Chapter 17 of 51

Chapter 17 — Orang yang Berubah

1.1k words

Monn tidak langsung kembali ke kamarnya. Ia berdiri di lorong bawah tanah bersama Edrin, Lucien, dan Seraphine, sementara pikirannya terus mengulang apa yang baru saja ia lihat. KEHIDUPAN KEDUA — BERJALAN. VARIABEL BARU: NOCTIS. VARIABEL BARU: LUCIEN VEYLCREST. Satu hal terus mengganggunya. Lucien. Jika kakaknya memang sudah ada dalam kehidupan pertama, mengapa namanya muncul sebagai variabel baru? Monn menatap kakaknya dari kejauhan. Lucien sedang berbicara dengan Seraphine. Gesturnya sama. Suaranya sama. Wajahnya sama. Tetapi sekarang Monn tidak lagi yakin bahwa kesamaan itu berarti orang yang sama. Mungkin selama ini ia hanya mengingat versi Lucien yang sudah dipengaruhi oleh kehidupan pertama. Dan sekarang— Lucien memiliki kesempatan untuk menjadi seseorang yang berbeda. “Monn.” Suara Edrin menariknya kembali. “Apa?” “Kau terlihat seperti sedang menghitung sesuatu.” Monn menghela napas. “Aku sedang mencoba memahami satu hal.” “Regresimu?” “Bukan.” Monn menatap Lucien. “Orang-orang.” Edrin mengikuti pandangannya. “Kau mulai memahami masalahnya.” “Masalah apa?” “Semakin lama kau berada di masa lalu, semakin banyak hal yang berubah.” Monn mengangguk. “Aku tahu.” “Tidak.” Edrin menggeleng. “Kau belum benar-benar memahami.” Ia berjalan mendekat. “Ketika kau kembali, kau mengira dunia akan mengikuti ingatanmu.” Monn diam. “Padahal dunia tidak pernah berjanji akan melakukan itu.” Edrin menunjuk lorong. “Serangan datang dua tahun lebih awal.” “Garrick menerima pesan sebelum waktunya.” “Caelum muncul.” “Noctis muncul.” “Dan sekarang Lucien berubah.” Monn menatapnya. “Jadi?” “Jadi jangan gunakan kehidupan pertama sebagai peta.” Edrin berkata pelan, “Gunakan itu sebagai peringatan.” Kalimat itu membuat Monn terdiam. Selama ini ia menganggap ingatan kehidupan pertama sebagai keuntungan terbesar. Ia mengetahui siapa yang akan mengkhianati siapa. Siapa yang akan mati. Siapa yang akan naik. Siapa yang akan jatuh. Tetapi semakin banyak ia bertindak berdasarkan pengetahuan itu— semakin cepat masa depan berubah. Monn tersenyum pahit. “Lucu.” “Apa?” “Aku kembali untuk memperbaiki masa lalu.” Ia melihat tangannya. “Sekarang masa lalu bahkan tidak mau menjadi masa lalu lagi.” Edrin tidak menjawab. Dari ujung lorong, Lucien tiba-tiba memanggil. “Monn.” Monn menoleh. “Ya?” “Ayah ingin bertemu denganmu.” Monn mengernyit. “Sekarang?” “Sekarang.” “Kenapa?” Lucien mengangkat bahu. “Tidak tahu.” Monn menatap Edrin. Pria itu langsung berkata, “Pergilah.” “Apa kau tidak ikut?” “Tidak.” “Kenapa?” “Karena kali ini kau harus bicara dengan ayahmu sendiri.” Monn mengangguk. Ia kemudian mengikuti Lucien. Seraphine berjalan di belakang mereka. Saat menaiki tangga, Monn memperhatikan sesuatu. Benang putih masih ada. Namun sekarang benang itu tidak lagi terlihat seperti garis lurus. Ia bercabang. Satu menuju Lucien. Satu menuju Seraphine. Satu lagi— menuju dirinya sendiri. Monn berhenti. “Kenapa?” Seraphine bertanya. Monn menggeleng. “Tidak apa-apa.” Mereka terus berjalan. --- Ruang kerja Duke Alaric berada di sisi utara kediaman. Ketika Monn masuk, ayahnya sedang berdiri di depan jendela. Tidak ada pengawal. Tidak ada pelayan. Hanya Alaric. Dan sebuah surat di atas meja. “Duduk.” Monn duduk. Lucien dan Seraphine tetap di luar. Alaric mengambil surat tersebut. “Ini datang satu jam lalu.” Ia menyerahkannya. Monn membaca. Tidak ada lambang keluarga. Tidak ada nama pengirim. Hanya satu kalimat. JANGAN PERCAYA PADA ORANG YANG MENGAKU MENGEMBALIKANMU. Monn terdiam. Alaric memperhatikan wajahnya. “Kau tahu maksudnya?” “Tidak.” “Kau berbohong.” Monn mengangkat kepala. “Aku hanya belum tahu.” Alaric duduk di seberangnya. “Monn.” Nada suaranya berbeda. Tidak sedingin biasanya. “Sejak serangan gerbang timur, aku mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang kau sembunyikan.” Monn diam. “Aku tidak akan memaksamu mengatakannya.” Monn sedikit terkejut. Alaric melanjutkan, “Tapi aku ingin kau memahami satu hal.” “Apa?” “Kalau kau memilih untuk berjalan sendiri, jangan