Chapter 29 of 51

Chapter 29 — Yang Menunggu di Balik Pintu

1.3k words

Tidak ada yang bergerak. Bahkan udara seolah berhenti. Monn menatap pintu di ujung ruangan. Noctis berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat berbeda. Bukan takut. Lebih seperti seseorang yang baru melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah kembali. “Jangan buka,” ulang Noctis. Monn tidak menjawab. Lucien mengangkat pedangnya. “Kalau begitu kita pergi.” Ia berbalik menuju pintu masuk. Namun— Klik. Pintu masuk tertutup. Lucien langsung berhenti. “Bagus.” Seraphine menghela napas. “Setiap kali tempat ini memberi kita pilihan, ternyata pilihannya cuma kelihatan seperti pilihan.” Monn menatap pintu di depannya. “Tidak.” Seraphine menoleh. “Apa?” “Pintu ini bukan bagian dari ujian.” Monn berjalan mendekat. Noctis langsung menghadangnya. “Monn.” “Geser.” “Tidak.” Monn menatapnya. “Kau tahu sesuatu.” Noctis diam. “Sejak kita masuk ke Ruang Asal, kau terus mengatakan bahwa kau mengingat pilihan-pilihan yang tidak pernah kupilih.” “Benar.” “Kalau begitu kau pasti tahu apa yang ada di balik pintu itu.” Noctis menatap pintu. “Aku tahu akibatnya.” “Bukan jawabannya.” “Kadang akibat lebih penting daripada jawaban.” Monn mengerutkan kening. “Kau bicara seperti Edrin.” “Jangan hina aku.” Lucien hampir tertawa. Namun suasana terlalu tegang untuk benar-benar melakukannya. Monn kembali menatap pintu. Ada sesuatu di baliknya. Ia bisa merasakan benang. Bukan satu. Ratusan. Ribuan. Tetapi semuanya berkumpul pada satu titik. Di balik pintu. Monn mengaktifkan Blood Thread. Benang merah tipis muncul dari ujung jarinya. Namun ketika ia mencoba melihat benang di balik pintu— semuanya menghilang. Tidak terputus. Tidak tersembunyi. Tidak pernah ada. Monn langsung mematikan kemampuannya. “Apa?” Seraphine mendekat. “Kau melihat sesuatu?” “Tidak.” “Tidak ada benang?” “Lebih buruk.” Monn menatap pintu. “Benang itu tidak mengenali keberadaannya.” Noctis menunduk. “Karena dia bukan bagian dari jaringan.” Lucien mengerutkan kening. “Lalu apa dia?” Noctis menjawab pelan. “Pilihan.” Monn menoleh. “Pilihan?” “Pilihan yang tidak pernah dibuat.” Ruangan menjadi sunyi. Noctis melanjutkan. “Ruang Asal menyimpan kemungkinan yang tidak pernah terjadi. Tetapi sesuatu yang berada di balik pintu itu berbeda.” “Berbeda bagaimana?” “Dia tidak menyimpan pilihan.” Noctis menatap Monn. “Dia menunggu seseorang membuatnya.” --- Tok. Ketukan kembali terdengar. Kali ini lebih pelan. Tok. Tok. Monn menatap gagang pintu. Tangannya terangkat. Seraphine langsung berkata, “Monn.” Ia berhenti. Seraphine menatapnya. “Kalau kau membukanya karena penasaran, itu bukan pilihan.” Monn tersenyum tipis. “Kau mulai benar-benar menyebalkan.” “Aku anggap itu pujian.” Lucien menyarungkan pedangnya. “Kalau kita tidak membukanya, apa yang kita lakukan?” Monn melihat pintu masuk yang terkunci. “Kita cari jalan lain.” Mereka mulai menyusuri ruangan. Rak-rak kristal memenuhi dinding. Monn memperhatikan satu hal. Semua kristal menyimpan kejadian. Tidak ada satu pun yang