Chapter 19 of 51

Chapter 19 — Siapa yang Bisa Dipercaya?

1.2k words

Ruangan itu kembali sunyi. Tidak ada suara langkah. Tidak ada suara bisikan. Hanya satu kalimat yang masih terlihat di lantai. UJIAN KEDUA: PILIH SIAPA YANG AKAN KAU PERCAYAI. Monn menatap tulisan tersebut cukup lama. Kemudian perlahan mengangkat kepalanya. Semua orang di ruangan itu melihatnya. Alaric. Lucien. Seraphine. Elara. Edrin yang baru saja tiba dari lorong bawah tanah. Dan bahkan Mortis, yang berdiri jauh di belakang mereka dengan wajah tersembunyi di balik tudung hitamnya. Monn tertawa kecil. “Jadi begitu.” Seraphine menatapnya. “Apa?” “Dia ingin aku memilih salah satu dari mereka.” “Siapa?” Monn melihat satu per satu. “Entahlah.” Lucien mengerutkan kening. “Kalau begitu jangan pilih.” Monn menoleh. “Bukankah itu juga pilihan?” Lucien terdiam. Monn berjalan mendekati tulisan di lantai. Ia berjongkok dan menyentuh permukaannya. Tulisan itu tidak hilang. Namun sebuah garis baru muncul di bawahnya. KEPERCAYAAN ADALAH BENANG. Monn membaca perlahan. Kemudian muncul kalimat berikutnya. DAN BENANG DAPAT DITARIK. Blood Thread milik Monn langsung bereaksi. Benang merah bermunculan di seluruh ruangan. Benang antara Alaric dan Lucien. Benang antara Seraphine dan Monn. Benang antara Elara dan Monn. Benang antara Edrin dan Alaric. Benang antara Mortis dan Monn. Semua terlihat. Namun ada satu hal yang berbeda. Benang Lucien. Monn menatapnya. Benang itu tidak lagi berwarna merah. Ia berwarna putih. Sama seperti Thread of Origin. “Kenapa...” Monn berdiri. Lucien langsung bertanya, “Apa yang kau lihat?” Monn tidak menjawab. Ia berjalan mendekat. “Lucien.” “Ya?” “Sejak kapan kau mengenal Edrin?” Lucien terdiam. Alaric langsung menoleh. “Apa maksudmu?” Monn tetap menatap kakaknya. “Jawab.” Lucien menarik napas. “Aku tidak mengenalnya.” Monn memperhatikan benang putih itu. Tidak ada perubahan. “Bohong.” Ruangan langsung tegang. Alaric mengerutkan kening. “Monn.” “Dia berbohong.” Lucien menatapnya. “Tidak.” “Kau mengenal Edrin.” “Aku hanya tahu namanya dari Ayah.” “Bukan itu.” Monn menunjuk benang putih. “Kau pernah bertemu dengannya.” Edrin langsung maju. “Monn, berhenti.” Monn menoleh. “Kenapa?” “Karena kau tidak tahu apa yang kau lihat.” “Aku tahu cukup banyak.” Edrin menggeleng. “Tidak.” Ia berdiri di antara Monn dan Lucien. “Benang putih tidak selalu berarti kebenaran.” Monn terdiam. “Apa?” “Benang putih menunjukkan hubungan dengan Thread of Origin.” Edrin menatap benang itu. “Bukan kebenaran.” Monn perlahan menurunkan tangannya. “Lalu apa hubungan Lucien dengan Thread of Origin?” Edrin tidak menjawab. Lucien justru berkata, “Aku bisa menjelaskannya.” Semua orang menatapnya. Lucien berjalan menuju meja. Ia mengambil kursi dan duduk. “Duduklah.” Monn tidak bergerak. Lucien tersenyum tipis. “Kalau aku memang menyembunyikan sesuatu, setidaknya beri aku kesempatan untuk menjelaskannya.” Monn duduk. Yang lain mengikuti. Lucien menatap tangannya sendiri. “Sekitar tiga tahun lalu, sebelum kau mulai berubah...” Ia berhenti. “...aku menemukan ruang bawah tanah.” Edrin langsung menatapnya. “Kau tidak pernah memberitahuku.” “Aku tahu.” “Kenapa?” “Karena aku takut.” Edrin terdiam. Lucien melanjutkan. “Aku menemukan catatan lama.” “Catatan apa?” “Catatan tentang keluarga kita.” Ia menatap Monn. “Dan tentang seseorang bernama Edrin.” Monn mengerutkan kening. “Jadi kau tahu tentang dia sebelum aku?” “Ya.” “Kenapa tidak pernah mengatakan?” Lucien menghela napas. “Karena aku menemukan satu kalimat.” Ia mengangkat kepalanya. JANGAN BIARKAN MONN MENEMUKAN BENANGNYA. Monn membeku. Edrin memejamkan mata. “Siapa yang menulisnya?” Lucien menggeleng. “Aku tidak tahu.” “Lalu apa yang kau lakukan?” “Aku menutup ruangan itu.” “Kenapa?” “Karena aku pikir itu yang terbaik.” Monn menatap kakaknya. “Kau memutuskan sendiri.” “Ya.” “Tanpa memberi tahu siapa pun.” “Ya.” Monn terdiam. Lucien tersenyum pahit. “Sekarang kau tahu kenapa aku memahami caramu berpikir.” Monn tidak menjawab. “Ketika aku melihatmu berubah setelah kau kembali dari timur, aku sadar sesuatu.” Lucien menatapnya. “Kau mungkin sudah menemukan ruangan itu.” Monn menunduk. “Tidak.” Lucien mengangkat alis. “Aku tidak menemukannya.” “Kau dibawa kepadanya.” Monn terdiam. Lucien melanjutkan. “Dan sejak saat itu aku tahu bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada keluarga kita.” Edrin menatap Lucien. “Kau seharusnya datang kepadaku.” “Aku tidak bisa.” “Kenapa?” Lucien memandangnya. “Karena aku tidak tahu apakah aku bisa mempercayaimu.” Edrin membeku. Monn menatap keduanya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa hubungan antara mereka tidak sesederhana yang ia kira. Lucien bukan orang yang sepenuhnya menyembunyikan sesuatu. Ia juga tidak sepenuhnya jujur. Ia hanya— memilih. Sama seperti Monn. Dan setiap pilihannya memiliki konsekuensi. Seraphine memecah keheningan. “Kalau begitu siapa yang harus kita percaya?” Tidak ada yang menjawab. Kemudian Mortis berkata, “Tidak ada.” Semua orang menoleh. Mortis melangkah maju. “Kesalahan manusia adalah menganggap kepercayaan berarti menyerahkan seluruh kendali.” Monn menatapnya. “Jelaskan.” “Mempercayai seseorang tidak berarti percaya bahwa dia tidak akan pernah berbohong.” Mortis berhenti. “Mempercayai seseorang berarti menerima bahwa dia dapat memilih sesuatu yang tidak kau sukai.” Monn terdiam. Seraphine mengangguk pelan. “Itu masuk akal.” Mortis menatap Monn. “Karena itu kau tidak membutuhkan seseorang yang bisa kau percaya sepenuhnya.” “Lalu apa yang kubutuhkan?” “Orang yang tetap bisa kau pertanyakan.” Monn mengerutkan kening. “Kenapa?” “Karena kepercayaan tanpa pertanyaan adalah kepatuhan.” Kalimat itu membuat Monn diam. Ia teringat kehidupannya yang pertama. Ayahnya. Ibunya. Lucien. Para bangsawan. Orang-orang yang selalu mengatakan bahwa mereka tahu apa yang terbaik untuknya. Dan Monn selalu percaya. Bukan karena mereka selalu benar. Tetapi karena ia terlalu takut mengambil keputusan sendiri. Sekarang ia mengerti. Masalahnya bukan menemukan satu orang yang bisa dipercaya sepenuhnya. Masalahnya adalah belajar mempercayai tanpa menyerahkan keputusan. Monn berdiri. “Aku tidak akan memilih.” Suara misterius terdengar dari seluruh ruangan. “Jawaban salah.” Monn tersenyum. “Bukan.” Ia mengangkat tangan. Blood Thread muncul. Namun kali ini ia tidak menarik satu pun benang. “Aku memilih semuanya.” Semua orang terdiam. “Aku akan mendengar kalian.” Monn menatap Alaric. “Aku akan mendengar Ayah.” Kemudian Lucien. “Aku akan mendengar Kak Lucien.” Seraphine. “Aku akan mendengar Seraphine.” Edrin. “Aku akan mendengar Edrin.” Terakhir— Mortis. “Aku bahkan akan mendengarkanmu.” Mortis tidak bergerak. “Tapi tidak satu pun dari kalian yang akan menentukan keputusanku.” Ruangan menjadi sunyi. Kemudian— DUAR! Sebuah suara ledakan terdengar dari luar. Kaca jendela pecah. Para penjaga berteriak. Alaric langsung menghunus pedangnya. “Serangan?” Lucien berdiri. “Dari mana?” Seorang penjaga berlari masuk. “Yang Mulia!” “Apa?” “Gerbang utara!” Alaric langsung memberi perintah. “Kerahkan pasukan.” Monn menatap ke luar jendela. Di kejauhan terlihat cahaya merah. Namun bukan api. Benang. Ratusan benang merah memenuhi langit malam. Monn mengaktifkan Sight. Wajahnya berubah. “Itu bukan serangan.” Lucien menatapnya. “Lalu apa?” Monn menunjuk langit. “Benang-benang itu.” Ia bisa melihatnya sekarang. Semuanya terhubung ke satu titik. Satu titik di luar kediaman. Dan dari titik itu— satu benang putih mengarah langsung kepada Monn. Seseorang sedang berdiri di kejauhan. Siluetnya hampir tidak terlihat. Namun Monn mengenal bentuk itu. Rambut putih. Pakaian sederhana. Sosok yang seharusnya masih berada di ruang bawah tanah. Caelum. Monn membeku. “Dia datang.” Seraphine menatapnya. “Siapa?” Monn tidak menjawab. Karena Caelum mengangkat satu tangan. Dan seluruh benang merah di langit bergerak. Bukan menuju Monn. Bukan menuju Veylcrest. Melainkan menuju— Lucien. Monn langsung bergerak. “Lucien!” Terlambat. Benang putih yang menghubungkan mereka berdua tiba-tiba menyala. Lucien jatuh berlutut. “Argh!” Monn berlari kepadanya. “Kak!” Lucien memegang kepalanya. “Aku... tidak bisa...” “Apa?” Lucien mengangkat wajah. Matanya masih sadar. Namun sebuah suara lain keluar dari mulutnya. Bukan suara Lucien. “Sekarang kita lihat apakah kau benar-benar bisa memilih tanpa mengendalikan.” Monn membeku. Di kejauhan, Caelum tersenyum. Dan untuk pertama kalinya— Monn mengerti bahwa ujian kedua bukan tentang siapa yang harus ia percaya. Ujian itu tentang— apa yang akan ia lakukan ketika seseorang yang ia percaya mulai kehilangan kendali.

End of Chapter 19