Chapter 15 of 51

Chapter 15 — Aku yang Lain

1.2k words

Bayangan itu berdiri di belakang Monn. Tidak lagi mengikuti gerakannya. Tidak lagi menjadi sekadar pantulan cahaya. Ia berdiri sendiri. Wajahnya sama. Mata yang sama. Bahkan luka kecil di bawah dagu yang dimiliki Monn sejak kecil juga terlihat di wajah sosok tersebut. Namun ada satu hal yang berbeda. Ekspresinya. Monn tidak pernah tersenyum seperti itu. Senyum yang terlalu tenang. Terlalu yakin. Seolah seluruh ruangan telah menjadi miliknya sejak awal. Monn perlahan berbalik. “Apa kau... aku?” Sosok itu memiringkan kepala. “Pertanyaan yang menarik.” Suaranya sama dengan suara Monn. Bukan mirip. Benar-benar sama. Edrin langsung menarik Monn mundur. “Jangan mendekat.” Monn menepis tangan Edrin. “Aku ingin tahu.” “Monn.” “Aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.” Sosok itu tertawa kecil. “Selalu begitu.” Monn menatapnya tajam. “Apa maksudmu?” “Kau selalu ingin mengetahui semuanya.” Sosok itu melangkah maju. Monn secara refleks mengangkat Blood Thread. Benang merah memenuhi udara. Puluhan. Ratusan. Namun tidak satu pun menyentuh sosok tersebut. Bukan karena ia menghindar. Benang-benang itu bahkan tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang bisa diikat. Monn merasakan hawa dingin menjalar dari telapak tangannya. “Tidak memiliki benang...” Sosok itu tersenyum. “Karena aku bukan orang lain.” Monn menggenggam tangannya. “Kalau begitu apa kau?” Jawabannya sederhana. “Aku adalah pilihanmu.” Monn terdiam. Caelum berdiri di belakang. “Sekarang kau mengerti.” “Tidak.” Monn menoleh. “Aku justru semakin tidak mengerti.” Caelum menghela napas. “Ketika kau mati di kehidupan pertama, keinginan terakhirmu tidak berhenti pada kematian.” Ia menunjuk bayangan itu. “Keinginan itu mencari bentuk.” Monn kembali menatap sosok tersebut. “Dan bentuknya adalah dia?” “Bukan.” Caelum menggeleng. “Dia bukan keinginanmu.” “Lalu?” “Dia adalah bagian dari dirimu yang tidak pernah kau izinkan untuk memilih.” Ruangan kembali sunyi. Monn tidak menjawab. Sosok di depannya melangkah semakin dekat. “Aku adalah bagian yang selalu kau tekan.” “Karena keluargamu.” Satu langkah. “Karena aturan.” Satu langkah lagi. “Karena harapan orang lain.” Ia berhenti. “Karena rasa takut mengecewakan mereka.” Monn mengepalkan tangan. “Diam.” Sosok itu tersenyum. “Bukankah itu benar?” “Diam.” “Di kehidupan pertama, kau selalu mengatakan kepada dirimu sendiri bahwa kau tidak punya pilihan.” Monn menatapnya. “Tapi kau punya.” Kalimat itu terasa lebih tajam daripada ancaman mana pun. “Kau hanya tidak pernah menggunakannya.” Monn mengangkat tangan. Blood Thread bergerak. Satu tarikan. Benang merah melesat. Namun sosok itu tidak melawan. Benang melewati tubuhnya. Tidak terjadi apa-apa. Monn membeku. Sosok itu mendekat hingga jaraknya hanya beberapa langkah. “Kau bisa mengendalikan orang lain.” Ia menunjuk dada Monn. “Tapi kau bahkan belum bisa mengendalikan dirimu sendiri.” Monn terdiam. Mortis tiba-tiba berdiri di antara mereka. “Jangan dengarkan dia.” Sosok