Suara langkah itu semakin dekat.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian berhenti.
Monn menatap tangga menuju permukaan.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Bukan karena takut pada Lucien.
Justru karena ia tahu siapa Lucien.
Kakaknya adalah orang yang paling ia percaya di kehidupan pertama.
Lucien tidak pernah menjadi orang yang langsung menusukkan pisau ke punggungnya.
Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit untuk dibenci.
Ia selalu membuat Monn percaya bahwa semua keputusan yang diambilnya adalah keputusan terbaik.
Dan itulah yang membuatnya berbahaya.
“Monn.”
Suara Lucien terdengar lagi.
Kali ini lebih dekat.
Edrin segera mengangkat tangannya.
“Jangan gunakan Blood Thread.”
Monn menoleh.
“Kenapa?”
“Kalau benang putih itu benar-benar terhubung kepadanya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau menyentuhnya.”
Monn mengangguk perlahan.
“Baik.”
Ia mematikan Blood Thread.
Namun benang putih itu tidak menghilang.
Tetap terlihat.
Tetap terhubung.
Tetap menarik perhatiannya.
Edrin memandangnya dengan khawatir.
“Kau bisa melihatnya tanpa kemampuanmu?”
“Ya.”
“Itu seharusnya tidak mungkin.”
“Banyak hal di sini yang seharusnya tidak mungkin.”
Caelum yang masih berada dekat pintu hanya tersenyum tipis.
Kemudian ia berkata,
“Selamat datang di masalah sebenarnya.”
Monn menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Selama ini kau mengira masalahmu adalah masa lalu.”
Caelum berjalan keluar dari ruangan.
“Padahal masalahmu adalah orang-orang yang membawanya ke masa kini.”
Lalu ia menghilang dari pandangan.
Monn tidak mengejarnya.
Ia sudah tahu ada sesuatu yang lebih penting.
Lucien.
Monn dan Edrin menaiki tangga.
Setiap langkah terasa semakin berat.
Ketika mereka sampai di lorong bawah tanah, suara langkah kembali terdengar.
Namun kali ini—
bukan hanya satu orang.
Ada dua.
Monn berhenti.
“Dua orang.”
Edrin mengangguk.
Kemudian seseorang muncul dari ujung lorong.
Rambut hitam rapi.
Pakaian bangsawan Veylcrest.
Wajah tenang.
Lucien.
Di sampingnya berdiri Seraphine.
Monn sedikit terkejut.
“Kalian berdua?”
Seraphine menatap Monn.
“Aku menemukan Lucien di lorong menuju ruang bawah tanah.”
Lucien tersenyum.
“Aku mencari kalian.”
Monn memperhatikan kakaknya.
Tidak ada sesuatu yang aneh.
Tidak ada aura membunuh.
Tidak ada Blood Art.
Tidak ada tanda bahwa Lucien mengetahui rahasia apa pun.
Namun benang putih itu—
masih terhubung kepadanya.
Monn mencoba melihatnya lebih jelas.
Benang itu keluar dari dada Monn, naik melalui lantai, lalu mengarah kepada Lucien.
Tetapi benang tersebut tidak langsung masuk ke tubuh Lucien.
Ia berhenti beberapa sentimeter di depan dadanya.
Seolah menunggu.
Monn mengerutkan kening.
“Ada apa?”
Lucien bertanya.
Monn menatapnya.
“Kau baru saja datang?”
“Ya.”
“Dari mana?”
“Perpustakaan.”
“Sendirian?”
Lucien terdiam sebentar.
“Awalnya.”
Jawaban sederhana.
Namun Monn menangkap jeda kecil itu.
“Awalnya?”
Lucien mengangguk.
“Aku bertemu Seraphine di lorong.”
Seraphine membenarkan.
“Aku memang bertemu dengannya.”
Monn masih tidak puas.
“Kenapa kalian mencari kami?”
Lucien menghela napas.
“Karena aku mendengar suara dari bawah.”
Edrin langsung menatapnya.
“Suara apa?”
“Seperti percakapan.”
Monn menegang.
“Percakapan tentang apa?”
Lucien memandangnya.
“Namamu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Seraphine menoleh kepada Monn.
“Kau tahu sesuatu?”
Monn tidak menjawab.
Lucien melanjutkan.
“Aku mendengar seseorang berkata, ‘Monn sudah memilih.’”
Monn merasa darahnya menjadi dingin.
Noctis.
Itu kalimat Noctis.
