Chapter 28 of 51

Chapter 28 — Yang Pernah Dibangunkan

1.4k words

Lonceng Royal Academy terus terdengar dari kejauhan. Dong. Dong. Suara itu menggema di seluruh Eldoria. Monn berdiri di balkon dengan pandangan tertuju pada menara akademi. Cahaya hitam di atasnya tidak bergerak. Tidak membesar. Tidak mengecil. Hanya berdenyut perlahan. Seperti jantung. “LAGI.” Satu kata itu masih tertulis di kaca. Monn menyentuh permukaannya. Embun langsung menghilang. Seraphine berdiri di sampingnya. “Menurutmu siapa yang menulisnya?” “Entahlah.” “Dan kau percaya pesan itu?” Monn menggeleng. “Tidak.” Seraphine tampak lega. “Tapi aku juga tidak akan mengabaikannya.” Lucien mengambil pedangnya. “Kalau begitu kita berangkat.” Monn mengangguk. Mereka turun dari balkon. Namun sebelum meninggalkan ruangan, Monn berhenti. Ia melihat Noctis. “Jangan ikut.” Noctis mengangkat alis. “Kenapa?” “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau terlalu dekat dengan benda itu.” Noctis menatap cahaya hitam di kejauhan. “Aku juga tidak tahu.” “Justru itu.” Noctis diam. Kemudian tersenyum kecil. “Baik.” Monn terkejut. “Kau menurut?” “Sesekali.” Noctis mundur. “Tapi aku tetap akan mengawasimu.” Monn menghela napas. “Sudah kuduga.” --- Perjalanan menuju Royal Academy tidak membutuhkan waktu lama. Namun suasana kota berubah drastis. Semakin dekat ke akademi, semakin sedikit orang yang terlihat. Toko-toko tutup. Jalanan kosong. Para penjaga berdiri di persimpangan dengan wajah tegang. Ketika Monn melewati gerbang akademi, ia langsung merasakan sesuatu. Benang. Bukan merah. Bukan putih. Benang hitam tipis memenuhi halaman. Namun anehnya— tidak ada satu pun yang terhubung kepada manusia. “Ini aneh.” Seraphine melihat sekeliling. “Tidak ada siswa.” Lucien menunjuk gedung utama. “Seharusnya masih ada penjaga.” Monn mengangguk. Mereka berjalan masuk. Pintu utama terbuka. Tidak terkunci. Namun begitu Monn melewati ambang— DUK! Pintu menutup sendiri. Seraphine langsung berbalik. “Monn.” “Aku tahu.” Monn mencoba membuka pintu. Tidak bergerak. Lucien menariknya. Tetap tidak bergerak. “Bagus.” Lucien menghela napas. “Kita terjebak.” Monn menatap lorong. Lampu-lampu sihir di dinding menyala satu per satu. Klik. Klik. Klik. Cahaya membawa mereka menuju tangga. Seolah seseorang sedang menunjukkan jalan. Monn mengangkat tangan. Blood Thread muncul. “Jangan.” Seraphine menahan tangannya. Monn menatapnya. “Kenapa?” “Karena kali ini kita tidak tahu apa yang sedang kita sentuh.” Monn tersenyum tipis. “Kau mulai terdengar seperti aku.” “Aku belajar dari kesalahanmu.” Lucien tertawa kecil. “Untuk sekali ini aku setuju.” Mereka berjalan. Lantai pertama kosong. Lantai kedua kosong. Lantai ketiga— pintu menuju aula utama terbuka. Di dalamnya terdapat puluhan meja. Semua kursi tersusun rapi. Namun tidak ada siapa pun. Di papan tulis terdapat tulisan: SELAMAT DATANG KEMBALI. Monn berhenti. Seraphine menatap tulisan itu. “Kembali?” Lucien memandang Monn. “Kau pernah datang ke sini sebelumnya?” Monn menggeleng. “Tidak dalam kehidupan yang kuingat.” Ia mendekati papan. Blood Thread muncul. Tulisan itu tidak memiliki benang. Monn menyentuhnya. Tulisan berubah. BUKAN KEHIDUPAN YANG KAU INGAT. Monn langsung menarik tangan. “Jadi memang ada sesuatu.” Lucien mengangkat