Caelum tersenyum.
Namun Monn tidak membalasnya.
Tatapannya justru melewati bahu Caelum.
Ada seseorang berdiri di belakangnya.
Seorang wanita.
Rambut putih keabu-abuan jatuh hingga bahu. Pakaiannya sederhana, hampir seperti pakaian perjalanan biasa. Wajahnya tenang.
Monn langsung mengenalinya.
Bukan karena pernah bertemu secara langsung.
Melainkan karena wajah itu sudah muncul berkali-kali dalam ingatan yang tidak seharusnya ia miliki.
Wanita dari Ruang Asal.
Wanita yang memiliki wajah seperti Evelyne.
Wanita yang pernah berkata bahwa ia adalah kemungkinan dari seseorang yang seharusnya menjadi ibunya.
Monn menatapnya lama.
“Kau.”
Wanita itu tidak menjawab.
Caelum melirik ke belakang.
“Sepertinya kalian sudah pernah bertemu.”
“Dia bukan Evelyne.”
“Benar.”
Caelum tersenyum.
“Namanya bukan sesuatu yang perlu kau ketahui sekarang.”
Monn mengerutkan kening.
“Kau membawa dia ke sini untuk apa?”
“Bukan aku yang membawanya.”
Wanita itu akhirnya berbicara.
“Aku datang sendiri.”
Suaranya lembut.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Ketika Monn menggunakan Blood Thread, tidak ada apa pun yang terlihat.
Tidak ada hubungan.
Tidak ada keinginan.
Tidak ada kemungkinan.
Seolah wanita itu berdiri di luar aturan yang berlaku bagi manusia.
Monn mematikan Blood Thread.
“Apa yang kau inginkan?”
Wanita itu memandangnya.
“Memastikan kau tidak mengulang kesalahan yang sama.”
Monn tertawa kecil.
“Semua orang mengatakan itu.”
Ia melihat Caelum.
“Padahal tidak ada seorang pun yang mau mengatakan kesalahan apa yang sebenarnya mereka maksud.”
Caelum mengangkat bahu.
“Karena kalau kami memberitahumu semuanya, pilihanmu tidak akan lagi sepenuhnya menjadi pilihanmu.”
Monn terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa membantah.
---
Alaric melangkah maju.
“Caelum.”
Caelum menoleh.
“Duke Veylcrest.”
“Aku sudah melarangmu mendekati keluargaku.”
“Dan aku sudah mematuhi laranganmu.”
Alaric mengerutkan kening.
“Kau menyebut ini mematuhi?”
Caelum tersenyum.
“Aku tidak pernah masuk ke rumahmu.”
Monn melihat keduanya.
“Kalian sudah saling mengenal?”
Tidak ada jawaban.
Monn menatap ayahnya.
“Ayah.”
Alaric menghela napas.
“Caelum pernah datang ke Blackvale.”
“Untuk apa?”
“Bertahun-tahun lalu.”
“Berkaitan denganku?”
Alaric terdiam.
Itu sudah cukup menjadi jawaban.
Monn memejamkan mata.
Terlalu banyak orang telah mengetahui sesuatu tentang dirinya.
Dan hampir semuanya memilih diam.
Ayahnya.
Caelum.
Edrin.
Bahkan mungkin Evelyne.
Monn membuka mata.
“Sekarang aku ingin satu hal.”
Caelum menunggu.
“Tidak ada lagi rahasia.”
Caelum tersenyum tipis.
“Itu permintaan yang mustahil.”
“Kenapa?”
“Karena sebagian rahasia bukan milikku.”
Monn menatapnya.
“Kalau begitu katakan apa yang menjadi milikmu.”
Caelum diam beberapa saat.
Kemudian berkata:
“Aku tahu tentang siklus sebelumnya.”
Ruangan langsung sunyi.
Monn tidak bergerak.
“Berapa banyak?”
“Dua.”
“Dua kehidupan?”
“Bukan.”
Caelum menggeleng.
“Dua percobaan.”
Monn mengerutkan kening.