Tetapi Lucien berada di atas.
Bagaimana mungkin ia mendengarnya?
“Siapa yang mengatakan itu?”
Lucien menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Apakah kau melihat seseorang?”
“Tidak.”
Monn menatap benang putih.
Benang itu bergerak sedikit.
Kemudian—
Monn menyadari sesuatu.
Benang tersebut tidak berasal dari Lucien.
Benang itu berasal dari dirinya.
Lucien bukan sumber.
Lucien hanyalah titik yang dilewati.
Monn memejamkan mata.
Ia mencoba mengikuti jalur benang.
Dari dirinya.
Ke Lucien.
Kemudian—
berbelok.
Ke arah lain.
Jauh lebih dalam.
Monn membuka mata.
“Benang ini bukan milik Lucien.”
Edrin langsung menoleh.
“Apa?”
“Benang putih ini menggunakan Lucien sebagai perantara.”
Seraphine terlihat bingung.
“Apa artinya?”
Monn menatap kakaknya.
“Artinya seseorang atau sesuatu menghubungkan aku dengannya.”
Lucien diam.
Kemudian bertanya,
“Apakah itu buruk?”
Monn tidak langsung menjawab.
Ia teringat buku yang ditemukan di ruang bawah tanah.
Manusia memiliki tiga benang.
Keinginan.
Pilihan.
Konsekuensi.
Kemudian ada benang keempat.
Benang diri.
Dan sekarang—
ada benang putih yang bahkan tidak sepenuhnya ia pahami.
Monn menyadari satu hal.
Selama ini ia terlalu fokus pada siapa yang mengendalikan siapa.
Padahal mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah—
siapa yang menentukan hubungan di antara mereka?
Monn mendekati Lucien.
“Jangan bergerak.”
Lucien mengangkat alis.
“Aku bahkan belum melakukan apa pun.”
“Aku tahu.”
Monn berdiri di depannya.
Ia tidak menggunakan Blood Thread.
Ia hanya memperhatikan.
Benang putih itu bergetar.
Lalu—
sebuah suara terdengar di kepala Monn.
“Kau terlambat.”
Monn membeku.
Bukan suara Mortis.
Bukan suara Asterion.
Bukan suara Caelum.
Suara itu terdengar lebih tua.
Lebih jauh.
Seolah berasal dari tempat yang tidak memiliki ruang.
Monn menatap Lucien.
“Apakah kau mendengar sesuatu?”
Lucien menggeleng.
“Tidak.”
Monn mundur.
Seraphine memperhatikan wajahnya.
“Monn?”
“Aku tidak apa-apa.”
“Kau berbohong.”
Monn terdiam.
Seraphine mendekat.
“Kau selalu melakukan itu ketika sedang menyembunyikan sesuatu.”
Lucien melirik Seraphine.
“Dia memang berubah.”
Monn menatap kakaknya.
“Apa?”
“Sejak kau kembali dari timur.”
Monn membeku.
Seraphine juga memperhatikan Lucien.
“Kembali?”
Lucien segera mengoreksi,
“Maksudku sejak serangan di gerbang timur.”
Monn menatapnya lama.
Jeda itu.
Satu kata yang salah.
Kemudian koreksi.
Lucien tersenyum kecil.
“Jangan menatapku seperti itu.”
“Bagaimana?”
“Seperti aku musuhmu.”
Monn menjawab pelan,
“Aku belum memutuskan.”
Lucien tertawa.
“Bagus.”
Ia kemudian mendekati Monn.
“Karena aku juga belum memutuskan apakah aku harus mempercayaimu.”
Kalimat itu membuat Monn terdiam.
Lucien biasanya tidak bicara seperti itu.
Di kehidupan pertama—
Lucien selalu yakin terhadap Monn.
Atau setidaknya terlihat yakin.
Sekarang untuk pertama kalinya Monn melihat keraguan di mata kakaknya.
Dan itu justru terasa lebih jujur.
“Kenapa kau tidak percaya padaku?”
Lucien memandangnya.
“Karena kau terlalu berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
“Dulu kau selalu meminta izin.”
Monn diam.
“Sekarang kau mengambil keputusan sendiri.”
Lucien melanjutkan,
“Dulu kau selalu bertanya apa yang ayah inginkan.”
Ia tersenyum tipis.
“Sekarang kau bertanya apa yang kau inginkan.”
Monn tidak bisa menjawab.
