Chapter 1 of 51
Bab 1 — Tirai Teater Telah Dibuka
1.2k words
Tirai teater telah dibuka.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada musik yang menyambut.
Hanya suara hujan yang menghantam kaca-kaca tinggi sebuah ruangan tua.
Monn Veylcrest membuka matanya.
Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit.
Putih.
Bukan langit-langit batu hitam yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya. Bukan pula langit-langit ruang bawah tanah tempat ia menghabiskan malam terakhirnya.
Putih.
Dengan ukiran bunga sederhana di sepanjang tepinya.
Monn tidak bergerak.
Tatapannya kosong.
Napasnya tertahan.
Ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Ia perlahan mengangkat tangan.
Tangan itu pucat.
Jari-jarinya ramping.
Tidak ada bekas luka lama yang seharusnya berada di punggung tangannya.
Tidak ada cincin keluarga.
Tidak ada noda darah.
Tidak ada rasa sakit.
Monn menatap telapak tangannya cukup lama sampai akhirnya sebuah kesadaran menghantam pikirannya.
Ini bukan tanganku.
Atau lebih tepatnya...
Ini adalah tangannya.
Tetapi bukan tangan yang terakhir ia ingat.
“...Tidak mungkin.”
Suara yang keluar terdengar lebih muda.
Monn langsung bangkit dari tempat tidur.
Kepalanya terasa berat.
Ia hampir kehilangan keseimbangan.
Ruangan itu tidak berubah.
Lemari kayu hitam.
Meja kecil di samping tempat tidur.
Jendela besar yang menghadap taman.
Lukisan keluarga Veylcrest tergantung di dinding.
Semuanya sama.
Semuanya terlalu familiar.
Monn berjalan menuju cermin.
Langkahnya berhenti tepat di depannya.
Seorang anak laki-laki berdiri di sana.
Rambut hitam sedikit berantakan.
Kulit pucat.
Mata merah gelap.
Wajah yang masih menyimpan sisa-sisa masa muda.
Monn menyentuh permukaan cermin.
Anak laki-laki itu melakukan hal yang sama.
“...Tujuh belas.”
Suaranya bergetar.
Dia mengenal wajah tersebut.
Karena wajah itu pernah menjadi miliknya.
Tujuh belas tahun.
Usia ketika semuanya masih terasa sederhana.
Usia ketika ayahnya masih hidup.
Ibunya masih tersenyum.
Lucien masih menjadi pewaris sempurna keluarga.
Elara masih berlari di koridor rumah.
Dan...
Monn memejamkan mata.
Nama itu muncul begitu saja.
Seraphine.
Dadanya terasa sesak.
Dia mundur dari cermin.
“Tidak.”
Monn mencengkeram rambutnya.
“Tidak mungkin.”
Ia mengingat semuanya.
Kehidupan pertama.
Keluarganya.
Pendidikan yang dipilihkan untuknya.
Pertunangan politik.
Perintah ayahnya.
Nasihat ibunya.
Harapan kakaknya.
Tatapan orang-orang yang selalu mengatakan apa yang seharusnya ia lakukan.
Dan Monn menurut.
Selalu menurut.
Karena itulah yang dilakukan seorang putra bangsawan.
Karena itulah yang dilakukan seorang Veylcrest.
Karena semua orang mengatakan bahwa mereka tahu apa yang terbaik untuknya.
Sampai suatu hari...
semuanya runtuh.
Rumah Veylcrest terbakar oleh konflik politik.
Orang-orang yang pernah tersenyum kepadanya menghilang satu demi satu.
Sekutu berubah menjadi musuh.
Teman menjadi orang asing.
Dan ketika Monn mencoba menyelamatkan semuanya dengan mengikuti rencana terakhir yang diberikan kepadanya...
dia gagal.
Ingatan terakhirnya kembali seperti kilatan cahaya.
Ruangan gelap.
Suara langkah.
Darah.
Wajah-wajah yang tidak lagi bisa ia percaya.
Dan perasaan kosong ketika menyadari bahwa seluruh hidupnya telah dijalani sesuai keinginan orang lain.
Kalimat terakhir yang terlintas di pikirannya sebelum semuanya berakhir masih sangat jelas.
“Aku bahkan tidak pernah memilih hidupku sendiri.”
Monn membuka mata.
Napasnya memburu.
Kemudian terdengar ketukan.
Tok. Tok. Tok.
Monn membeku.
Pintu kamarnya terbuka.
Seorang gadis kecil masuk dengan langkah tergesa-gesa.
Rambutnya tergerai.
Wajahnya masih sangat muda.
Dia membawa sebuah buku yang hampir terjatuh dari tangannya.
“Monn!”
Monn tidak bisa menjawab.
Gadis itu mendekat.
“Kakak sudah bangun?”
Monn menatapnya.
Elara.
Adiknya.
Masih hidup.
Masih kecil.
Tidak ada rasa takut di wajahnya.
Tidak ada kesedihan.
Tidak ada bekas kehidupan yang telah menghancurkan mereka.
Elara mengerutkan kening.
“Kak?”
Monn berlutut.
Tangannya menyentuh kepala gadis itu.
Hangat.
Nyata.
Elara memandangnya dengan bingung.
“Kenapa?”
Monn tidak menjawab.
Ia hanya menatapnya.
Untuk pertama kalinya setelah tiga puluh satu tahun...
dia melihat sesuatu yang sudah lama hilang.
Kesempatan.
Namun sebelum Monn sempat mengatakan apa pun, pintu kembali diketuk.
Kali ini lebih keras.
Seorang pelayan berdiri di luar.
“Tuan Muda Monn.”