berharap keluarga akan selalu tahu bagaimana mengikutimu.” Monn menatap ayahnya. Dulu— kalimat seperti itu akan membuatnya merasa bersalah. Sekarang tidak. Karena ia mulai mengerti bahwa orang lain juga memiliki pilihan. “Aku tidak ingin berjalan sendiri.” Alaric terdiam. “Aku hanya ingin menentukan ke mana aku pergi.” Untuk beberapa saat, tidak ada jawaban. Kemudian Alaric tersenyum tipis. “Jawaban yang lebih dewasa.” Monn hampir tertawa. Kalimat itu hampir terdengar seperti pujian. Namun tiba-tiba— sebuah ketukan terdengar dari pintu. Tok. Tok. Tok. Alaric mengerutkan kening. “Masuk.” Pintu terbuka. Lucien masuk. Wajahnya terlihat serius. “Ayah.” “Ada apa?” “Penjaga menemukan sesuatu di gerbang timur.” Lucien menyerahkan sebuah benda. Sebuah token logam. Sama seperti yang ditemukan pada Garrick. Monn langsung berdiri. “Dari mana?” “Tubuh seorang kurir.” Monn menatap token itu. “Siapa kurirnya?” “Tidak diketahui.” Alaric mengambil token tersebut. “Pesannya?” Lucien mengeluarkan secarik kertas. Alaric membukanya. Wajahnya berubah. Monn memperhatikan. “Apa?” Alaric menyerahkan kertas itu kepadanya. Monn membaca. SATU BENANG SUDAH TERPUTUS. SATU BENANG SUDAH BERUBAH. TINGGAL MENUNGGU BENANG KETIGA. Monn mengangkat kepala. “Benang ketiga?” Tidak ada jawaban. Kemudian— pintu ruang kerja terbuka lagi. Seorang penjaga berlari masuk. “Yang Mulia!” Alaric berdiri. “Apa?” Penjaga itu tampak panik. “Lady Elara...” Monn langsung menegang. “Ada apa dengan Elara?” “Dia menghilang.” Dunia seakan berhenti. Monn berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang. “Kapan?” “Lima belas menit lalu.” “Di mana?” “Kamar.” Monn langsung berlari. Lucien menyusul. Seraphine juga. Alaric memerintahkan seluruh penjaga menutup kediaman. “Jangan biarkan siapa pun keluar!” Monn berlari melewati koridor. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Elara. Dalam kehidupan pertama— Elara adalah salah satu orang yang paling ia sesali. Bukan karena ia mati. Bukan karena seseorang membunuhnya. Tetapi karena Monn tidak pernah tahu apakah ia benar-benar membuat keputusan sendiri ketika mencoba menyelamatkannya. Ia tiba di kamar Elara. Pintu terbuka. Ruangan berantakan. Tidak ada tanda perkelahian. Tidak ada darah. Tidak ada kerusakan. Hanya satu benda di atas meja. Boneka kecil milik Elara. Dan sebuah benang merah. Monn langsung menggunakan Blood Thread. Puluhan benang muncul. Pelayan. Penjaga. Keluarga. Namun satu benang merah milik Elara mengarah keluar jendela. Monn hendak menariknya. Seraphine memegang lengannya. “Jangan.” Monn menoleh. “Dia adikmu.” “Aku tahu.” “Kalau begitu kenapa—” “Karena seseorang ingin kau melakukan itu.” Monn membeku. Seraphine menunjuk benang tersebut. “Lihat.” Monn memperhatikan. Benang Elara memang mengarah keluar. Tetapi ada sesuatu yang aneh. Benang itu terlalu jelas. Terlalu mudah ditemukan. Seolah sengaja diletakkan di sana. Monn perlahan menurunkan tangannya. “Jebakan.” Lucien mengangguk. “Sepertinya.” Monn menatap meja. Di bawah boneka Elara ada secarik kertas. Ia mengambilnya. Tulisan tangan sederhana. MONN. Hanya namanya. Monn membalik kertas itu. Di belakangnya tertulis: KALI INI, PILIHLAH. Monn menggenggam kertas itu. “Siapa yang melakukan ini?” Tidak ada jawaban. Kemudian benang putih muncul lagi. Namun kali ini— benang tersebut tidak menuju Elara. Benang itu menuju— Monn sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Monn memahami pesan sebenarnya. Mereka tidak menculik Elara untuk membunuhnya. Mereka menculik Elara untuk menguji— pilihan Monn. Di luar jendela, lonceng kediaman berbunyi. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Lalu terdengar suara dari seluruh kediaman. Bukan suara manusia. Bukan suara Mortis. Melainkan suara yang terdengar seperti bisikan dari ratusan benang sekaligus. “Tarik.” Monn menatap benang merah Elara. Tangannya perlahan terangkat. Lalu ia berhenti. Karena untuk pertama kalinya— ia tidak tahu apakah menyelamatkan seseorang merupakan pilihannya sendiri... atau pilihan yang sengaja diberikan seseorang kepadanya.

End of Chapter 17