Chapter 22 of 51
Chapter 22 — Orang yang Seharusnya Sudah Mati
1.2k words
Monn tidak bergerak.
Untuk beberapa detik, bahkan pikirannya seolah berhenti.
Wanita itu berdiri di belakang Asterion.
Rambut hitam panjang.
Kulit pucat.
Mata merah gelap yang menatap Monn dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Bukan kebencian.
Bukan kemarahan.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih berat.
Kerinduan.
“...Tidak mungkin.”
Suara Monn nyaris tidak terdengar.
Seraphine menatapnya.
“Monn, siapa dia?”
Monn tidak menjawab.
Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.
Dalam kehidupan pertamanya, wanita itu telah mati.
Bukan sekadar mati.
Kematian wanita itu adalah salah satu peristiwa yang paling sering muncul dalam mimpi Monn selama bertahun-tahun.
Ia mengingat malam itu.
Jeritan.
Rumah yang terbakar.
Darah di lantai.
Dan dirinya yang datang terlambat.
Namun ia tidak akan mengingat bagian itu terlalu lama.
Bukan karena takut.
Melainkan karena ia tahu satu hal.
Wanita itu seharusnya tidak berada di sini.
Asterion tersenyum kecil.
“Sepertinya kau mengenalinya.”
Monn menatapnya tajam.
“Siapa dia?”
Asterion tidak menjawab.
Wanita itu sendiri yang berbicara.
“Bukankah seharusnya kau yang menjawabnya?”
Monn menatap matanya.
Suara itu.
Cara berbicaranya.
Bahkan jeda kecil di antara kata-katanya.
Semuanya sama.
“...Ibu?”
Seraphine langsung terdiam.
Lucien menatap Monn.
Edrin tampak terkejut.
Bahkan Mortis tidak bergerak.
Wanita itu tersenyum sedih.
“Sudah lama sekali, Monn.”
Monn mundur satu langkah.
“Tidak.”
Tangannya mengepal.
“Tidak mungkin.”
Duchess Evelyne Veylcrest.
Ibunya.
Dalam kehidupan pertama, Evelyne meninggal sebelum Monn mencapai usia dewasa.
Dan dalam kehidupan kedua, ia masih hidup.
Namun wanita yang berdiri di hadapannya—
memiliki wajah yang sama.
Hanya ada satu perbedaan.
Tidak ada satu pun benang yang terlihat menghubungkannya dengan siapa pun.
Bahkan Blood Thread Monn tidak mampu menemukan ujungnya.
Monn langsung memahami sesuatu.
“Kenapa kau tidak memiliki benang?”
Evelyne menatap tangannya sendiri.
“Aku pernah memilikinya.”
“Pernah?”
“Sudah lama.”
Asterion menyela.
“Orang yang berdiri di hadapanmu bukan sepenuhnya orang yang sama dengan yang kau ingat.”
Monn menatap Asterion.
“Apa maksudmu?”
“Pertanyaan yang lebih tepat adalah...”
Asterion melangkah masuk.
“...kehidupan mana yang sedang kau lihat?”
Ruangan menjadi sunyi.
Monn merasakan sesuatu bergerak di dadanya.
Benang.
Bukan satu.
Banyak.
Namun semuanya saling bertabrakan.
Ia mencoba melihat Evelyne melalui Blood Thread.
Sekejap—
penglihatannya berubah.
Ia melihat dua sosok Evelyne.
Yang pertama berdiri di sisinya saat kecil.
Yang kedua berdiri di hadapannya sekarang.
Keduanya sama.
Tetapi benang kehidupan mereka berbeda.
Monn menarik napas.
“Dia bukan ibuku dari kehidupan pertamaku.”
Evelyne tersenyum.
“Benar.”
Monn membeku.
“Lalu siapa kau?”
“Aku adalah seseorang yang seharusnya menjadi ibumu.”
Jawaban itu membuat Monn semakin bingung.
“Apa maksudmu?”
Asterion tertawa kecil.
“Sekarang kau mengerti mengapa masa depan tidak bisa diperlakukan seperti catatan sejarah?”
Monn tidak peduli pada Asterion.
Tatapannya tetap pada Evelyne.
“Jelaskan.”
Evelyne berjalan perlahan mendekat.
Namun Monn mengangkat tangan.
“Jangan.”
Ia berhenti.
“Aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu.”
Evelyne mengangguk.
“Bagus.”
Monn terkejut.
“Bagus?”
“Kalau kau langsung percaya kepadaku hanya karena aku memakai wajah ibumu, berarti semua yang kau pelajari selama ini tidak ada gunanya.”
Monn terdiam.
Caelum tersenyum samar dari sudut ruangan.
“Sekarang kau mulai memahami ujian sebenarnya.”
Monn menoleh.
“Jangan ikut campur.”
Caelum tidak membantah.
Evelyne memandang Caelum.
“Kau masih melakukan hal yang sama.”
Caelum menjawab tenang.
“Aku hanya melihat.”
“Tidak.”
Evelyne menggeleng.
“Kau selalu mengatakan itu.”
Ruangan kembali sunyi.
Monn memperhatikan keduanya.
Mereka jelas saling mengenal.
Dan hubungan mereka bukan hubungan baru.
“Kalian sudah mengenalku sejak sebelum aku kembali.”
Caelum menjawab,
“Ya.”
“Berapa lama?”
“Lebih lama daripada yang bisa kau ingat.”
Monn menatap Edrin.
“Dan kau?”
Edrin menghela napas.
“Aku tahu ada sesuatu yang terjadi di Ruang Asal. Tetapi aku tidak pernah tahu seluruh kebenarannya.”
Monn merasa semakin frustrasi.
Semua orang tampaknya mengetahui sebagian cerita.
