Chapter 31 of 51
Chapter 31 — Benang di Tangan Lucien
940 words
“Sejak kapan kau tahu aku akan kembali?”
Pertanyaan Monn menggantung di udara.
Lucien tidak langsung menjawab.
Untuk beberapa detik, ekspresinya tetap tenang.
Terlalu tenang.
Seraphine melihat mereka berdua bergantian.
“Lucien?”
Lucien menatap telapak tangan Monn.
Benang hitam itu masih terlihat.
Tipis.
Hampir tidak nyata.
Namun simpul berbentuk mahkota di ujungnya cukup jelas.
“Aku tidak tahu,” jawab Lucien.
Monn menyipitkan mata.
“Jawaban yang buruk.”
“Aku tahu.”
“Jadi coba lagi.”
Lucien menghela napas.
“Aku tidak tahu kau akan kembali.”
Monn menatapnya tanpa berkedip.
“Tapi?”
Lucien diam.
“Tapi aku tahu sesuatu akan kembali bersamamu.”
Suasana langsung berubah.
Seraphine maju satu langkah.
“Apa maksudmu?”
Lucien menatap sekeliling.
Para siswa masih berlalu-lalang.
Guru masih sibuk.
Tidak ada seorang pun memperhatikan mereka.
“Kita tidak bisa membicarakannya di sini.”
Monn mengangguk.
“Ke ruang keluarga.”
Mereka meninggalkan aula.
---
Ruang keluarga Veylcrest terasa jauh lebih aman daripada akademi.
Namun malam itu, Monn justru merasa sebaliknya.
Ia duduk di kursi panjang.
Lucien berdiri di dekat jendela.
Seraphine duduk berseberangan.
Noctis berdiri di sudut ruangan.
Monn membuka telapak tangannya.
“Mulai dari awal.”
Lucien tidak bergerak.
“Tiga tahun lalu,” katanya akhirnya, “aku menemukan sebuah ruangan.”
Monn langsung teringat.
“Ruangan rahasia.”
Lucien mengangguk.
“Aku tidak tahu siapa yang membangunnya. Tidak ada catatan tentang ruangan itu di arsip keluarga.”
“Apa yang kau temukan?”
“Buku.”
“Buku apa?”
Lucien menatap Monn.
“Catatan tentangmu.”
Monn terdiam.
“Catatan tentang aku?”
“Bukan tentang Monn yang sekarang.”
Lucien mengoreksi.
“Catatan tentang seseorang yang akan menjadi Monn.”
Seraphine mengerutkan kening.
“Apa bedanya?”
Lucien menjawab,
“Namamu tertulis di sana sebelum kau lahir.”
Monn tidak mengatakan apa-apa.
Lucien melanjutkan.
“Awalnya aku mengira itu ramalan. Sampai aku membaca bagian terakhir.”
“Apa isinya?”
Lucien mengingat kembali.
“Jika dia kembali, jangan biarkan dia menemukan benangnya.”
Monn langsung teringat catatan yang pernah disebut Lucien.
“JANGAN BIARKAN MONN MENEMUKAN BENANGNYA.”
“Ya.”
“Kenapa kau tidak memberitahuku?”
“Karena aku takut.”
Monn menatap kakaknya.
Lucien tidak mencoba menyembunyikannya.
“Aku takut kalau memberitahumu, sesuatu akan terjadi.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang sesuatu memang terjadi.”
Monn menatap tanda hitam di tangannya.
“Siapa yang menulis catatan itu?”
“Aku tidak tahu.”
“Caelum?”
“Tidak.”
“Edrin?”
“Bukan.”
“Evelyne?”
Lucien menggeleng.
“Bukan Ibu.”
Monn diam.
“Lalu siapa?”
Lucien berjalan menuju meja.
Ia mengambil sebuah benda kecil dari laci.
Sebuah potongan logam hitam.
Monn mengenalinya.
“Token Garrick.”
Lucien mengangguk.
“Garrick memberikannya kepadaku sebelum menghilang.”
Monn menatapnya tajam.
“Garrick masih hidup?”
“Sejauh yang kutahu.”
“Di mana?”
“Tidak tahu.”
Monn mengambil token itu.
Ada simbol yang sama.
Mahkota kecil.
Namun kali ini—
Monn bisa melihat benang hitam keluar dari permukaannya.
Benang itu mengarah ke bawah.
Menuju tanah.
Monn segera melepaskannya.
“Jangan.”
Noctis memperingatkan.
Monn menatapnya.
“Aku tidak menyentuh benangnya.”
“Bukan itu.”
Noctis menunjuk token.
“Benda itu sedang menyentuhmu.”
Monn membeku.
Benang hitam dari token perlahan bergerak.
Masuk ke telapak tangannya.
Tanda hitam di kulit Monn menyala.
Seraphine berdiri.
“Monn!”
Monn mencoba menarik tangannya.
Tidak bisa.
Lucien langsung menggenggam pergelangan tangannya.
