Gelap.
Bukan gelap seperti malam.
Bukan pula gelap seperti ruangan tanpa cahaya.
Ini adalah ketiadaan.
Tidak ada lantai.
Tidak ada langit.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada tubuh.
Monn bahkan tidak bisa merasakan tangannya sendiri.
Ia mencoba bergerak.
Tidak terjadi apa-apa.
Mencoba berbicara.
Tidak ada suara.
Lalu—
tik.
Sesuatu jatuh.
Suara kecil itu terdengar sangat jelas di dalam kehampaan.
Tik.
Kemudian sekali lagi.
Tik.
Monn menoleh, meskipun ia sendiri tidak tahu ke mana.
Sebuah cahaya kecil muncul.
Putih.
Tipis.
Seperti benang yang melayang di tengah ruang kosong.
Monn mendekatinya.
Atau mungkin—
benang itu yang mendekatinya.
Ketika jaraknya semakin dekat, sebuah suara terdengar.
Suara seorang anak.
“Kenapa aku harus meninggalkan sesuatu?”
Monn berhenti.
Ia mengenal suara itu.
Suara dirinya sendiri.
Namun lebih muda.
Jauh lebih muda.
“Karena tidak semua hal bisa dibawa kembali.”
Suara lain menjawab.
Tenang.
Dingin.
Monn mengenal suara itu juga.
Caelum.
Namun kali ini suaranya terdengar lebih muda.
Lebih manusiawi.
Monn mencoba melihat sumber suara.
Cahaya putih di depannya berubah menjadi sebuah ruangan.
Ruang Asal.
Tetapi ruangan itu berbeda.
Dindingnya masih bersih.
Tidak ada retakan.
Tidak ada benang yang berantakan.
Dan di tengah ruangan berdiri seorang anak laki-laki.
Monn.
Dirinya sendiri.
Usianya mungkin sekitar tujuh belas tahun.
Wajah yang sama.
Namun matanya berbeda.
Tidak ada ketenangan.
Tidak ada pengalaman.
Hanya kelelahan seseorang yang baru saja kehilangan segalanya.
Di depannya berdiri Caelum.
Dan di belakang Caelum—
Edrin.
Mortis.
Serta seseorang yang tidak dikenali Monn.
Seorang wanita berambut putih.
Monn menatap pemandangan itu dengan bingung.
“Aku pernah melihat ini.”
Ia akhirnya bisa berbicara.
Namun tidak ada seorang pun di dalam ingatan itu yang mendengarnya.
Itu bukan kejadian nyata.
Itu adalah rekaman.
Atau ingatan.
Atau sesuatu yang berada di antara keduanya.
Monn melihat dirinya yang lebih muda mengangkat kepala.
“Aku ingin kembali.”
Caelum bertanya,
“Untuk apa?”
“Untuk memperbaikinya.”
“Memperbaiki apa?”
“Keluargaku.”
“Lalu?”
“Teman-temanku.”
“Lalu?”
Monn kecil terdiam.
Caelum mendekat.
“Jawab dengan jujur.”
Monn kecil mengepalkan tangan.
“Aku ingin membalas mereka.”
Caelum tersenyum tipis.
“Bagus.”
Monn langsung mengerutkan kening.
“Bagus?”
“Karena itu jawaban yang jujur.”
Caelum kemudian bertanya lagi.
“Jika kau kembali, apakah kau akan melakukan hal yang sama?”
“Tidak.”
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena sekarang aku tahu apa yang akan terjadi.”
“Tidak.”
Caelum menggeleng.
“Kau hanya tahu apa yang sudah terjadi.”
Monn kecil terdiam.
“Jika kau kembali,” lanjut Caelum, “orang-orang akan berubah.”
“Karena aku mengubah masa depan?”
“Bukan hanya itu.”
Caelum menunjuk dada Monn.
“Karena kau sendiri sudah berubah.”
Monn kecil tidak menjawab.