itu menatap Mortis. “Dan jangan dengarkan kau.” Mortis tidak menjawab. “Bukankah lucu?” Sosok itu tertawa kecil. “Kalian berdua selalu mengatakan kepada Monn agar tidak dikendalikan.” Tatapannya berpindah dari Mortis ke Monn. “Padahal sejak awal kalianlah yang menentukan apa yang boleh dia ketahui.” Edrin melangkah maju. “Cukup.” Ia mengaktifkan Blood Art. Darah tipis muncul di sekitar lengannya, membentuk lapisan energi. Sosok itu menoleh. “Edrin.” Nada suaranya berubah. Tidak lagi mengejek. “Masih hidup?” Edrin menatapnya dingin. “Aku seharusnya tahu.” “Apa?” “Bahwa kau tidak pernah benar-benar pergi.” Sosok itu tersenyum. “Tidak.” Ia menggeleng. “Aku tidak pernah ada.” Edrin terdiam. “Justru itu masalahnya.” Monn menatap keduanya. “Edrin.” Pria tua itu tidak menjawab. “Edrin!” Akhirnya Edrin menatapnya. Monn berkata perlahan, “Ceritakan semuanya.” Edrin menarik napas panjang. “Tidak sekarang.” “Kenapa?” “Karena ada sesuatu yang lebih penting.” Edrin menunjuk ke lantai. Monn melihat ke bawah. Bayangan sosok tersebut mulai melebar. Tidak seperti bayangan biasa. Ia membentuk pola seperti jaringan. Puluhan garis hitam menyebar ke seluruh ruangan. Kemudian— satu garis bergerak menuju pintu. Edrin langsung berubah serius. “Dia sedang mencari jalan keluar.” Monn mengerti. “Kalau dia keluar?” “Dia tidak akan sekadar tinggal di dalam bayanganmu.” Caelum berkata pelan, “Dia akan menjadi bagian dari dunia.” Monn menoleh. “Apa maksudnya?” Caelum menjawab, “Selama ini dia hanya memiliki satu tempat untuk berdiri.” Ia menunjuk Monn. “Di dalam pilihanmu.” Monn menatap sosok tersebut. “Dan sekarang?” “Sekarang dia sedang mencari pilihan lain.” Sosok itu tersenyum. “Benar.” Monn merasakan sesuatu yang tidak beres. Jika sosok itu benar-benar merupakan bagian dari dirinya— maka selama ini Monn mungkin bukan satu-satunya yang memiliki kehendak. Ada sesuatu di dalam dirinya yang telah menunggu. Menunggu kesempatan. Menunggu keputusan. Menunggu saat ketika Monn cukup kuat untuk membuka pintunya sendiri. Monn mengangkat tangannya. Blood Thread menyebar. “Aku tidak akan membiarkanmu keluar.” Sosok itu tersenyum. “Kenapa?” “Karena aku tidak tahu apa yang akan kau lakukan.” “Bukankah itu alasan yang buruk?” “Apa?” Sosok itu menatapnya. “Kau selalu mengatakan bahwa manusia harus memilih sendiri.” Ia menunjuk dirinya. “Kalau aku adalah bagian dari dirimu, kenapa kau tidak memberiku pilihan?” Monn terdiam. Pertanyaan itu mengenai sesuatu yang tidak ingin ia pikirkan. Ia ingin mengendalikan sosok tersebut. Bukan karena sosok itu menyerang. Bukan karena sosok itu telah melakukan sesuatu. Hanya karena Monn takut terhadap kemungkinan yang tidak bisa ia kendalikan. Dan itu— terlalu familiar. Ia pernah hidup seperti itu. Dikendalikan orang lain. Sekarang ia justru melakukan hal yang sama. Hanya saja kali ini— kepada dirinya sendiri. Monn menurunkan tangan. Sosok itu tersenyum lebih lebar. “Akhirnya.” Namun Monn berkata, “Aku tidak akan memberimu kebebasan penuh.” Senyum sosok itu berhenti. “Tapi aku juga tidak