“Pilih kami.”
Suara itu masih terdengar.
Bukan dari satu arah.
Dari seluruh ruangan.
Dari dinding.
Dari lantai.
Dari lorong gelap di balik pintu.
Bahkan dari dalam kepala Monn sendiri.
Suara ayahnya.
Suara Lucien.
Suara Elara.
Suara Seraphine.
Suara Cael.
Suara orang-orang yang pernah ia kenal dalam kehidupan pertamanya.
Semuanya bercampur menjadi satu.
“Pilih kami.”
Monn berdiri diam.
Tangannya mengepal.
Ia tahu apa yang sedang terjadi.
Atau setidaknya, ia tahu apa yang ingin ditunjukkan tempat ini.
Sebuah pilihan.
Namun bukan pilihan sederhana antara benar dan salah.
Melainkan pilihan yang jauh lebih kejam.
Memilih satu berarti mungkin kehilangan yang lain.
Dan untuk seseorang yang sepanjang hidupnya takut kehilangan—
itu adalah jebakan yang sempurna.
“Monn.”
Suara Seraphine terdengar di sampingnya.
Monn menoleh.
Benang tipis masih melilit jari Seraphine.
Benang itu bergetar.
Namun Seraphine tidak menariknya.
Ia juga tidak meminta Monn memutuskannya.
“Jangan lihat aku,” katanya.
Monn mengerutkan kening.
“Apa?”
“Jangan membuat keputusan berdasarkan apa yang menurutmu harus kulakukan.”
Seraphine menatap pintu di depan.
“Aku juga ingin tahu apa yang ada di baliknya.”
Monn terdiam.
Lucien kemudian maju.
“Aku juga.”
Monn menoleh.
Lucien memasukkan pedangnya kembali ke sarung.
“Kalau ini jebakan, kita hadapi.”
Alaric tidak mengatakan apa-apa.
Namun ia juga tidak mundur.
Cael berdiri paling belakang.
Wajahnya jelas menunjukkan bahwa ia ingin mengatakan sesuatu.
Akhirnya ia berkata,
“Kalau kita semua ikut, mungkin jebakannya malah gagal.”
Monn hampir tersenyum.
“Hanya kau yang bisa mengatakan sesuatu seperti itu.”
Cael mengangkat bahu.
“Aku cuma mencoba terlihat berguna.”
Untuk sesaat suasana menjadi sedikit lebih ringan.
Namun hanya sesaat.
Karena suara dari balik pintu kembali terdengar.
“Pilih kami.”
Kali ini suara itu berubah.
Menjadi suara Elara.
“Monn...”
Monn membeku.
Suara tersebut terdengar begitu nyata.
“Kenapa kau meninggalkanku?”
Monn menatap pintu.
“Elara...”
Seraphine langsung memperhatikannya.
Monn berjalan satu langkah.
Benang hitam di lantai bergerak.
Namun ia berhenti sebelum menyentuh pintu.
“Ini bukan Elara.”
Lucien menatapnya.
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena Elara tidak akan meminta seperti ini.”
Monn menatap pintu.
“Dia akan bertanya apakah aku baik-baik saja.”
Sunyi.
“Bukan memintaku memilihnya.”
Benang-benang di ruangan mulai bergerak.
Puluhan.
Ratusan.
Mereka muncul dari dinding dan lantai.
Masing-masing terhubung pada sebuah suara.
Monn melihat semuanya.
Ada benang menuju Seraphine.
Ada yang menuju Lucien.
Ada yang menuju Alaric.
Ada yang menuju dirinya sendiri.
Namun anehnya, tidak ada benang menuju Elara.
Monn menyipitkan mata.
“Ini bukan tempat yang menunjukkan orang.”
“Lalu apa?” tanya Lucien.
“Keinginan.”
Monn mengangkat tangan.
Benang-benang itu menjadi lebih jelas.
Setiap benang memiliki warna berbeda.
Ada yang berasal dari rasa takut.
Ada yang berasal dari rasa bersalah.
Ada yang berasal dari keinginan untuk dicintai.
Ada yang berasal dari kebutuhan untuk diakui.
Dan satu benang paling tebal berasal dari sesuatu yang Monn kenal dengan sangat baik.
