Chapter 24 of 51

Chapter 24 — Pilihan yang Tidak Diberikan

1.4k words

Monn menatap benang itu. Benang merah yang terhubung kepada Elara. Benang itu menggantung di langit Eldoria yang kosong, bergetar perlahan sebelum akhirnya bergerak menuju kegelapan di ujung kota. Di bawahnya, ribuan benang lain bersilangan. Ada yang terhubung kepada keluarga. Ada yang menuju teman. Ada yang mengarah kepada orang-orang yang bahkan tidak pernah Monn kenal. Dan semuanya bergerak. Seperti sebuah kota yang sedang menunggu keputusan seseorang. “Pilihlah siapa yang akan kau selamatkan.” Suara Asterion masih terdengar di belakangnya. Monn tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kota itu. “Kalau aku menolak?” Asterion tersenyum. “Tidak ada yang melarangmu.” “Lalu apa yang terjadi kepada mereka?” “Entahlah.” Jawaban itu membuat Monn menoleh. “Entahlah?” “Aku bukan orang yang menentukan hasil ujian ini.” “Lalu siapa?” Asterion tidak menjawab. Monn kembali menatap kota. Di kejauhan, satu benang merah tiba-tiba bergetar. Kemudian benang Elara tertarik. Monn langsung bergerak. “ELARA!” Tubuhnya melesat ke depan. Seraphine mencoba memanggilnya. “Monn!” Namun Monn sudah melompat melewati ambang pintu. --- Kakinya mendarat di jalan batu Eldoria. Tidak ada suara manusia. Tidak ada pedagang. Tidak ada kereta. Tidak ada penjaga. Kota itu seperti sebuah lukisan yang kehilangan penghuninya. Monn mendongak. Benang Elara semakin jauh. Ia mengangkat tangannya. Blood Thread muncul. Satu benang merah menempel pada tangannya. Thread Step. Tubuh Monn tertarik ke depan. Seketika ia berpindah beberapa meter. Kemudian sekali lagi. Dan sekali lagi. Ia mengejar benang tersebut. Namun semakin ia mendekat— semakin banyak benang lain muncul di hadapannya. Monn berhenti. Puluhan orang tiba-tiba muncul di jalan. Bukan tubuh. Hanya bayangan. Seorang anak. Seorang penjaga. Seorang pedagang. Seorang ibu. Seorang bangsawan. Mereka semua memiliki benang yang terhubung ke kegelapan. Kemudian suara terdengar. “Pilih.” Monn mengepalkan tangan. “Ini bukan pilihan.” Tidak ada jawaban. “Kalau kalian ingin aku memilih siapa yang mati, katakan saja.” Kota tetap diam. Salah satu bayangan bergerak. Seorang anak laki-laki berdiri di hadapan Monn. “Kalau kau tidak memilihku, aku akan mati.” Monn menatapnya. “Kau siapa?” “Aku tidak tahu.” “Kenapa aku harus menyelamatkanmu?” “Karena aku akan mati.” Monn mengerutkan kening. “Itu bukan alasan.” Bayangan itu menghilang. Kemudian seorang wanita muncul. “Kalau kau menyelamatkan orang lain, anakku akan mati.” Monn kembali diam. Kemudian muncul seorang pria. “Kalau kau menyelamatkan mereka, keluargaku akan kehilangan rumah.” Yang lain muncul. “Kalau kau memilihnya, aku akan mati.” “Kalau kau memilih dia, saudaraku mati.” “Kalau kau memilih kami, mereka mati.” Suara-suara itu semakin banyak. Monn memejamkan mata. Ini bukan ujian tentang siapa yang bisa ia selamatkan. Ini ujian tentang apakah ia bersedia menerima aturan yang dibuat orang lain. Ia membuka mata. “Aku tidak akan memilih.” Semua bayangan menghilang. Kota kembali kosong. Asterion muncul beberapa meter di depannya. “Kau menolak.” “Ya.” “Kenapa?” “Karena aku tidak tahu siapa yang sebenarnya membutuhkan pertolongan.” Asterion tersenyum. “Menarik.” “Dan aku tidak menerima premis bahwa hanya ada satu orang yang boleh diselamatkan.” Asterion mengangguk kecil. “Tapi bagaimana jika hanya ada waktu untuk satu?” Monn terdiam. Asterion melanjutkan, “Bagaimana jika saat itu benar-benar terjadi?” Monn menatapnya. “Kalau begitu