akan mengurungmu.” Caelum memperhatikan dengan serius. Edrin tampak bingung. Mortis hanya diam. Monn melanjutkan, “Kalau kau memang bagian dari diriku, maka aku akan mendengarkanmu.” Sosok itu menatapnya. “Tapi keputusan tetap milikku.” Untuk pertama kalinya— sosok itu tidak tersenyum. “Menarik.” Monn mengangkat tangan. “Namamu?” Sosok tersebut terdiam. Kemudian menjawab, “Belum punya.” “Kalau begitu aku akan memberimu satu.” “Nama?” “Ya.” Monn menatap wajahnya sendiri. “Noctis.” Sosok itu mengulanginya perlahan. “Noctis...” Kemudian ia tersenyum. “Baik.” Bayangan di lantai mulai menyusut. Tubuh Noctis perlahan memudar. Namun sebelum menghilang sepenuhnya, ia berkata: “Kalau begitu, Monn...” Matanya berubah menjadi merah terang. “...jangan menyesal ketika suatu hari kau memilih sesuatu yang tidak kusukai.” Monn menatapnya. “Aku juga bisa mengatakan hal yang sama kepadamu.” Noctis tertawa. Kemudian menghilang. Ruangan kembali sunyi. Monn berdiri tanpa bergerak. Edrin segera berkata, “Kau membuat kesalahan.” Monn menoleh. “Mungkin.” “Kau seharusnya mengikatnya.” “Kenapa?” “Karena kita tidak tahu apa dia.” Monn memandang tangannya. Benang merah masih bergetar. “Justru karena aku tidak tahu.” Ia mengepalkan tangan. “Aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.” Edrin terdiam. Caelum mengambil kristal dari meja. “Kalau begitu kau sudah membuat pilihan pertamamu.” Monn menatapnya. “Apa?” Caelum tersenyum. “Tidak mengendalikan sesuatu hanya karena kau takut kehilangan kendali.” Ia berjalan menuju pintu. “Pertahankan itu.” Monn memperhatikannya pergi. Namun ketika Caelum melewati pintu— ia berhenti. “Ah, satu hal lagi.” Monn menunggu. Caelum menoleh sedikit. “Jangan terlalu percaya padaku.” Monn mengerutkan kening. “Kenapa?” Caelum tersenyum. “Karena orang yang mengatakan dirinya membawamu kembali... belum tentu orang yang benar-benar melakukannya.” Kemudian ia pergi. Monn berdiri terpaku. Edrin menatap pintu. Mortis menatap Monn. Dan jauh di dalam dada Monn— benang putih bergerak sekali lagi. Kali ini bukan menuju Caelum. Bukan menuju Mortis. Bukan menuju Noctis. Benang itu menunjuk ke atas. Ke arah permukaan. Ke arah Veylcrest. Monn perlahan mengangkat kepala. “Ada seseorang di atas.” Edrin langsung mengerti. “Siapa?” Monn memejamkan mata dan menggunakan Blood Thread. Untuk pertama kalinya— ia melihat sesuatu yang membuatnya benar-benar takut. Di atas mereka, di dalam kediaman Veylcrest, terdapat satu benang putih lain. Terhubung kepada seseorang. Dan benang itu— terhubung langsung dengan dirinya. Monn membuka mata. “Edrin...” “Apa?” Monn menatap ke arah tangga. “Sepertinya kita tidak sendirian sejak awal.” Dari lantai atas terdengar suara langkah. Satu. Dua. Tiga. Kemudian suara seseorang memanggil dengan tenang: “Monn.” Suara itu— terdengar sangat familiar. Bukan suara Caelum. Bukan suara Asterion. Bukan suara Mortis. Monn membeku. Karena suara itu adalah suara seseorang yang seharusnya belum mengetahui apa pun tentang kehidupan pertamanya. Suara Lucien.

End of Chapter 15