Namun benang itu justru membentuk simpul.
Kemudian—
putus.
Token jatuh.
Benang menghilang.
Monn menarik napas.
“Apa yang terjadi?”
Noctis menatap lantai.
“Aku tidak tahu.”
Monn menatapnya.
“Kau bercanda?”
“Aku tidak pernah bercanda tentang hal seperti ini.”
Tiba-tiba—
BRAK!
Pintu ruangan terbuka.
Duke Alaric berdiri di sana.
Wajahnya dingin.
“Berikan benda itu kepadaku.”
Monn menoleh.
Ayahnya menatap token di lantai.
Bukan dengan bingung.
Bukan dengan takut.
Melainkan dengan—
pengakuan.
Monn perlahan berdiri.
“Ayah mengenal benda ini.”
Alaric tidak menjawab.
“Benar?”
“Aku berkata berikan.”
Monn tidak bergerak.
“Kenapa?”
Alaric melangkah masuk.
“Karena benda itu tidak seharusnya berada di tanganmu.”
Monn tersenyum tipis.
“Kalimat yang menarik.”
“Apa maksudmu?”
“Semua orang selalu mengatakan hal yang sama.”
Monn menunjuk dirinya.
“Jangan sentuh.”
Ia menunjuk Ruang Asal.
“Jangan buka.”
Kemudian token.
“Jangan tahu.”
Tatapannya mengeras.
“Tidak ada seorang pun yang pernah memberitahuku alasannya.”
Alaric menatapnya.
“Karena kau belum siap.”
Monn tertawa pendek.
“Dan siapa yang menentukan kapan aku siap?”
Ayahnya diam.
Monn melangkah mendekat.
“Ayah?”
Tidak ada jawaban.
Monn tersenyum.
“Caelum?”
Tetap diam.
“Edrin?”
Diam.
“Ruang Asal?”
Tidak ada jawaban.
“Kalau begitu…”
Monn mengangkat telapak tangannya.
“…aku yang menentukan.”
Blood Thread muncul.
Merah.
Tipis.
Namun kali ini Monn tidak menggunakannya untuk mengendalikan siapa pun.
Ia mengarahkannya ke token.
Benang merah menyentuh permukaan logam.
Ting.
Sebuah suara kecil terdengar.
Token terbuka.
Di dalamnya terdapat selembar kertas kecil.
Monn mengambilnya.
Tulisan hanya terdiri dari satu kalimat.
“Jangan biarkan Monn mengingat siapa yang membangunkannya.”
Ruangan menjadi sunyi.
Seraphine menatap Alaric.
Lucien mengepalkan tangan.
Monn membaca kalimat itu sekali lagi.
Kemudian perlahan mengangkat kepala.
“Ayah…”
Alaric menatapnya.
“Kau tahu siapa yang membangunkanku.”
Untuk pertama kalinya—
ekspresi Duke Alaric berubah.
Hanya sedikit.
Namun cukup bagi Monn untuk melihatnya.
Ketakutan.
Bukan terhadap dirinya.
Melainkan terhadap sesuatu yang jauh lebih tua.
Alaric berkata pelan,
“Aku tidak membangunkanmu.”
Monn menunggu.
“Aku hanya memastikan kau tetap tidur.”
Monn membeku.
“Apa?”
Alaric menatapnya lurus.
“Dan seseorang sudah membuat kesalahan dengan membiarkanmu terbangun.”
Tiba-tiba semua lampu di ruangan padam.
Seraphine menarik napas.
Lucien langsung mencabut pedang.
Noctis menatap jendela.
Di luar—
seluruh Blackvale berubah gelap.
Tidak ada satu pun lampu.
Kemudian suara terdengar dari kejauhan.
Bukan suara manusia.
Bukan suara monster.
Suara seperti ribuan bisikan yang berbicara bersamaan.
“Kau terlambat.”
Monn menatap tanda hitam di telapak tangannya.
Simpul berbentuk mahkota kembali muncul.
Lalu sebuah benang hitam keluar dari tubuhnya.
Bukan menuju luar.
Bukan menuju Lucien.
Bukan menuju Ruang Asal.
Benang itu menuju—
Duke Alaric.
Monn menatap ayahnya.
Alaric melihat benang itu.
Wajahnya langsung pucat.
“Tidak…”
Monn berbisik,
“Ayah?”
Alaric mundur satu langkah.
“Benang itu seharusnya sudah hilang.”
Monn menatapnya.
“Berarti Ayah pernah melihatnya.”
Alaric tidak menjawab.
Monn melangkah maju.
“Dan kalau begitu…”
Benang hitam itu mulai bergetar.
“…Ayah tahu apa yang terjadi pada kehidupan pertamaku.”
Alaric akhirnya mengangkat wajah.
“Bukan hanya kehidupan pertamamu.”
Ia menatap Monn dengan tatapan yang belum pernah ditunjukkannya sebelumnya.
“Aku juga ingat kehidupan sebelum itu.”