Chapter 30 of 51
Chapter 30 — Kehidupan yang Dimulai Sebelum Kelahiran
1.2k words
Mereka tidak langsung kembali ke permukaan.
Tidak ada seorang pun yang berbicara sepanjang perjalanan.
Lorong bawah tanah Royal Academy terasa jauh lebih panjang daripada ketika mereka masuk.
Monn berjalan paling depan.
Seraphine berada di belakangnya.
Lucien mengikuti beberapa langkah kemudian.
Dan Noctis—
tidak mengatakan apa pun.
Terlalu sunyi.
Bahkan suara langkah kaki mereka terasa asing.
Monn terus menatap telapak tangannya.
Tanda hitam itu masih ada.
Sebuah simpul kecil.
Tidak terasa sakit.
Tidak terasa panas.
Namun setiap kali Monn mencoba melihatnya dengan Blood Thread, kemampuan itu seolah menolak.
Seperti ada bagian dari dirinya yang berkata:
Jangan lihat.
Monn akhirnya berhenti.
“Kita perlu bicara.”
Lucien berhenti.
Seraphine mengangguk.
Noctis bersandar pada dinding.
“Silakan.”
Monn mengangkat tangannya.
“Apa ini?”
Noctis menatap tanda tersebut.
“Segel.”
“Dari siapa?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau tahu sesuatu.”
“Aku tahu bahwa aku tidak tahu cukup banyak.”
Monn menatapnya tajam.
Noctis membalas tatapannya.
“Dan itu lebih jujur daripada berpura-pura tahu.”
Lucien menyela.
“Anak tadi bilang dia adalah alasan Monn bisa kembali.”
Seraphine menatap Monn.
“Kalau dia mengatakan yang sebenarnya, berarti regresimu mungkin bukan hanya karena keinginanmu sendiri.”
Monn mengangguk.
“Itulah yang menggangguku.”
“Karena kau tidak ingin dikendalikan?”
“Bukan.”
Monn menatap tangannya.
“Karena kalau seseorang memilih untuk mengembalikanku…”
Ia terdiam.
“…bagaimana aku tahu bahwa keputusan untuk kembali benar-benar milikku?”
Tidak ada yang menjawab.
Pertanyaan itu terlalu dekat dengan inti masalah Monn.
Sejak awal ia percaya bahwa regresi adalah kesempatan kedua.
Kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Tetapi sekarang muncul kemungkinan lain.
Bagaimana jika kehidupan kedua ini—
bukan hadiah?
Bagaimana jika ini adalah rencana seseorang?
---
Mereka akhirnya mencapai tangga menuju lantai utama.
Namun ketika Monn hendak menaikinya—
DUK!
Sesuatu jatuh dari atas.
Sebuah benda kecil menggelinding hingga berhenti di depan kakinya.
Monn memungutnya.
Sebuah lencana akademi.
Lencana milik seorang siswa.
Seraphine melihatnya.
“Ini…”
“Apa?”
“Lencana itu milik seseorang dari kelas kita.”
Monn menatapnya.
“Siapa?”
Seraphine diam beberapa detik.
“Darian.”
Lucien langsung mengerutkan kening.
“Darian?”
“Dia tidak hadir sejak tiga hari lalu.”
Monn memutar lencana itu.
Di bagian belakang terdapat tulisan kecil.
RUANG BAWAH — JANGAN IKUTI.
Monn menatap tangga.
“Berarti dia datang ke sini.”
“Dan mungkin belum keluar,” kata Lucien.
Seraphine langsung bergerak.
“Kita cari dia.”
Monn menahannya.
“Tidak.”
Seraphine menoleh.
“Kenapa?”
“Karena itu persis jenis keputusan yang ingin tempat ini kita ambil.”
“Kalau dia masih di bawah?”
“Kita tidak tahu.”
“Kalau dia terluka?”
“Kita juga tidak tahu.”
Seraphine menatapnya.
“Lalu apa yang kau sarankan?”
Monn terdiam.
Inilah masalahnya.
