Chapter 14 of 51

Chapter 14 — Orang yang Membuatku

1.3k words

Kembali Ruangan itu seketika terasa lebih sempit. Monn berdiri di ambang pintu. Edrin berada beberapa langkah di belakangnya, membeku dengan wajah yang sulit dibaca. Mortis tidak mengatakan apa pun. Sementara orang yang duduk di dalam ruangan perlahan berdiri. Tidak ada aura mengancam. Tidak ada tekanan sihir. Tidak ada Blood Art. Namun justru ketenangan itu yang membuat Monn waspada. Pria itu terlihat seusia Edrin. Rambutnya putih keabu-abuan, sedikit panjang dan berantakan. Pakaian sederhananya berwarna hitam tanpa lambang keluarga atau kerajaan. Wajahnya tenang, tetapi matanya— mata merah gelap. Sama seperti Monn. Bukan hanya warnanya. Tatapannya juga terasa familiar. Seolah Monn sedang melihat seseorang yang telah mengetahui dirinya jauh sebelum mereka bertemu. “Apa kau...” Monn berhenti. Pria itu tersenyum. “Ya.” “Aku belum bertanya.” “Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan.” Monn menyipitkan mata. “Siapa kau?” Pria itu berjalan mendekat. “Namaku Caelum.” Edrin akhirnya bergerak. “Tidak.” Caelum menoleh. “Sudah lama, Edrin.” “Kau seharusnya sudah mati.” Caelum tertawa kecil. “Bukankah kau juga?” Edrin mengepalkan tangannya. Monn langsung memperhatikan perubahan itu. Edrin tidak pernah terlihat seperti ini. Selama ini pria itu selalu tenang ketika membicarakan Blood Thread, Mortis, bahkan Asterion. Namun mendengar nama Caelum— ia terlihat benar-benar terguncang. Monn menatapnya. “Siapa dia?” Edrin tidak menjawab. “Edrin.” “Jangan bicara dengannya.” Caelum tersenyum. “Menarik.” Ia menatap Monn. “Bahkan sekarang dia masih melakukan hal yang sama.” Monn mengerutkan kening. “Melakukan apa?” “Memutuskan apa yang boleh kau ketahui.” Edrin langsung berkata, “Dia berbohong.” Caelum menoleh. “Apakah aku?” “Kau selalu begitu.” “Tidak.” Caelum menggeleng. “Aku hanya mengatakan sesuatu yang tidak ingin kau dengar.” Monn mengangkat tangan. “Cukup.” Keduanya berhenti. Monn menatap mereka bergantian. “Aku tidak peduli apa yang terjadi tujuh belas tahun lalu.” Edrin terlihat terkejut. “Untuk saat ini.” Monn melanjutkan. “Aku ingin jawaban tentang satu hal.” Tatapannya berpindah kepada Caelum. “Kenapa aku kembali?” Ruangan langsung sunyi. Caelum tidak tersenyum lagi. Ia berjalan menuju sebuah meja batu di sudut ruangan. Di atasnya terdapat sebuah benda kecil. Sebuah pecahan kristal bening. Caelum mengambilnya. “Karena kau meminta.” Monn membeku. “Apa?” “Kau sendiri yang memintanya.” “Tidak.” Caelum menatapnya. “Di kehidupan pertamamu.” Monn tidak bergerak. “Aku tidak pernah bertemu denganmu.” “Tidak secara langsung.” “Lalu kapan?” Caelum meletakkan kristal itu di atas meja. “Beberapa saat sebelum kau mati.” Jantung Monn terasa berat. Ingatan lama berusaha muncul. Koridor. Suara. Kegelapan. Namun semuanya masih samar. Monn memejamkan mata. Ia mencoba mengingat. Sesuatu. Apa pun. Tetapi yang muncul hanya serpihan. Suara seseorang. Bukan suara Mortis. Bukan suara Asterion. Seseorang berkata— “Kalau diberi kesempatan sekali lagi, apa yang ingin kau ubah?” Monn membuka mata. Caelum masih berdiri di sana. “Kau ingat.” Monn menatapnya. “Tidak sepenuhnya.” “Itu cukup.” “Apa jawabanku?” Caelum