Chapter 13 of 51

Chapter 13 — Benang Putih

1.2k words

Lonceng Blackvale terus berbunyi. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Kemudian berhenti. Monn masih berdiri di dalam perpustakaan. Tatapannya terpaku pada benang putih yang keluar dari tangan Mortis dan terhubung langsung ke dadanya. Benang itu tidak bergerak seperti Blood Thread miliknya. Ia tidak berdenyut. Tidak bergetar. Tidak berubah warna. Benang itu hanya ada. Seolah-olah telah berada di sana jauh sebelum Monn menyadarinya. “Apa itu?” Suara Monn terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan. Mortis tidak menjawab. “Siapa yang terhubung denganku?” “Bukan siapa.” Monn mengerutkan kening. “Lalu apa?” “Pertanyaanmu salah.” Monn menatapnya tajam. “Kalau begitu berikan pertanyaan yang benar.” Mortis mengangkat tangan. Benang putih itu bergerak sedikit. “Bukan siapa yang terhubung denganmu.” Ia menunjuk dada Monn. “Melainkan apa yang terhubung denganmu.” Monn terdiam. Ia melihat benang itu lagi. Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang aneh. Benang putih tersebut tidak terhubung ke perasaan. Tidak ke ingatan. Tidak ke keinginan. Tidak pula ke seseorang. Benang itu terhubung langsung ke— keberadaannya. Seolah-olah ada sesuatu yang berkata bahwa Monn seharusnya ada. Bukan sebagai manusia. Bukan sebagai Veylcrest. Melainkan sebagai bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. “Ini bukan Blood Thread.” “Bukan.” “Bukan benang manusia.” “Bukan.” “Lalu apa?” Mortis menatapnya. “Benang asal.” Monn membeku. Istilah itu pernah ia dengar. Thread of Origin. Benang yang disebut dalam catatan lama. Benang yang halaman-halamannya telah hilang. Benang yang menurut Edrin tidak boleh ditemukan. “Thread of Origin?” Mortis tidak mengangguk. Ia hanya berkata, “Nama itu diberikan manusia.” Monn mengerutkan kening. “Jadi apa nama sebenarnya?” Mortis diam. “Jawab.” “Tidak ada nama.” Monn menghela napas. “Tentu saja.” Ia menutup buku di atas meja. “Aku mulai muak dengan jawaban seperti itu.” Mortis tidak bereaksi. Namun Monn memperhatikan sesuatu. Benang putih itu bergetar. Sangat kecil. Hampir tidak terlihat. Monn mendekat. “Apakah kau juga tidak tahu?” Mortis diam. Monn berhenti. “...Kau tidak tahu.” Untuk pertama kalinya, Mortis tidak memberikan jawaban. Dan justru itu yang membuat Monn semakin yakin. Sosok yang selama ini terlihat seperti mengetahui segala sesuatu— ternyata tidak. Pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka. Edrin masuk dengan tergesa. “Monn!” Ia berhenti saat melihat benang putih. Wajahnya berubah. “Tidak.” Monn menoleh. “Kau mengenalinya?” Edrin tidak menjawab. “Edrin.” “Matikan kemampuanmu.” “Apa?” “Sekarang!” Nada suaranya membuat Monn terkejut. Blood Thread di sekitar tangannya langsung menghilang. Namun benang putih itu tetap ada. Edrin mendekat perlahan. “Jangan sentuh.” “Aku belum menyentuh.” “Bagus.” “Sekarang jelaskan.” Edrin menatap benang itu dengan ekspresi yang belum pernah Monn lihat sebelumnya. Takut. Bukan takut kepada Monn. Bukan kepada