Chapter 40 of 51

Bab 40 — Dirimu yang Mana

1.3k words

Semua benang menghilang. Ruangan yang sebelumnya dipenuhi garis merah, hitam, dan transparan kini menjadi kosong. Monn bahkan tidak bisa melihat satu pun benang di tubuh Seraphine, Lucien, ataupun Alaric. Kemampuan Blood Thread-nya seolah mati. Namun anehnya, ia tidak merasa kehilangan apa pun. Justru untuk pertama kalinya sejak mendapatkan kemampuan itu, pikirannya terasa tenang. Tidak ada suara dari keinginan orang lain. Tidak ada hubungan yang bisa ia tarik. Tidak ada emosi yang bisa ia baca. Hanya dirinya sendiri. Dan mungkin itu yang paling menakutkan. Pemuda di dalam ruangan masih duduk di kursinya. Wajahnya sama persis dengan Monn. Namun ada sesuatu yang berbeda. Tatapannya. Monn terlihat tenang karena belajar menahan diri. Pemuda itu terlihat tenang karena tidak memiliki apa pun untuk ditahan. “Siapa namamu?” tanya Monn. Pemuda itu tersenyum. “Aku tidak punya.” “Semua orang punya nama.” “Kalau begitu, berikan aku satu.” Monn terdiam. Ia tidak menyangka akan mendapatkan jawaban seperti itu. Seraphine maju sedikit. “Kalau dia benar-benar bagian dari dirimu, mungkin dia memang belum memiliki identitas sendiri.” Pemuda itu menoleh kepada Seraphine. “Kau.” Seraphine berhenti. “Apa?” “Kau selalu seperti itu?” “Seperti apa?” “Berbicara seolah-olah memahami sesuatu yang bahkan belum kau lihat.” Seraphine mengangkat alis. “Dan kau selalu seperti itu?” “Seperti apa?” “Berbicara seolah-olah sudah memahami semua orang.” Pemuda itu terdiam. Monn hampir tersenyum. Untuk pertama kalinya, seseorang berhasil membuat versi lain dirinya kehilangan kata-kata. Lucien mendekat. “Monn.” “Ya?” “Jangan terlalu dekat.” Monn menatap kakaknya. “Kenapa?” “Karena kita belum tahu apakah dia benar-benar bagian dari dirimu.” Pemuda itu tertawa kecil. “Kakakmu benar.” Monn menoleh. “Apa?” “Jangan percaya padaku.” Lucien langsung mengangkat pedang. “Kenapa kau mengatakan itu?” “Karena kalau aku ingin menipumu, aku tidak akan mengatakan jangan percaya.” Lucien terdiam. Pemuda itu kembali menatap Monn. “Begitu juga dengan Edrin.” Edrin yang berdiri di belakang mereka akhirnya berbicara. “Jangan menyeretku.” “Kau sudah terlibat sejak awal.” “Tidak.” Pemuda itu menatap Edrin. “Kau hanya berpikir begitu.” Edrin menghela napas. “Masih sama.” Monn langsung memperhatikan mereka. “Kalian sudah pernah bertemu?” “Pernah,” jawab Edrin. Pemuda itu menggeleng. “Tidak.” Monn mengerutkan kening. “Kalian baru saja memberikan dua jawaban berbeda.” Edrin menjawab, “Aku pernah melihatnya.” Pemuda itu berkata, “Dan aku tidak pernah melihatmu.” Monn terdiam. Perbedaan kecil itu terasa penting. Ia menatap pemuda tersebut. “Kalau begitu, siapa yang pernah melihatmu?” Pemuda itu menjawab: “Dirimu.” Monn tidak mengerti. “Dalam kehidupan yang mana?” “Semua.” Jawaban itu membuat ruangan terasa lebih dingin. --- Monn duduk di depan pemuda itu. Untuk pertama kalinya, ia tidak menggunakan Blood Thread. Ia hanya berbicara. “Ceritakan.” Pemuda itu menggeleng. “Tidak.” “Kenapa?” “Karena kalau aku yang menceritakan masa lalu, kau akan menerimanya sebagai kebenaran.” Monn menghela napas. “Lalu bagaimana aku bisa tahu?” “Kau tidak bisa.” “Jadi aku harus percaya begitu saja?” “Tidak.” Pemuda itu menatapnya. “Justru jangan percaya.” Monn terdiam. