Chapter 38 of 51

Bab 38 — Suara yang Tidak Menarik

1.3k words

“...adalah seseorang yang sudah mati dua kehidupan yang lalu.” Kalimat Caelum menggantung di udara. Monn tidak langsung menjawab. Tatapannya berpindah dari bayangan Caelum di langit, menuju Alaric, kemudian kembali kepada anak kecil di hadapannya. “Siapa?” Caelum diam. “Caelum.” “Monn, dengarkan aku.” “Siapa orangnya?” Nada suara Monn berubah. Tidak keras. Justru terlalu tenang. Caelum akhirnya menjawab. “Edrin.” Ruangan seketika sunyi. Lucien menatap Monn. Seraphine mengerutkan kening. Alaric langsung mengangkat kepalanya. “Mustahil.” Caelum menatapnya. “Aku juga berharap begitu.” Monn menatap bayangan Caelum. “Edrin sudah mati?” “Dalam kehidupan yang kau ingat?” Caelum berhenti. “Ya.” Monn terdiam. Ia mengingat Edrin. Pria yang selama ini selalu muncul ketika misteri Ruang Asal dan Ruang Awal mulai terbuka. Pria yang tahu terlalu banyak. Pria yang selalu berbicara seolah memahami sesuatu yang bahkan Monn sendiri belum mengerti. Namun Edrin tidak pernah terlihat seperti seseorang yang sudah mati. Tidak sampai sekarang. “Kalau dia sudah mati dua kehidupan yang lalu,” kata Monn, “kenapa dia ada di sini?” Caelum menjawab, “Itulah masalahnya.” Bayangan Caelum mulai bergetar. “Dan aku tidak tahu jawabannya.” Monn menatapnya. “Kau selalu tahu sesuatu.” “Tidak kali ini.” Untuk pertama kalinya, suara Caelum terdengar benar-benar serius. “Monn, jangan kembali.” Monn hendak menjawab— namun anak kecil di depannya tertawa. “Dia takut.” Monn menoleh. “Siapa?” Anak itu menunjuk ke arah bayangan Caelum. “Caelum.” Caelum langsung menatap anak tersebut. Ekspresinya berubah. “Kau...” Anak itu tersenyum. “Kau masih takut padaku?” Caelum tidak menjawab. Monn memperhatikan keduanya. Ada sesuatu yang tidak beres. Caelum mengenal anak ini. Bukan sekadar mengenal. Ia takut kepadanya. Monn maju satu langkah. “Caelum.” “Apa?” “Berapa umur anak itu?” Caelum terdiam. “Jawab.” “Aku tidak tahu.” “Bohong.” Caelum tidak membantah. Anak itu kemudian berjalan mendekati Monn. “Jangan dengarkan dia.” Monn menatapnya. “Kenapa?” “Karena dia selalu takut pada hal yang tidak bisa dia kendalikan.” Monn langsung terdiam. Kalimat itu terasa terlalu familiar. Caelum juga pernah mengatakan sesuatu yang hampir sama. Tentang bagaimana manusia takut terhadap pilihan yang tidak bisa mereka kendalikan. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Anak itu tidak sedang berbicara tentang manusia. Ia sedang berbicara tentang Caelum. “Caelum,” kata Monn, “apa yang terjadi dua kehidupan lalu?” Bayangan Caelum diam cukup lama. Kemudian berkata, “Edrin mati.” “Bagaimana?” “Karena dia mencoba membuka sesuatu.” “Apa?” “Gerbang.” Monn mengerutkan kening. “Gerbang apa?” Caelum memandang retakan hitam di langit. “Gerbang yang sama.” Monn langsung memahami. Gerbang utara Blackvale. Pintu yang terbuka dari dalam. Suara anak yang memanggil namanya. Semuanya mungkin bukan kebetulan. Caelum melanjutkan, “Dua kehidupan lalu, Edrin menemukan cara untuk membuka jalur menuju tempat yang tidak seharusnya bisa dicapai