Ego.
Benang itu terhubung langsung kepada dirinya.
Monn terdiam.
“Jadi ini yang sebenarnya ingin kalian lakukan.”
Suara dari balik pintu menjawab.
“Tidak.”
Suara itu berubah menjadi suara Monn.
“Ini yang kau takutkan akan mereka lakukan.”
Monn membeku.
Kalimat itu membuat semuanya menjadi jelas.
Ruangan ini bukan sedang memprediksi masa depan.
Ia sedang mengambil ketakutan dari dalam diri Monn dan mengubahnya menjadi kemungkinan.
Monn menatap tangannya.
Selama ini ia terus mencari siapa yang mengendalikan benangnya.
Tetapi mungkin masalahnya bukan selalu tentang orang lain.
Kadang-kadang—
ia sendiri yang menciptakan tali tersebut.
---
Tiba-tiba salah satu benang bergerak.
Benang Seraphine tertarik kuat.
Seraphine tersentak.
“Seraphine!”
Monn bergerak maju.
Namun ia berhenti lagi.
Ia teringat perkataannya sendiri.
Kalau kau memutuskannya sekarang... bukankah kau sedang memilih untukku lagi?
Seraphine menatap Monn.
“Jangan.”
“Aku tahu.”
“Biarkan aku.”
Monn mengangguk.
Seraphine menggenggam benang itu.
Tidak memutusnya.
Tidak menariknya.
Ia hanya memegangnya.
“Aku memilih untuk tetap berdiri.”
Benang itu berhenti bergerak.
Monn terkejut.
Tidak ada kekuatan.
Tidak ada sihir.
Tidak ada Blood Thread.
Hanya keputusan.
Benang tersebut perlahan menjadi transparan.
Kemudian menghilang.
Monn menatap Seraphine.
“Kau berhasil.”
Seraphine menggeleng.
“Bukan aku yang berhasil.”
Ia tersenyum kecil.
“Aku hanya memilih.”
Kalimat sederhana itu terasa jauh lebih berat daripada mantra apa pun.
Monn menatap pintu sekali lagi.
Kemudian melangkah maju.
“Kalau begitu, kita masuk.”
Mereka melewati pintu.
---
Di baliknya tidak terdapat ruangan.
Tidak ada lorong.
Tidak ada monster.
Tidak ada jebakan.
Yang mereka temukan justru sebuah kota.
Eldoria.
Namun kota itu kosong.
Langitnya putih.
Jalanannya bersih.
Tidak ada manusia.
Tidak ada suara.
Hanya sebuah jam besar berdiri di tengah alun-alun.
Monn langsung mengenalinya.
Jam dari Ruang Asal.
Namun kali ini jarumnya tidak bergerak.
Di bawah jam itu berdiri seorang anak.
Anak kecil berambut hitam.
Wajahnya sama dengan Monn.
Usianya sekitar lima tahun.
Tidak seperti Noctis.
Tidak seperti anak yang pernah mereka lihat sebelumnya.
Anak itu terlihat jauh lebih nyata.
Ia mengenakan pakaian sederhana.
Tidak memiliki benang.
Tidak memiliki aura.
Hanya seorang anak.
Monn berhenti.
Anak itu menatapnya.
Kemudian tersenyum.
“Kau datang.”
Monn tidak menjawab.
Anak itu menunjuk jam.
“Dulu kau datang untuk mendapatkan semua jawaban.”
Monn menatapnya.
“Dan sekarang?”
“Sekarang kau datang tanpa tahu apa-apa.”
Anak itu tersenyum lebih lebar.
“Itu lebih menarik.”
Alaric tiba-tiba maju.
Wajahnya berubah.
“Tidak.”
Anak itu menoleh.
“Kenapa?”
Alaric mengangkat tangan.
Blood Art muncul di sekeliling tubuhnya.
Monn langsung berdiri di antara mereka.
“Ayah.”
“Jangan dekat-dekat dengannya.”
Monn menatap Alaric.
“Kenapa?”
Alaric tidak menjawab.
Anak itu justru menjawab untuknya.
“Karena dia pernah mencoba membunuhku.”
Monn menoleh kepada ayahnya.
