Chapter 18 of 51

Chapter 18 — Pilihan yang Diberikan

1.3k words

Monn berdiri di tengah kamar Elara. Tangannya masih terangkat. Benang merah yang terhubung kepada adiknya bergerak perlahan di udara, seolah menunggu perintah. Tarik. Bisikan itu kembali terdengar. Kali ini lebih jelas. Monn menatap benang tersebut. Ia bisa menariknya. Dengan Blood Thread, ia mungkin dapat mengikuti arah benang itu dan menemukan Elara. Tetapi sesuatu terasa salah. Terlalu mudah. Seseorang menculik Elara tanpa meninggalkan jejak perlawanan. Kemudian meninggalkan satu benang yang bisa dilihat Monn. Lalu sebuah pesan yang secara terang-terangan menantangnya untuk memilih. Ini bukan penculikan biasa. Ini adalah ujian. Dan seseorang sedang menunggu jawabannya. “Jangan tarik.” Suara Seraphine terdengar dari samping. Monn menoleh. Seraphine berdiri di dekat pintu. Wajahnya tenang, tetapi matanya terus mengamati benang merah tersebut. “Kenapa?” “Karena kau ingin melakukannya terlalu cepat.” Monn terdiam. “Apa maksudmu?” “Sejak mendengar Elara menghilang, kau langsung ingin bertindak.” “Dia adikku.” “Aku tahu.” Seraphine mendekat. “Justru karena itu.” Monn mengepalkan tangan. “Kalau kita membuang waktu, sesuatu bisa terjadi kepadanya.” “Dan kalau ini memang jebakan?” Monn tidak menjawab. Seraphine menunjuk benang merah. “Bagaimana kalau orang yang mengambil Elara memang menginginkanmu mengikuti benang itu?” “Lalu apa yang harus kulakukan?” “Cari tahu kenapa.” Monn menatapnya. “Kenapa mereka mengambil Elara?” “Bukan.” Seraphine menggeleng. “Kenapa mereka ingin kau menarik benang itu?” Kalimat tersebut membuat Monn diam. Ia melihat kembali benang merah di hadapannya. Kemudian menggunakan Sight tanpa menyentuhnya. Benang itu tidak hanya terhubung kepada Elara. Ada lapisan lain di bawahnya. Benang tipis berwarna hitam. Hampir tidak terlihat. Monn menyipitkan mata. “Ada sesuatu di bawahnya.” “Apa?” “Benang kedua.” Lucien langsung mendekat. “Bisa kau ikuti?” “Tidak.” “Kenapa?” “Karena benang itu bukan milik Elara.” Monn memperhatikan jalurnya. Benang hitam tersebut berawal dari benang Elara. Kemudian bergerak ke luar jendela. Namun setelah beberapa meter, ia berbelok tajam. Menuju bagian utara kediaman. Monn langsung teringat sesuatu. “Perpustakaan.” Lucien mengangguk. “Kenapa perpustakaan?” “Karena di sana ada Arsip Darah.” Seraphine langsung memahami. “Buku-buku yang membahas Blood Thread?” “Ya.” Monn berbalik. “Ayo.” Mereka berlari keluar kamar. Namun sebelum Monn meninggalkan ruangan, ia berhenti. Boneka Elara masih berada di atas meja. Monn mengambilnya. Di bagian belakang boneka itu terdapat sebuah noda kecil. Bukan darah. Tinta. Monn mengusapnya. Sebuah simbol muncul. Lingkaran dengan tiga garis yang saling berpotongan. Monn pernah melihat simbol itu. Di salah satu halaman The First Blood Records. Simbol milik Edrin. Monn menatapnya lama. “Tidak mungkin.” Lucien berhenti. “Apa?” “Simbol ini milik Edrin.” Lucien terdiam. “Edrin?” Monn mengangguk. “Dia yang menggambar simbol ini dalam catatan lamanya.” Seraphine menatap boneka itu. “Kalau begitu apakah Edrin terlibat?” Monn menggeleng. “Tidak.” “Bagaimana