Mortis. Melainkan kepada sesuatu yang tidak terlihat. “Benang itu muncul pada catatan terakhir Edrin.” Monn mengerutkan kening. “Catatan siapa?” Edrin terdiam. Kemudian ia berkata, “Catatan milikku.” Monn menatapnya. “Kau?” Edrin mengangguk. “Aku pernah menulis tentang ini.” “Kenapa aku tidak pernah melihatnya?” “Karena aku membakarnya.” Monn langsung mendekat. “Kenapa?” “Karena setelah membaca isinya, aku sadar Blood Thread bukanlah kemampuan pertama yang muncul dalam garis keluargaku.” Monn menunggu. Edrin menatap benang putih itu. “Blood Thread adalah tiruannya.” Ruangan menjadi sunyi. Monn merasa dadanya semakin berat. “Siapa pemilik aslinya?” Edrin menatapnya. “Tidak ada.” “Tidak ada?” “Bukan manusia yang memilikinya.” Monn menatap Mortis. Sosok itu tetap diam. Edrin melanjutkan. “Menurut catatan, benang itu sudah ada sebelum manusia memahami konsep takdir.” Monn mengerutkan kening. “Kalau begitu apa fungsinya?” Edrin menjawab pelan. “Menentukan apakah sesuatu seharusnya ada.” Monn terdiam. “Seharusnya... ada?” “Ya.” Edrin menunjuk Monn. “Dan kau adalah anomali.” Monn tidak langsung menjawab. Ia berjalan menuju jendela. Blackvale terlihat dari sana. Lampu-lampu rumah mulai menyala. Para penjaga masih berjaga di gerbang. Semuanya terlihat normal. Namun di mata Monn— dunia tidak pernah terlihat normal lagi. “Aku anomali karena kembali dari kematian?” “Bukan.” “Lalu?” Edrin menarik napas. “Karena kau kembali sebelum waktumu seharusnya berakhir.” Monn menoleh. “Apa maksudmu?” “Manusia hidup melalui rangkaian keputusan. Kau mati. Itu adalah akhir dari rangkaian pertama.” Edrin berjalan mendekat. “Tetapi seseorang membuka kembali rangkaian itu.” “Siapa?” “Aku tidak tahu.” “Asterion?” “Mungkin.” “Mortis?” “Tidak tahu.” Monn menghela napas. “Jadi tidak ada yang tahu.” Edrin menatapnya. “Dan itulah bagian yang paling berbahaya.” “Kenapa?” “Karena kalau tidak ada yang tahu siapa yang mengembalikanmu...” Edrin menunjuk benang putih. “...kita juga tidak tahu siapa yang sedang menunggu hasilnya.” Di tempat lain. Jauh dari Blackvale. Di sebuah ruangan yang bahkan tidak tercatat dalam peta kerajaan— seseorang duduk di depan meja. Di atas meja itu terdapat puluhan benda. Token logam. Potongan halaman. Peta Blackvale. Dan sebuah lukisan. Lukisan Monn. Orang itu menyentuh salah satu benang yang tergambar di atas lukisan. “Dia sudah menemukannya.” Seseorang berdiri di belakangnya. “Benang putih?” “Ya.” “Apakah kita menghentikannya?” Orang di depan meja menggeleng. “Tidak.” “Kenapa?” “Karena dia belum menariknya.” “Kalau dia menariknya?” Orang itu tersenyum. “Barulah kita bergerak.” Kembali di Veylcrest. Monn menatap Edrin. “Aku ingin melihat catatan itu.” “Tidak.” Jawaban itu langsung keluar. Monn menyipitkan mata. “Kenapa?” “Karena catatan itu tidak aman.” “Lebih tidak aman daripada membiarkanku berjalan tanpa mengetahui apa yang terjadi?” “Ya.” Monn diam. Kemudian ia bertanya, “Di mana catatan itu?” Edrin tidak menjawab. “Edrin.” “Tidak.” “Di mana?” “Aku membakarnya.” Monn menatapnya beberapa