Angin malam menyapu halaman kediaman Veylcrest.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Semua mata tertuju ke arah utara.
Di balik pepohonan yang mengelilingi Blackvale, cahaya hitam berbentuk mahkota masih menggantung di langit. Sebuah mata merah berada di tengahnya, diam dan tidak berkedip.
Namun justru karena diam itulah suasananya terasa semakin buruk.
Monn berdiri beberapa langkah di depan yang lain.
Tatapannya tidak lepas dari cahaya tersebut.
“Gerbang utara...” gumam Lucien.
“Dibuka dari dalam,” lanjut Seraphine.
Duke Alaric tidak mengatakan apa-apa.
Tangannya perlahan mengepal.
Monn memperhatikan gerakan kecil itu.
Ayahnya tahu sesuatu.
Tentu saja.
Setelah semua yang baru saja terungkap, Monn semakin yakin bahwa setiap kali seseorang mengatakan aku tidak tahu, biasanya ada bagian lain dari kalimat itu yang sengaja disembunyikan.
Namun kali ini Monn tidak bertanya.
Bukan karena tidak ingin tahu.
Melainkan karena ada sesuatu yang jauh lebih penting.
Suara anak kecil itu.
Monn...
Suara tersebut masih terdengar samar dari arah utara.
Bukan melalui telinga.
Suara itu terasa seperti muncul langsung di dalam kepalanya.
Monn mengangkat tangan.
Benang-benang tipis muncul di antara jari-jarinya.
Namun tidak ada satu pun benang yang menuju cahaya hitam tersebut.
Itu membuat Monn mengerutkan kening.
“Tidak ada benang.”
Cael menelan ludah.
“Bukannya itu bagus?”
“Tidak.”
Monn menurunkan tangannya.
“Kalau sesuatu tidak memiliki benang, bukan berarti sesuatu itu tidak memiliki tujuan.”
Caelum berdiri beberapa meter di belakangnya.
Pria berambut putih itu hanya tersenyum tipis.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Monn menoleh.
“Apa?”
“Kenapa aku bilang kau harus datang sendiri.”
Monn menatapnya cukup lama.
“Kau tahu apa yang ada di sana.”
“Tidak sepenuhnya.”
“Berarti kau juga tidak tahu.”
Caelum tertawa kecil.
“Benar.”
Jawaban itu justru membuat Monn semakin curiga.
“Kalau begitu, kenapa kau menyuruhku pergi?”
“Karena itu pilihanmu.”
Caelum menunjuk ke arah gerbang utara.
“Kalau aku memberitahumu semuanya, kau mungkin pergi karena mempercayaiku.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan kalau kau pergi karena aku menyuruhmu, bukankah itu hanya mengulangi kesalahan yang sama?”
Monn terdiam.
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang seharusnya.
Ia teringat kehidupan pertamanya.
Ayahnya.
Ibunya.
Kakaknya.
Keluarga.
Masyarakat.
Semua orang pernah memberitahunya apa yang harus dilakukan.
Dan Monn menurut.
Bahkan ketika akhirnya ia kehilangan hidupnya sendiri, ia masih belum sadar bahwa selama ini ia bahkan tidak pernah benar-benar memilih.
Sekarang, ketika seseorang sengaja memberinya kebebasan untuk memilih, anehnya justru terasa lebih berat.
Monn menghela napas.
“Baik.”
Ia melangkah maju.
“Aku akan pergi.”
“Monn.”
Seraphine memanggilnya.
Monn berhenti.
Gadis itu berjalan mendekat.
“Aku ikut.”
“Tidak.”
Jawaban Monn terlalu cepat.
Seraphine mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu apa yang menunggu di sana.”
“Dan?”
“Dan aku tidak ingin kau terlibat.”
Seraphine menatapnya tanpa berkedip.
“Bukankah itu keputusan yang seharusnya kubuat sendiri?”
Monn terdiam.
Cael langsung menahan tawa kecilnya.
“Wah.”
Monn meliriknya.
“Diam.”
Seraphine justru tersenyum tipis.
“Kau baru saja melakukan hal yang selalu kau benci.”
Monn tahu maksudnya.
Mengambil keputusan untuk orang lain.
Ia memejamkan mata sebentar.
“...Benar.”
Monn membuka mata kembali.
“Kalau begitu, kau boleh ikut.”
Seraphine mengangguk.
“Aku memilih ikut.”
“Dan kalau nanti berbahaya?”
“Aku akan memilih lagi.”
Jawaban sederhana itu membuat Monn terdiam.
Kemudian Lucien berjalan mendekat.
“Aku juga.”
Monn menghela napas.
“Kau bahkan belum kutanya.”
“Aku tahu.”
Lucien menepuk bahu adiknya.
“Justru itu.”
Duke Alaric akhirnya bergerak.
“Aku ikut.”
Monn menatap ayahnya.
“Kau yakin?”
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Monn sedikit terkejut.
Alaric menatap cahaya hitam di kejauhan.
“Namun aku sudah terlalu lama membiarkan ketakutan menentukan pilihanku.”
Untuk pertama kalinya, Monn melihat sesuatu yang berbeda dari ayahnya.
Bukan kelembutan.
Bukan penyesalan.
Melainkan keraguan.
Dan mungkin, untuk seseorang seperti Alaric Veylcrest, keraguan adalah awal dari perubahan.
Mereka akhirnya bergerak menuju gerbang utara.
---
Semakin dekat mereka berjalan, semakin aneh keadaan Blackvale.
Tidak ada penjaga yang berbicara.