kau yakin?” “Karena kalau Edrin yang melakukan ini, dia tidak akan meninggalkan petunjuk seperti ini.” Monn menatap simbol tersebut. “Dia terlalu berhati-hati.” Mereka melanjutkan perjalanan. --- Perpustakaan Veylcrest sudah dikelilingi penjaga. Ketika Monn tiba, beberapa rak telah dipindahkan. Alaric berdiri di tengah ruangan. “Tidak ada siapa pun yang keluar.” Monn langsung bertanya, “Bagaimana dengan bawah tanah?” “Sudah diperiksa.” “Dan?” “Tidak ada.” Monn mengerutkan kening. “Tidak ada?” “Tidak ada tanda Elara.” Monn berjalan menuju rak bagian timur. Ia membuka Blood Thread. Benang hitam tadi masih terlihat. Jalurnya berhenti di sebuah rak tua. Monn menyentuh buku pertama. Tidak ada apa-apa. Buku kedua. Tidak ada. Buku ketiga— benang hitam bergetar. Monn menarik buku itu. Rak bergeser sedikit. Sebuah ruang sempit muncul di belakangnya. Lucien langsung menghunus pedangnya. Alaric memberi perintah kepada penjaga. “Jangan ada yang masuk sebelum aku.” Monn sudah melangkah. “Monn.” Alaric menahannya. “Aku yang masuk.” “Tidak.” “Itu putriku.” “Dan itu adikku.” Keduanya saling menatap. Untuk beberapa detik tidak ada yang mengalah. Kemudian Alaric berkata, “Jangan bertindak gegabah.” Monn mengangguk. “Aku akan kembali membawa Elara.” Ia masuk. Seraphine menyusul. Lucien ikut. Mereka berjalan melalui lorong sempit. Dindingnya dipenuhi tulisan lama. Beberapa di antaranya menggunakan bahasa kuno. Seraphine membaca salah satunya. “Benang tidak membawa manusia kepada tujuan.” Monn berhenti. “Lanjutkan.” Seraphine membaca tulisan berikutnya. “Benang hanya menunjukkan apa yang telah terhubung.” Monn tersenyum tipis. “Edrin menulisnya?” “Sepertinya.” Mereka berjalan lagi. Di ujung lorong terdapat sebuah pintu. Tidak ada gagang. Tidak ada kunci. Hanya simbol yang sama dengan yang terdapat pada boneka Elara. Monn mengangkat tangan. Benang putih muncul. Simbol tersebut menyala. Pintu terbuka. Di dalam ruangan terdapat sebuah kursi. Kosong. Di atasnya terdapat secarik kain putih. Monn mengenalinya. Kain dari pakaian Elara. Seraphine langsung menegang. “Monn...” “Aku tahu.” Di lantai terdapat tulisan. Kau memilih untuk datang. Monn menatapnya. Kemudian tulisan lain muncul. Sekarang pilih lagi. Dinding di depan mereka terbuka. Di baliknya terdapat dua jalan. Jalan kiri dipenuhi cahaya merah. Jalan kanan gelap dan sempit. Di tengahnya terdapat sebuah meja kecil. Di atas meja ada dua benda. Satu pisau kecil. Satu benang merah. Monn menatap keduanya. Seraphine berkata, “Jangan sentuh.” Monn mengangguk. Namun sebuah suara terdengar dari kegelapan. “Kalau kau tidak memilih, adikmu tidak akan kembali.” Monn membeku. “Siapa kau?” Tidak ada jawaban. Suara itu kembali. “Kau punya waktu.” “Berapa lama?” “Tiga menit.” Lucien langsung maju. “Monn, kita tidak tahu apakah dia benar-benar memiliki Elara.” Suara itu tertawa. Kemudian terdengar suara kecil dari balik dinding. “...Kak Monn?” Monn membeku. Itu suara Elara. “Monn!” Suara itu terdengar lagi. Seraphine menatapnya. “Bisa saja rekaman.” “Tidak.” Monn menggeleng. “Itu dia.” Ia mengenal suara adiknya. Suara yang tidak mungkin ia