Wanita berambut putih akhirnya berbicara.
“Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan?”
Monn kecil menatapnya.
“Aku ingin memilih sendiri.”
Wanita itu tersenyum.
“Kalau begitu, kau harus membayar harganya.”
Monn kecil menelan ludah.
“Apa?”
“Kenangan.”
Monn langsung menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena jika kau membawa semuanya, kau tidak akan benar-benar hidup untuk kedua kalinya.”
Caelum mengangguk.
“Setiap keputusanmu akan dibandingkan dengan masa lalu.”
“Dan itu buruk?”
“Bayangkan kau berjalan di sebuah jalan sambil terus melihat ke belakang.”
Monn kecil diam.
“Kau akan tahu jalan mana yang pernah membuatmu jatuh,” lanjut Caelum, “tetapi kau juga akan melewatkan jalan baru yang mungkin sebenarnya ingin kau pilih.”
Monn melihat dirinya sendiri menunduk.
“Aku tidak mau melupakan.”
“Tidak semua akan hilang.”
“Lalu apa yang harus kutinggalkan?”
Caelum menunjuk ke dada Monn.
“Rasa takutmu.”
Monn menggeleng.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena rasa takut juga bagian dari diriku.”
Caelum tersenyum.
“Jawaban yang bagus.”
Monn kecil menatapnya.
“Kalau begitu apa yang harus kutinggalkan?”
Ruangan menjadi sunyi.
Kemudian Mortis melangkah maju.
Untuk pertama kalinya, Monn melihat Mortis tanpa jubah hitamnya.
Wujudnya masih seperti bayangan manusia.
Tetapi tidak menakutkan.
Mortis mengulurkan tangannya.
“Bukan rasa takutmu.”
Monn kecil menatapnya.
“Lalu?”
“Keinginan untuk mengendalikan hasil.”
Monn dewasa membeku.
Ia akhirnya mengerti.
Itulah yang ditinggalkannya.
Bukan kenangan.
Bukan kekuatan.
Bukan seseorang.
Melainkan—
keinginan untuk memastikan semuanya berjalan sesuai keinginannya.
Monn kecil menatap tangannya.
“Kalau aku meninggalkan itu... bagaimana aku bisa memastikan keluargaku selamat?”
“Kau tidak bisa.”
“Bagaimana aku bisa memastikan mereka tidak mati?”
“Kau tidak bisa.”
“Bagaimana aku bisa memastikan aku tidak gagal lagi?”
Mortis diam.
Kemudian berkata:
“Kau tidak bisa.”
Monn kecil menunduk.
“Aku benci jawaban itu.”
Mortis menjawab,
“Aku tahu.”
Kemudian Monn kecil mengulurkan tangannya.
Sebuah benang hitam keluar dari dadanya.
Benang itu bergetar hebat.
Monn dewasa melihatnya.
Itu bukan Benang Darah.
Bukan Thread of Origin.
Bukan pula Benang Diri.
Itu adalah sesuatu yang lebih sederhana.
Sebuah keinginan.
Keinginan untuk mengendalikan semuanya.
Monn kecil menggenggam benang itu.
“Aku akan meninggalkannya.”
Benang tersebut putus.
Dan saat itu—
Monn dewasa merasakan sesuatu di dadanya ikut berdenyut.
Ia tersentak.
“Tidak...”
Pemandangan berubah.
Monn melihat dirinya bangun di kehidupan kedua.
Melihat Elara.
Melihat ayahnya.
Melihat Lucien.
Melihat Seraphine.
Melihat semua orang yang ingin ia lindungi.
Kemudian ia melihat dirinya sendiri mulai menggunakan Blood Thread.
Sedikit demi sedikit.
Pertama untuk mengetahui.
Kemudian untuk memengaruhi.
Kemudian untuk mengendalikan.
Monn melihat dirinya menarik benang Garrick.
Kemudian melihat Asterion.
