“Akhirnya kau melihatku.”
Suara itu masih menggantung di udara.
Monn berdiri tanpa bergerak.
Blood Thread yang tadi muncul di tangannya perlahan menghilang.
Tidak ada sosok di depan mereka.
Tidak ada pintu yang terbuka.
Tidak ada suara langkah.
Hanya ruangan gelap dan lukisan yang retak.
Namun Monn tahu satu hal.
Suara itu nyata.
Bukan ilusi.
Bukan gema pikirannya.
Seseorang benar-benar sedang berbicara kepadanya.
“Siapa kau?”
Tidak ada jawaban.
Monn mencoba lagi.
“Kenapa kau mengawasiku?”
Tetap tidak ada jawaban.
Edrin berjalan mendekat.
“Jangan.”
Monn menoleh.
“Kenapa?”
“Karena dia ingin kau bertanya.”
“Lalu?”
“Setiap pertanyaan yang kau ajukan akan memberinya kesempatan menentukan arah percakapan.”
Monn terdiam.
Edrin menatap lukisan yang retak.
“Jangan berikan kendali itu.”
Monn menatapnya beberapa saat.
Kemudian ia tersenyum kecil.
“Lucu.”
“Apa?”
“Bukankah kau yang tadi memperingatkanku tentang mengendalikan orang lain?”
“Ya.”
“Sekarang kau menyuruhku berhenti bertanya agar orang lain tidak mengendalikan percakapan.”
Edrin tertawa pelan.
“Kau mulai mengerti.”
Monn berbalik.
“Aku tidak akan membiarkan seseorang menentukan apa yang boleh kutanyakan.”
Ia mengangkat tangannya.
Blood Thread kembali muncul.
Kali ini Monn tidak menarik garis hitam yang terhubung dengan lukisan.
Ia justru mencari sumber suara.
Satu.
Dua.
Tiga.
Puluhan garis muncul.
Sebagian berasal dari ruangan.
Sebagian berasal dari orang-orang di atas.
Namun suara tadi tidak memiliki hubungan dengan apa pun.
Monn mempersempit pandangannya.
Kemudian ia melihatnya.
Sebuah garis yang sangat tipis.
Tidak merah.
Tidak hitam.
Abu-abu.
Garis itu menembus dinding ruangan.
Jauh menuju sesuatu yang tidak dapat dilihatnya.
Monn mengulurkan tangan.
Mortis langsung berdiri di depannya.
“Jangan.”
Monn menatapnya.
“Kenapa kau selalu menghentikanku?”
Mortis diam.
“Kalau kau tahu sesuatu, katakan.”
Tidak ada jawaban.
Monn mengepalkan tangan.
“Kalau tidak, jangan menghalangiku.”
Ia mencoba bergerak melewati Mortis.
Namun bayangan itu tetap berdiri di depannya.
Untuk pertama kalinya, Monn benar-benar marah.
“Singkir.”
Mortis tidak bergerak.
“Singkir!”
Blood Thread meledak dari tubuh Monn.
Benang-benang merah memenuhi ruangan.
Rak buku berguncang.
Beberapa lampu padam.
Seraphine menutup wajahnya dari debu.
Lucien mengangkat tangan untuk melindunginya.
Alaric menatap Monn dengan ekspresi serius.
“Monn!”
Namun Monn tidak mendengar.
Ia hanya menatap Mortis.
“Kau bukan tuanku.”
Mortis perlahan mengangkat kepala.
“Aku tahu.”
“Lalu jangan bertindak seolah kau berhak menentukan apa yang kulakukan.”
“Aku tidak menentukan.”
“Lalu apa?”
Mortis diam beberapa saat.
Kemudian menjawab:
“Aku mengingatkan.”
Monn membeku.
“Mengingatkan apa?”
“Bahwa tidak semua pintu perlu dibuka.”
Monn menatap pintu hitam di belakang mereka.
“Dan siapa yang menentukan pintu mana yang boleh kubuka?”
Mortis tidak menjawab.
Monn tersenyum pahit.
“Tidak ada.”
Ia menurunkan tangannya.
“Aku yang menentukan.”
Mortis perlahan mundur.
Untuk pertama kalinya—
ia membiarkan Monn lewat.
---
Monn mendekati garis abu-abu.
Ia tidak menariknya.
Ia hanya menyentuhnya.
Dunia seketika menjadi sunyi.
Tidak ada suara Edrin.
Tidak ada Seraphine.
Tidak ada Alaric.
Tidak ada Lucien.
Hanya ruang kosong.