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun semakin dipikirkan, semakin dalam maknanya. Selama ini Monn mencari satu jawaban yang bisa dipercaya. Seseorang yang tahu semuanya. Seseorang yang bisa menjelaskan kenapa ia kembali. Kenapa Mortis ada. Kenapa Noctis muncul. Kenapa Ruang Asal dan Ruang Awal ada. Kenapa ada versi lain dari dirinya. Tetapi semakin banyak jawaban yang ia dapatkan, semakin banyak pertanyaan baru muncul. Mungkin karena ia mencari kepastian di tempat yang memang tidak memberikan kepastian. Pemuda itu berdiri. Rantai di tangannya terlepas sendiri. Klik. Monn langsung berdiri. “Jangan bergerak.” Pemuda itu berhenti. “Kenapa?” “Aku belum membiarkanmu pergi.” Pemuda itu tersenyum. “Dan siapa yang memberimu hak untuk menentukan itu?” Monn terdiam. Kalimat tersebut menghantamnya. Ia baru saja melakukan hal yang selama ini ia coba hindari. Mengambil keputusan atas hidup orang lain. Bahkan jika orang itu adalah versi lain dari dirinya. Monn perlahan menurunkan tangannya. “Pergilah.” Pemuda itu tidak bergerak. “Serius?” “Ya.” “Kau tidak takut aku akan melakukan sesuatu?” “Aku takut.” Pemuda itu tampak sedikit terkejut. Monn melanjutkan, “Tapi rasa takut bukan alasan untuk mengendalikanmu.” Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Kemudian pemuda itu berjalan keluar dari ruangan. Namun sebelum melewati Monn, ia berhenti. “Kau berubah.” Monn menatapnya. “Dibandingkan apa?” “Dibandingkan dirimu yang dulu.” Monn mengerutkan kening. Pemuda itu tersenyum. “Dulu, kau pasti akan mengikatku.” Ia berjalan melewati Monn. “Sekarang kau membiarkanku memilih.” Monn memandang punggungnya. “Apakah itu berarti aku lebih baik?” Pemuda itu berhenti. “Tidak.” Monn terdiam. “Lalu?” “Kau hanya berbeda.” Kemudian ia pergi. --- Beberapa saat kemudian, ruangan menjadi sunyi. Monn menatap pintu tempat pemuda itu menghilang. Edrin berdiri di samping meja. “Kenapa kau membiarkannya pergi?” Monn menjawab, “Karena aku tidak punya alasan untuk menahannya.” “Bagaimana kalau dia menjadi ancaman?” “Kalau nanti dia benar-benar menjadi ancaman, aku akan menghadapinya.” Edrin mengangguk. “Jawaban yang bagus.” Monn menoleh tajam. “Jangan memujiku.” Edrin tertawa. “Kenapa?” “Karena aku tidak tahu apakah pujianmu juga bagian dari ujian.” Edrin tersenyum. “Sekarang kau mulai belajar.” Monn berdiri. “Sekarang giliranmu.” “Untuk apa?” “Menjawab pertanyaan.” Edrin menghela napas. “Kau tidak pernah mudah menyerah.” “Aku memang tidak pernah mengatakan akan menyerah.” Monn berjalan mendekat. “Siapa sebenarnya pemuda itu?” Edrin diam. Monn melanjutkan. “Dan jangan jawab dia adalah diriku. Aku sudah tahu itu.” Edrin menatapnya. “Dia adalah kemungkinan.” “Dari apa?” “Dari dirimu.” “Semua orang punya kemungkinan.” “Tidak seperti dia.” Edrin berjalan menuju pintu. “Dia adalah hasil dari pilihan yang tidak pernah terjadi.” Monn mengikuti. “Kalau begitu kenapa dia bisa ada?” “Karena ada tempat yang menyimpan pilihan yang tidak terjadi.” “Ruang Asal?” “Bukan.” “Ruang Awal?” “Juga bukan.” Monn berhenti. Edrin menoleh. “Namanya belum perlu kau ketahui.” Monn menghela napas. “Tentu.” Edrin membuka pintu. Namun sebelum keluar, ia berkata, “Monn.” “Ya?” “Jangan cari tempat itu.” “Kenapa?” “Karena kalau kau menemukannya...” Edrin berhenti. “...kau mungkin menemukan jawaban tentang kenapa kau kembali.” Monn menatapnya. “Itu justru alasan untuk mencarinya.” Edrin tersenyum tipis. “Aku tahu.” Kemudian ia pergi. --- Monn, Seraphine, Lucien, dan Alaric kembali menuju permukaan. Namun sebelum mencapai tangga, Monn berhenti. Ia merasakan sesuatu. Sebuah benang. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Monn menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa. “Monn?” panggil Seraphine. “Tunggu.” Ia menutup mata. Benang itu muncul kembali. Namun kali ini bukan dari seseorang. Benang tersebut berasal dari dirinya sendiri. Terhubung ke tempat yang baru saja mereka tinggalkan. Monn menyentuhnya. Seketika sebuah gambaran muncul. Pemuda tadi berdiri sendirian di sebuah lorong. Namun ia tidak sendirian. Di belakangnya berdiri seseorang. Rambut putih. Pakaian hitam. Mata merah. Monn membuka mata. “Noctis?” Bayangan Noctis muncul di sampingnya. Ia menatap gambaran tersebut. Wajahnya langsung berubah. “Itu bukan aku.” “Aku tahu.” “Monn.” “Apa?” Noctis menatap sosok di dalam gambaran. “Dia punya benang.” Monn terkejut. “Mustahil.” “Lihat.” Monn menggunakan Blood Thread. Kali ini ia melihatnya. Satu benang merah keluar dari tubuh pemuda itu. Benang tersebut tidak terhubung kepada siapa pun. Benang itu justru masuk ke dalam tanah. Seolah terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih dalam. Monn langsung memahami. “Dia bukan kemungkinan biasa.” Noctis mengangguk. “Tidak.” Monn menatap ke bawah. “Dia terhubung ke sesuatu.” Tiba-tiba benang itu bergerak. Gambaran berubah. Pemuda itu mengangkat kepala. Seolah bisa melihat langsung kepada Monn. Kemudian ia berkata: “Aku bilang jangan percaya Edrin.” Gambaran menghilang. Monn terdiam. Seraphine mendekat. “Apa yang terjadi?” Monn menatapnya. “Dia memperingatkanku.” “Dari Edrin?” Monn mengangguk. Lucien kemudian berkata, “Kalau begitu kita perlu mencari tahu siapa yang sebenarnya bisa dipercaya.” Monn menggeleng. “Tidak.” Lucien menatapnya. “Tidak?” Monn memandang tangannya. “Bukan itu yang harus kita cari.” “Lalu?” Monn mengangkat kepala. “Kita harus mencari tahu siapa yang mencoba membuat kita memilih.” Karena tepat ketika ia selesai berbicara— seluruh Blackvale bergetar. Jauh di atas mereka, cahaya hitam berbentuk mahkota kembali muncul. Namun kali ini mata merah di tengahnya tidak mengarah ke langit. Mata itu mengarah langsung kepada Monn. Kemudian sebuah suara terdengar. Bukan suara Edrin. Bukan suara Caelum. Bukan suara anak kecil. Suara itu tidak memiliki emosi. “Pilihan pertama telah selesai.” Monn menatap ke atas. Suara itu melanjutkan. “Sekarang waktunya pilihan kedua.” Dan di seluruh Blackvale— satu demi satu— orang-orang mulai berdiri dari tempat mereka. Mata mereka berubah merah. Benang mereka menghilang. Monn langsung pucat. “Tidak...” Seraphine menatap kota. “Apa yang terjadi?” Monn mengepalkan tangan. Ia akhirnya memahami maksud sebenarnya dari semua ini. Seseorang tidak sedang mencoba mengendalikan dirinya. Seseorang sedang menghapus kemampuan semua orang untuk memilih.

End of Chapter 40