Chapter 12 of 51
Chapter 12 — Dua Suara dalam Satu
1.3k words
Benang
Ruangan bawah tanah itu tidak lagi terasa seperti tempat yang aman.
Bukan karena ada musuh.
Bukan karena seseorang sedang menyerang.
Melainkan karena tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang sedang mengatakan kebenaran.
Monn berdiri diam di tengah ruangan.
Di hadapannya, Mortis masih berdiri tanpa bergerak.
Di belakangnya, Edrin terlihat lebih gelisah daripada sebelumnya.
Kalimat Asterion terus berputar di kepala Monn.
Jangan percaya pada semua yang dikatakan Mortis.
Monn mengangkat wajah.
“Mortis.”
Sosok itu menatapnya.
“Apa?”
“Apakah kau berbohong kepadaku?”
Tidak ada jawaban.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Akhirnya Mortis berkata,
“Ya.”
Semua orang membeku.
Lucien langsung menoleh.
“Apa?”
Seraphine menatap Mortis dengan waspada.
Alaric mengangkat pedangnya sedikit.
Namun Monn hanya diam.
Ia justru merasa aneh.
Jawaban itu terlalu mudah.
“Dalam hal apa?”
Mortis menatapnya.
“Banyak.”
Monn menyipitkan mata.
“Kenapa?”
“Karena beberapa kebenaran akan menghancurkan pilihanmu sebelum kau siap membuatnya.”
Monn tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Melainkan karena frustrasi.
“Jadi kau memang mengendalikan informasi yang kuberikan.”
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku tidak melakukannya.”
“Lalu bagaimana aku bisa mempercayaimu?”
“Kau tidak bisa.”
Jawaban itu membuat Monn terdiam.
Mortis melanjutkan,
“Kepercayaan bukan sesuatu yang harus diberikan hanya karena seseorang mengaku berada di pihakmu.”
Edrin mengangguk perlahan.
“Untuk sekali ini, aku setuju.”
Monn menoleh kepadanya.
“Kau juga menyembunyikan banyak hal.”
“Benar.”
“Termasuk soal Blood Thread.”
“Benar.”
“Termasuk soal Asterion.”
Edrin tidak langsung menjawab.
Monn maju satu langkah.
“Termasuk soal kehidupan pertamaku?”
Edrin akhirnya menatapnya.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak tahu.”
Monn berhenti.
Edrin menghela napas.
“Aku tahu pola. Aku tahu catatan. Aku tahu apa yang mungkin terjadi. Tapi aku tidak pernah hidup sebagai dirimu.”
Monn terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak ia menemukan Edrin, jawaban itu terasa jujur.
Bukan karena Edrin memiliki semua jawaban.
Justru karena ia mengakui bahwa dirinya tidak memiliki semuanya.
Seraphine mendekat.
“Monn.”
“Ya?”
“Kau bilang Asterion menunjukkan dua kemungkinan.”
Monn mengangguk.
“Benar.”
“Apakah kau melihat apa yang terjadi di dalamnya?”
“Tidak sepenuhnya.”
“Lalu kenapa dia menunjukkannya?”
Monn terdiam.
Itulah pertanyaan yang sejak tadi mengganggunya.
Asterion tidak menyerang.
Tidak mengancam.
Tidak memaksa.
Ia hanya menunjukkan dua pintu.
Dua kemungkinan.
Dua jalan.
Namun mungkin justru itulah bentuk manipulasi yang paling halus.
Memberi seseorang pilihan—
tetapi menentukan pilihan apa yang boleh mereka lihat.
Monn menatap lantai.
“Dia ingin aku memilih.”
“Memilih apa?”
“Entahlah.”
Seraphine menatapnya.
“Kalau begitu jangan pilih dulu.”
Monn mengangkat kepala.
Seraphine melanjutkan,
“Kalau seseorang memberimu dua pilihan dan berkata hanya itu yang tersedia, bukan berarti memang hanya ada dua.”
Monn terdiam.
Edrin menatap Seraphine.
“Dia benar.”
Lucien menyilangkan tangan.
“Untuk pertama kalinya hari ini, kita semua sepakat.”
Alaric menurunkan pedangnya.
“Kalau begitu kita kembali ke atas.”
Monn langsung menoleh.
“Tidak.”