Tidak ada kuda yang meringkik.
Bahkan suara serangga pun menghilang.
Ketika mereka tiba di gerbang utara, Monn langsung berhenti.
Gerbang itu memang terbuka.
Tetapi tidak ada tanda-tanda kerusakan.
Tidak ada bekas serangan.
Tidak ada mayat.
Tidak ada darah.
Hanya sebuah gerbang yang terbuka.
Seolah seseorang membuka pintu rumahnya dan menunggu tamu datang.
Seorang penjaga berdiri di dekat tembok.
Wajahnya pucat.
“Tuanku...”
“Apa yang terjadi?” tanya Alaric.
Penjaga itu menunjuk ke luar.
“Kami tidak tahu.”
“Jelaskan.”
“Kunci gerbang masih berada di tangan kepala penjaga.”
Alaric mengerutkan kening.
“Lalu bagaimana gerbangnya terbuka?”
Penjaga itu menelan ludah.
“Kami mendengar suara dari dalam.”
“Dari dalam?”
“Ya.”
Monn mendekat.
“Suara siapa?”
Penjaga itu memandangnya.
“Seorang anak.”
Monn merasa dadanya sesak.
“Apa yang dia katakan?”
Penjaga tersebut ragu.
Lalu menjawab pelan.
“Dia memanggil nama Anda.”
Monn menatap lorong gelap di balik gerbang.
“Dia masih di sana?”
Penjaga mengangguk.
“Namun kami tidak melihat siapa pun.”
Monn berjalan melewati gerbang.
Seraphine mengikuti.
Lucien dan Alaric menyusul.
Cael menjadi orang terakhir sebelum Caelum.
Namun tepat ketika Caelum hendak melewati gerbang—
Monn berhenti.
“Caelum.”
Caelum menatapnya.
“Ya?”
“Jangan ikut.”
Senyum Caelum menghilang.
“Apa?”
“Kau bilang aku harus datang sendiri.”
Monn menunjuk ke belakang.
“Kau tetap di sini.”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Caelum tertawa.
“Bagus.”
Ia mundur satu langkah.
“Itu keputusan yang benar-benar milikmu.”
Monn tidak menjawab.
Mereka melanjutkan perjalanan.
---
Hanya beberapa ratus meter dari gerbang, Monn menemukan sesuatu.
Sebuah benang.
Tipis.
Hitam.
Benang itu muncul dari tanah.
Kemudian bergerak perlahan menuju sebuah rumah tua yang sudah lama kosong.
Monn berhenti.
“Jangan mendekat.”
Lucien menatap benang tersebut.
“Itu?”
“Bukan milik manusia.”
Seraphine berdiri di sampingnya.
“Lalu milik siapa?”
Monn tidak menjawab.
Karena suara anak kecil kembali terdengar.
Kali ini lebih jelas.
“Monn...”
Monn memejamkan mata.
Suara itu datang dari rumah tua tersebut.
Ia mengangkat tangannya.
Benang hitam di tanah bergerak.
Bukan menuju Monn.
Melainkan menjauh darinya.
Seolah sedang menarik sesuatu dari dalam rumah.
Monn melangkah maju.
Pintu rumah terbuka sendiri.
Berderit...
Udara dingin keluar dari dalam.
Di lantai terdapat sebuah benda.
Sebuah mahkota kecil berwarna hitam.
Monn menatapnya.
Mahkota itu sama persis dengan simbol yang muncul di langit.
Namun ada sesuatu yang lebih mengganggunya.
Di bawah mahkota itu terdapat sebuah tulisan.
KEMBALI.
Monn berjongkok.
Tangannya hampir menyentuh tulisan tersebut.
“Jangan.”
Suara Noctis terdengar dari dalam pikirannya.
Monn berhenti.
“Apa?”
“Jangan sentuh.”
Monn menatap mahkota itu.
“Kenapa?”
Noctis diam beberapa saat.
Kemudian jawabannya terdengar.
“Karena kali ini... aku tidak melihat masa lalu.”
Monn menegang.
“Lalu apa yang kau lihat?”
Noctis menjawab dengan suara yang jauh lebih pelan.
“Pilihan yang belum terjadi.”
Pada saat yang sama—
DUK.
Sebuah suara terdengar dari lantai bawah.
Semua orang langsung menoleh.
Rumah itu ternyata memiliki ruang bawah tanah.
Dan dari sana terdengar suara langkah kecil.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Kemudian suara anak itu terdengar lagi.
Namun kali ini bukan memanggil Monn.
Ia berkata:
“Kalau kau ingin tahu siapa yang memilih untuk mengembalikanmu...”
Langkah itu berhenti.
“...turunlah.”
Monn menatap tangga menuju kegelapan.
Di belakangnya, Seraphine berkata pelan,
“Monn.”
Monn tidak menjawab.
Tangannya mengepal.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke kehidupan ini, ia menyadari sesuatu yang sederhana namun menakutkan.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk mencari siapa yang menarik benangnya.
Padahal pertanyaan yang sebenarnya jauh lebih berbahaya.
Bagaimana jika sejak awal... tidak ada seorang pun yang menariknya?
Monn melangkah menuju tangga.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Dan dari kegelapan di bawah sana, terdengar suara yang sangat mirip dengan suaranya sendiri.
“Selamat datang kembali, Monn.”
Monn berhenti.
Suara itu melanjutkan:
“Sekarang mari kita lihat...”
Sebuah mata merah terbuka di dalam kegelapan.
“...apa yang akan kau pilih tanpa bantuan siapa pun.”