“Percobaan?”
Caelum mengangguk.
“Pada percobaan pertama, kau tidak pernah mendapatkan kesempatan kedua.”
“Lalu?”
“Kau mati seperti manusia biasa.”
Monn diam.
“Percobaan kedua,” lanjut Caelum, “adalah kehidupan yang kau ingat sebagai kehidupan pertama.”
Monn mulai memahami.
“Dan kehidupan yang sekarang?”
Caelum tersenyum.
“Bukan percobaan.”
Monn menatapnya.
“Lalu apa?”
“Kesempatan.”
“Dari siapa?”
Caelum tidak menjawab.
Monn sudah menduga.
“Dari anak itu?”
Caelum menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu siapa?”
Caelum melihat wanita di belakangnya.
Wanita itu menatap Monn.
Kemudian berkata:
“Dari dirimu sendiri.”
Monn terdiam.
Wanita itu melanjutkan,
“Bagian dari dirimu yang ingin hidup.”
---
Monn memandang telapak tangannya.
Tidak ada lagi tanda hitam.
Namun ia masih bisa merasakan sesuatu di dalam dirinya.
Bukan suara.
Bukan kekuatan.
Lebih seperti—
ruang kosong.
Sesuatu telah pergi.
Atau mungkin—
sesuatu telah kembali ke tempatnya.
Noctis berjalan mendekat.
“Aku mengerti sekarang.”
Monn menoleh.
“Apa?”
Noctis menatap wanita itu.
“Dia bukan orang yang membawamu kembali.”
Wanita itu tidak menyangkal.
Noctis melanjutkan,
“Dia hanya memastikan pilihanmu tidak dihapus.”
Monn menatapnya.
“Dan kau?”
Noctis tersenyum.
“Aku?”
“Kenapa kau masih ada?”
Noctis terdiam.
Pertanyaan itu tampaknya lebih sulit daripada yang lain.
Akhirnya ia menjawab,
“Karena kau masih membutuhkanku.”
Monn menggeleng.
“Tidak.”
Noctis tampak terkejut.
“Aku tidak ingin kau ada karena aku membutuhkanmu.”
Monn mendekat.
“Aku ingin kau ada karena kau memilih untuk ada.”
Noctis membeku.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Kau benar-benar berubah.”
Monn tersenyum.
“Mungkin.”
Noctis menatap tangannya.
“Kalau begitu…”
Sebuah benang tipis muncul di antara mereka.
Tidak merah.
Tidak hitam.
Tidak putih.
Benang itu transparan.
Hampir tidak terlihat.
Monn menatapnya.
“Apa itu?”
Noctis menjawab,
“Bukan ikatan.”
“Lalu?”
“Pilihan.”
Monn menyentuh benang tersebut.
Tidak ada rasa sakit.
Tidak ada tekanan.
Tidak ada keinginan yang masuk ke pikirannya.
Hanya koneksi sederhana.
Noctis memilih untuk tetap berada di sana.
Monn memilih untuk menerimanya.
Tidak ada yang mengendalikan siapa pun.
---
Tiba-tiba terdengar suara langkah.
Semua orang menoleh.
Edrin muncul dari lorong.
Ia terlihat kelelahan.
“Kalian benar-benar membuatku mencarimu sampai ke bawah tanah.”
Monn tersenyum.
“Kau terlambat.”
Edrin menghela napas.
“Aku tahu.”
Tatapannya langsung menuju Caelum.
“Kau.”
Caelum membalas.
“Edrin.”
“Kau tidak seharusnya berada di sini.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa datang?”
Caelum tidak menjawab.
Edrin menatap wanita di belakangnya.
Ekspresinya berubah.
“Jadi akhirnya kau membawanya.”
Wanita itu berkata,
“Aku tidak dibawa.”
Edrin terdiam.
“Benar.”
Ia menatap Monn.
“Dan itu justru yang mengkhawatirkan.”
Monn mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Edrin berjalan mendekat.
“Karena kalau dia sudah memilih untuk datang sendiri…”
Ia melihat ke arah langit-langit.
