Monn menatap benang hitam itu.
Benang tersebut tidak bergerak seperti benang lainnya.
Ia tidak bergetar.
Tidak melayang.
Tidak terhubung dengan siapa pun.
Hanya membentang dari dada Monn menuju kegelapan yang bahkan Blood Thread tidak mampu tembus.
“Lahir karena pilihanku?”
Monn mengulang perkataan Noctis.
Noctis mengangguk.
“Ya.”
“Apa itu?”
“Aku tidak tahu.”
Monn menatapnya tajam.
“Kau selalu mengatakan tidak tahu.”
“Karena memang tidak tahu.”
“Lalu kenapa kau terlihat takut?”
Noctis terdiam.
Beberapa detik kemudian ia menjawab,
“Karena aku pernah melihatnya.”
Monn membeku.
“Kapan?”
“Dalam kehidupan yang tidak kau ingat.”
Kalimat itu membuat Monn kembali merasakan dingin di dadanya.
Ia menatap benang hitam tersebut.
“Kalau kau pernah melihatnya, kenapa tidak memberitahuku?”
“Karena aku tidak tahu apakah penglihatanku adalah masa depan atau sisa pilihan yang belum terjadi.”
Edrin langsung mendekat.
“Benang seperti itu…”
Monn menoleh.
“Kau pernah melihatnya?”
“Tidak persis.”
Edrin menatap benang hitam itu dengan wajah serius.
“Namun catatan Edrin lama menyebut sesuatu yang mirip.”
“Catatan tentang apa?”
“Anak yang lahir dari pilihan.”
Monn mengerutkan kening.
“Anak?”
Edrin menggeleng.
“Bukan selalu manusia.”
Monn semakin bingung.
“Lalu apa?”
Edrin tidak menjawab.
Lucien menyela.
“Kalau begitu kita harus mencari tahu sebelum sesuatu benar-benar lahir.”
Monn menatapnya.
“Tidak.”
Lucien mengerutkan kening.
“Tidak?”
“Kita tidak tahu apakah sesuatu itu berbahaya.”
“Tapi—”
“Kalau kita mencoba menghancurkannya sekarang hanya karena takut, kita mungkin justru menciptakan apa yang kita takutkan.”
Lucien terdiam.
Seraphine mengangguk pelan.
“Masuk akal.”
Monn menatap benang hitam itu lagi.
Ia ingin menariknya.
Dorongan itu muncul begitu saja.
Sangat kuat.
Seolah ada sesuatu di ujung sana yang memanggilnya.
Tarik.
Suara Mortis terdengar di dalam kepalanya.
Monn menutup mata.
“Tidak.”
Mortis tidak menjawab.
Monn membuka mata.
“Aku tidak akan menarik sesuatu hanya karena aku ingin tahu.”
Noctis tersenyum tipis.
“Sekarang kau mulai belajar.”
Monn meliriknya.
“Jangan terlalu senang.”
“Aku tidak.”
“Kau tersenyum.”
“Itu bukan senyum.”
“Itu jelas senyum.”
Noctis mengangkat bahu.
Untuk sesaat suasana menjadi lebih ringan.
Namun hanya sesaat.
Karena benang hitam itu tiba-tiba bergerak.
Tarik.
Kali ini bukan suara Mortis.
Suara itu datang dari ujung benang.
Monn langsung menoleh.
“Apa itu?”
Noctis berdiri tegak.
“Aku tidak tahu.”
Suara itu terdengar lagi.
Tarik.
Kemudian—
benang hitam mulai menarik dirinya sendiri.
Monn mundur.
“Tidak.”
Ia mencoba menjauh.
Benang tersebut tetap mengikuti.
Kemudian sebuah sensasi asing muncul di pikirannya.
Bukan suara.
Bukan gambar.
Melainkan perasaan.
Seseorang sedang menunggu.
Seseorang yang sangat kesepian.
Seseorang yang belum lahir.
Monn memegang kepalanya.
“Berhenti.”
Seraphine memegang bahunya.
“Monn!”
“Aku baik-baik saja.”
“Kau tidak terlihat baik-baik saja.”
Monn menarik napas.
“Di ujung sana ada sesuatu.”
“Apa?”
“Kesepian.”
Seraphine terdiam.
Monn menatap benang itu.