manusia.” “Ruang Awal?” “Bukan.” “Ruang Asal?” “Bukan juga.” “Lalu?” Caelum menatap Monn. “Tempat sebelum keduanya.” Monn merasakan dingin menjalar di punggungnya. “Tempat sebelum Ruang Awal?” Caelum mengangguk. “Tempat yang bahkan Ruang Awal hanyalah bayangannya.” Anak kecil itu tiba-tiba berhenti tersenyum. “Jangan.” Monn menoleh. Anak itu memandang Caelum dengan tatapan tajam. “Jangan katakan namanya.” Caelum terdiam. Monn menyadari sesuatu. Untuk pertama kalinya sejak ia bertemu Caelum— orang lain berhasil membuatnya diam. --- Di dunia nyata, keadaan Blackvale mulai berubah. Gerbang utara masih terbuka. Namun tidak ada seorang pun yang berani melewatinya. Edrin berdiri beberapa meter dari gerbang. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Di belakangnya berdiri beberapa penjaga yang tidak bergerak. Seorang penjaga bertanya, “Tuan Edrin?” Edrin tidak menjawab. Ia hanya menatap gerbang. Kemudian berkata pelan, “Sudah lama.” Tidak ada siapa-siapa di hadapannya. Namun seolah ia sedang berbicara kepada seseorang. “Akhirnya kau memilih untuk datang sendiri.” Edrin mengangkat tangan. Sebuah benang hitam muncul dari tanah. Namun benang itu tidak menuju Monn. Ia menuju Edrin. Lalu berhenti di dadanya. Edrin menatapnya. “Tidak.” Benang tersebut bergetar. Edrin menggenggamnya. “Bukan aku.” Benang itu perlahan berubah warna. Dari hitam menjadi merah. Kemudian suara seorang anak terdengar dari dalam gerbang. “Bohong.” Edrin tersenyum tipis. “Begitu rupanya.” Ia melepaskan benang tersebut. “Kalau begitu, biarkan dia datang.” --- Di dalam kota kosong, Monn masih menatap Caelum. “Kalau aku kembali sekarang, apa yang akan terjadi?” Caelum menjawab tanpa ragu. “Kau akan bertemu seseorang.” “Edrin?” “Ya.” “Dan?” “Dia akan memberimu pilihan.” Monn menatap anak kecil. Anak itu tidak berkata apa-apa. “Pilihan apa?” Caelum menghela napas. “Pilihan untuk mendapatkan kembali semua ingatanmu.” Monn membeku. Seraphine langsung menatapnya. Lucien juga. Semua orang tahu apa arti kalimat tersebut. Ingatan dari kehidupan sebelum kehidupan pertama. Ingatan tentang siklus yang bahkan Monn sendiri belum sepenuhnya pahami. Ingatan tentang siapa dirinya sebelum semua ini. Monn menatap tangannya. “Apa harganya?” Caelum tidak menjawab. Monn mengulanginya. “Apa harga untuk mendapatkan semua ingatanku?” Caelum akhirnya berkata, “Kau harus menyerahkan satu hal.” “Apa?” “Pilihan.” Monn mengerutkan kening. “Pilihan yang mana?” “Itulah masalahnya.” Caelum menatapnya. “Kau tidak akan tahu sampai kau memilih.” Monn tertawa pendek. “Jadi kalau aku menerima, aku bahkan tidak tahu apa yang akan hilang?” “Benar.” “Dan kau masih menyuruhku untuk tidak kembali?” “Aku menyuruhmu jangan menerima tawarannya.” Monn terdiam. Kemudian ia tersenyum tipis. “Sekarang aku mengerti.” Caelum mengangkat alis. “Apa?” “Kenapa kau tidak mau memilih untukku.” Caelum diam. “Karena kalau kau memberitahuku jawabannya,” lanjut Monn, “aku mungkin hanya akan mengikuti pilihanmu.” Caelum tersenyum kecil. “Benar.” Monn kemudian menatap anak kecil itu. “Kau.” Anak tersebut mengangkat