pedangnya. “Pertanyaannya, apa?” Sebuah suara terdengar dari belakang. “Jawabannya ada di bawah.” Ketiganya berbalik. Tidak ada siapa pun. Namun suara itu terdengar lagi. “Turun.” Seraphine mengerutkan kening. “Jangan ikuti.” Monn mengangguk. “Aku tahu.” Ia melihat lantai. Ada simbol. Lingkaran hitam. Tepat di tengah aula. Monn berjongkok. “Ini bukan bagian dari akademi.” Edrin pernah mengatakan Ruang Asal menyimpan pilihan. Mungkin akademi juga memiliki sesuatu yang berkaitan dengannya. Monn menyentuh simbol. KLIK. Lantai terbuka. Tangga muncul. Lucien melihat ke bawah. “Setidaknya kita tidak perlu mencari jalan.” Seraphine menghela napas. “Kalimat itu justru membuatku semakin tidak tenang.” Mereka turun. --- Semakin dalam mereka berjalan, udara menjadi semakin dingin. Dinding batu mulai menggantikan dinding akademi. Monn memperhatikan tanda-tanda lama. Beberapa simbol menyerupai lambang Church of the Eternal Flame. Beberapa lainnya seperti simbol Blood Art. Dan ada satu simbol yang langsung dikenali Monn. Thread of Origin. Monn berhenti. “Ini tidak mungkin.” Seraphine mendekat. “Apa?” “Simbol ini seharusnya tidak ada di sini.” Lucien bertanya, “Kenapa?” “Karena catatan Veylcrest mengatakan Thread of Origin hanya pernah ditemukan di bawah Blackvale.” Seraphine menatap simbol itu. “Berarti catatan itu salah.” “Bisa jadi.” Monn menyentuh dinding. Tiba-tiba sebuah suara terdengar. Monn. Ia membeku. Suara itu sangat familiar. Suara dirinya sendiri. Namun lebih muda. Monn, jangan masuk. Monn menoleh. “Siapa?” Tidak ada jawaban. Kemudian suara lain. Lebih jauh. Kau sudah pernah melakukan ini. Monn menatap lorong. Seraphine menyadari perubahan ekspresinya. “Monn?” “Aku pernah berada di sini.” Lucien mengerutkan kening. “Kau yakin?” “Tidak.” “Lalu?” “Tubuhku yang yakin.” Monn menutup mata. Ada sensasi aneh. Seperti kaki yang mengingat jalan sebelum pikirannya mengenal tempat tersebut. Ia berjalan ke kiri. Seraphine mengikutinya. “Monn, tunggu.” “Aku tahu jalannya.” Mereka berbelok. Kemudian turun lagi. Sampai akhirnya tiba di depan sebuah pintu kecil. Monn berhenti. Tangannya gemetar. Di pintu itu terdapat tulisan: RUANG SIMPANAN MEMORI. Lucien membaca tulisan tersebut. “Memori?” Monn menatapnya. “Buka.” Lucien memandang Monn. “Kau yakin?” “Tidak.” Seraphine tersenyum kecil. “Setidaknya kau jujur.” Lucien membuka pintu. Di dalam terdapat ratusan kristal kecil. Setiap kristal menyimpan cahaya. Seperti ingatan. Monn masuk. Ia menyentuh satu. Seketika— gambar muncul. Seorang anak kecil. Bukan Monn. Seorang anak laki-laki berdiri di depan seorang guru. Guru itu berkata: “Jika kau menghapus sebuah ingatan, kau tidak menghapus akibatnya.” Gambar menghilang. Monn menyentuh kristal lain. Seseorang sedang menangis. Kristal ketiga— seorang bangsawan berlutut. Keempat— sebuah ruangan terbakar. Kelima— Monn. Monn langsung berhenti. Kristal itu berisi dirinya. Usianya tujuh belas. Namun pakaiannya berbeda. Ia berdiri di ruangan yang sama dengan yang dilihatnya di Ruang Asal. Di hadapannya ada Caelum. Di belakangnya— Noctis. Dan seorang pria lain. Monn mendekat. Wajah pria itu tidak terlihat. Namun suaranya jelas. “Kalau kau kembali, apa yang akan kau lakukan?” Monn dalam kristal menjawab: “Aku akan menyelamatkan mereka.” Pria itu bertanya: “Semua?” “Semua.” “Bahkan