“Bukan kebencian.”
“Lalu?”
“Keinginan untuk ada.”
Noctis menatap benang hitam tersebut.
“Itu sebabnya ia belum memiliki nama.”
Monn menoleh.
“Karena belum lahir?”
“Bukan.”
Noctis menggeleng.
“Karena belum memilih siapa dirinya.”
Monn terdiam.
Kalimat itu terasa familiar.
Seperti dirinya sendiri.
Sebelum ia mengetahui apa yang sebenarnya ia inginkan.
---
Malam itu mereka kembali ke kediaman Veylcrest.
Tidak ada yang berbicara selama perjalanan.
Monn duduk di dalam kereta bersama Seraphine dan Lucien.
Evelyne berada di kereta lain bersama Edrin.
Monn menatap jendela.
Eldoria bergerak perlahan di luar.
Lampu-lampu kota menyala.
Orang-orang berjalan.
Pedagang menutup toko.
Anak-anak berlari.
Semuanya normal.
Namun Monn melihat dunia dengan cara berbeda.
Di balik setiap orang—
ada benang.
Benang ke keluarga.
Teman.
Pekerjaan.
Keinginan.
Ketakutan.
Dan keputusan.
Dulu ia menganggap semua itu sebagai sesuatu yang bisa digunakan.
Sekarang ia mulai melihatnya sebagai sesuatu yang harus dihormati.
Seraphine memecah keheningan.
“Kau masih memikirkannya?”
“Ya.”
“Benang hitam?”
“Ya.”
Lucien bersandar.
“Aku juga.”
Monn menoleh.
Lucien menatap jalan.
“Aku tidak suka sesuatu yang muncul dari dirimu tanpa kita tahu apa itu.”
Monn tersenyum tipis.
“Aku juga tidak suka.”
Seraphine bertanya,
“Kalau begitu apa yang akan kau lakukan?”
Monn diam.
Kemudian menjawab,
“Tidak melakukan apa pun.”
Lucien langsung menatapnya.
“Serius?”
“Untuk sekarang.”
“Bukankah itu berbahaya?”
“Mungkin.”
“Lalu kenapa?”
Monn melihat tangannya.
“Karena tidak melakukan sesuatu juga merupakan pilihan.”
Lucien tersenyum kecil.
“Kau semakin aneh.”
Monn mengangkat bahu.
“Dari dulu aku aneh.”
Seraphine tertawa kecil.
“Tidak.”
Monn menatapnya.
Seraphine melanjutkan,
“Dulu kau hanya terlalu sibuk menjadi orang yang diinginkan orang lain.”
Monn terdiam.
Kalimat itu mengenai dirinya lebih dalam daripada yang ia tunjukkan.
---
Malam semakin larut.
Semua orang sudah kembali ke kamar masing-masing.
Namun Monn belum tidur.
Ia berdiri di balkon.
Langit Eldoria dipenuhi bintang.
Benang merah terlihat di antara orang-orang di kejauhan.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Benang hitam itu masih ada.
Monn bisa melihatnya dari sini.
Membentang dari dadanya menuju langit.
Ia menyentuh dadanya.
“Apa sebenarnya kau?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian—
“Pertanyaan yang bagus.”
Monn langsung berbalik.
Noctis berdiri di balkon.
Monn menghela napas.
“Berhenti muncul tiba-tiba.”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku bagian dari dirimu.”
Monn memutar mata.
“Kau selalu menggunakan alasan itu.”
Noctis mendekat.
“Karena memang begitu.”
Monn menatapnya.
“Katamu kau pernah melihat sesuatu di ujung benang.”
“Ya.”
“Ceritakan.”
Noctis terdiam.
“Tidak semuanya.”
“Kenapa?”
“Karena sebagian ingatanku bukan milikku.”
Monn mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Noctis menatap langit.
“Aku mengingat hal-hal yang kau tidak ingat.”
“Karena kau bagian dari diriku.”
“Ya.”
“Jadi seharusnya ingatan itu milikku juga.”
Noctis menggeleng.
“Belum tentu.”
Monn terdiam.
“Kalau begitu siapa yang memilikinya?”
Noctis menatap Monn.
“Versi dirimu yang belum memilih.”
Monn tidak mengerti.
“Versi diriku yang belum memilih?”
