Chapter 33 of 51
Chapter 33 — Siklus Ketiga
1.3k words
KRAK!
Retakan menjalar di sepanjang dinding.
Serpihan batu berjatuhan dari langit-langit.
Seraphine segera menarik Monn menjauh dari meja.
“Keluar!”
Lucien mendorong pintu rahasia.
“Jalannya tertutup!”
Dinding di belakang mereka bergerak.
Bukan runtuh.
Bergeser.
Seolah ruangan itu sedang berubah bentuk.
Monn menatap jam saku.
Tulisan SIKLUS KE-3 DIMULAI masih terlihat.
“Tidak…”
Ia mengambil jam itu.
Begitu jarinya menyentuh permukaan logam—
DING!
Seluruh ruangan berhenti.
Batu yang jatuh menggantung di udara.
Debu berhenti bergerak.
Bahkan rambut Seraphine yang tertiup angin berhenti.
Monn bisa bergerak.
Namun hanya dia.
Dan satu orang lain.
Noctis.
“Monn.”
Noctis berdiri beberapa langkah di depannya.
“Jangan sentuh jam itu lagi.”
Monn menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku mengingatnya.”
Monn mengerutkan kening.
“Mengingat apa?”
Noctis menunjuk jam tersebut.
“Aku pernah melihatnya.”
“Di mana?”
“Di kehidupan sebelum kehidupan yang kau ingat.”
Monn membeku.
“Berarti kau memang ada saat itu.”
“Tidak.”
Noctis menggeleng.
“Aku belum menjadi diriku yang sekarang.”
“Lalu apa kau?”
Noctis menatap tangan Monn.
“Bayangan.”
Monn terdiam.
“Bayangan dari seseorang yang belum lahir.”
---
Suara retakan kembali terdengar.
Waktu bergerak lagi.
BRAK!
Sebuah bagian langit-langit runtuh.
Lucien menarik Monn ke belakang.
“Kalau kita ingin membahas masa lalu, lakukan setelah kita keluar hidup-hidup.”
Mereka berlari.
Lorong mulai runtuh di belakang mereka.
Seraphine membuka jalan menggunakan sihir.
Cahaya biru menyapu dinding.
“Di sini!”
Mereka berbelok.
Namun lorong di depan tiba-tiba berubah.
Dinding batu menghilang.
Sebagai gantinya—
muncul lorong putih.
Monn berhenti.
Ruang Asal.
Tidak mungkin.
Mereka seharusnya berada di bawah Royal Academy.
Namun di depan mereka berdiri pintu putih yang sama.
Noctis berbisik,
“Jangan masuk.”
Monn menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena tempat itu sedang mencampurkan ruang.”
“Ruang Asal?”
“Bukan.”
Noctis menatap lorong tersebut.
“Tempat yang berada di antara Ruang Asal dan dunia kita.”
Monn menatap jam.
Jarumnya masih berhenti.
SIKLUS KE-3.
Tiba-tiba suara anak kecil terdengar.
“Monn.”
Monn menoleh.
Anak kecil yang tadi ia lihat berdiri di ujung lorong.
Kali ini tidak berada di dalam kristal.
Ia benar-benar ada.
Seraphine terkejut.
“Siapa dia?”
Monn tidak menjawab.
Anak itu berjalan mendekat.
Langkahnya ringan.
Tidak ada suara.
Tidak ada benang.
Sampai akhirnya ia berhenti tepat di depan Monn.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu.”
Monn menatapnya.
“Aku tidak akan mengikutimu.”
Anak itu tersenyum.
“Bagus.”
Monn mengerutkan kening.
“Bagus?”
“Dulu kau selalu mengikutiku.”
Monn membeku.
“Dulu?”
Anak itu mengangguk.
“Pada siklus pertama.”
Monn menatap Noctis.
Noctis tidak berkata apa-apa.
Anak itu kemudian mengangkat tangannya.
Sebuah gambar muncul di udara.
Monn melihat sebuah kota.
Eldoria.
Namun kota itu berbeda.
Gedung-gedung runtuh.
Langit merah.
Royal Academy terbakar.
Blackvale dipenuhi kabut hitam.
Dan di tengah kota—
Monn berdiri.
Sendirian.
Blood Thread memenuhi seluruh tubuhnya.
Ribuan benang terhubung ke manusia di seluruh Eldoria.
Monn menarik semuanya.
Orang-orang bergerak sesuai kehendaknya.
