Chapter 25 of 51

Chapter 25 — Harga yang Harus Dibayar

1.4k words

Tulisan itu masih menyala di lantai. UJIAN KEEMPAT: PILIH APA YANG AKAN KAU KORBANKAN. Monn menatapnya tanpa berkedip. Tidak ada suara. Tidak ada pergerakan. Bahkan udara di Ruang Asal terasa berhenti. “Korbankan?” Seraphine mengulang kata itu dengan suara pelan. Edrin maju satu langkah. “Jangan sentuh simbolnya.” Monn menoleh. “Kau tahu sesuatu?” “Tidak.” “Edrin.” “Aku serius.” Edrin menatap simbol tersebut. “Ruang Asal tidak pernah memberikan ujian yang sama kepada dua orang.” Monn mengerutkan kening. “Jadi ini dibuat khusus untukku?” “Sepertinya.” Lucien berdiri di samping Monn. “Kalau begitu jangan langsung mengikuti aturannya.” Monn menatapnya. Lucien melanjutkan, “Ujian sebelumnya selalu memberi pilihan. Mungkin kali ini juga sama.” “Dan mungkin tidak,” kata Mortis. Semua orang menoleh. Mortis berdiri di dekat dinding. Bayangannya bergerak perlahan. “Pengorbanan tidak selalu berarti memilih siapa yang mati.” Monn menatapnya. “Lalu apa?” “Bisa berarti kehilangan sesuatu yang kau anggap penting.” Monn kembali melihat simbol. Tiba-tiba lingkaran putih menyala. TING. Suara seperti lonceng terdengar. Kemudian tulisan berubah. PILIH SATU: INGATANMU. KEKUATANMU. HUBUNGANMU. KEHIDUPANMU. Monn terdiam. Seraphine langsung berkata, “Jangan.” Monn menoleh. “Kenapa?” “Karena keempatnya terdengar seperti sesuatu yang tidak seharusnya dipilih.” Caelum tersenyum tipis. “Setidaknya kau mulai memahami pola ruangan ini.” Monn menatapnya. “Kau tahu sesuatu.” “Aku tahu cukup banyak.” “Kalau begitu jawab.” Caelum tidak menjawab. Monn mendekat. “Kenapa setiap ujian selalu dibuat seolah aku hanya memiliki beberapa pilihan?” Caelum menatapnya. “Karena manusia lebih mudah memilih ketika pilihan mereka dibatasi.” “Dan itu membuat pilihan tersebut tidak bebas.” “Belum tentu.” “Kenapa?” “Karena kau masih bisa menolak.” Monn terdiam. Kalimat itu mengingatkannya pada Asterion. Mereka selalu mengatakan hal yang sama. Tidak ada yang memaksanya. Mereka hanya memberikan pilihan. Dan membiarkannya memilih. Namun— Monn mulai menyadari sesuatu. Memberikan pilihan terbatas juga bisa menjadi bentuk manipulasi. Jika seseorang memberinya pilihan antara A atau B, ia mungkin tidak pernah bertanya apakah C ada. Seraphine sepertinya menyadari hal yang sama. “Monn.” “Apa?” “Kalau mereka memberikan empat pilihan...” Ia menunjuk tulisan. “...mungkin pilihan kelima adalah mempertanyakan semuanya.” Monn tersenyum kecil. “Benar.” Simbol itu bergetar. Kemudian tulisan berubah. PILIHAN KELIMA TIDAK TERSEDIA. Lucien mendengus. “Setidaknya mereka tidak malu.” Monn hampir tertawa. Namun suasana langsung berubah. Karena satu kalimat baru muncul. JIKA TIDAK MEMILIH, SEMUA AKAN HILANG. Seraphine terdiam. Evelyne menatap Monn. Lucien mengepalkan tangan. Edrin langsung mendekati lingkaran. “Ini ancaman.” Monn menatapnya. “Bukan.” Edrin mengerutkan kening. “Bukan?” “Ini bagian dari ujian.” Monn berjongkok. Ia mengamati simbol tersebut. Tidak ada benang yang menghubungkan tulisan itu dengan siapa pun. Tidak ada Blood Thread. Tidak ada Thread of Origin. Hanya simbol. Monn mengangkat tangan. Blood Thread muncul. Ia menyentuh permukaan lantai. Tidak terjadi apa-apa. Ia mencoba lagi. Tetap tidak ada. “Tidak bisa disentuh.” Edrin berkata, “Karena ini bukan benang.” Monn mengangguk. “Berarti kita harus mencari aturan sebenarnya.” Ia