menunjukkan masa depan. Namun kristal hitam tadi menunjukkan dirinya. Berarti— kristal itu bukan sekadar rekaman. Seseorang membuatnya. Atau sesuatu. Monn berhenti di depan rak paling ujung. Ada satu ruang kosong. Debu di sekitarnya tebal. Namun bagian tengah rak bersih. Seolah sebuah benda baru saja diambil. Monn menyentuh bekasnya. Seketika Blood Thread bergetar. Sebuah garis tipis muncul. Tidak merah. Tidak putih. Hitam. Benang itu menjalar dari rak menuju lantai. Kemudian menuju pintu. Monn mengikuti arahnya. “Jadi…” Ia berjongkok. “Benda yang tadi ada di sini terhubung dengan pintu.” Noctis langsung berkata, “Jangan sentuh.” Monn berhenti. “Kenapa?” “Karena aku tahu apa yang akan kau lakukan.” “Apa?” “Kau akan mencoba menariknya.” Monn diam. Noctis tersenyum pahit. “Benar, kan?” Monn tidak menjawab. Lucien menggeleng. “Setidaknya sekarang aku tahu kalian berdua sama-sama keras kepala.” Seraphine memandang benang hitam. “Kalau tidak disentuh, bagaimana kita tahu apa itu?” Monn berdiri. “Kita tidak perlu tahu semuanya.” Seraphine menatapnya. Monn melanjutkan, “Tidak semua misteri harus dibuka.” Kalimat itu membuat Noctis menatapnya lama. “Bagus.” Monn menoleh. “Apa?” “Itu pilihan yang berbeda.” --- Mereka akhirnya menemukan lorong kecil di belakang rak. Tidak ada pintu. Hanya celah sempit. Lucien memeriksa dinding. “Ini jalan keluar.” Monn mengangguk. Mereka mulai masuk. Namun ketika Monn melewati celah terakhir— Tok. Ia berhenti. Ketukan terdengar lagi. Dari balik pintu. Kemudian suara itu berkata: “Monn.” Ia tidak menoleh. “Jangan dengarkan.” Suara itu berubah. Menjadi suara Evelyne. “Anakku.” Langkah Monn berhenti. Seraphine langsung menyadarinya. “Monn.” Suara itu terdengar lagi. “Kau tidak ingin meninggalkan Ibu, bukan?” Monn menutup mata. Ada sesuatu dalam suara itu. Sesuatu yang sangat familiar. Kehangatan. Nada lembut. Persis seperti ibunya ketika masih kecil. Namun— Monn tahu satu hal. Ibunya tidak pernah memanggilnya seperti itu saat ia sedang sendirian. Suara tersebut melanjutkan: “Bukalah pintunya.” Monn mengepalkan tangan. “Bukan ibuku.” “Bagaimana kau tahu?” Monn membuka mata. “Karena ibuku tidak pernah memintaku memilih sesuatu hanya karena dia memintanya.” Sunyi. Lalu suara itu tertawa kecil. Bukan tawa Evelyne. Tawa seorang anak. “Benar.” Monn menatap pintu. “Akhirnya kau belajar.” Noctis langsung bergerak. “Jangan jawab.” Terlambat. Pintu mulai terbuka sendiri. Perlahan. Cahaya putih keluar dari celah. Monn mundur. Namun bukan karena takut. Ia melihat sesuatu di baliknya. Seorang anak laki-laki. Usianya sekitar sepuluh tahun. Rambut hitam. Mata merah. Wajah yang sama dengannya. Anak itu berdiri sendirian. Tidak ada benang di tubuhnya. Monn menatapnya. Anak itu tersenyum. “Lama tidak bertemu.” Monn tidak mampu menjawab. Seraphine berbisik, “Siapa dia?” Noctis menjawab: “Monn.” Seraphine terkejut. “Apa?” Noctis menatap anak itu. “Bukan Monn yang sekarang.” Anak itu memiringkan kepala. “Benar.” Ia memandang Noctis. “Kau masih ada.” Noctis tidak menjawab. Anak itu kemudian menatap