“Bayangkan ada seribu jalan.”
Noctis menunjuk langit.
“Setiap kali kau memilih, sembilan ratus sembilan puluh sembilan jalan tertutup.”
Monn mengangguk.
“Lalu?”
“Aku adalah bagian dari dirimu yang masih mengingat jalan-jalan itu.”
Monn menatapnya lama.
“Jadi kau adalah semua pilihan yang tidak kuambil?”
Noctis tersenyum.
“Tidak semuanya.”
“Lalu?”
“Pilihan yang paling kau takut ambil.”
Monn terdiam.
Ia akhirnya memahami kenapa Noctis selalu muncul ketika ia berada di persimpangan.
Noctis bukan sekadar sisi gelap.
Ia adalah kemungkinan.
Kemungkinan yang selalu menunggu.
Kemungkinan yang tidak pernah benar-benar mati.
Monn menatap benang hitam.
“Dan sesuatu di ujung sana?”
Noctis mengangguk.
“Itu berbeda.”
“Apa?”
“Bukan pilihan yang tidak kau ambil.”
“Lalu?”
“Pilihan yang belum kau buat.”
Monn menatapnya.
“Bukankah itu berarti masa depan?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Noctis menjawab pelan:
“Karena sesuatu itu sedang menunggumu untuk memilihnya.”
Monn membeku.
Sebelum ia bisa bertanya lebih jauh—
KRAK!
Suara kaca pecah terdengar dari dalam kamar.
Monn langsung berbalik.
Sebuah pecahan kaca jatuh ke lantai.
Di permukaannya tertulis satu pesan.
Bukan dengan tinta.
Melainkan dengan embun.
JANGAN BANGUNKAN DIA.
Monn mendekat.
Noctis berdiri di belakangnya.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Tulisan itu berubah.
DIA BUKAN MONN.
Monn mengerutkan kening.
Kemudian kalimat terakhir muncul.
DIA ADALAH ALASAN MONN BISA KEMBALI.
Monn terdiam.
Benang hitam di luar balkon bergetar hebat.
Noctis menatapnya.
Wajahnya berubah.
“Monn.”
“Apa?”
Noctis menunjuk langit.
Benang hitam tersebut mulai bercabang.
Satu menjadi dua.
Dua menjadi empat.
Empat menjadi puluhan.
Semua cabang bergerak menuju berbagai tempat di Eldoria.
Monn melihat satu menuju istana.
Satu menuju Royal Academy.
Satu menuju Blackvale.
Dan satu—
menuju rumah Veylcrest.
Monn mengepalkan tangan.
“Ini bukan satu benang.”
Noctis mengangguk.
“Bukan.”
Monn menatap seluruh cabang.
“Ini jaringan.”
Noctis menjawab:
“Dan sekarang jaringan itu mulai mencari orang-orang yang bisa menjadi bagian darinya.”
Dari kejauhan terdengar lonceng kota.
Dong.
Sekali.
Dong.
Dua kali.
Kemudian seluruh benang hitam berhenti bergerak.
Monn menatap ke arah Royal Academy.
Di sana—
sebuah cahaya hitam muncul di atas menara.
Noctis berbisik:
“Dia sudah memilih tempat pertama.”
Monn langsung mengambil mantel.
Seraphine tiba-tiba muncul di pintu balkon.
“Ada apa?”
Monn menatap cahaya itu.
“Akademi.”
Lucien muncul beberapa detik kemudian.
“Aku ikut.”
Monn menggeleng.
“Tidak.”
Lucien menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu apa yang ada di sana.”
Lucien tersenyum.
“Justru itu alasan aku ikut.”
Monn terdiam.
Kemudian tersenyum kecil.
“Baiklah.”
Ia melangkah menuju pintu.
Namun sebelum pergi, Monn melihat kembali pesan di kaca.
Tulisan terakhir berubah sekali lagi.
JANGAN BANGUNKAN DIA.
Kemudian muncul satu kata tambahan.
LAGI.
Monn berhenti.
Satu kata itu membuat seluruh tubuhnya terasa dingin.
Bukan karena ancaman.
Melainkan karena satu kemungkinan.
Kalau pesan itu benar—
berarti sesuatu yang akan mereka temui di Royal Academy...
pernah dibangunkan oleh Monn sebelumnya.