Tangga itu berakhir jauh lebih dalam daripada yang seharusnya.
Monn terus menuruni anak tangga batu, sementara suara langkah Seraphine, Lucien, dan Alaric terdengar di belakangnya.
Tidak ada obor.
Tidak ada lampu sihir.
Namun anehnya, mereka tetap bisa melihat.
Cahaya merah redup muncul dari dinding.
Bukan api.
Bukan kristal.
Melainkan garis-garis tipis seperti pembuluh yang mengalir di balik batu.
Monn berhenti.
Ia mengenali pola itu.
“Benang.”
Seraphine berdiri di sampingnya.
“Benang milik manusia?”
Monn menggeleng.
“Tidak.”
Ia menyentuh dinding dengan ujung jarinya.
Tidak ada respons.
“Ini seperti... bekas.”
“Bekas apa?” tanya Lucien.
Monn menatap lorong di depan.
“Pilihan.”
Mereka terus berjalan.
Semakin dalam, semakin banyak garis merah muncul.
Beberapa bercabang.
Beberapa putus.
Beberapa bahkan saling bertumpuk hingga membentuk pola seperti akar pohon.
Namun tidak ada satu pun yang bergerak.
Seolah semuanya adalah rekaman dari sesuatu yang pernah terjadi.
Kemudian mereka tiba di sebuah ruangan besar.
Monn langsung berhenti.
Di tengah ruangan terdapat lingkaran batu.
Di dalamnya berdiri sebuah kursi kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di belakang kursi itu terdapat sebuah bayangan berbentuk manusia.
Bayangan tersebut tidak memiliki tubuh.
Hanya siluet.
Monn mengenalinya.
“Mortis.”
Seraphine langsung menatap Monn.
“Dia ada di sini?”
“Bukan.”
Monn mengamati bayangan tersebut.
“Ini hanya jejaknya.”
Alaric berjalan mendekat.
“Jejak dari kapan?”
Monn tidak menjawab.
Karena tiba-tiba bayangan itu bergerak.
Kepalanya perlahan menoleh.
Kemudian suara terdengar dari seluruh ruangan.
“Kau selalu datang terlambat.”
Monn membeku.
Suara itu bukan suara anak kecil.
Bukan suara Caelum.
Bukan suara Asterion.
Dan bukan suara Mortis.
Itu suara Monn sendiri.
Namun lebih tua.
Lebih lelah.
Lebih kosong.
“Siapa kau?”
Bayangan itu tidak menjawab.
Sebaliknya, sebuah gambaran muncul di udara.
Eldoria.
Kota itu terbakar oleh cahaya merah.
Orang-orang berlarian.
Para bangsawan berteriak.
Tentara memenuhi jalan.
Di atas menara kerajaan berdiri seseorang.
Monn.
Namun bukan Monn yang sekarang.
Matanya merah menyala.
Puluhan ribu benang menghubungkan tubuhnya dengan orang-orang di seluruh kota.
Tangannya terangkat.
Setiap gerakan jarinya membuat seseorang bergerak.
Monn yang sekarang menatap pemandangan itu dengan wajah kaku.
“Ini...”
Lucien memandang layar tersebut.
“Dirimu.”
“Ya.”
Monn mengenalinya.
Itu adalah kehidupan yang baru saja diperlihatkan kepadanya di Ruang Asal.
Kehidupan ketika ia mencoba menyelamatkan semua orang.
Kehidupan ketika ia akhirnya mengendalikan semua orang.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Gambaran itu tidak berhenti ketika Mortis muncul.
Ia terus bergerak.
Monn versi tersebut berdiri sendirian di tengah Eldoria yang telah berubah.
Semua orang di sekelilingnya hidup.
Namun tidak seorang pun bergerak tanpa perintah.
Seorang anak mendekatinya.
“Apakah kami boleh pulang?”
Monn dalam gambaran itu menjawab:
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kalian pergi, kalian mungkin memilih sesuatu yang salah.”
Anak itu menunduk.
Monn versi tersebut berjalan melewatinya.
Kemudian gambaran berubah.
Bertahun-tahun berlalu.
Orang-orang mulai takut berbicara.
Tidak ada perang.
Tidak ada pemberontakan.
Tidak ada kekacauan.
Semuanya tampak damai.
Namun tidak ada seorang pun yang benar-benar memilih.
Monn menatap gambaran itu dalam diam.
Ia akhirnya memahami sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada kehancuran.
Ia berhasil.
Dan justru itulah kegagalannya.
Seraphine berkata pelan,
“Monn...”
“Aku tahu.”
Monn menutup matanya.
“Aku tahu.”
Gambaran menghilang.
Ruangan kembali gelap.
Kemudian terdengar suara.
“Sekarang kau tahu apa yang terjadi ketika kau mencoba memastikan semua orang hidup sesuai keinginanmu.”
Monn membuka mata.
“Siapa yang menunjukkan ini?”
Tidak ada jawaban.
Namun bayangan di belakang kursi mulai berubah.
Sebuah tangan muncul.
Lalu wajah.
Wajah itu perlahan menjadi jelas.
Monn.
Tetapi bukan dirinya yang sekarang.
Versi itu terlihat lebih tua.
Rambutnya panjang.
Wajahnya penuh kelelahan.
Dan di belakangnya berdiri Mortis.
Monn menatap sosok tersebut.
“Kau adalah aku.”
“Aku adalah pilihanmu.”
“Dari kehidupan itu?”
“Bukan.”
Sosok itu tersenyum tipis.
“Aku adalah sesuatu yang muncul setiap kali kau mencoba melarikan diri dari pilihanmu sendiri.”
Monn terdiam.