aku akan memilih berdasarkan apa yang kuanggap benar saat itu.” “Dan jika pilihanmu menyebabkan orang lain mati?” “Aku akan menanggung konsekuensinya.” Senyum Asterion menghilang. “Bukan jawaban yang mudah.” “Memang tidak.” Monn melihat benang Elara. Benang itu masih ada. Ia menyadari sesuatu. “Ujian ini bukan tentang menyelamatkan Elara.” Asterion tidak menjawab. “Benang itu sengaja dibuat agar aku bereaksi.” “Benar.” Monn menatapnya tajam. “Jadi kau memanfaatkan kelemahanku.” “Tidak.” Asterion menunjuk benang Elara. “Aku menunjukkan kepadamu apa yang akan selalu kau lakukan.” Monn terdiam. “Ketika seseorang yang kau cintai berada dalam bahaya, kau akan berhenti berpikir.” Monn mengerutkan kening. “Tidak.” “Kau baru saja membuktikannya.” Monn tidak membantah. Asterion mendekat. “Dalam kehidupan pertama, kau gagal menyelamatkan orang-orang yang penting bagimu.” Monn mengepalkan tangan. “Jangan bicara seolah kau tahu semuanya.” “Aku tahu cukup banyak.” “Tidak.” Monn mengangkat tangannya. Blood Thread memenuhi jalan. “Aku tidak akan membiarkan masa lalu menentukan caraku bertindak.” Asterion tersenyum. “Bagus.” Kemudian ia menjentikkan jarinya. Ting. Satu benang putus. Benang Elara berubah warna. Dari merah— menjadi hitam. Monn membeku. “Tidak.” Ia langsung bergerak. Namun Asterion tidak menghalangi. Monn mengikuti benang tersebut sampai ke sebuah gang sempit. Di sana— Elara berdiri. Sendirian. Tidak terluka. Tidak terikat. Ia hanya berdiri sambil memegang sebuah bunga kecil. Monn berhenti. “Elara?” Elara mengangkat wajah. “Kak?” Monn langsung menyadari sesuatu. “Ini bukan Elara.” Gadis itu tersenyum. Wajahnya berubah. Rambutnya memanjang. Tubuhnya menjadi bayangan. Asterion muncul di belakang Monn. “Benar.” Monn menatap bayangan itu. “Ilusi.” “Bukan sekadar ilusi.” Bayangan Elara mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih aneh. Sebuah bentuk yang menyerupai Monn. Namun wajahnya kosong. Asterion berkata, “Ini adalah gambaran dari keinginanmu.” Monn menatapnya. “Keinginanku?” “Keinginan untuk memastikan orang-orang yang kau sayangi selalu aman.” Bayangan itu mendekat. “Kau ingin menyelamatkan mereka.” Monn diam. “Kau ingin menghindari semua kesalahan.” Monn mengepalkan tangan. “Kau ingin memiliki cukup kekuatan sehingga tidak ada seorang pun yang bisa mengambil mereka darimu.” Blood Thread di tangan Monn bergerak. Ia hampir menarik benang bayangan itu. Namun berhenti. Ia teringat Lucien. Seraphine. Caelum. Noctis. Dan terutama— dirinya sendiri. Ia perlahan menurunkan tangan. “Aku tidak membutuhkan kekuatan untuk menjamin semuanya.” Asterion menatapnya. Monn melanjutkan, “Kalau aku memilih hidupku sendiri, itu berarti aku juga harus menerima bahwa aku tidak bisa mengatur hidup orang lain.” Bayangan tersebut pecah. Bukan menjadi debu. Melainkan menjadi ribuan benang tipis yang menghilang ke udara. Asterion terdiam. Monn menatapnya. “Ujian ini selesai?” Asterion tersenyum. “Belum.” Monn mengerutkan kening. Tiba-tiba suara Seraphine terdengar dari kejauhan. “MONN!” Monn berbalik. Di ujung jalan— Seraphine berdiri. Namun ada sesuatu yang salah. Matanya kosong. Benang merah mengelilingi tubuhnya. Lucien berdiri di sampingnya. Edrin. Caelum. Evelyne. Bahkan Mortis. Semuanya muncul. Dan semua memiliki benang yang mengarah kepada satu titik. Monn. Asterion berkata, “Sekarang bagian sebenarnya.” Monn melihat benang-benang itu. “Siapa yang mengendalikannya?” Asterion menjawab, “Tidak ada.” Monn terdiam. “Lalu kenapa mereka terhubung kepadaku?” “Karena kau yang