Di depannya berdiri seseorang.
Sosok itu memakai pakaian sederhana.
Tidak ada lambang.
Tidak ada senjata.
Wajahnya tidak jelas.
Monn mencoba mendekat.
Sosok itu mundur.
“Siapa kau?”
Sosok tersebut menjawab.
“Pertanyaan yang sama lagi.”
Monn berhenti.
“Kau yang berbicara tadi.”
“Ya.”
“Kenapa wajahmu tidak bisa kulihat?”
“Karena kau belum siap.”
Monn tertawa pendek.
“Aku benci jawaban seperti itu.”
“Aku tahu.”
“Kau mengenalku?”
“Sedikit.”
“Dari kehidupan pertama?”
“Bukan.”
Monn terdiam.
“Dari mana?”
Sosok itu menatapnya.
“Dari pilihanmu.”
Monn mengerutkan kening.
“Kau berbicara seperti Edrin.”
“Mungkin karena Edrin belajar dariku.”
Monn langsung menegang.
“Jadi kau gurunya?”
“Tidak.”
“Temannya?”
“Tidak.”
“Musuhnya?”
Sosok itu tersenyum.
“Juga bukan.”
“Lalu apa?”
“Aku adalah seseorang yang melihat apa yang terjadi ketika manusia diberi kesempatan kedua.”
Monn terdiam.
“Dan apa yang kau lihat?”
Sosok itu tidak langsung menjawab.
“Hal yang menarik.”
“Jawab.”
“Kau berubah.”
Monn menatapnya tajam.
“Tentu saja aku berubah.”
“Tidak.”
Sosok itu menggeleng.
“Bukan perubahan yang kuperhatikan.”
Ia menunjuk dada Monn.
“Yang menarik adalah alasan di balik perubahanmu.”
Monn tidak menjawab.
“Kau mengatakan ingin menyelamatkan keluargamu.”
“Ya.”
“Kau mengatakan ingin mencegah tragedi.”
“Ya.”
“Kau mengatakan ingin memilih hidupmu sendiri.”
Monn diam.
Sosok itu melanjutkan.
“Tapi semakin banyak kau mencoba mengendalikan masa depan... semakin banyak keputusan orang lain yang mulai kau ambil.”
Monn mengepalkan tangan.
“Aku melakukan itu agar mereka tidak mati.”
“Benar.”
“Kau tidak tahu apa yang terjadi pada kehidupan pertamaku.”
“Aku tahu.”
Monn membeku.
“Apa?”
“Aku tahu semuanya.”
Sosok itu berjalan mendekat.
“Aku tahu saat keluargamu runtuh.”
“Aku tahu saat kau kehilangan orang-orang yang kau lindungi.”
“Aku tahu saat kau menyadari bahwa hidupmu selama ini bukan milikmu.”
Monn menatapnya.
“Kalau begitu kau tahu kenapa aku melakukan ini.”
“Ya.”
“Dan kau masih menyalahkanku?”
“Aku tidak menyalahkanmu.”
“Lalu?”
“Aku hanya menunggu.”
“Menunggu apa?”
Sosok itu tersenyum.
“Menunggu kapan kau berhenti mencari orang yang harus disalahkan.”
Monn terdiam.
Seketika ruang kosong itu bergetar.
Garis abu-abu di sekitar mereka mulai retak.
Monn sadar sesuatu.
Ia tidak bisa berada di tempat ini terlalu lama.
“Siapa namamu?”
Sosok itu menatapnya.
“Asterion.”
Monn membeku.
Nama itu.
Nama yang pernah disebut Mortis.
Nama yang pernah didengar Monn dari pria berjubah hitam.
Jadi sosok di depannya adalah—
Asterion.
Namun penampilannya berbeda.
Tidak ada jubah hitam.
Tidak ada wajah tersembunyi.
Tidak ada aura mengancam.
Hanya seseorang yang berdiri dengan tenang.
“Kau.”
Monn maju.
“Apa yang kau inginkan dariku?”
Asterion menjawab sederhana.
“Tidak ada.”
Monn tertawa.
“Omong kosong.”
“Benarkah?”
“Kau mengatur sesuatu.”
“Tidak.”
“Kau tahu tentang kehidupanku.”
“Ya.”
“Kau tahu aku akan kembali.”
“Ya.”
“Kau mengawasi setiap langkahku.”
“Benar.”
Monn menatapnya.
“Lalu bagaimana mungkin kau tidak menginginkan sesuatu?”
Asterion tersenyum.
“Aku ingin melihat.”
