Chapter 41 of 51
Bab 41 — Ketika Benang Menghilang
1.2k words
Kepanikan menyebar lebih cepat daripada suara lonceng.
Dari tempat mereka berdiri, Monn bisa melihat Blackvale.
Rumah-rumah.
Jalanan.
Menara penjaga.
Pasar.
Semua masih berada di tempatnya.
Namun orang-orang di sana berubah.
Satu demi satu mereka berhenti bergerak.
Kemudian kepala mereka terangkat secara bersamaan.
Mata mereka berubah merah.
Tidak ada amarah.
Tidak ada ketakutan.
Tidak ada kebingungan.
Justru tidak ada apa-apa.
Wajah mereka kosong.
“Monn...” suara Seraphine terdengar pelan.
“Aku tahu.”
Monn menggunakan Blood Thread.
Biasanya, ketika ia melihat manusia, ribuan hubungan akan muncul.
Keinginan.
Rasa takut.
Kasih sayang.
Ambisi.
Keraguan.
Namun sekarang—
kosong.
Tidak ada benang.
Monn menatap seorang penjaga yang berdiri di dekat gerbang.
“Tidak mungkin.”
Ia mendekat.
Penjaga itu menoleh.
“Tuanku.”
Suaranya datar.
“Apakah kau baik-baik saja?” tanya Monn.
“Baik.”
“Apa yang sedang kau lakukan?”
“Menunggu perintah.”
Monn membeku.
“Perintah dari siapa?”
Penjaga itu diam.
Kemudian menjawab:
“Siapa pun yang memberikan perintah.”
Monn mundur satu langkah.
Itu bukan jawaban manusia.
Bukan karena kalimatnya salah.
Tetapi karena tidak ada keputusan di baliknya.
Hanya kepatuhan.
Monn menatap jalan.
Orang-orang mulai bergerak.
Semuanya menuju arah yang sama.
Ke pusat Blackvale.
Tanpa ada seorang pun yang menyuruh mereka.
Atau mungkin—
justru itulah masalahnya.
Mereka tidak lagi membutuhkan perintah.
Mereka bergerak karena sesuatu telah mengambil kemampuan mereka untuk mempertanyakan.
“Ini bukan kendali,” kata Monn pelan.
Lucien menoleh.
“Lalu apa?”
“Pengosongan.”
Alaric memandang kota.
“Benang mereka dihapus.”
Monn menggeleng.
“Bukan.”
Ia menatap tangannya.
“Kalau benangnya benar-benar dihapus, mereka tidak akan bisa bergerak.”
Ia kembali melihat kerumunan.
“Mereka masih punya tubuh.”
Masih bisa berjalan.
Masih bisa berbicara.
Masih bisa mendengar.
Namun sesuatu yang lain telah hilang.
“Yang dihapus adalah hubungan antara keinginan dan keputusan.”
Seraphine terdiam.
Monn melanjutkan,
“Mereka bisa melakukan sesuatu.”
“Tapi mereka tidak tahu kenapa mereka melakukannya.”
---
Monn berlari menuju pusat Blackvale.
Seraphine, Lucien, dan Alaric mengikuti.
Cael juga menyusul dari belakang.
“Monn!”
Monn tidak berhenti.
“Apa?”
“Kalau semua orang seperti itu, apa yang harus kita lakukan?”
Monn menjawab,
“Kita cari sumbernya.”
“Dan kalau kita tidak bisa?”
Monn berhenti.
Ia menatap Cael.
“Kalau begitu kita pastikan setidaknya satu orang masih bisa memilih.”
Cael menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
Monn menggeleng.
“Bukan.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku.”
Seraphine langsung menyela.
“Jangan.”
Monn menoleh.
Seraphine berdiri di depannya.
“Jangan menjadikan dirimu satu-satunya orang yang harus menentukan semuanya.”
Monn terdiam.
“Kau baru saja mengatakan bahwa setiap orang harus tetap punya pilihan.”
