Chapter 39 of 51

Bab 39 — Tiga Pilihan di Balik Pintu

1.1k words

Pintu batu terbuka perlahan. Tidak ada suara ledakan. Tidak ada tekanan sihir. Tidak ada aura mengancam. Justru ketenangan itulah yang membuat Monn tidak bergerak. Di balik pintu berdiri seorang pria. Rambutnya putih keabu-abuan. Wajahnya terlihat lebih tua daripada Caelum, tetapi tidak cukup tua untuk disebut tua. Pakaiannya sederhana. Tidak ada lambang bangsawan. Tidak ada senjata. Tidak ada benang yang terlihat di tubuhnya. Namun Monn mengenalnya. Bukan karena pernah bertemu. Melainkan karena ia pernah melihat wajah itu dalam ingatan yang bukan miliknya. Edrin. Pria yang menurut Caelum telah mati dua kehidupan lalu. Edrin menatap Monn. Kemudian tersenyum. “Lama tidak bertemu.” Monn tidak menjawab. Lucien langsung berdiri di depan Monn. Tangannya menggenggam gagang pedang. Alaric mengaktifkan Blood Art. Seraphine memandang Edrin dengan hati-hati. Namun Edrin hanya melihat Monn. “Jadi ini pilihanmu.” Monn akhirnya berkata, “Bagaimana kau bisa hidup?” Edrin tertawa kecil. “Pertanyaan pertama yang bagus.” “Jawab.” “Karena aku tidak hidup.” Monn mengerutkan kening. Edrin mengangkat tangannya. Tidak ada benang. “Lihat sendiri.” Monn menggunakan Blood Thread. Benang-benang muncul di seluruh ruangan. Benang kehidupan. Benang hubungan. Benang keinginan. Namun Edrin benar-benar tidak memiliki satu pun. Monn perlahan menurunkan tangannya. “Threadless...” Edrin mengangguk. “Seperti anak yang kau temui.” Monn langsung teringat anak kecil itu. “Kau tahu tentang dia?” “Tentu.” “Siapa dia?” Edrin tersenyum. “Pertanyaan kedua yang bagus.” Monn mulai kesal. “Berhenti bermain-main.” “Kalau aku memberikan semua jawaban sekarang, kau akan berhenti memilih.” Edrin berjalan keluar dari pintu. “Dan aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.” Monn memperhatikannya. “Kau bicara seperti Caelum.” “Caelum belajar dariku.” Alaric langsung bereaksi. “Bohong.” Edrin menoleh. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. “Alaric.” “Jangan sebut namaku.” Edrin justru tersenyum. “Masih marah?” Alaric mengangkat tangan. Energi Blood Art berdenyut di sekitar lengannya. “Aku ingat apa yang terjadi.” “Aku juga.” “Kau membunuh mereka.” Edrin diam. Monn menatap ayahnya. “Siapa yang dia bunuh?” Alaric tidak menjawab. Monn kembali menatap Edrin. “Siapa?” Edrin akhirnya berkata, “Orang-orang yang mencoba membuka gerbang.” “Gerbang yang mana?” “Gerbang menuju tempat yang tidak seharusnya disentuh.” Monn menghela napas. “Semua orang selalu mengatakan hal yang sama.” Edrin tersenyum. “Karena memang benar.” Monn melangkah mendekat. “Aku ingin jawaban.” “Tidak.” Monn berhenti. “Kenapa?” “Karena ada perbedaan antara mendapatkan jawaban dan memahami jawaban.” Edrin menunjuk dada Monn. “Kalau kuberikan semuanya sekarang, kau hanya akan mengingat. Kau belum tentu memahami.” Monn menatapnya dengan tajam. “Jadi kau sengaja menyembunyikannya.” “Ya.” “Untuk mengendalikanku?” “Tidak.” “Lalu?” Edrin menjawab tenang. “Untuk melihat apakah kau bisa memilih tanpa jawaban.” Monn terdiam. Kalimat itu mengingatkannya kepada Caelum. Namun ada perbedaan. Caelum ingin melihat apa yang akan Monn lakukan. Edrin tampaknya sedang menguji sesuatu yang lebih dalam. Bukan pilihan Monn. Melainkan kemampuan Monn untuk hidup tanpa mengetahui semuanya. --- Edrin berjalan menuju sebuah meja batu di tengah ruangan. Di atasnya terdapat tiga benda. Sebuah kunci. Sebuah pecahan kaca. Dan sebuah benang merah. “Pilih satu.” Monn menatap ketiganya. “Apa fungsinya?” “Kau ingin tahu?” “Ya.” Edrin menggeleng. “Kalau begitu jangan pilih.” Monn mengerutkan kening. “Ini permainan?” “Bukan.” “Lalu apa?” “Pilihan.” Edrin menunjuk kunci. “Kunci membuka sesuatu.” Ia menunjuk pecahan kaca. “Pecahan itu menunjukkan sesuatu.” Kemudian benang merah. “Dan benang itu menghubungkanmu dengan sesuatu.” Monn menatap ketiganya. “Dan kalau aku tidak memilih?” “Tidak terjadi apa-apa.” Jawaban itu justru membuat Monn bingung. “Tidak ada konsekuensi?” “Tentu ada.” “Apa?” “Kau tidak akan mendapatkan apa pun.” Monn diam. Lucien mendekat. “Jangan terburu-buru.” Monn menoleh. Lucien melanjutkan, “Kalau tidak