“Melihat apa?”
“Apakah seseorang yang telah kehilangan kendali atas hidupnya akan menggunakan kesempatan kedua untuk merebut kendali orang lain.”
Monn terdiam.
Asterion melanjutkan.
“Kalau kau berhasil mengendalikan semuanya, kau akan membuktikan sesuatu.”
“Apa?”
“Bahwa manusia yang paling takut kehilangan kebebasan orang lain justru dapat berubah menjadi orang yang merampas kebebasan itu.”
Monn menatap Asterion.
Untuk beberapa saat ia tidak mampu membalas.
Karena jauh di dalam dirinya—
ia tahu kemungkinan itu ada.
Ia sudah merasakan godaannya.
Saat melihat benang Garrick.
Saat mengetahui masa depan.
Saat berpikir bahwa beberapa orang mungkin harus dikorbankan.
Saat memutuskan bahwa dirinya lebih tahu apa yang terbaik.
Monn perlahan mengepalkan tangan.
“Aku tidak akan menjadi seperti itu.”
Asterion tersenyum.
“Kau sudah mengatakannya.”
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Asterion melangkah mundur.
“Karena itu aku akan memberimu pilihan.”
“Apa?”
Dua pintu muncul di belakang Asterion.
Pintu pertama berwarna putih.
Pintu kedua berwarna hitam.
“Pilih salah satu.”
Monn menatap keduanya.
“Apa yang ada di baliknya?”
“Jawaban.”
“Yang mana?”
“Yang satu menunjukkan masa depan yang mungkin terjadi jika kau terus mengendalikan orang lain.”
Monn menatap pintu hitam.
“Dan yang lain?”
“Masa depan yang mungkin terjadi jika kau melepaskan sebagian kendali.”
Monn menatap pintu putih.
“Mana yang benar?”
Asterion tersenyum.
“Keduanya.”
Monn mengerutkan kening.
“Bagaimana mungkin?”
“Karena masa depan bukan sesuatu yang menunggu.”
Asterion menatap Monn.
“Masa depan adalah sesuatu yang kau buat melalui pilihan.”
Kedua pintu perlahan menghilang.
Monn langsung mengulurkan tangan.
“Tunggu!”
Asterion menoleh.
“Satu hal lagi.”
“Apa?”
“Jangan percaya pada semua yang dikatakan Mortis.”
Monn membeku.
“Kenapa?”
Asterion hanya menjawab:
“Karena bahkan kematian memiliki sesuatu yang ingin ia dapatkan darimu.”
Kemudian ruang kosong itu pecah.
---
Monn membuka mata.
Ia kembali berada di ruang bawah tanah.
Seraphine berdiri di depannya.
“Monn!”
Ia tersentak.
“Apa yang terjadi?”
Monn melihat sekeliling.
Beberapa detik terasa seperti berjam-jam.
Namun semua orang mengatakan hanya beberapa detik telah berlalu.
Edrin menatapnya dengan ekspresi serius.
“Kau bertemu dengannya.”
Monn tidak menjawab.
Alaric segera bertanya,
“Siapa?”
Monn menatap Edrin.
“Asterion.”
Edrin membeku.
Lucien mengerutkan kening.
“Asterion?”
Monn mengangguk.
“Dia bilang sesuatu.”
“Apa?”
Monn menatap Mortis.
Sosok itu masih berdiri di sudut ruangan.
Diam.
Mengawasi.
Monn kemudian berkata,
“Dia bilang jangan percaya pada Mortis.”
Ruangan membeku.
Mortis perlahan mengangkat kepalanya.
Untuk pertama kalinya, Monn melihat sesuatu yang berbeda dari sosok itu.
Bukan kemarahan.
Bukan ketakutan.
Melainkan—
keraguan.
Edrin mundur satu langkah.
“Tidak...”
Monn menoleh.
“Apa?”
Edrin menatap Mortis.
“Kalau Asterion sudah mengatakan itu kepadamu...”
Ia berhenti.
“Berarti dia tahu sesuatu yang bahkan aku tidak tahu.”
Monn mengerutkan kening.
“Apa?”
Edrin menatap pintu hitam yang kini telah tertutup kembali.
“Bahwa Mortis mungkin bukan bagian dari kemampuanmu.”
Monn terdiam.
“Lalu apa?”
Edrin menjawab pelan.
“Mungkin kemampuanmu adalah bagian dari Mortis.”
Mortis tidak membantah.
Dan justru karena itulah—
Monn merasa lebih takut daripada sebelumnya.