detik. “Kalau begitu kenapa kau masih terlihat seperti menyimpan sesuatu?” Edrin membeku. Monn tersenyum tipis. “Benang.” Edrin tidak bergerak. Monn menunjuk tangannya. “Aku mungkin tidak bisa melihat benangmu sekarang. Tapi aku bisa melihat ekspresimu.” Edrin menghela napas. “Catatan itu tidak terbakar semuanya.” “Di mana?” “Di bawah rumah ini.” Monn langsung berbalik. “Ruang bawah tanah?” “Lebih dalam.” “Seberapa dalam?” Edrin menatapnya. “Tempat yang bahkan tidak pernah kukunjungi lagi sejak tujuh belas tahun lalu.” Monn berhenti. “Tujuh belas tahun?” Edrin mengangguk. “Sejak malam sebelum kau lahir.” Monn merasakan sesuatu yang dingin menjalar di tubuhnya. “Jadi malam itu ada hubungannya denganku?” “Tidak.” Edrin menatapnya serius. “Justru itu yang membuatnya berbahaya.” Mereka turun lagi. Kali ini hanya Monn dan Edrin. Mortis mengikuti dari belakang. Lorong pertama mereka lewati. Kemudian lorong kedua. Lalu tangga batu yang tidak pernah Monn lihat sebelumnya. Semakin dalam mereka turun, semakin dingin udara. Tidak ada obor. Tidak ada cahaya. Hanya suara langkah mereka. Tok. Tok. Tok. Setelah beberapa menit, Edrin berhenti. Di hadapan mereka terdapat pintu batu. Tidak memiliki gagang. Tidak memiliki kunci. Hanya satu simbol. Sebuah lingkaran dengan garis putih di tengahnya. Monn mendekat. “Ini?” Edrin mengangguk. “Ruang asal.” “Apa yang ada di dalam?” “Aku tidak tahu.” “Kau tidak pernah membukanya?” “Tidak.” “Kenapa?” Edrin menatap simbol tersebut. “Karena pintu ini hanya terbuka untuk seseorang yang memiliki benang putih.” Monn perlahan menatap dadanya. “Jadi... aku harus membukanya.” Edrin mengangguk. Monn mengangkat tangannya. Namun sebelum menyentuh pintu— Mortis berkata, “Jangan.” Monn berhenti. Ia menoleh. “Kenapa?” Mortis tidak menjawab. Monn menatapnya beberapa detik. Kemudian ia tersenyum kecil. “Sekarang aku mengerti.” “Apa?” “Kau bukan takut aku masuk.” Mortis diam. “Kau takut aku menemukan sesuatu.” Untuk beberapa saat— Mortis tidak bergerak. Kemudian ia berkata, “Ya.” Monn membeku. Jawaban itu jauh lebih jujur daripada yang ia harapkan. Ia menatap pintu batu. Kemudian menatap Edrin. “Kalau begitu aku harus membukanya.” Edrin tidak menghalangi. Monn menempelkan tangannya ke simbol. Tidak terjadi apa-apa. Kemudian benang putih di dadanya bergerak. Satu garis cahaya mengalir dari tubuh Monn menuju pintu. Krek. Retakan muncul. Pintu terbuka perlahan. Di baliknya tidak ada ruangan penuh buku. Tidak ada harta. Tidak ada senjata. Hanya satu kursi. Dan seseorang sedang duduk di sana. Monn membeku. Rambut putih. Pakaian sederhana. Wajah tenang. Namun yang paling membuat Monn tidak mampu bergerak— adalah mata orang itu. Mata yang sama seperti miliknya. Orang itu perlahan membuka mata. Kemudian tersenyum. “Lama sekali, Monn.” Edrin mundur. “Tidak mungkin.” Monn menatapnya. “Siapa dia?” Edrin tidak menjawab. Karena orang di dalam ruangan itu sudah berdiri. Dan sebelum siapa pun sempat bergerak, ia berkata: “Aku adalah orang yang pertama kali membuatmu kembali.”

End of Chapter 13