Alaric menatapnya.
“Apa?”
“Kita belum selesai.”
“Apa lagi yang ingin kau cari?”
Monn melihat dinding tempat lukisan tadi berada.
“Jawaban.”
Alaric menggeleng.
“Jawaban bisa menunggu.”
“Tidak.”
Nada Monn berubah.
“Serangan tadi bukan kebetulan.”
Edrin menatapnya.
“Benar.”
“Garrick diberi token.”
“Benar.”
“Asterion muncul.”
“Benar.”
“Lalu seseorang tahu bahwa aku kembali.”
Monn mengangkat tangan.
“Dan sekarang Asterion memberiku dua kemungkinan masa depan.”
Ia mengepalkan tangan.
“Semua itu terhubung.”
Alaric diam.
Monn melanjutkan,
“Kalau mereka memang menginginkan sesuatu dariku, aku ingin tahu apa.”
Mereka kembali ke lantai atas beberapa menit kemudian.
Blackvale terlihat berbeda.
Para penjaga masih sibuk memeriksa kerusakan di gerbang timur.
Beberapa pelayan membawa barang-barang dari ruangan yang terkena dampak serangan.
Tidak ada kehancuran besar.
Justru itu yang membuat Monn semakin curiga.
Serangan tersebut terlalu teratur.
Mereka datang.
Membuat kekacauan.
Mengambil sesuatu.
Lalu pergi.
Tidak ada upaya menghancurkan Veylcrest.
Tidak ada pembunuhan besar.
Tidak ada usaha menangkap anggota keluarga.
Monn berdiri di balkon.
Matanya memandang gerbang timur.
“Ini bukan serangan.”
Lucien berdiri di sampingnya.
“Lalu?”
“Pencarian.”
“Untuk apa?”
Monn menatapnya.
“Belum tahu.”
Lucien diam.
Kemudian ia berkata,
“Monn.”
“Ya?”
“Kau tahu sesuatu tentang masa depan yang tidak kau ceritakan kepada kami?”
Monn tidak menjawab.
Lucien melanjutkan,
“Aku tidak meminta semuanya.”
Monn menoleh.
“Lalu?”
“Setidaknya beri tahu kami bagian yang bisa membuat kami tidak mati karena mengikuti rencanamu.”
Monn terdiam.
Itu bukan tuduhan.
Itu permintaan.
Sederhana.
Namun justru karena itulah terasa berat.
Monn memandang benang tipis di antara dirinya dan Lucien.
Dulu ia mungkin akan menariknya.
Membuat Lucien percaya.
Membuatnya mengikuti.
Sekarang ia tidak melakukannya.
“Aku tahu sesuatu.”
Lucien menunggu.
“Serangan seperti ini seharusnya terjadi dua tahun lagi.”
Lucien membeku.
“Apa?”
“Dalam kehidupan pertamaku.”
Lucien menatapnya tajam.
“Jadi semua ini—”
“Tidak.”
Monn memotong.
“Jangan anggap semuanya sama.”
Ia menghela napas.
“Karena sejak aku kembali, semuanya sudah berubah.”
Lucien menatap gerbang.
“Kalau begitu masa depan yang kau ingat sudah tidak bisa dipercaya.”
Monn mengangguk.
“Itulah masalahnya.”
Malam tiba.
Monn tidak tidur.
Ia kembali ke ruang perpustakaan keluarga.
Buku-buku lama memenuhi rak.
Ia mencari satu hal.
Blood Thread.
Tidak ada.
Thread of Origin.
Tidak ada.
Edrin Veylcrest.
Tidak ada.
Namun setelah beberapa jam, Monn menemukan sebuah buku tipis yang terselip di antara dua catatan sejarah kerajaan.
Tidak ada judul.
Tidak ada nama penulis.
Ia membukanya.
Halaman pertama kosong.
Halaman kedua juga.
Namun ketika Monn menyentuhnya—
tinta perlahan muncul.
MANUSIA MEMILIKI TIGA BENANG.
Monn mengerutkan kening.
Kalimat kedua muncul.
BENANG KEINGINAN.
BENANG PILIHAN.
BENANG KONSEKUENSI.
Monn membaca dengan hati-hati.
Benang keinginan menentukan apa yang diinginkan seseorang.
Benang pilihan menunjukkan keputusan yang diambil.