“Jadi kau Mortis?”
“Bukan.”
Sosok itu menunjuk ke belakang.
Mortis muncul.
Diam.
Tidak bergerak.
“Dia adalah akibat.”
Kemudian sosok tersebut menunjuk kepada dirinya sendiri.
“Sedangkan aku adalah alasan.”
Monn mengerutkan kening.
“Alasan?”
“Alasan mengapa kau selalu ingin mengendalikan sesuatu.”
Ruangan mendadak sunyi.
Sosok itu melanjutkan.
“Pada kehidupan pertamamu, kau membiarkan orang lain memilih untukmu.”
Ia melangkah maju.
“Pada kehidupan berikutnya, kau memilih untuk semua orang.”
Langkah kedua.
“Dan sekarang...”
Ia berhenti di depan Monn.
“...kau sedang mencari cara agar tidak melakukan keduanya.”
Monn menatap matanya.
“Apa yang kau inginkan?”
“Aku tidak menginginkan apa pun.”
Jawaban itu membuat Monn terdiam.
“Lalu kenapa kau ada di sini?”
“Karena kau mencariku.”
Monn melihat sekeliling.
“Aku tidak pernah mencarimu.”
Sosok itu tersenyum.
“Kau datang ke sini.”
Monn membalas,
“Aku datang karena suara itu.”
“Dan kau memilih untuk mengikuti suara itu.”
Monn langsung menyadari maksudnya.
Ia tidak dipaksa.
Tidak dikendalikan.
Tidak ditarik.
Ia sendiri yang turun ke tempat ini.
Untuk pertama kalinya, sebuah benang muncul.
Tipis.
Transparan.
Benang itu menghubungkan Monn dengan sosok di depannya.
Monn langsung mengangkat tangan.
Ia bisa menariknya.
Ia bisa melihat ke mana benang itu mengarah.
Ia bahkan mungkin bisa memutusnya.
Namun Monn tidak melakukan apa pun.
Sosok itu tersenyum.
“Bagus.”
“Apa?”
“Kau tidak menyentuhnya.”
Monn menurunkan tangan.
“Aku tidak perlu tahu semuanya.”
“Kenapa?”
“Karena mengetahui sesuatu tidak berarti aku harus mengendalikannya.”
Sosok tersebut terdiam.
Untuk pertama kalinya ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Melainkan seperti seseorang yang baru melihat sesuatu yang tidak ia perkirakan.
Kemudian—
KRRAAK.
Sebuah retakan muncul di lantai.
Benang hitam keluar dari celah tersebut.
Seraphine langsung mundur.
Lucien menarik pedangnya.
Alaric mengaktifkan Blood Art.
Monn berdiri di depan mereka.
Benang hitam itu bergerak cepat menuju sosok di tengah ruangan.
Namun sebelum menyentuhnya—
Mortis bergerak.
Satu tangan hitamnya mengangkat.
Benang tersebut berhenti.
Monn menatapnya.
Mortis menoleh.
Untuk pertama kalinya, Monn merasa Mortis tidak sedang melindunginya.
Mortis sedang menghentikan sesuatu yang lain.
Sosok di depan Monn tersenyum.
“Sekarang kau mengerti?”
Monn menatap benang hitam.
“Apa?”
“Bukan semua benang ingin kau tarik.”
Benang itu tiba-tiba pecah.
Ledakan cahaya hitam memenuhi ruangan.
Monn menutup matanya.
Ketika ia membukanya kembali—
Sosok tersebut sudah menghilang.
Mortis juga lenyap.
Hanya satu benda yang tertinggal di lantai.
Sebuah pecahan kaca kecil.
Monn mengambilnya.
Di permukaannya terdapat tulisan:
SATU PILIHAN SUDAH DIBUAT.
Di bawahnya muncul kalimat kedua.
DAN KALI INI, BUKAN OLEHMU.
Monn menatap tulisan tersebut.
Kemudian ia merasakan sesuatu.
Seseorang sedang menarik satu benang dari jauh.
Bukan benangnya.
Benang Seraphine.
Monn langsung menoleh.
Seraphine berdiri beberapa meter di belakangnya.
Wajahnya pucat.
“Monn...”
“Ada apa?”
Seraphine mengangkat tangannya.
Sebuah benang tipis terlihat melilit jarinya.
Benang itu bergerak menuju kegelapan di balik ruangan.
Monn langsung bergerak.
Namun Seraphine mengangkat tangan lainnya.
“Jangan.”
Monn berhenti.
Seraphine menatap benang tersebut.
Lalu berkata dengan suara tenang,
“Kalau kau memutuskannya sekarang...”
Ia menatap Monn.
“...bukankah kau sedang memilih untukku lagi?”
Monn membeku.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian ia menurunkan tangannya.
“Benar.”
Seraphine menarik napas.
“Aku yang akan memilih.”
Benang itu semakin mengencang.
Dari kegelapan terdengar suara anak kecil.
“Kalau begitu...”
Sebuah pintu batu di ujung ruangan terbuka perlahan.
“...pilihlah.”
Dan dari balik pintu itu terdengar suara banyak orang.
Suara yang sangat familiar.
Suara keluarga Veylcrest.
Suara teman-temannya.
Suara orang-orang yang pernah mengenal Monn.
Semuanya berbicara bersamaan.
“Pilih kami.”
Monn menatap pintu itu.
Untuk pertama kalinya, ia tidak takut terhadap apa yang ada di baliknya.
Yang ia takuti justru satu hal lain.
Bagaimana jika suara-suara itu benar-benar meminta sesuatu darinya?
Dan bagaimana jika kali ini—
Monn tidak bisa menyelamatkan semuanya?