jika mereka tidak ingin diselamatkan?” Monn terdiam. Kemudian menjawab: “Kalau perlu.” Monn yang sekarang membeku. Seraphine menatapnya. “Monn…” Ia tidak menjawab. Dalam kristal, pria itu berkata: “Kalau begitu, kau belum memahami alasan kau kembali.” Monn kecil menatapnya. “Kalau aku tidak menyelamatkan mereka, untuk apa aku kembali?” Pria itu menjawab: “Untuk memilih.” Gambar berakhir. Kristal menjadi gelap. Monn berdiri diam. Lucien tidak berkata apa-apa. Seraphine juga tidak. Karena mereka semua melihat hal yang sama. Monn dari kehidupan sebelum regresi— memang memiliki niat untuk menyelamatkan semua orang. Namun ada sesuatu yang berbeda. Ia belum memahami bahwa menyelamatkan seseorang dan menentukan hidup seseorang adalah dua hal yang berbeda. Monn mengangkat kristal. “Aku ingin melihat yang berikutnya.” Seraphine menahan tangannya. “Monn.” “Aku perlu tahu.” “Tidak.” Monn menatapnya. “Kenapa?” “Karena sekarang kau sedang mencari masa lalu untuk menentukan siapa dirimu.” Monn terdiam. Seraphine melanjutkan, “Bukankah itu yang selama ini ingin kau hindari?” Monn melihat kristal di tangannya. Benar. Jika ia terus mencari masa lalu— ia mungkin akan kembali menjadi orang yang hidup berdasarkan sesuatu yang sudah terjadi. Bukan berdasarkan pilihannya sekarang. Monn perlahan mengembalikan kristal itu. “Aku tidak akan melihat semuanya.” Lucien mengangguk. “Bagus.” Monn meliriknya. “Kau juga?” Lucien tersenyum. “Aku tidak tahu apakah itu bagus.” Monn tertawa kecil. Untuk pertama kalinya malam itu— ia merasa sedikit lega. Namun kemudian— sebuah kristal di ujung ruangan menyala sendiri. Tidak disentuh siapa pun. Cahayanya hitam. Monn langsung menatapnya. Kristal itu bergerak keluar dari rak. Melayang. Kemudian jatuh tepat di hadapan Monn. PRAK. Permukaannya retak. Sebuah suara keluar. Suara seorang anak. “Aku sudah menunggumu.” Monn membeku. “Siapa kau?” Kristal itu memancarkan gambar. Sebuah ruangan putih. Seorang anak laki-laki berdiri di sana. Rambut hitam. Mata merah. Wajahnya— sama seperti Monn. Namun usianya sekitar sepuluh tahun. Anak itu menatap langsung ke arah Monn. Kemudian berkata: “Kalau kau melihat ini, berarti kau sudah mengingat bahwa kau pernah datang ke sini.” Monn tidak mampu bergerak. Anak itu melanjutkan: “Tapi ada satu hal yang belum kau ingat.” Gambar berubah. Anak itu berdiri di depan sebuah pintu. Di belakang pintu terdengar suara sesuatu mengetuk. Tok. Tok. Tok. Anak itu berbisik: “Bukan aku yang pertama kali dibangunkan.” Monn merasakan darahnya menjadi dingin. Anak itu menatap kamera. Kemudian berkata: “Kau yang membangunkanku.” Kristal itu pecah. KRAK! Lampu seluruh ruangan padam. Dan dari balik pintu yang baru saja ditunjukkan dalam rekaman— terdengar suara ketukan. Tok. Tok. Tok. Monn menatap pintu di ujung ruangan. Seraphine berdiri di sampingnya. Lucien menghunus pedang. Lalu suara itu terdengar lagi. Kali ini bukan dari rekaman. Melainkan— dari balik pintu. “Monn...” Monn mengenali suara tersebut. Itu suara Noctis. Namun Noctis sedang berdiri tepat di belakangnya. Noctis menatap pintu dengan wajah pucat. Dan untuk pertama kalinya sejak Monn mengenalnya— Noctis berkata: “Jangan buka.” Ketukan berhenti. Kemudian suara dari balik pintu berbisik: “Aku tahu kau akan datang lagi.”

End of Chapter 28