Monn. “Dan kau masih mencoba memilih.” Monn akhirnya bertanya, “Siapa kau?” Anak itu tersenyum. “Bukankah seharusnya kau tahu?” “Aku tidak mengenalmu.” “Tidak.” Anak itu menggeleng. “Kau hanya melupakanku.” Monn merasa kepalanya berdenyut. Gambaran singkat muncul. Ruangan putih. Caelum. Edrin. Mortis. Seorang Monn muda. Dan— anak ini. Monn melihat dirinya sendiri memegang tangan anak itu. Suara dirinya terdengar: “Kalau aku pergi, kau harus tetap di sini.” Gambaran menghilang. Monn memegang kepalanya. “Tidak…” Seraphine menopangnya. “Monn!” Anak itu berkata, “Sekarang kau ingat sedikit.” Monn menatapnya. “Apa yang kulakukan kepadamu?” Anak itu tidak langsung menjawab. Ia melihat ke arah Noctis. “Dia tahu.” Monn menatap Noctis. “Jawab.” Noctis diam. “Jawab!” Untuk pertama kalinya, suara Monn meninggi. Noctis menatapnya. “Aku tidak bisa.” “Kenapa?” “Karena aku bukan bagian dari ingatan itu.” Monn membeku. Noctis melanjutkan, “Aku adalah bagian yang lahir setelahnya.” Anak itu tersenyum. “Dan aku adalah bagian yang ada sebelumnya.” Monn menatap keduanya. Noctis. Anak itu. Dua sosok yang wajahnya sama dengannya. Namun berbeda. Satu mengingat pilihan yang tidak pernah ia ambil. Yang lain— mengingat sesuatu yang bahkan tidak pernah ia ingat pernah menjadi dirinya. Monn bertanya, “Kalau kau adalah bagian dariku…” Anak itu menjawab, “Bukan.” “Lalu apa?” Anak itu melangkah keluar dari pintu. Untuk pertama kalinya, sebuah benang muncul dari tubuhnya. Benang hitam. Benang itu tidak menuju Monn. Tidak menuju Noctis. Tidak menuju siapa pun. Ia menjulur ke bawah tanah. Jauh. Sangat jauh. Anak itu berkata: “Aku adalah alasan kau bisa kembali.” Monn membeku. “Dan kalau kau membangunkanku sepenuhnya…” Anak itu tersenyum. “…kau tidak akan mendapatkan kehidupan keduamu lagi.” Cahaya putih memenuhi ruangan. Monn mencoba mendekat. Namun anak itu sudah mulai menghilang. Sebelum lenyap, ia mengatakan satu kalimat terakhir: “Karena kali ini…” Matanya berubah menjadi hitam. “…aku yang akan memilih untukmu.” Cahaya padam. Pintu tertutup. Dan semua kristal di ruangan pecah bersamaan. KRAK! Monn berdiri diam. Tidak ada satu pun benang yang tersisa. Namun di telapak tangannya— muncul sebuah tanda hitam kecil. Bentuknya seperti benang yang melingkar menjadi simpul. Seraphine menatap tanda itu. “Monn…” Ia tidak menjawab. Lucien mendekat. “Kita harus keluar.” Monn mengangguk. Mereka berjalan meninggalkan ruangan. Tetapi sebelum Monn keluar, ia menoleh sekali lagi. Pintu itu sudah tidak ada. Hanya dinding kosong. Seolah tidak pernah ada apa pun di sana. Monn menyentuh tanda hitam di tangannya. Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke kehidupan kedua— ia merasakan sesuatu yang jauh lebih mengganggu daripada rasa takut. Keraguan. Bukan tentang siapa yang harus ia selamatkan. Bukan tentang siapa yang harus ia percaya. Melainkan— apakah kehidupan keduanya benar-benar dimulai ketika ia terbangun di usia tujuh belas tahun? Atau… jauh sebelum itu, seseorang sudah lebih dulu memilih hidupnya untuknya?

End of Chapter 29