Kemudian Lucien.
Kemudian orang-orang lain.
Setiap kali ia berkata kepada dirinya sendiri:
“Ini perlu.”
“Aku hanya melindungi mereka.”
“Aku tahu apa yang akan terjadi.”
“Aku harus melakukannya.”
Monn menatap semuanya dengan wajah pucat.
Ia mulai memahami sesuatu yang selama ini tidak ia sadari.
Ia memang meninggalkan keinginan untuk mengendalikan hasil.
Tetapi ketika kembali—
ia mulai membangunnya lagi.
Sedikit demi sedikit.
Pilihan demi pilihan.
Tarikan demi tarikan.
Dan semakin ia menggunakan Blood Thread—
semakin kuat keinginan itu kembali.
Sebuah suara terdengar di belakangnya.
“Sekarang kau mengerti?”
Monn berbalik.
Noctis berdiri di sana.
Namun kali ini bentuknya berbeda.
Ia terlihat seperti Monn.
Bukan bayangan.
Bukan monster.
Bukan manifestasi.
Hanya seorang anak laki-laki dengan wajah Monn.
“Apa yang kau tinggalkan bukan sesuatu yang hilang.”
Monn menatapnya.
“Lalu apa?”
“Pintu.”
“Pintu?”
Noctis mengangguk.
“Pintu untuk kembali.”
Monn mengerutkan kening.
“Tidak masuk akal.”
“Ketika kau meninggalkan keinginan untuk mengendalikan semuanya, kau menciptakan kemungkinan untuk memilih.”
Noctis menunjuk ke arah kenangan.
“Namun ketika kau mulai mengendalikan orang lain di kehidupan kedua...”
Pemandangan berubah.
Benang merah memenuhi seluruh ruangan.
Monn berdiri di tengahnya.
Puluhan.
Ratusan.
Ribuan.
Semua terhubung kepadanya.
Dan di antara semuanya ada satu benang yang jauh lebih tebal.
Benang itu terhubung ke dadanya sendiri.
Noctis berkata:
“Kau mulai menjadi orang yang dulu ingin kau hindari.”
Monn mengepalkan tangan.
“Aku berbeda.”
“Benarkah?”
“Aku melakukannya demi mereka.”
“Apakah mereka memintamu?”
Monn terdiam.
“Tidak.”
“Apakah mereka selalu setuju?”
“Tidak.”
“Apakah kau memberi mereka kesempatan memilih?”
Monn tidak menjawab.
Noctis mendekat.
“Lalu apa yang berbeda?”
Monn mengangkat wajah.
“Aku...”
Tidak ada jawaban.
Untuk pertama kalinya, ia tidak bisa membela tindakannya sendiri.
Noctis tidak menyerangnya.
Tidak menyalahkannya.
Ia hanya berkata:
“Kau tidak menjadi monster karena menggunakan Blood Thread.”
Monn menatapnya.
“Kau menjadi seperti monster ketika mulai percaya bahwa hanya dirimu yang berhak menentukan apa yang terbaik bagi semua orang.”
Kalimat itu menembus lebih dalam daripada ancaman apa pun.
Tiba-tiba suara Caelum terdengar dari kejauhan.
“Cukup.”
Noctis menoleh.
Caelum muncul dari kegelapan.
“Dia belum siap.”
Noctis menjawab,
“Kalau begitu jangan sembunyikan lagi.”
Caelum menatap Monn.
“Kau ingin tahu apa yang terjadi pada kehidupan pertamamu?”
Monn mengangguk.
“Ya.”
Caelum mengangkat tangan.
Sebuah gambaran muncul.
Monn melihat dirinya yang lebih tua.
Berdiri di depan seseorang.
Seseorang yang wajahnya tidak terlihat.
Monn sedang memegang Blood Thread.
Namun bukan untuk menyerang.
Ia sedang menarik sebuah benang.
Satu tarikan.
Kemudian—
sebuah kota berubah.