melihat keempat pilihan. INGATANMU. Monn mengingat kehidupan pertamanya. Ia tidak ingin melupakannya. Bukan karena ia mencintai masa lalu. Tetapi karena semua kesalahan itu telah membentuk dirinya. KEKUATANMU. Blood Thread. Kemampuan yang selama ini membuatnya semakin dekat dengan apa yang ia benci. Ia mungkin bisa melepaskannya. Namun jika kehilangan kekuatan, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. HUBUNGANMU. Seraphine. Lucien. Elara. Keluarganya. Orang-orang yang membuat kehidupan kedua terasa berbeda. Dan yang terakhir— KEHIDUPANMU. Monn menatap tulisan itu lama. Ia tahu apa arti sebenarnya. Jika memilihnya— ia mungkin harus mati. Seraphine tiba-tiba meraih lengan Monn. “Jangan pilih itu.” Monn menatapnya. Seraphine terlihat tenang, tetapi matanya menunjukkan ketakutan. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau memilihnya.” Monn menjawab pelan, “Aku juga.” “Kalau begitu jangan.” Monn terdiam. Untuk beberapa saat, ia hanya melihat tangan Seraphine yang masih memegang lengannya. Kemudian ia tersenyum tipis. “Aku tidak akan memilih hanya karena kau memintaku.” Seraphine melepaskan tangannya. “Aku tahu.” Monn menatapnya. “Tapi aku akan mempertimbangkan perkataanmu.” Seraphine mengangguk. “Itu sudah cukup.” Monn kembali berdiri. Kemudian ia mendengar suara lain. “Monn.” Ia menoleh. Noctis berdiri di belakangnya. “Jangan korbankan sesuatu yang bukan milikmu.” Monn mengerutkan kening. “Apa maksudmu?” “Hubungan.” “Kenapa?” “Karena hubungan bukan milikmu.” Noctis menunjuk Seraphine. “Kau tidak memiliki Seraphine.” Kemudian menunjuk Lucien. “Kau tidak memiliki Lucien.” Kemudian Evelyne. “Dan kau tidak memiliki ibumu.” Monn diam. “Jika kau mengorbankan hubungan mereka demi sesuatu yang kau inginkan, kau sebenarnya tidak sedang mengorbankan milikmu.” Noctis menatap Monn. “Kau sedang memilih untuk mengendalikan hidup orang lain.” Monn perlahan memahami. Kalau ia memilih hubungan, mungkin yang hilang bukan hanya perasaannya. Hubungan itu sendiri bisa berubah. Ia bisa memaksa orang-orang menjauh. Dan itu bukan pengorbanan. Itu kontrol. Monn menatap tulisan berikutnya. INGATAN. Ia bertanya, “Kalau aku memilih ingatan?” Caelum menjawab, “Kau mungkin kehilangan pengetahuan tentang kehidupan pertama.” “Dan?” “Termasuk alasan mengapa kau begitu takut kehilangan orang-orang.” Monn terdiam. “KEKUATAN?” “Kau akan kehilangan Blood Thread.” “KEHIDUPAN?” “Jawabannya jelas.” Monn menatapnya. “Kau sengaja tidak menjelaskan akibatnya.” “Karena aku tidak ingin memilih untukmu.” Monn tersenyum pahit. “Setidaknya kali ini kau konsisten.” Caelum tidak menjawab. Tiba-tiba— BRAK! Pintu Ruang Asal bergetar. Semua orang menoleh. Asterion berdiri di depan pintu. Namun wajahnya tidak lagi tenang. “Monn.” “Apa?” “Kita kehabisan waktu.” Monn menatapnya. “Untuk apa?” Asterion menunjuk ke belakang. Dari luar pintu, kegelapan mulai masuk. Bukan bayangan biasa. Kegelapan itu bergerak seperti tinta yang dituangkan ke dalam air. Perlahan menyebar. Mortis langsung berdiri. “Itu bukan bagian dari ujian.” Edrin terkejut. “Lalu apa?” Mortis menatap kegelapan. “Sesuatu yang sudah menunggu di luar.” Asterion menoleh. “Dia menemukan kita.” Monn mengerutkan kening. “Siapa?” Asterion tidak menjawab. Kegelapan semakin dekat. Kemudian suara terdengar. Suara perempuan. Lembut. Namun penuh kemarahan. “Monn.” Evelyne langsung berubah pucat. Monn menoleh kepadanya. “Ibu?” Evelyne