Chapter 2 of 51

Bab 2 — Benang yang Pertama Kali Ditarik

1.3k words

Ruangan makan itu masih sunyi. Tidak ada seorang pun yang berbicara setelah bayangan hitam tadi menghilang. Monn tetap duduk di tempatnya, tetapi pikirannya sudah tidak lagi berada di meja makan. Tatapannya tertuju pada jemarinya. Benang merah itu sudah lenyap. Namun Monn tahu bahwa ia benar-benar melihatnya. Bukan ilusi. Bukan mimpi. Ada sesuatu di dalam dirinya yang telah berubah. “Monn.” Suara Alaric membuatnya tersadar. Ia mengangkat kepala. Ayahnya sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Apakah kau baik-baik saja?” Monn mengangguk. “Ya.” “Wajahmu terlihat seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu.” Monn diam sejenak. Ia tidak mungkin mengatakan kebenaran. Ayah, aku baru saja kembali dari masa depan setelah melihat keluarga kita hancur. Kalimat itu terdengar seperti kegilaan. “Kurang tidur,” jawabnya. Alaric tidak langsung percaya. Namun sebelum pria itu bertanya lebih jauh, Evelyne menyela. “Biarkan dia.” Senyum lembut menghiasi wajah sang ibu. “Monn baru saja bangun. Mungkin pikirannya masih belum sepenuhnya sadar.” Monn menoleh kepadanya. Seketika perasaan aneh muncul. Dalam kehidupan pertama, ibunya selalu menjadi orang yang paling ia percaya. Evelyne tidak pernah memaksanya secara terang-terangan. Ia hanya memberikan pilihan. Kemudian menjelaskan mana pilihan yang dianggapnya paling masuk akal. Kalau kau ingin menjadi penyihir, tentu boleh. Namun bukankah jalur politik akan lebih cocok untukmu? Ayahmu hanya ingin melindungimu. Lucien sudah memikul tanggung jawab keluarga. Kau tidak perlu membuatnya semakin sulit. Kata-kata lembut. Tidak pernah terdengar seperti perintah. Tetapi pada akhirnya... Monn selalu melakukan apa yang diinginkan orang lain. Ia memandang Evelyne lebih lama. Wanita itu masih tersenyum. “Kenapa menatap Ibu seperti itu?” Monn mengalihkan pandangan. “Tidak apa-apa.” Alaric mengetuk meja sekali. “Kembali ke masalah akademi.” Monn kembali menatap ayahnya. “Jalur yang kupilih untukmu adalah strategi militer dan manajemen wilayah.” Monn hampir tertawa. Dalam kehidupan pertama, ia memang masuk ke jalur tersebut. Dan keputusan itu menjadi salah satu alasan mengapa ia tidak pernah benar-benar mengetahui kemampuannya sendiri. Alaric melanjutkan. “Lucien akan mengambil posisi sebagai pewaris. Kau akan membantu mengelola wilayah setelah lulus.” Monn mengingat masa depan. Blackvale. Wilayah keluarga mereka. Pegunungan, hutan, tambang, desa-desa kecil. Semua yang dulu ia pikir akan menjadi miliknya suatu hari. Namun ia juga mengingat bagaimana wilayah itu akhirnya menjadi medan perebutan kekuasaan. Monn mengepalkan tangan. “Tidak.” Alaric menatapnya. “Tidak?” “Aku ingin masuk jalur combat.” Lucien mengangkat alis. Evelyne berhenti menuangkan teh. Elara malah tersenyum. “Benarkah? Kakak mau jadi ksatria?” “Bukan.” Monn menggeleng. “Aku ingin mempelajari kemampuan bertarung dan magic secara langsung.” Alaric menyandarkan tubuh. “Untuk apa?” “Karena aku ingin tahu seberapa jauh kemampuanku.” “Itu bukan alasan yang cukup.” “Bagiku cukup.” Kalimat itu membuat suasana semakin berat. Alaric menatap putranya cukup lama. “Monn.” Nada suaranya menjadi lebih