“…berarti sesuatu di luar Ruang Asal mulai bergerak.”
Monn langsung bertanya,
“Apa?”
Edrin tidak menjawab.
Ia hanya berkata:
“Blackvale.”
Alaric menegang.
“Apa yang terjadi?”
“Tidak tahu.”
Edrin mengeluarkan sebuah surat.
“Pesan ini baru sampai.”
Ia menyerahkannya kepada Alaric.
Alaric membaca.
Wajahnya berubah.
Monn langsung mengambil surat itu.
Isinya singkat.
KEPADA DUKE VEYLcrest.
GERBANG UTARA BLACKVALE TELAH DIBUKA DARI DALAM.
TIDAK ADA PENYERANG YANG TERLIHAT.
NAMUN SEMUA PENJAGA MELAPORKAN HAL YANG SAMA.
Monn membaca baris terakhir.
MEREKA MENDENGAR SUARA ANAK KECIL MEMANGGIL NAMA MONN.
Ruangan menjadi sunyi.
Monn perlahan menurunkan surat.
Seraphine menatapnya.
“Anak itu…”
Monn mengangguk.
“Dia tidak menghilang.”
Noctis menatap pintu.
“Bukan dia.”
Monn menoleh.
“Apa?”
Noctis berkata pelan:
“Anak yang kita lihat tadi bukan sumbernya.”
Caelum tersenyum.
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Monn menatapnya tajam.
“Jelaskan.”
Caelum menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kali ini…”
Caelum menatap Monn.
“…kau harus datang sendiri.”
Monn diam.
“Ke mana?”
Caelum menunjuk ke arah utara.
“Blackvale.”
Alaric langsung berkata,
“Tidak.”
Monn menoleh.
“Ayah.”
“Blackvale sedang tidak aman.”
“Justru karena itu aku harus pergi.”
“Tidak.”
Alaric menatapnya tegas.
“Untuk pertama kalinya dalam hidupmu, aku meminta sesuatu bukan karena kehormatan keluarga.”
Monn terdiam.
Alaric melanjutkan:
“Jangan pergi.”
Monn menatap ayahnya.
Biasanya ia akan melawan.
Biasanya ia akan menganggap larangan itu sebagai bentuk pengendalian.
Namun kali ini—
ia berhenti.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu di mata Alaric yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan perintah.
Bukan ambisi.
Bukan kehormatan.
Ketakutan seorang ayah.
Monn akhirnya berkata,
“Aku akan pergi.”
Alaric menutup mata.
“Tentu saja.”
“Tapi bukan karena aku mengabaikan Ayah.”
Monn berjalan mendekat.
“Aku pergi karena aku memilih untuk mencari tahu.”
Alaric membuka mata.
Monn melanjutkan:
“Kalau aku salah, aku akan menanggung akibatnya.”
Alaric menatapnya lama.
Kemudian mengangguk pelan.
“Kalau begitu…”
Ia mengambil pedangnya.
“…aku ikut.”
Lucien langsung berdiri.
“Aku juga.”
Seraphine tersenyum kecil.
“Aku tidak akan membiarkan kalian pergi tanpa pengawasan.”
Monn melihat mereka semua.
Dulu, ia akan mencoba memastikan semua orang tetap aman.
Mengendalikan jalannya perjalanan.
Mengatur siapa melakukan apa.
Sekarang—
ia hanya berkata:
“Baik.”
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Di luar ruang bawah tanah, sebuah suara terdengar.
Sangat jauh.
Namun cukup jelas.
“Monn…”
Kemudian suara lain.
Lebih kecil.
Lebih dekat.
“Kau terlambat.”
Monn menatap utara.
Dan jauh di balik pegunungan Blackvale—
sebuah cahaya hitam muncul di langit.
Bentuknya menyerupai mahkota.
Namun di tengah mahkota itu—
ada satu mata merah yang perlahan terbuka.
Sesuatu telah bangun.
Dan kali ini—
bukan Monn yang membangunkannya.