Chapter 32 of 51

Chapter 32 — Kehidupan Sebelum Kehidupan

1.1k words

Ruangan itu membeku. Monn menatap ayahnya. “Apa maksud Ayah?” Duke Alaric tidak menjawab. Cahaya dari Blood Thread di tangan Monn menjadi satu-satunya penerangan. Benang hitam yang menghubungkan mereka berdua bergetar pelan. Seraphine berdiri di sisi Monn. Lucien masih menggenggam pedangnya. Sementara Noctis hanya menatap Alaric dengan ekspresi yang sulit dibaca. Akhirnya Monn berkata, “Jelaskan.” Alaric menarik napas panjang. “Tidak di sini.” “Kenapa?” “Karena tempat ini tidak aman.” Monn hampir tertawa. “Setelah semua yang terjadi?” Alaric menatapnya. “Justru karena semua yang terjadi.” Ia berjalan menuju rak buku. Kemudian menarik sebuah buku tua. Klik. Dinding di belakangnya bergeser. Sebuah ruang tersembunyi terbuka. Monn menatapnya. “Kamar rahasia lagi?” Alaric masuk. “Kalau kau ingin jawaban, ikut aku.” Monn tidak langsung bergerak. Seraphine berbisik, “Jangan pergi sendirian.” Monn mengangguk. “Kita semua ikut.” Alaric tidak melarang. Mereka masuk. Pintu tertutup di belakang mereka. --- Ruang tersebut jauh lebih kecil daripada ruangan rahasia yang pernah ditemukan Lucien. Tidak ada senjata. Tidak ada buku sejarah. Hanya sebuah meja batu dan empat kursi. Di atas meja terdapat tiga benda. Sebuah jam saku. Sebuah kristal putih. Dan sebuah foto tua. Monn mengambil foto itu. Ia langsung terdiam. Foto tersebut memperlihatkan keluarga Veylcrest. Namun ada sesuatu yang salah. Duke Alaric terlihat jauh lebih muda. Evelyne juga. Lucien masih anak-anak. Dan di samping mereka— ada Monn. Namun bukan Monn yang berusia tujuh belas. Anak dalam foto itu mungkin berusia lima tahun. Monn menatap tanggal di bawah foto. “Ini…” Lucien mendekat. “Mustahil.” Tanggal tersebut menunjukkan foto itu diambil dua tahun sebelum Monn lahir. Monn mengangkat kepala. “Aku ada di foto sebelum aku lahir.” Alaric diam. Seraphine menatapnya. “Jelaskan.” Alaric duduk. “Monn…” Ia berhenti sejenak. “Anak dalam foto itu bukan tubuhmu.” Monn mengerutkan kening. “Lalu siapa?” “Bagian dari dirimu.” Jawaban itu membuat Monn semakin bingung. Alaric melanjutkan. “Dulu aku mengira itu hanya fenomena yang tidak bisa dijelaskan.” “Dulu?” “Sekitar dua puluh tahun lalu, keluarga Veylcrest menemukan sebuah tempat di bawah Blackvale.” Monn langsung teringat Ruang Asal. “Ruang Asal?” Alaric menggeleng. “Bukan.” “Lalu?” “Tempat itu disebut Ruang Awal.” Noctis langsung mengangkat kepala. “Apa?” Alaric menatapnya. “Kau tahu?” Noctis tidak menjawab. Monn memperhatikan keduanya. “Jelaskan.” Alaric menghela napas. “Ruang Awal bukan tempat untuk menyimpan pilihan yang tidak terjadi.” Ia menunjuk kristal putih. “Tempat itu menyimpan sesuatu yang lebih tua.” “Apa?” “Awal dari seseorang.” Monn menatap kristal tersebut. “Awal… seseorang?” “Ketika kami menemukan tempat itu, ada seorang anak di dalamnya.” Monn perlahan mendekat. “Anak siapa?” Alaric menatapnya. “Anakmu.” Monn terdiam. “Mustahil.” “Anak itu memiliki wajahmu.” “Usianya?” “Sekitar lima tahun.” Monn melihat foto tadi. “Dan anak itu ada di sini?” Alaric mengangguk. “Ya.” “Bagaimana?” “Aku tidak tahu.” “Siapa orang tuanya?” Alaric tidak menjawab. Monn mulai memahami sesuatu. “Jadi aku…” Ia menatap tangannya. “…sudah ada sebelum aku dilahirkan.” “Bukan seperti itu.” Alaric menggeleng. “Kau lahir seperti manusia biasa.” “Lalu anak itu?” “Anak itu adalah kemungkinan.” Monn terdiam. Alaric melanjutkan. “Ruang Awal menunjukkan sesuatu yang mungkin menjadi dirimu. Bukan masa lalu. Bukan masa depan.” “Lalu apa?” “Potensi.” Kata itu menggema di kepala Monn. Potensi. Sesuatu yang bisa terjadi. Sesuatu yang belum menjadi nyata. Noctis tiba-tiba berkata, “Dan kau membiarkannya tetap hidup.” Alaric menatapnya. “Aku mencoba menghancurkannya.” Noctis terdiam. Monn menoleh. “Kenapa?” Alaric melihat kristal putih. “Karena anak itu tidak memiliki benang.” Monn membeku. Sama seperti Noctis. Sama seperti Caelum. Sama