Chapter 21 of 51
Chapter 21 — Ingatan yang Bukan Milikku
1.2k words
Tangga menuju Ruang Asal terasa lebih panjang daripada sebelumnya.
Monn berjalan paling depan.
Di belakangnya ada Seraphine, Lucien, Edrin, dan Mortis.
Tidak ada yang berbicara.
Bahkan langkah kaki mereka terasa terlalu keras di dalam lorong yang sunyi.
Monn terus melihat benang putih di depannya.
Benang itu tidak menariknya.
Tidak memaksa.
Hanya menunjukkan arah.
Dan justru itu yang membuatnya lebih gelisah.
Karena kali ini tidak ada siapa pun yang memerintahkannya.
Ia sendiri yang memilih untuk mengikuti.
“Monn.”
Suara Edrin terdengar dari belakang.
Monn berhenti.
“Apa?”
“Aku ingin kau mendengar sesuatu sebelum kita sampai.”
Monn berbalik.
Edrin menatapnya dengan serius.
“Jika kau melihat sesuatu yang tidak kau ingat, jangan langsung percaya bahwa itu benar.”
Monn mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena ingatan bukan bukti mutlak.”
Lucien menambahkan,
“Terutama setelah apa yang terjadi padamu.”
Monn mengangguk.
“Aku mengerti.”
Seraphine menatap Edrin.
“Apakah kau tahu apa yang sebenarnya terjadi di Ruang Asal?”
Edrin diam cukup lama.
“Aku tahu sebagian.”
“Sebagian?”
“Tidak ada seorang pun yang tahu semuanya.”
Mortis tiba-tiba berkata,
“Itu benar.”
Monn menoleh.
“Kau juga?”
Mortis tidak menjawab.
Monn menatapnya beberapa detik.
Kemudian melanjutkan perjalanan.
---
Pintu Ruang Asal akhirnya terlihat.
Namun kali ini berbeda.
Sebelumnya, pintu itu hanya berupa batu tua dengan simbol putih.
Sekarang seluruh permukaannya dipenuhi garis.
Benang.
Ratusan.
Mungkin ribuan.
Semua mengarah ke pusat pintu.
Monn mendekat.
Benang putih di dadanya bergerak.
Satu garis keluar dari tubuhnya dan menyatu dengan pintu.
Klik.
Pintu terbuka.
Udara dingin keluar dari dalam.
Monn melangkah masuk.
Ruangan itu masih sama.
Meja.
Kursi.
Dinding putih.
Tidak ada jendela.
Namun kali ini terdapat sesuatu yang baru.
Empat kursi.
Satu di tengah.
Tiga di belakang.
Di atas kursi tengah terdapat sebuah benda.
Sebuah mahkota kecil berwarna putih.
Monn mendekat.
“Ini apa?”
Edrin langsung berhenti.
“Aku tidak pernah melihatnya.”
Monn menoleh.
“Bukankah kau yang membuat catatan tentang ruangan ini?”
“Ya.”
“Lalu bagaimana mungkin kau tidak pernah melihatnya?”
Edrin tidak menjawab.
Monn mengangkat tangannya.
Sebelum menyentuh mahkota itu—
suara terdengar.
“Jangan.”
Semua orang membeku.
Suara itu datang dari sudut ruangan.
Sosok berambut putih muncul dari kegelapan.
Orang yang sama.
Orang yang ditemui Monn pada akhir kehidupan sebelumnya di ingatan samar.
Orang yang mengatakan bahwa ia adalah orang pertama yang membuat Monn kembali.
Ia duduk dengan tenang.
Seolah telah menunggu mereka.
Monn menatapnya.
“Kau.”
Sosok itu tersenyum.
“Lama sekali.”
Monn tidak menjawab.
Edrin maju.
“Siapa kau?”
Sosok itu memandang Edrin.
“Kau masih menanyakan pertanyaan yang sama.”
Edrin membeku.
“Kita pernah bertemu?”
“Bukan seperti yang kau pikirkan.”
Sosok itu berdiri.
“Aku mengenalmu.”
Ia menatap Monn.
“Aku mengenalnya.”
Kemudian melihat Mortis.
“Dan aku mengenalmu.”