Benang konsekuensi menunjukkan dampak dari keputusan tersebut.
Namun ada catatan tambahan.
SEORANG PEMILIK BLOOD THREAD TIDAK DAPAT MENCIPTAKAN KEINGINAN.
TIDAK DAPAT MENGHAPUS KEHENDAK.
DAN TIDAK DAPAT MENENTUKAN HASIL AKHIR.
Monn mengerutkan kening.
“Lalu apa yang bisa kulakukan?”
Tinta baru muncul.
MEMBELOKKAN ARAH.
Monn terdiam.
Jadi Blood Thread bukan kendali mutlak.
Ia hanya mengubah kemungkinan.
Namun ada satu bagian yang membuat Monn berhenti.
Di bagian bawah halaman tertulis:
JIKA BENANG DIGUNAKAN TERLALU DALAM, PEMILIKNYA AKAN MENERIMA BENANG KEEMPAT.
Monn menelan ludah.
“Benang keempat?”
Tulisan baru muncul.
BENANG DIRI.
Lalu—
BENANG YANG MEMBEDAKAN KEINGINANMU DARI KEINGINAN ORANG LAIN.
Monn langsung menutup buku.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia teringat kata-kata Edrin.
Ia teringat Mortis.
Ia teringat Asterion.
Dan tiba-tiba semuanya terasa terhubung.
Harga Blood Thread bukan sekadar kelelahan.
Bukan sekadar kehilangan energi.
Tetapi kemungkinan kehilangan kemampuan untuk mengetahui—
apa yang benar-benar ia inginkan.
Pintu perpustakaan terbuka.
Monn langsung berdiri.
Seraphine masuk.
“Kau belum tidur.”
“Begitu juga kau.”
“Aku mencarimu.”
“Kenapa?”
Seraphine berhenti beberapa langkah darinya.
“Karena aku ingin bertanya sesuatu.”
Monn menunggu.
“Di kehidupan pertamamu...”
Ia berhenti.
“Apakah aku ada?”
Monn membeku.
Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada yang ia duga.
Ia menatap Seraphine.
Benang di antara mereka bergetar.
Ia bisa menariknya.
Ia bisa membuat rasa ingin tahunya menghilang.
Ia bisa mengubah arah pembicaraan.
Tetapi Monn tidak melakukannya.
“Ya.”
Seraphine menarik napas.
“Dan apa yang terjadi padaku?”
Monn terdiam cukup lama.
“Aku tidak ingin menjawab.”
Seraphine menatapnya.
“Karena buruk?”
“Karena masa depan itu sudah tidak ada.”
Seraphine mengangguk perlahan.
“Baik.”
Ia tidak memaksa.
Kemudian ia berbalik.
Sebelum keluar, ia berkata,
“Kalau begitu jangan hidup untuk memperbaiki masa lalu.”
Monn menatap punggungnya.
Seraphine berhenti di pintu.
“Hiduplah untuk membuat pilihan yang memang ingin kau buat sekarang.”
Pintu tertutup.
Monn berdiri sendirian.
Untuk beberapa saat, ia hanya diam.
Kemudian ia melihat buku tanpa judul di atas meja.
Halaman yang tadi ia tutup—
terbuka sendiri.
Ada tulisan baru.
BENANG KEEMPAT TELAH TERDETEKSI.
Monn membeku.
Di bawahnya muncul satu kalimat lagi.
DAN BENANG ITU BUKAN MILIKMU.
Api lilin padam.
Dari belakangnya terdengar suara.
Suara yang sudah sangat ia kenal.
“Sekarang kau mulai memahami.”
Monn berbalik.
Mortis berdiri di sana.
Namun kali ini—
ada sesuatu di tangannya.
Sebuah benang.
Bukan merah.
Bukan hitam.
Bukan abu-abu.
Benang itu berwarna putih.
Dan ujungnya—
terhubung ke dada Monn.
Mortis berkata pelan,
“Yang kembali bersamamu bukan hanya aku.”
Monn menatap benang tersebut.
“Lalu siapa?”
Mortis tidak menjawab.
Dari luar jendela terdengar lonceng Blackvale berbunyi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kemudian seluruh benang di sekitar Monn bergerak bersamaan.
Dan di kejauhan—
seseorang membuka matanya.