Monn berdiri.
“Ada apa?”
“Duke Alaric meminta Anda segera datang ke ruang makan.”
Monn terdiam.
Duke Alaric.
Ayahnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Dalam kehidupan pertama, pagi ini adalah hari yang biasa.
Setidaknya menurut ingatannya.
Ayahnya akan membicarakan akademi.
Kemudian Lucien akan menyampaikan kabar mengenai urusan keluarga.
Ibunya akan memberikan beberapa nasihat.
Semuanya terlihat kecil.
Tidak penting.
Namun sekarang Monn tahu bahwa kejadian kecil seperti itu bisa menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
“Aku akan datang.”
Pelayan membungkuk lalu pergi.
Elara masih berdiri di dekatnya.
“Kakak aneh hari ini.”
Monn tersenyum tipis.
“Memangnya kenapa?”
“Kakak kelihatan seperti baru melihat hantu.”
Monn menatap pintu.
“Hantu?”
Elara mengangguk.
“Wajah kakak pucat.”
Monn tertawa kecil.
“Kalau begitu mungkin aku memang melihatnya.”
Dia tidak tahu bahwa kalimat itu kelak akan terasa lebih dekat dengan kebenaran daripada yang ia bayangkan.
Ruang makan keluarga Veylcrest berada di sisi timur mansion.
Meja panjang terbuat dari kayu hitam membentang di tengah ruangan.
Ketika Monn masuk, semua orang sudah berada di sana.
Ayahnya duduk di ujung meja.
Alaric Veylcrest.
Duke yang dikenal tegas dan sulit dibaca.
Di sampingnya duduk Evelyne, ibunya.
Wajah wanita itu masih sama seperti yang Monn ingat.
Elegan.
Tenang.
Dan selalu memiliki senyum lembut yang membuat orang merasa aman.
Lucien berada di sisi lain meja.
Kakaknya.
Masih berusia dua puluh satu tahun.
Belum menjadi sosok yang kelak dikenal sebagai pewaris yang kehilangan segalanya.
Monn berdiri di ambang pintu.
Tiga orang yang telah hilang dari kehidupannya sekarang duduk di hadapannya.
Utuh.
Sehat.
Hidup.
“Duduklah,” kata Alaric.
Monn menarik kursi.
Ia duduk.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Kemudian Alaric meletakkan sebuah surat di atas meja.
“Surat dari Royal Arcane Academy.”
Monn menatapnya.
Benar.
Hari ini.
Hari ketika ia pertama kali menerima keputusan mengenai pendidikan lanjutannya.
Dalam kehidupan pertama, Monn menerimanya tanpa bertanya.
Ia mengikuti keputusan keluarga.
Ia tidak pernah mempertanyakan apakah jalan itu benar-benar miliknya.
Alaric menatapnya.
“Akademi akan membuka pendaftaran semester berikutnya. Aku sudah menentukan jalur yang cocok untukmu.”
Monn diam.
Kalimat berikutnya seharusnya sederhana.
Seharusnya ia hanya mengangguk.
Seharusnya ia berkata:
"Baik, Ayah."
Seperti dulu.
Namun kali ini...
Monn mengangkat kepalanya.
“Tidak.”
Ruangan mendadak sunyi.
Lucien berhenti menyentuh cangkirnya.
Elara yang baru masuk menatap kakaknya.
Evelyne tersenyum tipis, tetapi matanya berubah sedikit.
Alaric menatap Monn.
“Apa katamu?”
Monn menahan napas.
Ia tahu apa yang sedang ia lakukan.
Untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan...
ia menolak.
“Aku ingin memilih jalanku sendiri.”
Alaric menyandarkan tubuhnya.
“Dan kau pikir kau cukup tahu untuk menentukan masa depanmu?”
Monn menatap ayahnya.
Dulu, pertanyaan itu akan membuatnya diam.
Sekarang tidak.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat Alaric terdiam.
Monn melanjutkan.
“Tapi kalau aku terus memilih hanya karena orang lain mengatakan pilihan itu benar... bagaimana aku bisa tahu bahwa hidup itu benar-benar milikku?”
Tidak ada yang menjawab.
Untuk beberapa detik, hanya suara jam dinding yang terdengar.
Tik.
Tak.
Tik.
Kemudian sesuatu terasa aneh.
Monn melihat ke arah tangannya.
Di antara jemarinya...
ada garis merah yang sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Garis itu bergerak perlahan.
Menjalar dari tangannya menuju seseorang di meja.
Monn membeku.
Benang.
Sebuah benang merah.
Ia mengikuti arah garis itu dengan matanya.
Benang tersebut terhubung pada Alaric.
Lalu muncul benang lain.
Menuju Evelyne.
Kemudian Lucien.
Elara.
Bahkan dirinya sendiri.
Puluhan.
Ratusan.
Benang tipis memenuhi ruangan.
Menghubungkan manusia dengan sesuatu yang tidak dapat ia pahami.
Monn menelan ludah.
Sebuah bisikan terdengar di belakangnya.
Bukan suara manusia.
Bukan suara ayahnya.
Bukan suara siapa pun yang berada di ruangan.
“Tarik.”
Monn menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun di lantai belakangnya...
bayangan hitam berdiri selama sepersekian detik.
Dua mata merah redup menatapnya.
Kemudian menghilang.
Monn kembali melihat benang di tangannya.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kehidupan keduanya mungkin tidak diberikan kepadanya sebagai kesempatan.
Mungkin...
ada seseorang yang sengaja memberikannya.
Dan jika begitu—
Monn bukan satu-satunya orang yang sedang memainkan permainan ini.
Tirai baru saja dibuka.