Tidak ada yang mau memberinya keseluruhan.
Ia menatap tangannya.
Benang merah muncul di antara jarinya.
Kemudian Blood Thread mulai menyebar.
Seraphine langsung memperhatikan.
“Monn.”
“Aku hanya ingin satu jawaban.”
Ia menatap Evelyne.
“Apakah kau benar-benar ibuku?”
Evelyne diam.
Kemudian mengangguk.
“Ya.”
Monn mengerutkan kening.
“Tapi bukan dari kehidupan yang kuingat.”
“Benar.”
“Jadi bagaimana kau bisa ada di sini?”
Evelyne menatap Ruang Asal.
“Karena aku tidak pernah mati di kehidupan ini.”
Monn terdiam.
Kalimat sederhana itu justru terasa paling mengerikan.
Bukan karena kematian.
Tetapi karena menunjukkan sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Kehidupan kedua bukan pengulangan kehidupan pertama.
Ia sudah tahu itu.
Namun sekarang ia melihat bukti yang jauh lebih jelas.
Orang-orang bisa berubah.
Hubungan bisa berubah.
Nasib bisa berubah.
Dan bahkan kematian seseorang tidak lagi menjadi kepastian.
Monn menatap Evelyne.
“Apakah kau tahu apa yang akan terjadi?”
“Tidak.”
“Apakah kau tahu aku akan kembali?”
Evelyne diam beberapa detik.
“Tidak.”
“Lalu kenapa kau menungguku?”
“Karena seseorang memberitahuku bahwa suatu hari kau akan datang.”
“Siapa?”
Evelyne menatap Caelum.
Caelum tidak berkata apa-apa.
Monn langsung mengerti.
“Caelum.”
“Bukan.”
Caelum menggeleng.
“Bukan aku.”
Monn menatapnya tajam.
“Lalu siapa?”
Caelum menunjuk ke arah Noctis.
Monn perlahan menoleh.
Noctis berdiri di belakangnya.
Diam.
Tidak seperti biasanya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada komentar.
Hanya menatap Evelyne.
Evelyne juga menatap Noctis.
Ekspresinya berubah.
Untuk pertama kalinya sejak muncul—
ia terlihat takut.
“Jadi kau masih di sini.”
Noctis menjawab pelan.
“Aku tidak pernah pergi.”
Monn menatap keduanya.
“Kalian saling mengenal?”
Noctis tidak menjawab.
Evelyne juga tidak.
Monn merasakan sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Ia memanggil Blood Thread.
Puluhan benang muncul.
Kemudian ia mengarahkan pandangannya pada Noctis.
Tidak ada benang.
Pada Evelyne—
juga tidak ada.
Namun ada sesuatu yang lain.
Sebuah garis sangat tipis.
Bukan merah.
Bukan putih.
Bukan hitam.
Garis itu hampir transparan.
Menghubungkan Noctis dan Evelyne.
Monn membeku.
“Benang...”
Noctis menatapnya.
“Jangan.”
Monn menatap garis itu.
“Kenapa?”
“Karena kalau kau menyentuhnya, kau akan mengingat sesuatu yang belum waktunya kau ingat.”
Monn menatap Noctis.
“Jadi kau juga menyembunyikan sesuatu dariku?”
Noctis menggeleng.
“Aku tidak menyembunyikannya.”
“Lalu?”
“Aku tidak ingin menjadi alasan kau kehilangan pilihan lagi.”
Monn terdiam.
Kalimat itu terasa berbeda dari biasanya.
Noctis melangkah mendekat.
“Monn.”
“Apa?”
“Dulu kau meminta satu hal.”
“Apa?”
“Jangan biarkan siapa pun memilih untukmu.”
Monn menatapnya.
“Termasuk dirimu sendiri?”
Noctis tersenyum tipis.
“Terutama aku.”
Monn terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia melihat Noctis bukan sebagai musuh.
Bukan sebagai bagian dari dirinya yang harus dikalahkan.
Melainkan sebagai sesuatu yang selama ini mencoba mencegah Monn mengulangi kesalahan yang sama.
Namun sebelum Monn bisa berkata apa pun—
BRAK!
Pintu Ruang Asal tertutup keras.
Benang putih di seluruh dinding menyala.
Asterion langsung menoleh.
“Sudah dimulai.”
Edrin berdiri.
“Apa?”
Asterion tidak menjawab.
Satu lingkaran besar muncul di lantai.
Semua benang yang berada di ruangan mulai bergerak menuju pusat.
Monn merasakan Blood Thread di dalam tubuhnya bergetar.
Mortis mengangkat kepalanya.
“Monn.”
“Apa?”
“Jangan tarik apa pun.”
Monn menatapnya.
“Kenapa?”
Mortis menunjuk pusat lingkaran.
“Karena kali ini...”
Bayangan besar muncul di belakang Monn.
Lebih besar daripada sebelumnya.
Lebih gelap.
Lebih dekat.
Mortis berbisik:
“...benang itu sedang menarikmu.”
Monn menatap lantai.
Satu benang putih keluar dari tubuhnya.
Bukan menuju orang lain.
Bukan menuju Ruang Asal.
Benang itu turun ke bawah.
Ke dalam tanah.
Dan dari kedalamannya—
terdengar suara.
Suara Monn sendiri.
Namun lebih muda.
Lebih lemah.
Lebih ketakutan.
“Kalau kau ingin kembali...”
Monn membeku.
Suara itu melanjutkan.
“...kau harus meninggalkan sesuatu.”
Monn menatap Noctis.
Noctis menatap balik.
Kemudian Noctis berkata pelan:
“Sekarang kau akan tahu apa yang kau tinggalkan.”
Benang putih itu tiba-tiba putus.
Dan seluruh dunia Monn menjadi gelap.