tersenyum tipis. “Kau berkata...” Ia berhenti sejenak. “Aku ingin memilih sendiri.” Monn terdiam. Edrin menundukkan kepala. Mortis tetap diam. Monn merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya. Benang putih. Untuk pertama kalinya sejak muncul, benang itu berdenyut. Sekali. Kemudian berhenti. “Jadi kau mengabulkan permintaanku?” Caelum menggeleng. “Tidak.” “Lalu siapa?” Caelum melihat Mortis. “Dia.” Monn langsung menoleh. Mortis tidak bergerak. “Mortis?” Caelum mengangguk. “Bukan dia yang mengembalikanmu.” Monn menatapnya. “Lalu?” “Dia yang membawa permintaanmu.” Monn semakin bingung. “Ke siapa?” Caelum tidak menjawab. Edrin justru berkata, “Ke sistem.” Monn menoleh. “Sistem?” Edrin mengangguk. “Bukan sistem seperti yang mungkin kau bayangkan.” Ia berjalan mendekat. “Dunia memiliki hukum yang bahkan para penyihir tertinggi tidak sepenuhnya pahami. Kematian, kelahiran, sebab dan akibat... semuanya memiliki hubungan.” Monn menatap benang putih. “Dan Thread of Origin?” “Adalah salah satu bagian dari hukum itu.” Caelum menambahkan, “Dan kau menyentuhnya.” “Bagaimana?” “Ketika kau mati.” Monn terdiam. Caelum melanjutkan. “Pada saat seseorang kehilangan segalanya, ada satu momen ketika semua benang kehidupannya berkumpul.” Ia menunjuk dada Monn. “Keinginan terakhir seseorang bisa menjadi sangat kuat.” “Keinginan terakhir...” Monn mengingatnya. Di kehidupan pertama— ia tidak memohon kekayaan. Tidak memohon kekuasaan. Tidak memohon kehidupan abadi. Ia hanya mengingat satu hal. Perasaan ketika menyadari bahwa seluruh hidupnya telah ditentukan orang lain. Dan kemudian ia berkata— Aku ingin memilih sendiri. Monn membuka matanya. “Jadi aku sendiri yang menyebabkan regression?” Caelum menggeleng. “Tidak sesederhana itu.” “Jelaskan.” “Keinginanmu membuka kemungkinan.” “Lalu?” “Seseorang mengambil kemungkinan itu.” Monn langsung terdiam. “Siapa?” Caelum tidak menjawab. Monn melangkah maju. “Siapa?” Caelum hanya tersenyum. “Pertanyaan itu seharusnya kau jawab sendiri.” Monn mengepalkan tangan. “Jangan bermain-main denganku.” “Aku tidak bermain.” “Kalau begitu katakan!” Blood Thread muncul di tangan Monn. Beberapa garis merah memenuhi ruangan. Caelum tidak bergerak. Tidak ada benang yang muncul dari tubuhnya. Monn terkejut. Tidak ada benang. Sama seperti Asterion. Ia langsung mengaktifkan Sight lebih dalam. Tetap tidak ada. “Kenapa kau tidak memiliki benang?” Caelum menjawab tenang. “Karena aku sudah membayar harganya.” Monn menatapnya. “Dengan apa?” Caelum menyentuh dadanya sendiri. “Hubunganku.” “Dengan siapa?” “Dengan dunia.” Monn mengerutkan kening. “Tidak masuk akal.” “Justru itu.” Caelum tersenyum. “Orang yang tidak memiliki benang tidak bisa dipengaruhi oleh Blood Thread.” Monn teringat Asterion. Lalu sosok misterius yang pernah muncul di Blackvale. Semua orang yang tidak memiliki benang. Mereka mungkin bukan orang yang sama. Namun mereka memiliki satu kesamaan. Mereka tidak terikat. Monn mulai memahami. “Jadi itu sebabnya kau bisa mengembalikanku.” “Sebagian.” “Sebagian?” Caelum mengangguk. “Orang tanpa benang dapat menyentuh sesuatu yang tidak bisa disentuh manusia biasa.” “Thread of Origin.” “Benar.” Monn menatap benang putih. “Dan kau menyentuhnya.” “Ya.” “Untuk