Tidak melakukan sesuatu juga merupakan pilihan.
Dan pilihan itu bisa memiliki konsekuensi.
Monn melihat lencana di tangannya.
Akhirnya ia berkata,
“Kita cari dia.”
Lucien mengangguk.
“Tapi dengan batas.”
Monn menatapnya.
“Kita tidak akan membuka pintu apa pun yang tidak perlu dibuka,” lanjut Lucien. “Kita tidak akan menyentuh benda aneh tanpa alasan. Dan kalau situasinya berubah terlalu berbahaya, kita keluar.”
Seraphine mengangguk.
Monn tersenyum tipis.
“Setuju.”
Noctis hanya berkata,
“Pilihan yang masuk akal.”
Monn menatapnya.
“Bukan pilihan yang sempurna.”
“Tidak ada pilihan sempurna.”
Mereka melanjutkan perjalanan.
---
Darian ditemukan di lantai dua.
Ia duduk di sebuah ruang kelas kosong.
Sendirian.
Kepalanya tertunduk.
Seraphine langsung berlari.
“Darian!”
Anak laki-laki itu mengangkat wajah.
Matanya terlihat lelah.
“Kalian…”
Ia berdiri.
“Kalian juga melihatnya?”
Monn mendekat.
“Melihat apa?”
Darian menatapnya.
“Anak itu.”
Monn membeku.
“Anak yang mana?”
Darian menunjuk koridor.
“Anak kecil yang wajahnya seperti kau.”
Seraphine dan Lucien saling memandang.
Monn langsung bertanya,
“Di mana dia?”
Darian menunjuk ke ujung lorong.
“Dia berdiri di sana ketika aku datang.”
“Lalu?”
“Aku mengikutinya.”
Monn menatapnya.
“Kenapa?”
Darian menelan ludah.
“Karena dia memanggil namaku.”
Monn diam.
Darian melanjutkan,
“Dia bilang dia bisa menunjukkan masa depan.”
Lucien mengerutkan kening.
“Dan kau percaya?”
“Tidak.”
Darian menggeleng.
“Tapi aku tetap mengikutinya.”
Monn menatapnya.
“Kenapa?”
Darian tersenyum pahit.
“Karena aku ingin tahu apakah aku akan menjadi orang penting.”
Hening.
Monn memahami jawaban itu.
Bukan karena Darian lemah.
Bukan karena dia bodoh.
Tetapi karena ada sesuatu yang ingin dia dengar.
Sesuatu yang ingin dipercaya.
Darian melanjutkan,
“Dia menunjukkan sesuatu.”
“Apa?”
“Diriku sendiri.”
Monn mengerutkan kening.
“Sebagai apa?”
“Sebagai seseorang yang berhasil.”
Darian menatap tangannya.
“Dia menunjukkan aku menjadi bangsawan besar. Punya pengaruh. Punya nama. Semua orang mengenalku.”
Seraphine bertanya,
“Dan?”
“Aku menyukainya.”
Darian tertawa kecil.
“Terlalu menyukainya.”
Monn menatapnya.
“Lalu kau sadar itu bukan masa depan.”
“Bukan.”
Darian menggeleng.
“Itu bukan masa depan.”
“Lalu apa?”
Darian menjawab:
“Keinginan.”
Monn terdiam.
Kata itu menghantam pikirannya.
Keinginan.
Blood Thread.
Desire.
Emotion.
Decision.
Action.
Anak itu tidak perlu menunjukkan masa depan.
Ia hanya perlu menunjukkan apa yang paling ingin dilihat seseorang.
Dan orang tersebut akan melakukan sisanya.
Monn mengepalkan tangan.
“Dia sedang menguji kita.”
Noctis muncul di ujung lorong.
“Bukan hanya menguji.”
Semua menoleh.
Noctis berjalan mendekat.
“Dia sedang belajar.”
“Belajar apa?”
Noctis menatap Monn.
“Bagaimana manusia memilih.”
Monn langsung memahami.
“Seperti Caelum.”
“Tidak.”