Orang-orang yang seharusnya bertemu tidak bertemu.
Seseorang yang seharusnya hidup mati.
Seseorang yang seharusnya mati hidup.
Monn dewasa menatap hasilnya.
Kemudian berbisik:
“Aku berhasil.”
Gambaran berhenti.
Monn menatap Caelum.
“Apa itu?”
“Bagian dari kehidupan pertamamu yang tidak kau ingat.”
Monn merasa dadanya sesak.
“Jadi aku memang pernah menggunakan Blood Thread?”
“Ya.”
“Seberapa jauh?”
Caelum tidak menjawab.
Monn menatapnya.
“Jawab.”
Caelum akhirnya berkata,
“Cukup jauh untuk membuat seseorang harus menghapus ingatanmu sendiri.”
Monn membeku.
“Siapa yang menghapusnya?”
Caelum menatap Noctis.
Noctis tidak berkata apa-apa.
Kemudian sebuah suara terdengar.
Bukan dari Caelum.
Bukan dari Noctis.
Bukan dari Mortis.
Melainkan dari seluruh ruangan.
“Aku.”
Monn mengangkat kepala.
Benang putih muncul kembali.
Namun kali ini—
benang itu tidak berada di luar dirinya.
Benang itu keluar dari dalam dadanya.
Monn memegang dadanya.
“Apa...?”
Suara itu berkata:
“Kau meminta agar aku menghapus bagian dari dirimu yang tidak sanggup kau terima.”
Monn menatap kegelapan.
“Siapa kau?”
Tidak ada jawaban.
Hanya satu kalimat terakhir.
“Aku adalah bagian dari dirimu yang memilih sebelum kau sadar bahwa kau sedang memilih.”
Monn membuka mata.
Ia kembali berada di Ruang Asal.
Semua orang masih di sana.
Seraphine memegang bahunya.
“Monn!”
Monn menarik napas panjang.
Ia melihat Caelum.
Evelyne.
Edrin.
Lucien.
Asterion.
Mortis.
Noctis.
Kemudian melihat kedua tangannya.
Tidak ada luka.
Tidak ada darah.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Sebuah benang baru terlihat di depan matanya.
Benang tipis berwarna abu-abu.
Menghubungkan dirinya—
kepada dirinya sendiri.
Monn menatapnya lama.
Noctis berdiri di sampingnya.
“Sekarang kau sudah melihat.”
Monn mengangguk perlahan.
“Ya.”
“Dan?”
Monn mengepalkan tangan.
“Aku masih belum tahu siapa yang sebenarnya mengembalikanku.”
Noctis tersenyum.
“Bagus.”
Monn menatapnya.
“Kenapa bagus?”
“Karena sekarang kau punya alasan untuk mencari jawabannya.”
Monn menggeleng.
“Bukan.”
Noctis terdiam.
“Aku tidak akan mencari jawabannya hanya karena seseorang ingin aku mencarinya.”
Monn memandang semua orang di ruangan.
“Aku akan mencari jawabannya karena aku sendiri yang memilih untuk tahu.”
Untuk sesaat, tidak ada seorang pun berbicara.
Lalu—
Asterion tersenyum.
“Sekarang ujian ketiga bisa dimulai.”
Monn menoleh.
“Ujian ketiga?”
Asterion mengangkat tangan.
Pintu Ruang Asal terbuka.
Di luar—
tidak ada lorong.
Tidak ada tangga.
Tidak ada jalan keluar.
Yang terlihat hanya sebuah kota.
Kota Eldoria.
Namun kota itu kosong.
Dan di langitnya tergantung ribuan benang merah.
Asterion berkata:
“Pilihlah siapa yang akan kau selamatkan.”
Monn menatap kota itu.
Kemudian melihat satu hal yang membuat wajahnya berubah.
Di antara ribuan benang—
ada benang milik Elara.
Dan benang itu sedang menuju kegelapan.