Chapter 20 of 51

Chapter 20 — Benang Milik Siapa?

1.3k words

“Sekarang kita lihat apakah kau benar-benar bisa memilih tanpa mengendalikan.” Suara itu keluar dari mulut Lucien. Namun Monn tahu. Itu bukan Lucien. Monn berdiri beberapa langkah di depannya, menatap kakaknya yang masih berlutut. Benang putih di antara mereka berdenyut. Sekali. Dua kali. Kemudian semakin terang. “Lepaskan dia.” Monn menatap Caelum yang berdiri jauh di luar kediaman. Caelum tidak menjawab. Ia hanya mengangkat satu tangan. Benang merah yang memenuhi langit bergerak seperti gelombang. Beberapa benang turun menuju halaman Veylcrest. Para penjaga berteriak dan mundur. Tidak ada ledakan. Tidak ada kehancuran. Namun setiap kali benang menyentuh seseorang, orang tersebut berhenti bergerak selama beberapa detik. Seolah pikirannya tiba-tiba kehilangan arah. Monn langsung memahami. “Dia tidak menyerang tubuh.” Seraphine berdiri di sampingnya. “Lalu apa?” “Pilihan.” Monn mengepalkan tangan. “Dia sedang mengganggu pilihan mereka.” Seraphine melihat ke halaman. Beberapa penjaga mulai saling menunjuk. Sebagian berlari ke arah yang salah. Sebagian lainnya berdiri tanpa tahu harus melakukan apa. Monn mengaktifkan Blood Thread. Puluhan benang merah muncul. Ia bisa menariknya. Memutusnya. Mengubah arahnya. Bahkan mungkin mengambil alih sementara. Namun jika ia melakukan itu— ia akan melakukan hal yang sama seperti Caelum. Mengendalikan orang lain untuk mendapatkan hasil yang ia inginkan. Monn menurunkan tangannya. “Aku tidak akan melakukannya.” Seraphine menatapnya. “Kalau begitu bagaimana kita menghentikannya?” Monn melihat sekeliling. “Kita tidak menghentikan semua orang.” Ia menunjuk para penjaga. “Kita bantu mereka membuat keputusan sendiri.” Seraphine memahami maksudnya. Ia berbalik. “Semua penjaga! Jangan ikuti suara atau perintah yang tidak kalian kenali! Tetap bersama kelompok kalian masing-masing!” Beberapa penjaga mendengar. Mereka mulai berkumpul. Monn memperhatikan. Benang-benang merah yang sebelumnya kacau mulai kembali stabil. Tidak sepenuhnya. Namun cukup. Caelum yang berada di kejauhan akhirnya berbicara. “Kau belajar cepat.” Monn menatapnya. “Lepaskan Lucien.” “Kenapa?” “Karena ini antara kau dan aku.” Caelum tertawa. “Tidak.” Ia menunjuk Lucien. “Justru dia bagian terpenting.” Monn menatap kakaknya. Lucien masih berlutut. Keringat membasahi wajahnya. “Monn...” Kali ini suara Lucien terdengar normal. Monn langsung mendekat. “Kak?” “Jangan...” Lucien menahan napas. “Jangan gunakan kemampuanmu.” Monn berhenti. “Aku bisa melepaskanmu.” “Aku tahu.” “Kalau begitu—” “Justru itu masalahnya.” Lucien mengangkat kepala. “Kau selalu ingin memperbaiki semuanya.” Monn terdiam. “Kalau kau menarik benang itu sekarang, mungkin kau bisa menghilangkan pengaruhnya.” Lucien tersenyum lemah. “Tapi kau juga akan memilih untukku.” Monn tidak menjawab. Lucien melanjutkan, “Biarkan aku memilih.” Benang putih di antara mereka kembali berdenyut. Monn menatapnya. Untuk sesaat ia ingin menariknya. Sangat ingin. Karena ia tahu caranya. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Satu tarikan. Satu keputusan. Masalah selesai. Namun— itu bukan pilihan Lucien. Monn perlahan menurunkan tangannya. “Baik.” Lucien terkejut. “Kau...” “Aku percaya padamu.” Monn mundur. “Tapi aku tidak akan meninggalkanmu.” Lucien tersenyum. “Itu cukup.” Tiba-tiba tubuh Lucien bergerak. Benang merah melilit lengannya. Matanya berubah kosong. “Tidak.” Monn langsung waspada. Lucien berdiri. Pedangnya terhunus. Seraphine mundur. “Lucien?” Ia mengangkat pedang. Namun arah pedangnya bukan kepada Monn. Ia mengarah ke dirinya sendiri. Monn langsung menyadari. “Dia sedang memaksanya mengambil keputusan!” Caelum tersenyum. “Benar.” Monn menatap kakaknya. “Lucien!” Lucien menggertakkan gigi. Tangannya gemetar. “Aku... masih bisa menahannya.” “Jangan melawan sendirian.” “Aku harus.” “Kenapa?” “Karena ini pilihanku.” Monn terdiam. Lucien mengangkat pedangnya. Namun sebelum melakukan apa pun, ia tiba-tiba menjatuhkan senjata itu. Clang! Pedang jatuh ke lantai. Lucien berlutut. “Aku memilih...” Ia menarik napas. “...untuk tidak mengikuti perintah siapa pun.” Benang merah di tubuhnya bergetar. Kemudian satu per satu— putus. Monn membelalakkan mata. Bukan karena ia menariknya. Bukan karena Blood Thread. Lucien sendiri yang memutuskan. Benang merah terakhir terlepas. Tubuh Lucien jatuh. Monn menangkapnya sebelum menyentuh lantai. “Lucien!” “Aku baik-baik saja.” Monn membantu kakaknya berdiri. Kemudian menatap Caelum. Senyum di wajah Caelum telah hilang. “Kau gagal.” Caelum menggeleng. “Tidak.” Ia melihat Lucien. “Justru aku mendapatkan jawaban yang kubutuhkan.” Monn mengerutkan kening. “Jawaban apa?” “Bahwa manusia bisa memilih bahkan ketika pilihan mereka dipersempit.” Caelum menatap Monn. “Dan kau?” “Apa?” “Kau juga memilih.” Monn diam. Caelum tersenyum tipis. “Menarik.” Ia mulai berbalik. Monn langsung mengejar. “Berhenti!” Blood Thread melesat. Namun sebelum mencapai Caelum— bayangan hitam muncul di antara mereka. Mortis. Benang merah Monn berhenti. Caelum berjalan menjauh. “Jangan kejar aku.” Monn menatapnya. “Kenapa?” “Karena kali ini bukan aku yang harus kau kejar.” Caelum menunjuk ke belakang. Monn berbalik. Di halaman Veylcrest— sebuah lingkaran hitam telah terbentuk. Dari dalamnya muncul sosok berjubah. Satu. Dua. Lima. Sepuluh. Mereka berdiri tanpa bergerak. Tidak menyerang. Tidak berbicara. Hanya menunggu. Monn mengaktifkan Sight. Tidak ada benang. Sama seperti Caelum. Sama seperti Asterion. Sama seperti sosok-sosok lain yang pernah muncul. “Siapa mereka?” Mortis menjawab pelan. “Orang-orang yang sudah memutus benang mereka.” Monn menatap mereka. “Kenapa?” “Karena seseorang sedang membangun sesuatu.” “Apa?” Mortis tidak langsung menjawab. Salah satu sosok berjubah maju. Ia membuka tangannya. Sebuah simbol merah muncul di telapak tangannya. Simbol yang sama dengan token yang ditemukan pada Garrick. Monn membeku. “Veiled Hand?” Mortis menggeleng. “Bukan.” “Lalu siapa?” Sosok berjubah itu akhirnya berbicara. “Kami adalah orang-orang yang tidak ingin benang kami dipegang siapa pun.” Monn menatap mereka. “Lalu kenapa datang ke sini?” Sosok itu menunjuk Monn. “Karena kau adalah orang yang sedang memegang terlalu banyak benang.” Monn tidak menjawab. Sosok itu melanjutkan. “Kau mengira kami datang untuk membunuhmu.” Ia menggeleng. “Kami datang untuk memperingatkanmu.” “Peringatan apa?” Sosok itu menatap benang putih di dada Monn. “Jangan biarkan mereka membawamu ke Ruang Asal untuk kedua kalinya.” Monn membeku. “Untuk kedua kalinya?” Sosok itu berbalik. Sebelum pergi, ia mengatakan satu kalimat: “Karena pertama kali kau masuk ke sana...” Ia berhenti. “...kau tidak kembali sendirian.” Monn menatapnya. “Siapa yang ikut denganku?” Sosok itu tidak menjawab. Namun Mortis tiba-tiba berkata, “Monn.” Monn menoleh. Mortis sedang melihat benang putih. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat berbeda. Untuk pertama kalinya— ada sesuatu seperti ketakutan di matanya. “Jangan dengarkan mereka.” Monn terdiam. “Kenapa?” Mortis tidak menjawab. Monn menatapnya. Kemudian ia sadar. Sosok berjubah tadi mengatakan sesuatu yang sangat spesifik. Pertama kali. Padahal menurut Caelum, Monn baru memasuki Ruang Asal setelah kehidupan kedua dimulai. Kalau begitu— bagaimana mungkin ia sudah pernah masuk sebelumnya? Monn menatap tangannya. Benang putih muncul. Satu jalur. Dua jalur. Tiga. Kemudian benang itu bergerak menuju dadanya sendiri. Monn tiba-tiba merasakan sakit kepala. Sebuah ingatan muncul. Bukan dari kehidupan pertama. Bukan dari kehidupan kedua. Melainkan sesuatu yang bahkan tidak ia kenali. Sebuah ruangan putih. Sebuah meja. Caelum berdiri di sana. Edrin berada di sudut ruangan. Mortis berdiri di belakangnya. Dan Monn— lebih muda. Jauh lebih muda. Ia sedang duduk di kursi. Di depannya terdapat seseorang dengan rambut putih. Orang yang sama dari Ruang Asal. Orang itu menatap Monn dan berkata: “Kalau kau ingin kembali, kau harus meninggalkan sesuatu.” Monn melihat dirinya sendiri mengangguk. Lalu ingatan itu terputus. Monn membuka mata. Napasnya berat. Seraphine memegang bahunya. “Monn?” Monn tidak menjawab. Ia menatap Caelum yang sudah jauh. Lalu Mortis. Lalu Edrin. Terakhir— Lucien. “Aku pernah ke sana.” Edrin membeku. Monn menatapnya. “Ruang Asal.” Edrin tidak menjawab. Monn melangkah mendekat. “Kau tahu.” Edrin menundukkan kepala. “Ya.” “Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?” “Karena aku takut kau mengingatnya.” Monn terdiam. “Kenapa?” Edrin mengangkat wajah. “Karena jika kau mengingat semuanya...” Ia melihat benang putih. “...kau mungkin tidak akan menjadi Monn yang sekarang.” Monn mengepalkan tangan. “Lalu siapa aku sebelumnya?” Tidak ada yang menjawab. Namun dari kejauhan— suara Caelum terdengar sekali lagi. “Pertanyaan yang tepat.” Monn menoleh. Caelum berdiri di atas tembok Veylcrest. Ia tersenyum. “Sekarang kau sudah siap untuk menemukan jawabannya.” Kemudian ia menghilang. Dan pada saat yang sama— benang putih di dada Monn menarik dirinya ke arah Ruang Asal. Kali ini bukan secara paksa. Ia hanya menunjukkan jalan. Monn menatapnya. Kemudian berkata pelan: “Aku akan datang.” Mortis langsung menoleh. “Monn, jangan.” Monn menatapnya. “Kenapa?” Mortis diam. Monn tersenyum tipis. “Karena kau takut aku mengingat sesuatu?” Tidak ada jawaban. Monn berjalan menuju tangga bawah tanah. “Aku sudah terlalu lama hidup berdasarkan apa yang orang lain ingin kusembunyikan dariku.” Ia berhenti sebentar. “Sekarang aku ingin tahu sendiri.” Dan untuk pertama kalinya— Mortis tidak mengatakan apa pun.

End of Chapter 20