Noctis menggeleng.
“Caelum mengamati pilihanmu.”
Ia menunjuk tanda hitam di tangan Monn.
“Yang satu itu mencoba membuat pilihan sebelum kau menyadarinya.”
---
Mereka kembali ke aula utama.
Kali ini lampu-lampu akademi menyala normal.
Siswa mulai muncul dari lorong lain.
Guru berlarian memeriksa keadaan.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Seolah ruang bawah tanah itu tidak pernah ada.
Seolah anak kecil tadi hanyalah bayangan.
Monn berdiri di tengah kerumunan.
Semua orang berbicara.
Tentang cahaya hitam.
Tentang gangguan sihir.
Tentang alarm.
Tentang hilangnya beberapa siswa.
Suara mereka bercampur.
Monn memperhatikan mereka.
Benang merah muncul.
Satu demi satu.
Ketakutan.
Kebingungan.
Keingintahuan.
Ambisi.
Kekhawatiran.
Dan di antara semuanya—
Monn melihat satu benang hitam.
Tipis.
Sangat tipis.
Terhubung ke seorang siswa perempuan di ujung aula.
Monn memperhatikannya.
Siswa itu tersenyum.
Kemudian menatap Monn.
Monn langsung mengenalinya.
Bukan dari wajah.
Melainkan dari benang.
Tidak ada.
Sama seperti Caelum.
Sama seperti anak tadi.
Sama seperti orang-orang dari Ruang Asal.
Monn berjalan mendekat.
Namun sebelum ia sampai—
siswa perempuan itu berkata,
“Jangan mencariku.”
Monn berhenti.
“Aku tidak sedang mencarimu.”
“Bohong.”
Ia tersenyum.
“Benangmu sudah mencariku lebih dulu.”
Monn melihat tangannya.
Tanda hitam di telapak tangannya berdenyut.
Siswa itu berbalik.
Sebelum pergi, ia berkata pelan,
“Kalau kau ingin tahu kenapa kau bisa kembali…”
Ia menoleh sedikit.
“…jangan cari siapa yang membawamu kembali.”
Monn menatapnya.
“Lalu apa yang harus kucari?”
Senyumnya menghilang.
“Cari siapa yang kau tinggalkan ketika kau kembali.”
Lalu ia pergi bersama kerumunan siswa.
Monn tidak mengejarnya.
Untuk pertama kalinya—
ia memilih untuk tidak mengejar jawaban.
Namun ada sesuatu yang lebih mengganggunya.
Kalimat itu.
Siapa yang kau tinggalkan ketika kau kembali?
Monn melihat Noctis.
Noctis tidak berkata apa-apa.
Ia hanya menatap Monn dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Monn kemudian menatap tanda hitam di tangannya.
Dan tiba-tiba—
sebuah ingatan kecil muncul.
Bukan dari kehidupan pertama.
Bukan dari Ruang Asal.
Bukan dari Caelum.
Melainkan dari saat ia pertama kali membuka mata setelah regresi.
Kamar Veylcrest.
Usia tujuh belas.
Hari pertama kehidupan keduanya.
Monn mengingat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.
Sebelum ia membuka mata—
ada seseorang yang berbisik di dekat tempat tidurnya.
“Selamat datang kembali.”
Monn membeku.
Karena sekarang ia mengenali suara itu.
Itu bukan Caelum.
Bukan Edrin.
Bukan Mortis.
Bukan Noctis.
Dan bukan dirinya sendiri.
Itu suara seseorang yang masih berada di Veylcrest.
Seseorang yang selama ini ia percaya sepenuhnya.
Monn mengangkat wajah.
Tatapannya berubah.
“Lucien.”
Lucien menoleh.
“Apa?”
Monn tidak langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya—
sebuah benang tipis muncul di antara dirinya dan kakaknya.
Bukan putih.
Bukan merah.
Hitam.
Dan di ujung benang itu—
ada sebuah simpul kecil berbentuk mahkota.
Monn berbisik:
“Sejak kapan kau tahu aku akan kembali?”