Seraphine melihat gambar itu dengan wajah pucat.
“Monn…”
Monn tidak mampu berkata apa-apa.
Anak itu berkata,
“Ini adalah akhir siklus pertama.”
Monn menatapnya.
“Aku melakukan ini?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena kau ingin menyelamatkan mereka.”
Monn menggeleng.
“Tidak.”
Anak itu menatapnya.
“Kau bilang ingin menyelamatkan semua orang.”
Monn melihat gambar itu.
“Ini bukan menyelamatkan.”
“Menurutmu begitu.”
“Aku tidak akan pernah melakukan ini.”
Anak itu tersenyum.
“Kau sudah melakukannya.”
Monn menatap tangannya.
Blood Thread bergetar.
“Apa yang terjadi setelahnya?”
Anak itu menunjuk gambar.
Sebuah titik hitam muncul di dada Monn dalam penglihatan.
Kemudian menyebar.
Semua benang mulai terputus.
Satu demi satu.
Monn jatuh.
Dan dari tubuhnya—
sesuatu keluar.
Sosok tinggi.
Jubah hitam.
Mata merah.
Mortis.
Monn membeku.
“Tidak…”
Anak itu berkata,
“Mortis bukan lahir dari siklus kedua.”
Ia menunjuk gambar.
“Dia lahir di sini.”
Monn menatap sosok itu.
“Dari Blood Thread?”
“Dari pilihanmu.”
Monn tidak bergerak.
Noctis menatap penglihatan tersebut.
“Jadi itu sebabnya…”
Monn menoleh.
“Sebab apa?”
Noctis menjawab pelan,
“Kenapa Mortis selalu muncul ketika kau menggunakan Blood Thread terlalu jauh.”
Monn kembali melihat gambar.
Mortis berdiri di belakang dirinya.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Sosok itu tidak terlihat seperti pengikut.
Ia terlihat seperti—
penjaga.
Kemudian gambar berubah.
Monn pertama kali bertemu Caelum.
Kemudian Edrin.
Kemudian Ruang Asal.
Kemudian—
sebuah meja.
Monn melihat dirinya sendiri duduk di sana.
Di depannya ada jam saku yang sama.
Caelum berdiri di seberang meja.
Monn berkata:
“Aku ingin kembali.”
Caelum menjawab:
“Kalau kau kembali, kau harus meninggalkan sesuatu.”
Monn mengangguk.
Namun kali ini gambar tidak berhenti di sana.
Monn melihat dirinya sendiri berdiri.
Ia berkata:
“Aku tidak ingin mengingat semuanya.”
Caelum terdiam.
Monn melanjutkan:
“Kalau aku membawa semua ingatan, aku akan mencoba mengendalikan semuanya lagi.”
Caelum bertanya:
“Jadi apa yang akan kau tinggalkan?”
Monn menjawab:
“Diriku yang ingin mengendalikan hasil.”
Monn yang sekarang menutup mata.
Ia sudah mengetahui bagian itu.
Tetapi gambar terus berjalan.
Setelah Monn pergi—
Caelum berdiri sendirian.
Kemudian seseorang muncul di belakangnya.
Sosok berambut putih.
Wajahnya tidak terlihat.
Ia berkata:
“Dia akan mengulanginya.”
Caelum menjawab:
“Mungkin.”
Sosok itu berkata:
“Kalau begitu kita perlu memastikan dia memiliki kesempatan lagi.”
Monn membuka mata.
“Siapa dia?”
Anak kecil itu tidak menjawab.
Gambar berakhir.
Lorong putih kembali kosong.
Monn menatap anak tersebut.
“Siapa orang itu?”
Anak itu hanya tersenyum.
“Orang yang membuat siklus ketiga.”
Monn membeku.
“Apa?”
“Ya.”
Anak itu menunjuk jam di tangan Monn.
“Karena siklus kedua tidak berakhir seperti yang seharusnya.”
Monn mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
“Caelum mengira kau akan berubah.”
“Dan?”
“Kau berubah.”
Anak itu menatap Monn.
“Tapi tidak cukup.”
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada yang seharusnya.
Monn terdiam.
Anak itu melanjutkan.
“Pada siklus kedua, kau masih mencoba mengendalikan semuanya.”
Monn melihat Blood Thread di tangannya.
Ia tidak bisa menyangkalnya.
Ia telah memanipulasi.
Ia telah menarik benang orang lain.
Ia telah memutuskan sesuatu atas nama orang lain.