memilih juga merupakan pilihan, berarti kita tidak bisa menganggap pilihan selalu harus menghasilkan sesuatu.” Monn tersenyum tipis. “Benar.” Ia kembali menatap meja. Kunci. Kaca. Benang. Ia bisa menggunakan Blood Thread untuk melihat hubungan ketiganya. Namun ia tidak melakukannya. Edrin memperhatikan. “Kenapa kau tidak menggunakan kemampuanmu?” “Karena aku tidak ingin.” “Bagus.” Monn mengambil kunci. Edrin tidak bereaksi. “Kenapa kunci?” Monn menjawab, “Karena aku ingin membuka sesuatu sendiri.” Edrin mengangguk. “Pilihan yang masuk akal.” Monn memasukkan kunci ke sebuah lubang kecil di lantai. Klik. Seluruh ruangan bergetar. Sebuah lingkaran cahaya muncul. Kemudian lantai terbuka. Bukan menuju ruang lain. Melainkan menuju sebuah tempat yang jauh lebih dalam. Monn melihat sebuah ruangan kecil. Di dalamnya ada sebuah kursi. Di atas kursi itu terdapat seseorang. Monn membeku. “Tidak mungkin...” Sosok tersebut mengangkat kepala. Rambut putih. Mata merah. Wajah yang sama seperti Monn. Namun usianya sekitar tujuh belas tahun. Ia duduk diam dengan tangan terikat. Monn menatapnya. “Siapa itu?” Edrin menjawab, “Dirimu.” “Tidak.” “Benar.” Monn menggeleng. “Aku ada di sini.” “Yang ini juga kau.” Monn menatap sosok tersebut. Pemuda itu perlahan membuka mata. Kemudian berkata, “Akhirnya.” Suara itu sama persis dengan suara Monn. Namun kali ini tidak ada gema. Tidak ada ilusi. Tidak ada kemungkinan. Pemuda itu benar-benar ada. Seraphine melangkah maju. “Monn...” Monn tidak menjawab. Pemuda di dalam ruangan menatapnya. “Aku menunggumu.” Monn berjalan mendekat. “Apa yang kau inginkan?” Pemuda itu tersenyum. “Tidak ada.” “Bohong.” “Kalau aku menginginkan sesuatu, aku tidak akan menunggumu.” Monn berhenti. “Lalu kenapa kau di sini?” Pemuda itu menatap tangannya sendiri. “Karena aku adalah pilihan yang tidak pernah kau ambil.” Monn terdiam. Noctis tiba-tiba muncul di sampingnya. Tidak secara fisik. Hanya sebagai bayangan samar. Monn menatapnya. Noctis juga menatap pemuda tersebut. Untuk pertama kalinya— Noctis terlihat takut. “Dia bukan aku,” bisik Noctis. Monn mengangguk. “Aku tahu.” “Bukan.” Suara Noctis lebih tegang. “Monn... aku benar-benar tidak tahu siapa dia.” Pemuda di dalam ruangan tertawa pelan. “Bagus.” Monn menatapnya. “Bagus?” “Kalau bahkan dia tidak mengenalku... berarti waktunya belum tiba.” Monn mengepalkan tangan. “Waktu untuk apa?” Pemuda itu menatap langsung ke mata Monn. “Untuk memilih siapa di antara kita yang akan hidup.” Ruangan mendadak sunyi. Seraphine menatap Monn. Lucien menarik pedangnya. Alaric langsung mengangkat tangan. Namun Edrin tidak bergerak. Monn justru bertanya, “Kalau begitu, kenapa kau tidak membunuhku?” Pemuda itu tersenyum. “Karena aku tidak ingin hidup dengan mengambil hidupmu.” Monn terdiam. Jawaban itu tidak masuk akal. “Lalu?” Pemuda tersebut berkata, “Aku ingin kau memilih.” “Memilih apa?” “Apakah kau akan membiarkanku hidup...” Ia menatap Monn. “...atau menghapusku demi mempertahankan kehidupanmu sendiri.” Monn memandangnya. Tidak ada benang. Tidak ada perintah. Tidak ada manipulasi. Hanya pilihan. Dan untuk pertama kalinya, Monn menyadari bahwa ada jenis pilihan yang bahkan lebih sulit daripada memilih antara dua orang. Memilih antara dirinya sendiri dan kemungkinan dirinya yang lain. Ia menoleh kepada Edrin. “Kau tahu apa dia?” Edrin mengangguk. “Ya.” “Siapa?” Edrin menjawab pelan, “Versi dirimu yang seharusnya menjadi hasil dari kehidupan pertamamu.” Monn membeku. “Kalau begitu...” Ia menatap pemuda itu kembali. “...kenapa dia masih hidup?” Edrin tidak menjawab. Pemuda itu yang menjawab. “Karena ketika kau kembali...” Ia tersenyum. “...kau tidak kembali sendirian.” Di belakang Monn— bayangan Mortis perlahan muncul. Namun kali ini Mortis tidak berdiri di belakang Monn. Ia berdiri di antara Monn dan pemuda itu. Dan untuk pertama kalinya, Mortis mengangkat tangannya. Menunjuk kepada pemuda tersebut. Kemudian berkata satu kalimat: “Bukan dia yang harus kau pilih.” Monn menatap Mortis. “Lalu siapa?” Mortis menoleh kepada Monn. “Dirimu yang mana yang ingin kau bawa ke depan.” Dan pada saat yang sama— semua benang di ruangan menghilang.

End of Chapter 39