kepala. “Apa?” “Kau tahu jawabannya?” Anak itu mengangguk. “Ya.” “Kalau begitu katakan.” “Tidak.” “Kenapa?” “Karena kalau aku memberitahumu, pilihan itu bukan lagi milikmu.” Monn terdiam. Anak itu benar. Dan untuk alasan yang aneh, Monn merasa lega. Tidak semua misteri harus dijawab. Tidak semua masa lalu harus dibuka. Tidak semua hal yang bisa diketahui harus diketahui. Ia akhirnya memahami perbedaan antara mencari jawaban dan menyerahkan hidup kepada jawaban. Monn berbalik. “Kita kembali.” Seraphine mengangguk. Lucien mengikuti. Alaric berjalan paling belakang. Namun ketika Monn melewati anak kecil itu— anak tersebut memegang ujung pakaiannya. Monn berhenti. “Apa?” Anak itu menatapnya. “Jangan percaya Edrin.” Monn menatapnya. “Kenapa?” Anak itu menjawab sangat pelan. “Karena Edrin bukan orang yang membuka gerbang.” Monn membeku. “Lalu siapa?” Anak itu melepaskan pakaiannya. “Orang yang membuka gerbang...” Ia menatap jauh ke arah langit. “...adalah orang yang paling ingin kau percaya.” Monn menatapnya. Kemudian seluruh kota mulai retak. Langit putih pecah. Jalanan menghilang. Jam besar runtuh menjadi serpihan cahaya. Seraphine berteriak, “Monn!” Monn meraih tangannya. Cahaya memenuhi pandangan mereka. --- Monn membuka mata. Ia kembali berada di ruang bawah tanah. Namun ada sesuatu yang berubah. Caelum tidak lagi terlihat. Anak kecil itu juga menghilang. Yang tersisa hanya Monn, Seraphine, Lucien, dan Alaric. Di depan mereka terdapat pintu batu. Dan di atas pintu itu tertulis: ORANG YANG KAU PERCAYAI TIDAK SELALU ORANG YANG MEMILIKI NIAT TERBAIK. Monn menatap tulisan itu. Kemudian terdengar suara langkah dari balik pintu. Tok. Tok. Tok. Seseorang mengetuk. Monn mengangkat tangan. Benang merah muncul di antara jarinya. Namun sebelum ia melakukan apa pun— sebuah suara terdengar dari balik pintu. Suara yang sangat ia kenal. Suara ibunya. “Monn, buka pintunya.” Monn membeku. Evelyne. Namun ibunya seharusnya berada di kediaman Veylcrest. Dan suara itu terdengar terlalu tenang. Terlalu sempurna. Monn menatap Seraphine. Seraphine menggeleng pelan. Jangan. Monn menatap pintu. Lalu terdengar suara kedua. Kali ini suara Elara. “Kakak...” Kemudian Lucien. “Monn, buka.” Lalu Alaric. “Aku ayahmu.” Satu per satu suara keluarganya memanggil. Namun Monn tidak bergerak. Ia menutup mata. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba mencari tahu siapa yang berbicara. Ia hanya berkata, “Kalau kalian benar-benar keluargaku...” Semua suara berhenti. Monn membuka mata. “...kalian tidak perlu memaksaku membuka pintu.” Sunyi. Kemudian— Tok. Satu ketukan terakhir. Lalu suara lain muncul. Bukan suara keluarga. Bukan suara Caelum. Bukan suara Edrin. Suara itu sangat pelan. Namun cukup untuk membuat semua benang di tubuh Monn bergetar. “Bagus.” Monn menatap pintu. “Mortis?” Tidak ada jawaban. Hanya satu kalimat terakhir. “Sekarang kau mulai belajar membedakan suara orang lain... dari suaramu sendiri.” Pintu batu perlahan terbuka. Dan di baliknya— berdiri seseorang yang seharusnya sudah mati dua kehidupan yang lalu.

End of Chapter 38