Bahkan ketika ia berkata ingin menyelamatkan mereka—
ia tetap mengambil keputusan mereka.
Anak itu tersenyum.
“Karena itu aku muncul.”
Monn menatapnya.
“Untuk apa?”
“Untuk memberimu pilihan terakhir.”
“Pilihan apa?”
Anak itu mendekat.
“Bangunkan aku.”
Monn diam.
“Kalau kau membangunkanku,” lanjut anak itu, “aku akan memberimu semua ingatanmu.”
Monn menatapnya.
“Semua?”
“Semua kehidupan.”
“Dan sebagai gantinya?”
Anak itu tersenyum.
“Kau tidak perlu memilih lagi.”
Monn langsung memahami.
Bukan tawaran.
Itu jebakan.
Jika ia menerima—
ia menyerahkan keputusan kepada sesuatu yang mengetahui semua kehidupannya.
Sesuatu yang memahami semua kesalahannya.
Sesuatu yang bahkan mungkin sudah menentukan kehidupan ini.
Monn menggeleng.
“Tidak.”
Anak itu berhenti tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak membutuhkan semua ingatanku untuk memilih.”
“Kalau begitu kau akan terus membuat kesalahan.”
“Mungkin.”
“Orang-orang akan mati.”
“Mungkin.”
“Orang yang kau cintai bisa pergi.”
Monn terdiam.
Kalimat terakhir itu menusuk.
Namun ia tetap menjawab.
“Aku tahu.”
Anak itu menatapnya.
Monn melanjutkan:
“Kalau aku harus mengendalikan semua orang agar tidak ada yang terluka…”
Ia mengepalkan tangan.
“…maka kehidupan seperti itu bukan milikku.”
Anak itu diam.
Untuk pertama kalinya ekspresinya berubah.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Melainkan—
bingung.
Monn menatapnya.
“Aku tidak tahu apakah pilihan ini benar.”
Ia tersenyum tipis.
“Tapi kali ini aku ingin memilihnya sendiri.”
Jam saku di tangannya bergetar.
KLIK.
Jarumnya kembali bergerak.
Tik.
Tik.
Tik.
Tulisan SIKLUS KE-3 perlahan menghilang.
Digantikan kalimat baru:
PILIHAN DITERIMA.
Anak kecil itu mulai memudar.
Monn memandangnya.
“Tunggu.”
Anak itu tersenyum.
“Kau akhirnya memilih tanpa harus tahu hasilnya.”
Tubuhnya berubah menjadi cahaya.
Namun sebelum menghilang sepenuhnya, ia berbisik:
“Kalau begitu…”
Matanya kembali merah.
“…aku tidak perlu bangun.”
Monn terdiam.
Cahaya itu masuk ke tanda hitam di telapak tangannya.
Pecah.
Tanda tersebut menghilang.
Lorong putih runtuh.
Monn, Lucien, Seraphine, Noctis, dan Alaric terlempar kembali ke ruang bawah tanah.
Mereka jatuh ke lantai batu.
Sunyi.
Monn perlahan bangkit.
Ia memeriksa telapak tangannya.
Tidak ada tanda.
Tidak ada benang hitam.
Hanya kulit biasa.
Namun jam saku itu masih ada.
Dan di permukaannya kini tertulis:
SIKLUS KETIGA — DITOLAK.
Monn menatap tulisan itu.
“Jadi…”
Ia menghela napas.
“…kehidupan ini bukan siklus ketiga.”
Noctis menatapnya.
“Bukan.”
“Lalu apa?”
Noctis tersenyum tipis.
“Kesempatan pertama yang benar-benar kau pilih sendiri.”
Monn terdiam.
Namun sebelum siapa pun sempat berkata lebih banyak—
sebuah suara terdengar dari belakang.
“Menarik.”
Semua langsung berbalik.
Di pintu ruang bawah tanah berdiri seorang pria berambut putih.
Caelum.
Ia tersenyum.
“Sekarang aku benar-benar ingin tahu…”
Matanya tertuju pada Monn.
“…apa yang akan kau lakukan tanpa seseorang yang menentukan jalanmu.”
Dan untuk pertama kalinya—
Monn tidak merasa perlu mencari jawaban dari Caelum.
Ia hanya berkata:
“Cari tahu sendiri.”
Caelum tertawa kecil.
“Jawaban yang bagus.”
Namun di balik senyumnya—
ada sesuatu yang Monn belum sadari.
Caelum tidak datang sendirian.