“Apa?”
Alaric menutup mata.
Untuk beberapa detik ia hanya diam.
Kemudian berkata,
“Benar.”
Suasana langsung berubah.
Lucien menatap ayahnya.
“Ayah?”
“Aku melihatnya sebagai ancaman.”
Alaric menatap anak itu.
“Dan aku salah.”
Anak tersebut tidak marah.
Justru terlihat bingung.
“Kenapa?”
Alaric terdiam.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu terdengar sangat jujur.
“Aku takut pada sesuatu yang tidak kupahami.”
Monn menatap ayahnya.
Selama ini ia mengira Alaric menyembunyikan sesuatu karena memiliki jawaban.
Namun ternyata—
mungkin sebagian rahasia itu muncul karena ketakutan.
Bukan karena pengetahuan.
Anak itu kemudian berjalan mendekati Monn.
Tidak ada benang.
Tidak ada ancaman.
Hanya seorang anak yang berjalan perlahan.
Ia berhenti tepat di depan Monn.
“Dulu kau ingin aku memilih untukmu.”
Monn menggeleng.
“Aku tidak pernah mengatakan itu.”
Anak tersebut menatapnya.
“Tidak dengan kata-kata.”
Ia menunjuk dada Monn.
“Tapi kau menginginkannya.”
Monn terdiam.
“Kenapa?”
Anak itu menjawab:
“Karena memilih sendiri terasa menakutkan.”
Monn tidak mampu membantah.
Anak itu kemudian mengulurkan tangannya.
“Kalau begitu, aku akan memberimu satu kesempatan.”
“Kesempatan apa?”
“Tidak memilih.”
Monn mengerutkan kening.
“Apa?”
Anak itu menunjuk jam.
“Di sana ada sesuatu yang bisa menghapus satu pilihanmu.”
Monn menatap jam.
“Satu pilihan?”
“Ya.”
“Pilihan apa?”
Anak itu tersenyum.
“Itu rahasia.”
Monn menatapnya lama.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Tidak.”
Anak itu tampak terkejut.
“Tidak?”
“Aku tidak akan menghapus pilihan.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku menyesalinya, aku ingin menanggungnya sendiri.”
Untuk pertama kalinya—
anak itu tidak tersenyum.
Jam besar di belakang mereka tiba-tiba bergerak.
Tik.
Semua orang menatap ke atas.
Tak.
Jarum jam bergerak mundur satu angka.
Kemudian sebuah suara terdengar dari seluruh kota.
“Pilihan diterima.”
Monn menegang.
“Apa?”
Anak itu menatapnya.
Wajahnya berubah serius.
“Kalau begitu, kau sudah memilih.”
“Apa yang kupilih?”
Anak itu menunjuk ke langit.
Sebuah retakan hitam muncul.
“Untuk tidak menyerahkan pilihanmu kepada siapa pun.”
Retakan itu semakin besar.
Dan dari baliknya—
muncul satu benang merah.
Benang itu tidak menuju Monn.
Tidak menuju Seraphine.
Tidak menuju Lucien.
Benang itu menuju jauh ke luar kota.
Ke arah Blackvale.
Anak tersebut berbisik,
“Masalahnya...”
Ia menatap benang itu.
“...sekarang seseorang sedang memilih untukmu.”
Monn langsung mengangkat kepala.
“Siapa?”
Anak itu tidak menjawab.
Karena dari kejauhan terdengar suara lonceng.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kemudian suara Caelum terdengar dari tempat yang seharusnya mustahil.
“Monn!”
Monn menoleh.
Wajah Caelum muncul di permukaan langit seperti bayangan.
Ekspresinya tidak lagi tenang.
Untuk pertama kalinya, ia terlihat benar-benar terkejut.
“Jangan kembali ke Blackvale.”
Monn mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Caelum menatapnya.
Lalu berkata satu kalimat yang membuat seluruh ruangan membeku.
“Karena orang yang membuka gerbang itu...”
Caelum berhenti.
Matanya tertuju kepada Alaric.
“...adalah seseorang yang sudah mati dua kehidupan yang lalu.”
Dan di belakang Monn, anak kecil itu mulai tersenyum lagi.