Mortis tidak bergerak.
Monn langsung menyadari sesuatu.
“Caelum.”
Sosok itu mengangguk.
“Caelum bukan satu-satunya.”
Monn menatapnya.
“Siapa kau?”
Senyum itu menghilang.
“Aku dipanggil banyak nama.”
“Nama aslimu?”
“Aku sudah tidak menggunakannya.”
“Kenapa?”
“Karena nama adalah benang.”
Monn terdiam.
Sosok itu melanjutkan,
“Semakin banyak orang mengenal namamu, semakin banyak hubungan yang terbentuk.”
Ia menyentuh dadanya.
“Aku memutus semuanya.”
Monn langsung teringat Asterion.
“Seperti Asterion.”
Sosok itu tersenyum.
“Asterion mempelajarinya dariku.”
Ruangan menjadi sunyi.
Edrin langsung menatapnya.
“Jadi kau gurunya?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Pengamat.”
Monn mengerutkan kening.
“Pengamat?”
“Orang yang melihat pilihan manusia tanpa ikut memilih.”
Monn menatapnya tajam.
“Kalau begitu kenapa kau mengembalikanku?”
Sosok itu tersenyum tipis.
“Aku tidak mengembalikanmu.”
Monn terdiam.
“Lalu siapa?”
Sosok itu menunjuk kursi di tengah.
“Duduk.”
Monn tidak bergerak.
“Aku tidak akan duduk sebelum kau menjawab.”
“Bagus.”
Sosok itu tersenyum.
“Setidaknya sekarang kau belajar bertanya sebelum mengikuti.”
Monn mengerutkan kening.
“Kau tahu aku.”
“Lebih dari yang seharusnya.”
“Dari mana?”
“Dari kehidupan pertamamu.”
Monn menegang.
Sosok itu berjalan mendekat.
“Pada malam sebelum kau mati, kau datang ke sini.”
“Aku tidak ingat.”
“Memang.”
“Kenapa?”
“Karena kau meminta agar ingatan itu dihapus.”
Monn terdiam.
“Aku?”
“Ya.”
“Kenapa aku meminta itu?”
Sosok tersebut menatapnya.
“Karena kau takut.”
Monn mengepalkan tangan.
“Aku tidak takut.”
“Kau takut mengetahui bahwa pilihanmu sendiri telah membawa hidupmu ke titik itu.”
Monn terdiam.
Kalimat itu terasa seperti pukulan.
Sosok tersebut melanjutkan.
“Ketika kau menyadari bahwa sebagian tragedi dalam kehidupan pertamamu berasal dari keputusanmu sendiri, kau tidak mampu menerimanya.”
Monn menggeleng.
“Tidak.”
“Kau ingin percaya bahwa semua itu kesalahan orang lain.”
Monn tidak menjawab.
“Jadi kau meminta satu hal.”
“Apa?”
“Kesempatan untuk memulai lagi.”
Monn menatapnya.
“Dan kau memberikannya?”
“Tidak.”
“Lalu siapa?”
Sosok itu menunjuk Mortis.
Monn menoleh.
Mortis berdiri diam.
“Kau.”
Mortis tidak menjawab.
“Kau yang membawaku kembali?”
Mortis akhirnya berkata,
“Aku membawa keinginanmu.”
“Bukan aku?”
“Bukan.”
“Lalu siapa yang memilih?”
Mortis terdiam.
Monn menatapnya.
“Jawab.”
“Aku tidak tahu.”
Monn membeku.
Mortis melanjutkan,
“Ketika keinginanmu mencapai Thread of Origin, sesuatu merespons.”
“Apa?”
“Dirimu sendiri.”
Monn terdiam.
Sosok berambut putih itu berkata,
“Sekarang kau mulai mengerti.”
Monn menatapnya.
“Diriku sendiri?”
“Bagian dari dirimu yang tidak menerima kematian.”
Noctis.
Monn langsung teringat bayangan itu.
“Tapi Noctis baru muncul setelah aku kembali.”
“Tidak.”
Sosok itu menggeleng.
“Dia sudah ada sejak kehidupan pertama.”
Monn merasa tubuhnya kaku.
“Di mana?”