membawaku kembali.” “Ya.” “Kenapa?” Caelum menatapnya lama. “Kau meminta.” Monn menggeleng. “Bukan itu.” Ia tahu. Ada sesuatu yang belum dikatakan. “Kenapa kau mau memenuhi permintaanku?” Caelum terdiam. Kemudian ia berkata, “Karena aku ingin melihat apakah manusia benar-benar bisa memilih ketika diberi kesempatan kedua.” Monn membeku. Kalimat itu— terlalu mirip dengan Asterion. Ia langsung mengangkat Blood Thread. Benang merah bergerak menuju Caelum. Namun sebelum menyentuhnya— Mortis muncul di antara mereka. “Jangan.” Monn berhenti. “Kenapa?” “Karena kau tidak tahu apa yang akan kau tarik.” Caelum tersenyum. “Masih sama.” Monn menatap Caelum. “Apa maksudmu?” “Mortis selalu melakukan itu.” “Apa?” “Melindungi manusia dari jawaban yang bisa membuat mereka berubah.” Mortis menoleh kepada Caelum. “Cukup.” Caelum tertawa pelan. “Jadi kau masih mengingatku.” Monn memperhatikan keduanya. “Kalian saling mengenal.” Mortis diam. Caelum menjawab, “Ya.” “Sejak kapan?” “Sejak sebelum kau lahir.” Monn terdiam. Kemudian sesuatu muncul di benaknya. Catatan Edrin. Jangan biarkan anak itu menemukan benangnya. Tujuh belas tahun sebelum Monn lahir. Caelum sudah ada. Mortis sudah ada. Edrin sudah mengetahui tentang anak yang akan membawa Blood Thread. Semuanya terasa seperti potongan puzzle yang perlahan tersusun. Namun masih ada satu bagian yang hilang. Asterion. “Bagaimana dengan Asterion?” Caelum tidak langsung menjawab. “Dia juga terlibat?” “Ya.” “Dalam regression-ku?” “Tidak.” Monn mengerutkan kening. “Lalu apa perannya?” Caelum menatapnya. “Dia hanya memastikan satu hal.” “Apa?” “Bahwa kau benar-benar memiliki pilihan.” Monn diam. Caelum berjalan menuju pintu. “Sekarang aku sudah memberimu jawaban.” “Belum.” Monn menghalanginya. “Kau belum mengatakan siapa yang mengambil kemungkinan itu.” Caelum berhenti. Untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya hilang. Ia menatap Monn. Kemudian berbisik: “Orang yang mengambil kemungkinan itu...” Benang putih di dada Monn tiba-tiba bergetar keras. “...adalah dirimu sendiri.” Monn membeku. “Apa?” Caelum mundur selangkah. “Bukan Monn yang sekarang.” “Lalu siapa?” “Monn yang mati.” Ruangan bergetar. Blood Thread di seluruh tubuh Monn muncul tanpa ia perintahkan. Benang putih berubah menjadi merah sesaat. Mortis mengangkat kepalanya. Edrin berteriak: “Caelum! Jangan lanjutkan!” Terlambat. Sebuah suara terdengar dari belakang Monn. Suara yang sama dengan suara yang pernah ia dengar di ruang kosong. “Aku ingin memilih sendiri.” Monn membeku. Kemudian suara itu berubah. Menjadi lebih jelas. Lebih dekat. “Dan aku sudah memilih.” Monn perlahan menoleh. Di belakangnya— tidak ada siapa-siapa. Namun bayangannya di lantai bergerak sendiri. Bayangan itu berdiri. Kemudian membentuk sosok manusia. Sosok tersebut memiliki wajah Monn. Mata merah. Rambut hitam. Namun senyumnya berbeda. Lebih dingin. Lebih kosong. Mortis mundur. Edrin pucat. Caelum menatap sosok itu dengan ekspresi serius. Monn menatap bayangannya sendiri. Lalu sosok tersebut berkata: “Aku tidak mengembalikanmu.” Ia tersenyum. “Aku mengembalikan diriku.”

End of Chapter 14

Chapter 14: Chapter 14 — Orang yang Membuatku - THE THREADS OF DEATH | Novel AI Studio