Chapter 26 of 51
Chapter 26 — Bagian yang Ingin Hidup
1.3k words
Monn tidak bergerak.
Kalimat wanita itu terus berputar di kepalanya.
Kau kembali karena ada bagian dari dirimu yang ingin hidup.
Sederhana.
Namun justru karena itu, kalimat tersebut terasa lebih mengganggu daripada seluruh rahasia yang telah ia temukan.
Monn menatap benang abu-abu yang masih berada di tangan wanita itu.
“Kalau begitu…”
Ia menarik napas.
“Bagian mana?”
Wanita itu tersenyum.
“Bagian yang kau tinggalkan.”
“Namanya?”
“Tidak memiliki nama.”
“Wujudnya?”
“Tidak memiliki wujud.”
“Lalu bagaimana aku bisa menemukannya?”
Wanita itu menatap dada Monn.
“Dengan berhenti mencari jawaban dari orang lain.”
Monn terdiam.
Asterion menghela napas kecil.
“Dia memang selalu seperti itu.”
Monn menoleh.
“Kau mengenalnya juga?”
“Sedikit.”
“Siapa dia?”
Asterion tidak menjawab.
Wanita itu sendiri yang menjawab.
“Namaku tidak penting.”
Monn mengerutkan kening.
“Semua orang di tempat ini mengatakan hal yang sama.”
“Karena nama hanyalah salah satu cara manusia mengikat sesuatu.”
“Dan kau membenci ikatan?”
“Tidak.”
Wanita itu memandang Evelyne.
“Aku hanya tahu bahwa tidak semua ikatan harus dipertahankan.”
Evelyne akhirnya berbicara.
“Kenapa kau datang?”
Wanita itu menatapnya.
“Karena dia sudah mulai mengingat.”
“Belum semuanya.”
“Cukup.”
Monn memperhatikan keduanya.
“Kalian bertengkar?”
Evelyne menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu apa?”
“Dia adalah kemungkinan.”
Monn terdiam.
“Jelaskan.”
Evelyne menarik napas.
“Dalam kehidupan pertamamu, ada lebih dari satu kemungkinan yang terbentuk di Ruang Asal.”
Monn menatapnya.
“Cabang kehidupan?”
“Kurang lebih.”
Edrin menyela.
“Bukan cabang waktu biasa.”
Ia menunjuk benang abu-abu.
“Lebih seperti kemungkinan yang tidak pernah menjadi kehidupan.”
Monn melihat benang itu.
“Jadi wanita ini…”
“Adalah salah satu kemungkinan.”
Wanita itu tersenyum.
“Lebih tepatnya, aku adalah kemungkinan dari seseorang yang memilih berbeda.”
Monn menatap wajahnya.
“Siapa?”
“Evelyne.”
Monn langsung menoleh kepada ibunya.
Evelyne diam.
Wanita itu melanjutkan,
“Dalam salah satu kemungkinan, Evelyne memilih meninggalkan Veylcrest.”
Evelyne menunduk.
“Dalam kemungkinan lain, ia tetap tinggal.”
“Dan kau?”
“Aku adalah hasil dari pilihan yang tidak pernah terjadi.”
Monn semakin bingung.
“Bagaimana sesuatu yang tidak pernah terjadi bisa ada?”
Wanita itu menjawab,
“Karena Ruang Asal tidak hanya menyimpan apa yang terjadi.”
Ia menyentuh dinding.
“Ruangan ini menyimpan apa yang hampir terjadi.”
Monn merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Jadi seluruh tempat ini…”
“Adalah kuburan bagi pilihan yang tidak pernah diambil.”
Tidak ada yang berbicara.
Kalimat itu menggantung di udara.
Monn tiba-tiba memahami kenapa tempat ini terasa begitu asing.
Bukan karena ruangan itu tua.
Bukan karena kekuatannya.
Tetapi karena di tempat ini—
keputusan yang tidak pernah terjadi masih memiliki jejak.
Ia menatap Noctis.
“Kalau begitu kau juga…”
Noctis tersenyum kecil.
“Ya.”
“Kau adalah pilihan yang tidak pernah kuambil?”
“Sebagian.”
“Sebagian?”
Noctis mengangguk.
“Aku adalah bagian dari dirimu yang ingin memilih berbeda.”
Monn terdiam.