dalam. “Kau adalah putra Veylcrest. Kau tidak bisa hidup hanya berdasarkan apa yang ingin kau coba.” Monn terdiam. Kalimat itu sangat familiar. Terlalu familiar. Ia pernah mendengarnya berkali-kali. Dulu, ia selalu menerima. Sekarang sesuatu dalam dirinya menolak. “Lalu kapan aku boleh menentukan sesuatu sendiri?” Alaric tidak menjawab. Monn berdiri. “Kapan, Ayah?” Kursinya bergeser dan menghasilkan suara kasar di lantai. “Ketika aku berumur dua puluh?” Tidak ada jawaban. “Dua puluh lima?” Monn menatap seluruh keluarganya. “Atau setelah semuanya terlambat?” Untuk sesaat, tatapan Alaric berubah. Bukan marah. Melainkan terkejut. Seolah perkataan Monn menyentuh sesuatu yang tidak ia mengerti. Namun kemudian ia kembali tenang. “Kau belum cukup dewasa untuk memahami konsekuensi dari pilihanmu.” Monn tersenyum pahit. “Aku justru sudah terlalu sering merasakan konsekuensinya.” Tidak ada seorang pun yang mengerti maksudnya. Dan itu membuat kalimat tersebut terdengar semakin aneh. Alaric akhirnya berdiri. “Cukup.” Suaranya tegas. “Kita akan membicarakan ini malam nanti.” Ia mengambil surat akademi dan meninggalkan ruangan. Lucien ikut berdiri. Sebelum pergi, kakaknya berhenti di samping Monn. “Kau berubah.” Monn menoleh. Lucien menatapnya beberapa detik. “Dulu kau tidak pernah membantah Ayah.” “Aku bosan.” Lucien tersenyum tipis. “Kalau begitu berhati-hatilah.” “Dengan apa?” “Dengan keinginanmu sendiri.” Monn terdiam. Lucien kemudian pergi. Kalimat itu terasa aneh. Seolah kakaknya mengetahui sesuatu. Padahal tidak mungkin. --- Beberapa jam kemudian, Monn berjalan sendirian di koridor mansion. Ia membutuhkan udara. Terlalu banyak hal terjadi dalam waktu singkat. Ia kembali ke masa lalu. Keluarganya masih hidup. Masa depan belum terjadi. Dan sekarang ada kekuatan aneh di dalam dirinya. Monn berhenti di depan jendela. Di luar, hujan sudah reda. Taman Veylcrest terlihat basah. Embun menempel pada dedaunan. Semuanya terlihat damai. Terlalu damai. Monn mengangkat tangan. “Kalau benar-benar ada...” Tidak ada apa-apa. Ia memejamkan mata. Mencoba mengingat perasaan yang muncul tadi. Benang. Bukan sekadar garis merah. Ia bisa merasakan keberadaannya. Seolah ada sesuatu yang menunggu untuk disentuh. Monn mengulurkan telunjuk. Seketika penglihatannya berubah. Dunia menjadi gelap. Lalu muncul cahaya tipis. Puluhan benang muncul di hadapannya. Benang yang menghubungkan para pelayan. Benang menuju anggota keluarga. Benang menuju benda-benda tertentu. Tetapi yang paling jelas adalah satu benang. Benang merah gelap. Terhubung ke seorang pelayan yang sedang berjalan melewati taman. Monn memperhatikannya. Ada sesuatu yang berbeda pada benang itu. Benang tersebut bergetar. Monn mengikuti arahnya. Pelayan itu berhenti. Menoleh ke belakang. Kemudian berjalan kembali menuju gudang. Monn mengerutkan kening. “Kenapa?” Ia mengikuti dari kejauhan. Pelayan itu masuk ke gudang kecil di ujung taman. Monn menunggu. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka sedikit. Seorang pria lain keluar. Bukan pelayan Veylcrest. Monn langsung mengenal wajahnya. Garrick. Dalam kehidupan pertama, Garrick adalah salah satu penjaga gerbang luar. Namun beberapa tahun kemudian... namanya muncul dalam laporan tentang perdagangan informasi. Monn tidak pernah mengetahui bagaimana pria itu terlibat. Sekarang ia ada di sini. Jauh lebih awal. Monn memperhatikan benang di antara mereka. Benang itu menghubungkan Garrick dengan pelayan tadi. Bukan benang persahabatan. Bukan juga keluarga. Ada sesuatu yang lebih gelap. Monn bergerak mendekat. Garrick langsung menyadarinya. “Tuan Muda?” Pelayan itu pucat. Monn berhenti beberapa meter dari mereka. “Apa yang kalian lakukan?” “Tidak ada, Tuan.” Jawaban terlalu cepat. Monn menatap benang merah itu. Kemudian ia melakukan sesuatu tanpa berpikir. Tangannya bergerak. Jarinya menyentuh benang tersebut. Tarik. Benang bergetar. Wajah pelayan itu berubah. Napasnya menjadi tidak teratur. Matanya menunjukkan kegelisahan. Monn merasakan sesuatu mengalir melalui lengannya. Emosi. Kecurigaan. Ketakutan. Keinginan untuk menyembunyikan sesuatu. Semuanya masuk ke dalam dirinya seperti gelombang. Monn tersentak. Benang itu tidak hanya dapat dilihat. Ia bisa merasakan emosi seseorang melalui benang tersebut. Dan jika ia menarik sedikit lebih kuat— pelayan itu tiba-tiba menjatuhkan sebuah benda dari sakunya. Sebuah keping logam kecil. Garrick langsung bergerak mengambilnya. Monn lebih cepat. Benang merah muncul dari tangannya dan melesat ke depan. TZZT! Benang tersebut melilit pergelangan Garrick. Pria itu terkejut. “Apa—?!” Monn menarik. Garrick kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut. Monn menatap tangannya sendiri. Benang itu benar-benar nyata. Ia bisa menggunakannya. Bukan hanya untuk memengaruhi seseorang. Untuk bertarung. Namun tiba-tiba rasa sakit menusuk kepalanya. Monn melepaskan benang. Ia terhuyung. Bayangan hitam muncul di belakangnya. Tinggi. Diam. Dua mata merah redup. Mortis. Untuk pertama kalinya, Monn melihat sosok itu dengan jelas. Garrick membeku. Pelayan tersebut jatuh terduduk. Mortis berdiri di belakang Monn seperti bayangan yang memiliki tubuh. Monn menatapnya. “Siapa kau?” Mortis tidak menjawab. Namun tangannya perlahan terangkat. Menunjuk Garrick. Monn mengikuti arah jarinya. Kemudian ia melihat sesuatu yang membuat darahnya terasa dingin. Di belakang Garrick terdapat puluhan benang. Sebagian menuju keluarga Veylcrest. Sebagian menuju luar mansion. Dan satu benang hitam tipis... menuju seseorang yang sama sekali tidak ada di sana. Monn tidak mengenali ujungnya. Mortis menurunkan tangannya. Sosok itu perlahan memudar. Sebelum menghilang sepenuhnya, Monn mendengar bisikan yang sama seperti sebelumnya. “Tarik.” Monn menatap benang hitam tersebut. Tangannya terangkat. Tetapi kali ini ia berhenti. Ia tidak menariknya. Karena untuk pertama kalinya sejak kembali... Monn memahami sesuatu. Kemampuan ini bukan hanya memberinya kekuatan. Kemampuan ini memberinya godaan. Dan mungkin, seseorang memang sedang menunggu dirinya membuat kesalahan pertama. Monn menatap Garrick. “Bawa dia ke ruang bawah tanah.” Para penjaga yang mendengar keributan segera datang. Garrick dibawa pergi. Monn tetap berdiri sendirian di taman. Benang-benang itu perlahan menghilang dari pandangannya. Namun satu pertanyaan terus tinggal di kepalanya. Jika seseorang telah memasang benang sebelum aku kembali... siapa yang sebenarnya menariknya?

End of Chapter 2