Chapter 3 of 51
Bab 3 — Harga Sebuah Tarikan
1.2k words
Malam turun di atas Blackvale.
Kabut tipis menyelimuti taman keluarga Veylcrest, membuat lampu-lampu batu di sepanjang jalan terlihat seperti titik cahaya yang mengambang di tengah kegelapan.
Monn berdiri di depan jendela kamarnya.
Sejak kejadian di gudang beberapa jam lalu, ia belum bisa tidur.
Bukan karena Garrick.
Bukan pula karena benang hitam yang dilihatnya.
Yang mengganggu pikirannya adalah sensasi ketika jarinya menyentuh benang milik orang lain.
Ia masih bisa merasakan emosi itu.
Ketakutan.
Kecurigaan.
Keinginan untuk menyembunyikan sesuatu.
Semuanya sempat masuk ke dalam dirinya seolah-olah emosi tersebut merupakan miliknya sendiri.
Monn memejamkan mata.
“Kalau aku terus menggunakan kemampuan ini...”
Ia membuka telapak tangan.
“...berapa lama sampai aku tidak bisa membedakan pikiranku sendiri dengan pikiran orang lain?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan yang kembali turun.
Monn berbalik dari jendela.
Di atas meja terdapat sebuah buku tua yang ia ambil dari perpustakaan keluarga.
Buku itu membahas kemampuan Blood Art milik keluarga Veylcrest.
Ia sudah membaca beberapa halaman.
Tidak ada satu pun yang menjelaskan Blood Thread.
Blood Art keluarga Veylcrest bekerja dengan memanfaatkan darah sebagai media penguatan tubuh. Beberapa anggota keluarga mampu memperkuat tulang, otot, atau indra mereka dalam batas tertentu.
Tidak ada kemampuan untuk melihat benang.
Tidak ada kemampuan memengaruhi emosi.
Tidak ada sosok bernama Mortis.
Monn menutup buku itu.
“Berarti ini bukan Blood Art.”
Ketukan terdengar.
Tok. Tok.
Monn menoleh.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Lucien berdiri di sana.
Kakaknya tidak masuk sepenuhnya.
“Boleh bicara?”
Monn mengangguk.
Lucien menutup pintu.
Beberapa saat mereka hanya saling memandang.
“Kau membuat masalah hari ini.”
Monn bersandar pada meja.
“Garrick?”
“Bukan hanya Garrick.”
Lucien berjalan mendekat.
“Ayah marah.”
“Dia memang sering marah.”
“Tidak seperti ini.”
Monn diam.
Lucien berhenti beberapa langkah di depannya.
“Ayah menganggap tindakanmu di meja makan sebagai bentuk pembangkangan.”
“Memangnya aku salah?”
“Aku tidak mengatakan itu.”
“Lalu?”
Lucien menarik napas.
“Masalahnya bukan apakah kau salah.”
Monn menatap kakaknya.
“Masalahnya adalah kau belum memahami posisi yang sedang kau lawan.”
Monn tersenyum tipis.
“Ayah?”
“Bukan.”
Lucien menunjuk ke arah jendela.
“Seluruh keluarga.”
Monn terdiam.
Lucien melanjutkan.
“Keluarga Veylcrest tidak bertahan selama beberapa generasi karena setiap anggotanya melakukan apa yang mereka inginkan.”
“Jadi aku harus menjadi seperti kalian?”
“Tidak.”
Jawaban Lucien datang terlalu cepat.
Monn mengangkat alis.
Lucien memandang lantai.
“Kau boleh memilih.”
Monn tidak menyangka jawaban itu.
“Tapi setiap pilihan memiliki harga.”
Kalimat itu membuat Monn terdiam.
Lucien berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, dia berhenti.
“Dan kau sepertinya sudah mulai membayar harga pilihanmu.”
Pintu tertutup.
Monn menatapnya.
Kata-kata itu terus berputar di kepalanya.
Setiap pilihan memiliki harga.
Dalam kehidupan pertamanya, ia tidak pernah benar-benar memilih.
Namun sekarang ia mulai mengerti bahwa kebebasan tidak berarti setiap keputusan akan berakhir seperti yang diinginkan.
Ia baru saja mendapatkan kesempatan kedua.
Tetapi dunia tidak memberinya jaminan kedua.
---
Keesokan paginya, Monn dipanggil ke ruang bawah tanah.
Tempat itu digunakan untuk menyimpan dokumen lama dan beberapa benda keluarga yang tidak boleh diakses sembarang orang.
Garrick duduk di sebuah kursi.
Dua penjaga berdiri di belakangnya.
Alaric berada di depan.
Monn masuk dan berhenti.
“Ayah.”
Alaric menoleh.
“Duduk.”
Monn duduk di seberang Garrick.
Pria itu terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.
Alaric meletakkan keping logam di atas meja.
“Kau menemukan ini.”
Monn mengangguk.
“Apa ini?”
Garrick diam.
Alaric menatapnya.
“Jawab.”
Garrick akhirnya berbicara.
“Sebuah tanda pembayaran.”
“Dari siapa?”
“Pedagang.”
“Nama?”
Garrick tidak menjawab.
Alaric mengangkat tangan.
Salah satu penjaga melangkah maju.
Monn memperhatikan Garrick.
Dan tanpa sengaja...
ia melihatnya.
Benang merah.
Tipis.
Bergetar.
Terhubung dari Garrick menuju keping logam.
Kemudian benang itu bercabang.
Satu menuju pintu.
Satu menuju Alaric.
Dan satu lagi menuju sesuatu yang tidak dapat Monn lihat.
Monn menahan napas.
Ia tahu kemampuan itu sedang aktif.
Tetapi kali ini ia tidak ingin menggunakannya.
Ia ingin mendengar jawaban Garrick sendiri.