Ia kemudian menatap wanita misterius itu.
“Kalau begitu, kenapa kau ingin memberiku kembali bagian yang kutinggalkan?”
“Karena kau mulai kehilangan dirimu lagi.”
Monn mengerutkan kening.
“Aku?”
“Setiap kali kau menggunakan Blood Thread untuk mengendalikan seseorang, kau semakin dekat dengan orang yang dulu ingin kau tinggalkan.”
Monn mengepalkan tangan.
“Aku tidak selalu mengendalikan mereka.”
“Tidak.”
Wanita itu mengangguk.
“Justru itu masalahnya.”
Monn menatapnya.
“Jelaskan.”
“Kontrol tidak selalu berbentuk perintah.”
Ia menunjuk dada Monn.
“Kadang kontrol berbentuk ketakutan.”
Kemudian menunjuk Seraphine.
“Kadang berbentuk perlindungan.”
Menunjuk Lucien.
“Kadang berbentuk kepercayaan yang terlalu dipaksakan.”
Kemudian menunjuk Elara.
“Dan kadang berbentuk cinta keluarga.”
Monn terdiam.
Seraphine menatapnya.
Tidak ada tuduhan di wajahnya.
Hanya pemahaman.
Monn menghela napas.
“Jadi apa yang harus kulakukan?”
Wanita itu tersenyum.
“Tidak ada.”
Monn mengerutkan kening.
“Tidak ada?”
“Untuk pertama kalinya, jangan lakukan sesuatu hanya karena kau takut kehilangan.”
Monn terdiam.
“Kalau seseorang pergi?”
“Biarkan.”
“Kalau seseorang menyakitiku?”
“Hadapi.”
“Kalau seseorang mati?”
Wanita itu diam.
Pertanyaan itu terasa lebih berat.
Akhirnya ia menjawab:
“Berduka.”
Monn menatapnya.
“Bukan mencegahnya?”
“Jika kau bisa mencegahnya tanpa mengambil kehendak orang lain, lakukan.”
“Kalau tidak bisa?”
“Terima bahwa kau bukan penguasa dunia.”
Monn menunduk.
Kalimat itu sederhana.
Namun sulit.
Sangat sulit.
---
Tiba-tiba—
KRAK!
Benang putih di dinding retak.
Edrin langsung menoleh.
“Tidak.”
Monn mengangkat kepala.
“Apa?”
“Ruang Asal sedang runtuh.”
Caelum berdiri.
“Kita harus pergi.”
Monn menatap simbol di lantai.
Ujian keempat masih menyala.
PILIH APA YANG AKAN KAU KORBANKAN.
Monn berjalan mendekatinya.
“Aku belum menjawab.”
Caelum berkata,
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Karena ujian sebenarnya bukan memilih salah satu.”
Monn menatapnya.
“Lalu?”
Caelum menunjuk simbol.
“Ujian ini ingin melihat apakah kau akan mengorbankan sesuatu hanya karena diperintahkan.”
Monn terdiam.
Lalu tulisan di lantai berubah.
Keempat pilihan menghilang.
Digantikan satu kalimat:
TIDAK ADA YANG HARUS KAU KORBANKAN.
Seraphine menghela napas lega.
Namun Monn tidak.
Ia menatap kalimat itu.
“Jadi…”
Ia tersenyum kecil.
“Ini juga ujian.”
Asterion mengangguk.
“Benar.”
“Dan aku hampir memilih.”
“Semua orang hampir memilih.”
Monn menggeleng.
“Tidak.”
Asterion menatapnya.
“Aku tidak akan menyebutnya kemenangan.”
“Kenapa?”
“Karena aku baru saja menyadari sesuatu.”
Monn menatap semua orang.
“Kalau setiap keputusan yang kuambil dianggap ujian, aku akan mulai hidup hanya untuk menjawab ujian orang lain.”
Asterion terdiam.
Monn melanjutkan:
“Aku tidak mau.”
Untuk pertama kalinya—
Asterion tidak langsung menjawab.
Kemudian ia tersenyum.
“Bagus.”
Monn menatapnya tajam.
“Jangan bilang ‘bagus’ seolah kau yang mengajarkanku.”
Asterion tertawa kecil.
“Baik.”
Ruang mulai bergetar semakin kuat.
Edrin berteriak,
“Keluar sekarang!”
