Monn tersenyum tipis. "Aku adalah hasil dari pilihan yang tidak pernah kau ambil." Ia mengangkat tangannya. Benang merah yang menghubungkannya dengan tanah bergetar. "Aku hidup karena kau tidak memilihku." Monn mengerutkan kening. "Kalau begitu, kenapa kau masih ada?" "Itulah masalahnya." Other Monn menatap jam. "Pilihan yang tidak diambil seharusnya menghilang." Ia menunjuk ke bawah. "Tapi seseorang menyimpannya." Monn langsung menoleh kepada Edrin. Pria itu masih berdiri di atas bangunan. Namun kali ini wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya, Edrin terlihat khawatir. "Jangan dengarkan dia." Other Monn tertawa kecil. "Lucu." Edrin menatapnya tajam. "Kau tidak mengerti apa yang sedang terjadi." "Mungkin." Other Monn mengangkat bahu. "Tapi kau juga tidak pernah mengatakan semuanya." Sunyi. Monn melihat keduanya. Kemudian ia melihat Seraphine. Lucien. Alaric. Cael. Mereka semua menunggu. Bahkan dalam keadaan seperti ini, mereka masih menunggunya mengambil keputusan. Dan tiba-tiba Monn menyadari sesuatu. Ia hampir melakukan kesalahan yang sama. Semua orang sedang menunggunya memilih untuk mereka. Jika ia mengambil keputusan sekarang, lalu memaksa seluruh Blackvale mengikuti keputusannya... Bukankah itu juga bentuk pengosongan? Hanya dengan nama yang berbeda? Monn menutup matanya. Blood Thread berdenyut di dalam tubuhnya. Ia bisa melakukannya. Ia tahu caranya. Crimson Dominion. Jika ia mengaktifkannya, ia mungkin bisa menghubungkan seluruh benang di kota. Kemudian ia bisa memaksa benang-benang itu kembali bergerak. Memberikan mereka dorongan. Memberikan mereka kehendak. Membuat mereka memilih. Tetapi... Itu bukan pilihan mereka. Itu pilihannya. "Monn?" Lucien memanggil. Monn membuka mata. "Aku punya cara." Semua menatapnya. "Tapi aku tidak akan menggunakannya." Alaric langsung mengerutkan kening. "Kalau begitu bagaimana kau akan menyelamatkan mereka?" Monn menatap ayahnya. Dulu, pertanyaan seperti itu selalu berhasil membuatnya merasa bersalah. Kalau kau bisa menyelamatkan seseorang, mengapa tidak melakukannya? Tetapi kali ini jawabannya berbeda. "Aku tidak tahu." Alaric terdiam. Monn melanjutkan. "Dan untuk pertama kalinya, aku tidak malu mengatakannya." Angin melewati alun-alun. Seraphine tersenyum kecil. "Bagus." Monn menoleh. Seraphine memandang warga Blackvale. "Kalau kau tidak tahu, berarti kita masih punya alasan untuk mencari tahu." Cael mengangkat tangannya. "Dan kalau rencananya gagal?" Monn tersenyum tipis. "Ya." "Ya?" "Kita akan menghadapi akibatnya." Cael menghela napas. "Jawabanmu makin lama makin merepotkan." "Memang." Untuk sesaat, suasana terasa hampir normal. Namun kemudian— KRAK. Jam raksasa di tengah alun-alun retak. Satu garis hitam membelah permukaannya. DUA. Semua orang yang kehilangan benangnya menoleh bersamaan. Mata mereka berubah semakin merah. Lalu mereka mulai berjalan. Bukan menuju Monn. Bukan menuju jam. Mereka berjalan menuju rumah masing-masing. Menuju keluarga mereka. Menuju kehidupan yang sebelumnya mereka tinggalkan. Monn melihat seorang anak kecil berjalan sambil memegang tangan ibunya. Ibunya tidak menoleh. Anak itu juga tidak berbicara. Tetapi sebelum mereka pergi, anak itu berhenti. Ia menoleh kepada Monn. Untuk sesaat, matanya kembali normal. "Apakah aku boleh memilih sendiri?" Monn membeku. Ia ingin menjawab. Namun ia menahan diri. "Ya." Anak itu menatapnya. "Memilih apa?" Monn berlutut agar sejajar dengannya. "Apa pun yang benar-benar ingin kau pilih." Anak itu diam. Kemudian bertanya. "Kalau pilihanku salah?" Monn tersenyum pahit. "Mungkin." "Kalau aku menyesal?" "Mungkin juga." "Kalau orang lain marah?" Monn menatap matanya. "Itu juga mungkin." Anak itu berpikir cukup lama. Kemudian ia menggenggam tangan ibunya lebih erat. "Aku mau pulang." Ibunya berhenti. Untuk pertama kalinya, ekspresi kosong di wajahnya berubah. Ia menatap anaknya. "Kenapa?" "Karena aku ingin pulang." Sebuah benang kecil muncul. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Namun Monn melihatnya. Bukan karena ia menariknya. Bukan karena ia menyentuhnya. Benang itu muncul dari keputusan anak tersebut. Monn tersenyum. "Begitu caranya..." Seraphine berdiri di sampingnya. "Kau menemukan jawabannya?" Monn menggeleng. "Bukan aku." Ia menatap benang kecil itu. "Mereka sendiri yang menemukannya." Di atas bangunan, Edrin memejamkan mata. Other Monn tersenyum. Namun suara jam kembali terdengar. "SATU." Seluruh Blackvale mendadak sunyi. Retakan pada jam melebar. Dan dari balik retakan itu... muncul sebuah tangan. Tangan kecil. Tangan seorang anak. Monn menatapnya. Wajahnya perlahan kehilangan warna. Karena tangan itu bukan milik anak Blackvale. Bukan milik Noctis. Bukan pula milik Other Monn. Ia mengenal tangan itu. Ia pernah melihatnya dua puluh tahun lalu. Di dalam Ruang Awal. Tangan dari anak berusia lima tahun yang memiliki wajahnya. Suara kecil terdengar dari balik jam. "Monn." Monn tidak bergerak. Suara itu kembali terdengar. "Kalau kau tidak memilih untukku..." Tangan kecil itu mencengkeram retakan. "...maka kali ini aku akan memilih sendiri." DUARRR! Jam itu pecah. Dan sesuatu dari baliknya melangkah keluar. Bukan manusia. Bukan monster. Bukan pula bayangan. Melainkan— kemungkinan yang akhirnya memilih untuk menjadi nyata.

End of Chapter 42