“Di dalam pilihan yang tidak pernah kau ambil.”
Ruangan menjadi sunyi.
Sosok itu berjalan menuju salah satu dinding.
Ia menyentuh permukaannya.
Seketika dinding berubah menjadi seperti permukaan air.
Sebuah gambaran muncul.
Monn melihat dirinya sendiri.
Lebih tua.
Berusia sekitar tiga puluh satu tahun.
Berdiri sendirian di sebuah ruangan gelap.
Wajahnya terlihat lelah.
Di depannya berdiri sosok lain.
Noctis.
Namun Noctis tidak memiliki wajah yang sama seperti sekarang.
Ia lebih kecil.
Lebih muda.
Seperti bayangan seorang anak.
Monn melihat dirinya berbicara.
“Aku tidak ingin mati seperti ini.”
Noctis menjawab.
“Kalau begitu pilih.”
Monn dalam gambaran itu menangis.
Kemudian berkata:
“Aku ingin hidupku menjadi milikku.”
Gambaran berubah.
Monn melihat dirinya menyentuh sebuah benang putih.
Kemudian—
semuanya menjadi gelap.
Monn tersentak.
Ia mundur.
“Nggak...”
Seraphine mendekat.
“Monn.”
“Aku ingat.”
Ia memegang kepalanya.
“Aku ingat sedikit.”
Edrin menatapnya.
“Apa?”
Monn mengangkat wajah.
“Aku bukan meminta untuk kembali.”
Semua orang diam.
“Aku meminta untuk memilih.”
Sosok berambut putih mengangguk.
“Benar.”
Monn menatapnya.
“Lalu siapa yang memilih untuk mengembalikanku?”
Sosok itu menunjuk dirinya sendiri.
“Bukan aku.”
Kemudian menunjuk Mortis.
“Bukan dia.”
Lalu menunjuk Noctis yang mulai muncul di belakang Monn.
“Bukan dia.”
Monn terdiam.
“Lalu siapa?”
Sosok tersebut menatap langsung ke mata Monn.
“Kau.”
Monn membeku.
“Kau sendiri yang memilih untuk kembali.”
Sosok itu melanjutkan,
“Namun kau tidak pernah memilih bagaimana kehidupan keduamu akan berjalan.”
Monn menatap benang putih.
Benang itu mulai bercabang.
Satu menuju masa lalu.
Satu menuju masa kini.
Satu menuju sesuatu yang belum terjadi.
Dan satu—
menuju Noctis.
Sosok itu berkata pelan,
“Itulah bagian yang belum kau pahami.”
“Apa?”
“Regression bukan hadiah.”
Monn menatapnya.
“Regression adalah pilihan.”
Sosok itu tersenyum.
“Dan setiap pilihan memiliki konsekuensi.”
Tiba-tiba seluruh ruangan bergetar.
Benang-benang putih di dinding bergerak.
Satu demi satu, mereka mulai putus.
Mortis mengangkat kepala.
“Tidak.”
Monn menoleh.
“Apa?”
Mortis menatap pintu.
“Dia datang.”
“Siapa?”
Sebuah suara terdengar dari luar Ruang Asal.
Tenang.
Dingin.
Familiar.
“Sudah waktunya.”
Monn mengenal suara itu.
Asterion.
Pintu terbuka perlahan.
Asterion berdiri di ambang.
Namun kali ini—
ia tidak sendirian.
Di belakangnya berdiri beberapa sosok tanpa benang.
Dan di antara mereka—
ada satu orang yang membuat Monn langsung terdiam.
Seorang wanita berambut hitam.
Wajahnya pucat.
Matanya merah.
Monn mengenalnya.
Sangat mengenalnya.
Ia adalah seseorang yang seharusnya telah meninggal bertahun-tahun lalu.
Seseorang dari kehidupan pertama.
Seseorang yang Monn sendiri yakini tidak mungkin berada di sini.
Asterion tersenyum.
“Sepertinya kau sudah mengingat cukup banyak.”
Monn tidak mampu berkata apa-apa.
Wanita itu menatapnya.
Lalu berkata pelan:
“Monn...”
Suaranya bergetar.
“Aku menunggumu selama dua kehidupan.”