seperti sosok-sosok tertentu dari Ruang Asal. Alaric berkata, “Tidak ada hubungan.” “Tidak ada keinginan yang bisa dibaca.” “Tidak ada kemungkinan yang bisa dipahami.” “Tidak ada masa lalu.” Ia menatap Monn. “Dia seperti manusia yang belum memilih untuk menjadi manusia.” --- Monn mengambil kristal putih. Begitu jarinya menyentuh permukaannya— dunia berubah. Ia melihat Blackvale. Dua puluh tahun lalu. Sebuah ruangan bawah tanah. Alaric muda berdiri di depan seorang anak. Anak itu memiliki wajah Monn. Namun rambutnya putih. Matanya merah. Ia duduk di lantai. Tidak menangis. Tidak berbicara. Hanya menatap Alaric. Di belakang Alaric berdiri Evelyne. Ia terlihat jauh lebih muda. “Alaric,” katanya. “Kita tidak bisa meninggalkannya di sini.” Alaric menjawab, “Dia bukan anak kita.” “Lalu apa dia?” Alaric diam. Anak itu tiba-tiba berbicara. “Namaku belum ada.” Alaric membeku. Anak itu menatapnya. “Bolehkah aku memiliki nama?” Evelyne berlutut. “Apa nama yang kau inginkan?” Anak itu memandangnya. Kemudian— menunjuk ke arah pintu. “Monn.” Penglihatan berubah. Monn melihat dirinya sendiri. Bukan sebagai anak. Melainkan seperti bayangan. Sebuah bentuk tanpa tubuh. Ia melihat anak itu masuk ke dalam tubuh seorang bayi. Kemudian— cahaya. Tangisan bayi. Evelyne memeluk bayi tersebut. Alaric berdiri di sampingnya. Dan suara seseorang terdengar dari kegelapan. “Jangan biarkan dia mengingat.” Monn tersentak. Kristal terlepas dari tangannya. Ia kembali ke ruangan. Napasnya berat. Seraphine segera memegang bahunya. “Monn.” Ia tidak menjawab. Lucien menatap Alaric. “Ayah…” Alaric menggeleng. “Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu.” Monn menatapnya. “Bohong.” Alaric terdiam. “Kau tahu sesuatu.” “Aku tahu cukup untuk takut.” “Takut pada apa?” Alaric menatap Monn. “Pada kemungkinan bahwa kau bukan pertama kalinya menjadi Monn Veylcrest.” Ruangan menjadi sunyi. Monn menatap kristal putih. “Berapa kali?” Alaric menggeleng. “Aku tidak tahu.” “Berapa kali aku hidup?” “Aku tidak tahu.” “Berapa kali aku kembali?” “Aku tidak tahu.” Monn menutup matanya. Semua potongan mulai tersusun. Ruang Asal. Caelum. Noctis. Anak kecil. Ingatan yang hilang. Kehidupan pertama. Kehidupan kedua. Dan sekarang— kemungkinan kehidupan sebelum semuanya. Namun satu hal masih tidak masuk akal. Monn membuka mata. “Kalau aku sudah kembali berkali-kali…” Ia melihat Alaric. “…kenapa aku masih melakukan kesalahan yang sama?” Tidak ada jawaban. Noctis yang menjawab. “Karena kembali tidak berarti berubah.” Monn menatapnya. Noctis melanjutkan, “Kesempatan kedua tidak otomatis membuat seseorang menjadi orang yang lebih baik.” “Lalu apa gunanya semua ini?” “Tidak ada.” Monn terdiam. Noctis menatapnya. “Kalau kau terus mencari kehidupan sebelumnya hanya untuk menemukan alasan mengapa kau seperti sekarang…” Ia menunjuk dada Monn. “…kau akan menghabiskan kehidupan ini untuk mengejar kehidupan yang sudah tidak bisa kau jalani.” Kata-kata itu membuat Monn diam. Seraphine perlahan berdiri. “Monn.” “Apa?” “Menurutku ada sesuatu yang lebih penting.” Monn menoleh. “Apa?” “Kalau anak itu adalah kemungkinan dirimu…” Ia menunjuk kristal putih. “…kenapa dia muncul sekarang?” Monn membeku. Benar. Kenapa sekarang? Kenapa setelah Ruang Asal? Kenapa setelah ia mulai memahami Blood Thread? Kenapa setelah tanda hitam muncul? Lalu— Ting. Jam saku di atas meja terbuka sendiri. Jarumnya bergerak mundur. Tik. Tik. Tik. Kemudian berhenti. Jarum menunjuk angka yang tidak ada. Di permukaan jam muncul tulisan: SIKLUS KE-3 DIMULAI. Monn menatapnya. Lucien berbisik, “Berarti…” Monn menyelesaikan kalimatnya. “Ini bukan kehidupan kedua.” Semua orang diam. Monn menatap jam itu. “Ini kehidupan ketiga.” Noctis perlahan menutup matanya. Dan dari kristal putih— terdengar suara anak kecil. “Akhirnya kau ingat.” Monn menatap kristal. Suara itu tertawa pelan. “Selamat datang kembali, Monn.” Lalu seluruh ruang rahasia mulai retak.

End of Chapter 32