menghubungkan mereka.” Monn menatap tangannya. Blood Thread. Ia baru sadar. Sejak awal— ia terus menarik benang. Sedikit demi sedikit. Setiap kali ia menggunakan kemampuan itu untuk membantu seseorang. Setiap kali ia mencoba mencegah tragedi. Setiap kali ia memengaruhi keputusan orang lain. Ia membuat hubungan baru. Dan sekarang— semua hubungan itu kembali kepadanya. Seraphine melangkah maju. “Monn.” Monn menatapnya. “Pilih.” “Tidak.” “Pilih aku.” “Tidak.” “Pilih keluargamu.” “Tidak.” “Pilih dirimu sendiri.” Monn terdiam. Suara itu tidak datang dari Seraphine. Bukan dari Lucien. Bukan dari Asterion. Melainkan dari Noctis. Monn menoleh. Noctis berdiri di belakangnya. “Pilih dirimu sendiri.” Monn menatapnya. “Bukankah itu egois?” Noctis menggeleng. “Memilih dirimu sendiri tidak selalu berarti mengorbankan orang lain.” “Lalu apa?” “Berhenti berpikir bahwa hidupmu harus selalu menjadi alat untuk menyelamatkan semua orang.” Monn terdiam. Noctis menunjuk benang di depan Monn. “Kau terus mencari cara untuk memastikan tidak ada seorang pun yang terluka.” Monn melihat semua benang itu. “Kau takut kehilangan mereka.” Monn mengangguk perlahan. “Ya.” “Dan ketakutan itu membuatmu ingin mengendalikan mereka.” Monn menutup mata. “Ya.” “Kalau begitu putuskan.” Monn membuka mata. Ia mengangkat tangannya. Blood Thread berkumpul. Semua orang menatapnya. Seraphine. Lucien. Evelyne. Elara. Mortis. Noctis. Asterion. Caelum. Semua menunggu. Monn bisa menarik semua benang. Ia bisa membuat mereka tunduk. Ia bisa memastikan tidak ada yang meninggalkannya. Ia bisa membuat semuanya berjalan sesuai keinginannya. Hanya satu tarikan. Satu keputusan. Satu kekuatan. Namun Monn menurunkan tangannya. “Aku tidak akan melakukannya.” Asterion bertanya, “Kenapa?” Monn menatap seluruh kota. “Karena aku sudah pernah menjalani hidup yang dikendalikan orang lain.” Ia menarik napas. “Aku tidak akan mengubah hidupku menjadi penjara untuk orang lain hanya karena aku takut kehilangan mereka.” Semua benang mulai memudar. Satu per satu. Namun satu benang tetap ada. Benang yang terhubung kepada Noctis. Monn menatapnya. Noctis tersenyum. “Yang itu?” Monn menjawab, “Aku tidak tahu.” “Bagus.” Monn mengerutkan kening. “Kenapa kau terus mengatakan itu?” “Karena ketidaktahuan berarti masih ada ruang untuk memilih.” Benang terakhir bergetar. Kemudian— putus. Kota Eldoria menghilang. Monn kembali berdiri di Ruang Asal. Semua orang masih ada. Seraphine langsung menghampirinya. “Monn!” Monn mengangkat tangan. “Aku tidak apa-apa.” Asterion berdiri di depan pintu. Wajahnya kali ini tidak tersenyum. “Ujian ketiga selesai.” Monn menatapnya. “Dan hasilnya?” Asterion menjawab: “Kau gagal menyelamatkan siapa pun.” Monn diam. Asterion melanjutkan, “Dan untuk pertama kalinya... itu mungkin pilihan yang benar.” Monn tidak menjawab. Ia hanya menatap kedua tangannya. Tidak ada benang yang ia tarik. Tidak ada orang yang ia kendalikan. Untuk sesaat— ia merasa ringan. Namun kemudian Mortis berbicara. “Monn.” “Apa?” Mortis menunjuk lantai. Sebuah simbol baru muncul. Lingkaran putih. Di tengahnya tertulis satu kalimat: UJIAN KEEMPAT: PILIH APA YANG AKAN KAU KORBANKAN. Monn menatap tulisan itu. Dan kali ini— Noctis tidak tersenyum. Ia justru berkata pelan: “Monn... jangan pilih terlalu cepat.” Monn menoleh. “Kenapa?” Noctis menatap simbol itu. “Karena kali ini, mereka tidak sedang menguji apakah kau bisa memilih.” Ia menatap Monn. “Mereka sedang menguji apakah kau tahu... apa yang sebenarnya milikmu untuk dikorbankan.”

End of Chapter 24