Semua orang bergerak.
Monn berlari menuju pintu.
Namun sebelum keluar—
ia berhenti.
Wanita misterius itu masih berdiri di dalam.
Monn menoleh.
“Kau tidak ikut?”
Wanita itu menggeleng.
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku bukan bagian dari kehidupanmu.”
Monn menatapnya.
“Lalu apa yang akan terjadi padamu?”
Wanita itu tersenyum.
“Aku akan kembali menjadi kemungkinan.”
Monn diam.
Ia tidak menyukai jawaban itu.
Namun ia juga tahu—
memaksa wanita itu ikut mungkin justru menjadi bentuk kontrol yang sedang ia coba tinggalkan.
Jadi ia hanya berkata:
“Kalau begitu... sampai jumpa.”
Wanita itu tampak terkejut.
“Kenapa kau berkata begitu?”
“Karena aku tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi.”
Monn tersenyum tipis.
“Dan aku tidak perlu memastikan.”
Wanita itu tersenyum.
“Sekarang kau benar-benar berubah.”
Monn berbalik.
Kemudian ia keluar.
---
Mereka semua berhasil keluar dari Ruang Asal.
Pintu batu tertutup.
DUUM!
Suara gemuruh berhenti.
Monn menarik napas.
Seraphine berdiri di sampingnya.
“Kau baik-baik saja?”
Monn mengangguk.
“Kurasa.”
Lucien tertawa kecil.
“Jawaban yang meyakinkan.”
Monn menatapnya.
“Jangan mengejek.”
“Aku hanya mengatakan kenyataan.”
Edrin memandang pintu.
“Tidak ada yang boleh masuk ke sana lagi.”
Monn menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena sekarang aku tahu ruangan itu sedang berubah.”
“Apa maksudmu?”
Edrin menunjuk pintu.
“Dulu Ruang Asal hanya menyimpan jejak pilihan.”
Ia menarik napas.
“Sekarang ia mulai membuat pilihan baru.”
Monn mengerutkan kening.
“Pilihan baru?”
Edrin mengangguk.
“Dan itu berarti sesuatu di dalam sana sudah mulai bertindak sendiri.”
Monn menatap Mortis.
“Apakah kau tahu?”
Mortis tidak menjawab.
Monn mendekat.
“Mortis.”
Bayangan di bawah kaki Mortis bergerak.
Akhirnya ia berkata:
“Ya.”
“Apa?”
Mortis menatap Monn.
“Ruang Asal tidak lagi hanya mengamati manusia.”
Monn menunggu.
Mortis melanjutkan:
“Sekarang ia mulai memilih.”
Monn terdiam.
Seketika—
sebuah benang putih muncul dari pintu.
Benang itu menembus batu.
Bergerak perlahan.
Kemudian berhenti di depan Monn.
Ujungnya menyentuh dadanya.
Monn tidak menariknya.
Tidak menyentuhnya.
Ia hanya melihat.
Lalu terdengar sebuah suara.
Bukan dari Mortis.
Bukan dari Caelum.
Bukan dari Asterion.
Bukan dari Noctis.
Suara itu terdengar seperti suara Ruang Asal sendiri.
“Pilihan berikutnya bukan milikmu.”
Monn membeku.
Benang putih itu bergerak ke arah Lucien.
Kemudian—
Seraphine.
Elara.
Evelyne.
Edrin.
Semua orang.
Benang-benang tersebut menghubungkan mereka satu sama lain.
Monn menyadari sesuatu yang jauh lebih buruk.
Ruang Asal tidak sedang menguji dirinya lagi.
Ruang Asal sedang memilih siapa yang akan masuk ke dalam permainan berikutnya.
Dan di antara semua benang itu—
ada satu yang berwarna hitam.
Benang itu terhubung ke sebuah nama.
MONN VEYLCREST.
Namun ujung lainnya—
tidak berada pada seseorang.
Ujungnya berada pada sesuatu yang belum lahir.
Sesuatu yang belum memiliki nama.
Noctis melihatnya.
Wajahnya berubah.
“Monn…”
“Apa?”
Noctis menatap benang hitam tersebut.
“Itu bukan masa depanmu.”
“Lalu?”
Noctis menjawab pelan:
“Itu adalah sesuatu yang akan lahir karena pilihanmu.”