“Berikan dia waktu,” kata Monn.
Alaric menatap putranya.
“Untuk apa?”
“Dia akan bicara.”
Garrick memandang Monn.
Tatapannya penuh kebingungan.
Seolah tidak mengerti kenapa Monn begitu yakin.
Alaric berdiri.
“Kau punya lima menit.”
Kemudian dia meninggalkan ruangan.
Monn dan Garrick saling berhadapan.
“Siapa yang memberimu benda itu?”
Garrick diam.
“Kalau kau tidak menjawab, kau akan diadili.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu bicara.”
Garrick menunduk.
“Seseorang dari luar kota.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu namanya.”
“Bohong.”
Garrick mengangkat wajah.
Monn melihat benang di belakangnya bergetar lebih kuat.
Ada ketakutan.
Tetapi bukan kepada Alaric.
Bukan kepada penjaga.
Ketakutan itu mengarah kepada sesuatu yang lain.
Seseorang.
Monn merasakan dorongan untuk menarik benang tersebut.
Hanya sedikit.
Sangat sedikit.
Jika ia melakukannya, mungkin Garrick akan mengaku.
Tidak perlu ancaman.
Tidak perlu kekerasan.
Hanya satu tarikan.
Monn mengangkat tangannya.
Kemudian berhenti.
Jangan.
Suara dalam kepalanya sendiri memperingatkan.
Kalau aku menggunakan kemampuan ini setiap kali ingin mendapatkan jawaban, apa bedanya aku dengan orang-orang yang dulu menentukan hidupku?
Tangannya turun.
“Baik.”
Garrick terlihat terkejut.
Monn berdiri.
“Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir.”
Ia berjalan menuju pintu.
“Pikirkan baik-baik siapa yang ingin kau lindungi.”
Garrick membeku.
Monn keluar.
Namun sebelum pintu tertutup, ia mendengar suara pelan.
“Tuan Muda.”
Monn berhenti.
Garrick menatapnya.
“Orang itu... mengetahui nama Anda.”
Monn tidak bergerak.
“Dia mengatakan satu hal.”
“Apa?”
Garrick menelan ludah.
“Katanya... Anda akan kembali.”
Pintu tertutup.
Monn berdiri sendirian di koridor.
Jantungnya berdetak keras.
Tidak mungkin.
Tidak ada seorang pun yang tahu.
Tidak seharusnya ada seorang pun yang mengetahui bahwa Monn telah kembali.
Kecuali...
Monn menatap ujung koridor.
Seseorang telah mengetahui tentang kehidupannya sebelum ia sendiri memahami bahwa ia telah kembali.
---
Malamnya, Monn pergi ke taman.
Ia membutuhkan jawaban.
Ia membuka telapak tangan.
Benang merah muncul.
Kali ini ia sengaja memanggilnya.
Satu benang.
Kemudian dua.
Lalu puluhan.
Monn mulai memahami cara kerjanya.
Benang tidak semuanya memiliki warna yang sama.
Sebagian merah.
Sebagian pucat.
Sebagian gelap.
Dan beberapa hampir transparan.
Setiap warna terasa memiliki karakter berbeda.
Monn mencoba menyentuh satu benang kecil yang terhubung pada bunga di dekatnya.
Tidak terjadi apa-apa.
Ia menyentuh benang lain.
Milik seekor burung.
Burung itu tiba-tiba terbang.
Monn terkejut.
Ia tidak memerintahkannya.
Ia hanya menyentuh benangnya.
“Jadi sentuhan saja sudah cukup untuk memengaruhi sesuatu...”
Monn mencoba lagi.
Kali ini ia menekan benang sedikit lebih kuat.
Burung tersebut terbang menjauh.
Monn segera melepaskannya.
“Cukup.”
Ia mulai memahami aturan pertama.
Semakin kuat tarikan, semakin besar pengaruhnya.
Namun sebelum ia sempat mencoba lebih jauh...
bayangan hitam muncul di belakangnya.
Mortis.
Monn tidak berbalik.
“Aku tahu kau di sana.”
Tidak ada jawaban.
“Apa yang kau inginkan?”
Mortis mengangkat tangannya.
Menunjuk salah satu benang.
Benang hitam.
Monn mengikuti arah tersebut.
Benang itu menjulur sangat jauh.
Melewati taman.
Melewati mansion.
Melewati wilayah Blackvale.
Seolah tidak memiliki ujung.
Monn mendekat.
Ia mengulurkan tangan.
Kemudian suara lain terdengar.
Bukan Mortis.
Bukan suara dalam kepalanya.
Suara manusia.
“Jangan sentuh benang itu.”
Monn langsung berbalik.
Seseorang berdiri di balik pepohonan.
Siluetnya hampir tidak terlihat.
Monn mengaktifkan Blood Thread.
Puluhan garis merah muncul.
Namun orang tersebut tidak memiliki benang.
Monn terdiam.
Itu mustahil.
Semua makhluk hidup yang dilihatnya memiliki benang.
Tetapi sosok itu...
kosong.
“Siapa kau?”
Sosok tersebut tidak menjawab.
Ia hanya tersenyum.
Kemudian berkata:
“Kalau kau menariknya sekarang, Monn Veylcrest... kau mungkin tidak akan menyukai apa yang menarikmu kembali.”
Sosok itu menghilang ke dalam kegelapan.
Monn berdiri kaku.
Mortis masih berada di belakangnya.
Benang hitam itu masih terbentang di hadapannya.
Untuk pertama kalinya sejak kembali, Monn merasa bukan dirinya yang sedang mengawasi dunia.
Ada sesuatu yang sedang mengawasinya.
Dan mungkin...
permainan itu sudah dimulai jauh sebelum ia membuka mata di kamar itu.