Lucien mendekat sedikit.
“Itu bukan sesuatu yang buruk.”
Monn mengangkat kepala.
“Lalu kenapa kau curiga?”
“Karena perubahan sebesar itu biasanya punya alasan.”
Lucien menatap mata Monn.
“Dan aku ingin tahu alasanmu.”
Monn hampir menjawab.
Hampir.
Namun suara lain muncul.
“Jangan.”
Mortis.
Monn menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya bayangan.
Monn kemudian sadar—
Mortis tidak berkata jangan kepada Lucien.
Mortis berkata jangan kepada dirinya.
Jangan katakan semuanya.
Monn menghela napas.
“Aku hanya menyadari satu hal.”
“Apa?”
“Kalau hidupku adalah milikku.”
Lucien menatapnya cukup lama.
Kemudian tersenyum.
“Jawaban yang aneh.”
“Mungkin.”
“Tapi setidaknya itu jawabanmu sendiri.”
Lucien berbalik.
“Kita harus pergi.”
Seraphine mengikuti.
Edrin tetap berdiri.
Monn hendak menyusul ketika—
benang putih di dadanya tiba-tiba tertarik.
Sangat kuat.
Monn hampir kehilangan keseimbangan.
Ia memegang dadanya.
“Agh...”
Seraphine langsung berbalik.
“Monn!”
Monn tidak menjawab.
Dunia di sekitarnya berubah.
Suara mereka menghilang.
Lorong menghilang.
Edrin, Lucien, Seraphine—
semuanya menjadi kabur.
Hanya satu benang yang tersisa.
Benang putih.
Benang itu menariknya ke depan.
Ke sebuah tempat yang tidak pernah ia lihat.
Monn melihat sebuah ruangan.
Sebuah meja.
Empat kursi.
Tiga di antaranya kosong.
Satu kursi ditempati seseorang.
Rambut putih.
Wajah tidak terlihat.
Orang itu sedang memegang sebuah buku.
Di atas buku tertulis:
MONN VEYLCREST
Halaman pertama dibuka.
Di sana tertulis:
KEHIDUPAN PERTAMA — SELESAI.
Halaman berikutnya:
KEHIDUPAN KEDUA — BERJALAN.
Kemudian sebuah baris baru muncul di hadapan mata Monn.
Tulisan itu perlahan terbentuk.
VARIABEL BARU: NOCTIS.
Monn membeku.
Kemudian tulisan berikutnya muncul.
VARIABEL BARU: LUCIEN VEYLCREST.
Monn menatapnya.
Tidak.
Bukan itu.
Lucien bukan variabel baru.
Lucien sudah ada sejak kehidupan pertama.
Lalu kenapa namanya tercatat sebagai variabel?
Jawabannya muncul beberapa detik kemudian.
STATUS: TIDAK SESUAI CATATAN KEHIDUPAN PERTAMA.
Monn terdiam.
Kemudian halaman itu dibalik sendiri.
Satu kalimat muncul.
“Jika Monn berubah, maka orang-orang di sekitarnya tidak lagi menjadi orang yang sama.”
Monn mulai memahami sesuatu yang mengerikan.
Regresi bukan hanya mengubah dirinya.
Keberadaannya di masa lalu telah mengubah orang-orang lain.
Termasuk Lucien.
Dan jika itu benar—
maka ingatan kehidupan pertama tidak lagi bisa menjadi patokan.
Suara seseorang terdengar dari belakang.
“Akhirnya kau mengerti.”
Monn berbalik.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun buku itu menutup sendiri.
Dan sebelum semuanya menghilang, satu kalimat terakhir muncul:
“Kehidupan keduamu bukan pengulangan.”
“Ini adalah kehidupan yang baru.”
Monn membuka mata.
Ia kembali berada di lorong.
Seraphine memegang bahunya.
“Monn!”
Monn bernapas perlahan.
“Aku baik-baik saja.”
Edrin menatapnya tajam.
“Apa yang kau lihat?”
Monn menatap Lucien yang sudah berdiri beberapa meter di depan.
Kemudian ia melihat benang putih itu.
Benang tersebut kini tidak lagi berhenti di depan Lucien.
Ia sudah terhubung.
Monn menjawab pelan,
“Tidak ada.”
Namun untuk pertama kalinya sejak kembali—
ia sadar bahwa ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada mengubah masa depan.
Ia mungkin sedang mengubah orang-orang yang ia cintai tanpa menyadarinya.