Seraphine menatapnya.
“Termasuk aku.”
Monn menghela napas.
“Baik.”
Seraphine mengangguk.
“Aku memilih ikut.”
Lucien berkata,
“Aku juga.”
Alaric menambahkan,
“Aku.”
Cael mengangkat tangan.
“Kalau semuanya ikut, masa aku ditinggal?”
Monn menatap mereka satu per satu.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Dulu, ia akan merasa harus melindungi mereka.
Menentukan apa yang boleh mereka lakukan.
Memastikan tidak ada yang mengambil risiko.
Sekarang ia memahami bahwa melindungi seseorang tidak selalu berarti memilihkan jalan untuk mereka.
Kadang-kadang—
melindungi berarti membiarkan mereka memilih, bahkan ketika pilihan itu membuatnya takut.
“Baik.”
Mereka melanjutkan.
---
Di tengah kota, sebuah lingkaran besar telah terbentuk.
Ratusan orang berdiri mengelilinginya.
Semua mata merah.
Semua diam.
Di tengah lingkaran terdapat sebuah benda.
Sebuah jam.
Jam yang sama dari Ruang Asal.
Monn berhenti.
“Tidak mungkin.”
Lucien menatap jam itu.
“Itu jam yang kita lihat sebelumnya.”
“Bukan.”
Monn mengamati permukaannya.
“Yang ini berbeda.”
Pada jam itu hanya ada satu jarum.
Jarumnya bergerak mundur.
Satu angka.
Dua angka.
Tiga angka.
Setiap kali bergerak, salah satu orang di sekitar mereka kehilangan warna merah di matanya.
Namun bukan berarti kembali normal.
Mereka justru menjadi semakin kosong.
Monn melangkah maju.
“Jangan dekati.”
Suara Edrin terdengar.
Monn langsung menoleh.
Edrin berdiri di atas sebuah bangunan.
Sendirian.
“Edrin.”
Edrin memandang Monn.
“Kau akhirnya melihatnya.”
“Apa ini?”
“Akibat.”
“Akibat dari apa?”
“Pilihanmu.”
Monn mengepalkan tangan.
“Aku tidak melakukan ini.”
“Aku tahu.”
Jawaban Edrin mengejutkan.
“Kalau begitu jangan bilang ini akibat pilihanku.”
“Bukan akibat dari pilihanmu saat ini.”
Edrin menatap jam.
“Ini akibat dari pilihan yang pernah kau buat.”
Monn terdiam.
“Dalam kehidupan yang mana?”
“Tidak penting.”
“Bagi mereka penting!”
Monn menunjuk warga Blackvale.
“Mereka tidak memilih ini!”
Edrin mengangguk.
“Benar.”
“Lalu kenapa mereka yang menerima akibatnya?”
“Karena pilihan tidak pernah hanya mengenai orang yang memilih.”
Monn membeku.
Kalimat itu benar.
Namun kali ini terasa pahit.
Edrin melanjutkan,
“Ketika kau menarik satu benang, benang lain ikut bergerak.”
“Jadi kau bilang semua ini tidak bisa dihentikan?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Edrin menatapnya.
“Bisa.”
Monn menunggu.
“Tapi bukan dengan kekuatanmu.”
Monn mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena kalau kau menggunakan Blood Thread untuk mengembalikan pilihan mereka...”
Edrin menunjuk Monn.
“...kau akan menjadi orang yang memilih untuk mereka.”
Monn terdiam.
Itu benar.
Jika ia memaksa mengembalikan emosi seseorang, ia mungkin hanya mengganti satu bentuk kendali dengan bentuk lainnya.
Namun kalau ia tidak melakukan apa-apa—
mereka akan tetap seperti ini.
Dilema itu terasa seperti lingkaran tanpa jalan keluar.
Seraphine maju.
“Monn.”
Ia menatapnya.