tidak menjawab. Suara itu terdengar lagi. “Berhenti bermain dengan benang yang bukan milikmu.” Monn menatap pintu. “Siapa dia?” Evelyne akhirnya berkata, “Orang yang seharusnya tidak bisa berada di dunia ini.” Monn merasakan hawa dingin. “Kau mengenalnya?” Evelyne mengangguk. “Ya.” “Siapa?” Evelyne menatap Monn. “Diriku.” Monn terdiam. Kemudian dari kegelapan muncul sosok. Seorang wanita. Wajahnya sama persis dengan Evelyne. Rambut hitam. Mata merah. Namun berbeda. Wanita itu tidak memiliki tubuh seperti manusia biasa. Tubuhnya terbentuk dari benang hitam dan putih yang saling berpilin. Dua Evelyne berdiri berhadapan. Yang satu nyata. Yang satu seperti sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada. Seraphine berbisik, “Monn...” Monn tidak menjawab. Wanita dari kegelapan tersenyum. “Akhirnya.” Ia menatap Monn. “Anak yang kembali.” Monn mengangkat Blood Thread. Wanita itu tertawa. “Jangan.” Monn berhenti. “Kenapa?” “Karena kau tidak akan bisa menarik benangku.” Monn mencoba melihatnya. Tidak ada benang. Namun bukan seperti Asterion. Lebih buruk. Blood Thread miliknya tidak bisa memahami bentuk hubungan wanita tersebut. Seolah— wanita itu tidak terikat kepada dunia. Wanita itu melangkah maju. “Aku datang untuk mengambil kembali sesuatu.” Monn menatapnya. “Apa?” Wanita itu menunjuk dada Monn. “Yang kau tinggalkan ketika kau kembali.” Monn membeku. Sebuah rasa sakit tiba-tiba muncul di dadanya. Benang abu-abu yang sebelumnya menghubungkan Monn kepada dirinya sendiri muncul kembali. Kali ini— ujungnya berada di tangan wanita tersebut. Monn menatap benang itu. Kemudian menatap wanita di depannya. “Apa yang kau pegang?” Wanita itu tersenyum. “Bagian dirimu yang kau korbankan.” Monn mengepalkan tangan. “Kalau begitu ambil.” Semua orang terkejut. Seraphine langsung berkata, “Monn!” Monn tetap menatap wanita itu. “Aku tidak akan membiarkan rasa takut membuatku menyerahkan keputusan.” Wanita itu tertawa kecil. “Masih belum mengerti.” Benang abu-abu bergetar. “Aku tidak datang untuk mengambilnya.” Ia menarik benang itu sedikit. Monn tersentak. “Aku datang untuk memberikannya kembali.” DUAR! Cahaya memenuhi Ruang Asal. Monn melihat ribuan kenangan muncul sekaligus. Kehidupan pertama. Kehidupan kedua. Pilihan yang tidak pernah ia ambil. Orang-orang yang ia selamatkan. Orang-orang yang ia gagal selamatkan. Dan di antara semua kenangan itu— ada satu pemandangan yang membuat Monn benar-benar membeku. Dirinya sendiri. Berdiri di Ruang Asal. Sebelum regresi. Namun kali ini ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seseorang yang wajahnya tidak terlihat. Monn mendengar dirinya berkata: “Kalau aku kembali, aku tidak ingin menjadi diriku yang sekarang.” Sosok itu menjawab: “Kalau begitu, apa yang ingin kau tinggalkan?” Monn melihat dirinya tersenyum. Lalu menjawab: “Aku ingin meninggalkan bagian diriku yang selalu ingin diselamatkan.” Kenangan itu berhenti. Monn membuka mata. Wanita misterius tersebut sudah berdiri tepat di hadapannya. Ia berbisik: “Sekarang kau tahu.” Monn menatapnya. “Apa?” “Kau tidak kembali untuk menyelamatkan semua orang.” Wanita itu menyentuh benang abu-abu. “Kau kembali karena ada bagian dari dirimu yang ingin hidup.” Monn terdiam. Dan untuk pertama kalinya sejak regresinya— ia tidak tahu apakah keinginan itu benar-benar miliknya. Atau— hanya sesuatu yang sejak awal ditanamkan kepadanya.

End of Chapter 25