salah kenali. Monn melangkah ke meja. Lucien memegang bahunya. “Jangan.” Monn menoleh. “Aku harus.” “Tidak.” “Lucien.” “Kau tidak tahu apa yang akan terjadi.” Monn menatap kakaknya. “Kalau itu Elara, aku tidak bisa diam.” Lucien menggenggam bahunya lebih erat. “Dan kalau mereka sengaja menggunakan Elara untuk membuatmu melakukan sesuatu?” Monn terdiam. Lucien berkata pelan, “Bukankah itu yang selalu kau katakan?” Monn menatapnya. “Jangan biarkan orang lain memilih untukmu.” Monn mengangguk. “Benar.” Ia melepaskan tangan Lucien. “Tapi bukan berarti aku tidak boleh memilih untuk menolong seseorang.” Lucien terdiam. Monn mengambil benang merah. Tidak menariknya. Tidak mengikatnya. Ia hanya menggenggamnya. Benang tersebut langsung berubah. Cahaya merah di jalan kiri padam. Jalan kanan menyala. Suara misterius itu terdengar lagi. “Pilihan yang menarik.” Monn tersenyum tipis. “Aku tidak memilih jalanmu.” Ia mengangkat benang tersebut. “Aku memilih mencari jalan ketiga.” Tiba-tiba dinding ruangan retak. Sebuah garis putih muncul di tengah lantai. Benang putih yang terhubung dengan Monn bergerak sendiri. Membentuk jalan baru. Bukan kiri. Bukan kanan. Melainkan lurus menembus dinding. Seraphine terkejut. “Monn...” “Aku juga tidak tahu apa ini.” Monn menatap jalan tersebut. “Tapi setidaknya ini pilihanku.” Ia melangkah. Seketika seluruh ruangan bergetar. Suara misterius tadi berubah menjadi lebih keras. “Jangan!” Monn berhenti. Itulah pertama kalinya suara tersebut terdengar takut. Monn tersenyum. “Sekarang aku tahu.” Ia menggenggam benang putih. “Kau bukan orang yang menguji pilihanku.” Ia menatap kegelapan di depannya. “Kau takut pada pilihanku.” Tidak ada jawaban. Kemudian— terdengar suara Elara. Bukan dari balik dinding. Bukan dari lorong. Melainkan dari belakang mereka. “Kak?” Monn perlahan berbalik. Elara berdiri di ambang pintu. Tidak terluka. Tidak menangis. Tidak ada tanda bahwa ia pernah diculik. Alaric berdiri di belakangnya. Para penjaga juga ada di sana. Monn membeku. “...Elara?” Elara mengangguk. “Iya.” Monn melihat benang merah di tangannya. Benang itu perlahan menghilang. Lalu benang putih di dadanya bergerak. Satu kali. Dua kali. Kemudian sebuah suara terdengar langsung di kepalanya. “Aku tidak pernah mengambil adikmu.” Monn terdiam. “Aku hanya ingin melihat apakah kau akan menarik benang yang diberikan kepadamu.” Monn menatap Elara. Lalu melihat jalan rahasia yang baru saja terbuka. Dan akhirnya ia memahami jebakan sebenarnya. Mereka tidak sedang menguji apakah Monn bisa menyelamatkan Elara. Mereka sedang menguji apakah Monn masih bisa membedakan— keinginan untuk menyelamatkan seseorang... dengan keinginan untuk mengendalikan keadaan. Di belakang Monn, Lucien berkata pelan, “Monn.” Monn menoleh. Lucien menunjuk lantai. Benang putih yang tadi muncul kini perlahan menghilang. Namun sebelum lenyap sepenuhnya, ia meninggalkan satu pesan: “UJIAN PERTAMA SELESAI.” Dan tepat di bawahnya muncul kalimat kedua. “UJIAN KEDUA: PILIH SIAPA YANG AKAN KAU PERCAYAI.”

End of Chapter 18

Chapter 18: Chapter 18 — Pilihan yang Diberikan - THE THREADS OF DEATH | Novel AI Studio