“Kau tidak harus menyelesaikan semuanya.”
Monn mengerutkan kening.
“Apa?”
“Kau selalu berpikir kalau tidak melakukan sesuatu berarti menyerah.”
Seraphine menunjuk warga di sekitar.
“Tapi mungkin tugasmu bukan memilih untuk mereka.”
Monn menatapnya.
“Lalu apa?”
“Memberi mereka kesempatan untuk memilih lagi.”
Monn diam.
Kemudian matanya jatuh pada jam.
Ia akhirnya memahami sesuatu.
“Jam itu.”
“Apa?”
“Jam itu bukan sumbernya.”
Edrin tersenyum tipis.
“Benar.”
Monn melihat sekeliling.
“Jam itu hanya menghitung.”
“Menuju apa?” tanya Lucien.
Monn tidak menjawab.
Ia menatap angka yang sedang ditunjuk jarum.
10.
Kemudian jarum bergerak.
9.
8.
Monn langsung berdiri.
“Waktunya.”
Edrin tidak berkata apa-apa.
“Ketika mencapai nol...” kata Monn.
Edrin menjawab,
“Semua orang di Blackvale akan kehilangan pilihan terakhir mereka.”
Monn menatap kota.
“Pilihan terakhir?”
Edrin mengangguk.
“Keinginan untuk menentukan hidup sendiri.”
Monn merasa dadanya sesak.
Jika jam mencapai nol—
bukan hanya benang yang hilang.
Mereka akan menjadi manusia yang tetap hidup, tetapi tidak lagi memiliki alasan untuk mengatakan aku memilih ini.
“Berapa waktu kita?”
Edrin melihat jam.
“Delapan menit.”
Monn menatap semua orang.
Kemudian Blood Thread muncul di tangannya.
Seraphine langsung menatapnya.
“Kau mau menggunakannya?”
“Ya.”
“Kau bilang tidak ingin mengendalikan mereka.”
“Aku tidak akan mengendalikan.”
Monn mengarahkan benang ke jam.
“Aku hanya akan mencari jalan menuju sumbernya.”
Benang merah menembus udara.
Namun sebelum mencapai jam—
CRACK!
Benang itu putus.
Monn tersentak.
Darah tipis terlihat di telapak tangannya akibat tekanan energi.
Ia menatap jam.
Di belakangnya, seseorang berdiri.
Rambut putih.
Mata merah.
Pemuda yang tadi dibebaskan Monn.
Ia tersenyum.
“Sudah kubilang.”
Monn menatapnya.
“Jangan percaya Edrin.”
Edrin langsung mengangkat kepala.
Pemuda itu berjalan mendekat.
“Karena dia memberitahumu hanya delapan menit.”
Monn mengerutkan kening.
“Lalu?”
Pemuda itu menunjuk jam.
“Jam itu tidak menghitung waktu.”
Monn terdiam.
“Lalu apa?”
Pemuda itu tersenyum.
“Jam itu menghitung...”
Jarum bergerak.
7.
6.
5.
“...berapa banyak orang yang sudah menyerah memilih.”
Monn menatap kerumunan.
Beberapa orang mulai berlutut.
Beberapa menundukkan kepala.
Dan satu per satu—
mereka mulai berkata dengan suara datar:
“Aku tidak perlu memilih.”
Monn membeku.
Pemuda itu menatapnya.
“Sekarang, Monn...”
Ia menunjuk seluruh Blackvale.
“...berapa banyak orang yang bisa kau yakinkan bahwa hidup mereka masih milik mereka sendiri?”
Jarum jam bergerak lagi.
4.
Dan untuk pertama kalinya—
Monn sadar bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah jam itu.
Bukan Edrin.
Bukan pemuda tersebut.
Bukan bahkan Blood Thread.
Musuhnya adalah satu gagasan sederhana:
bahwa menyerahkan pilihan terasa jauh lebih mudah daripada menanggung akibat dari memilih sendiri.