Pagi datang tanpa suara.
Cahaya matahari perlahan menyelinap melewati dedaunan Haven Tree, jatuh dalam bentuk bayangan-bayangan kecil di lantai kayu rumah Evan.
Koda masih tidur.
Posisinya kali ini cukup normal.
Kepalanya berada di atas kasur kecil yang disediakan Evan, sementara separuh tubuhnya menjulur keluar.
Evan sendiri sudah bangun sejak beberapa menit lalu.
Bukan karena rajin.
Bukan juga karena ingin menikmati matahari pagi.
Ia hanya terbangun karena perutnya lapar.
Evan duduk di ujung tempat tidur sambil menguap panjang.
Rambut hitamnya berantakan ke segala arah. Ia mengambil topi jerami yang tergantung di samping tempat tidur, memasangnya, lalu berjalan menuju dapur kecil.
Di tengah perjalanan, kakinya berhenti.
Ia melihat ke luar jendela.
Burung pemangsa yang kemarin ia lihat kembali berada di salah satu cabang Haven Tree.
Burung itu sedang membersihkan bulu sayapnya.
Evan memperhatikannya beberapa detik.
"Lu ternyata masih di sini."
Burung itu menoleh.
Mata mereka bertemu.
Kemudian burung itu kembali membersihkan bulunya.
Evan mengangguk pelan.
"Yaudah."
Ia melanjutkan perjalanan.
Prioritas tetap sarapan.
---
Setelah sarapan sederhana, Evan turun dari rumah pohon bersama Koda.
Pagi itu The Living Haven terlihat jauh lebih hidup dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Kelinci mulai berkeliaran di rerumputan.
Kawanan bebek bergerak menuju area air dangkal.
Kambing-kambing berada tidak jauh dari pagar.
Beberapa burung kecil terbang dari satu pohon ke pohon lainnya.
Evan berdiri sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Ia memperhatikan semuanya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan pada hewan-hewan tersebut.
Melainkan pada tempat ini.
Dulu ia hanya melihat sebuah lembah luas dengan sebuah danau.
Sekarang ia mulai melihat sebuah ekosistem.
Tempat hidup.
Tempat yang perlahan-lahan mulai memiliki penghuni.
"Masih kecil banget," gumam Evan.
Koda menggonggong.
"Jangan tersinggung. Lu juga kecil."
Koda langsung memalingkan wajah.
"Drama."
Evan tertawa kecil.
Ia kemudian membuka panel sistem.
Antarmuka transparan muncul di hadapannya.
---
[Zoo Management System]
Nama: The Living Haven
Status: Kebun Binatang
Penghuni Terdaftar: 14
Spesies Terdaftar: 5
Fasilitas Aktif: 3
Wilayah Eksplorasi: Everdawn Valley
[Pemberitahuan]
Fasilitas baru hampir dapat diakses.
Syarat tambahan sedang dievaluasi.
---
Evan mengangkat alis.
"Hampir lagi?"
Ia sudah melihat pemberitahuan serupa sebelumnya.
Tapi kali ini ia tidak langsung menunggu sistem membuka sesuatu.
Ia menutup panel.
"Kalau memang belum bisa, berarti belum."
Koda menatapnya.
Evan menunjuk ke arah hutan.
"Kita cari penghuni baru."
Ekor Koda langsung bergerak.
"Jangan berharap banyak. Kita cuma lihat-lihat."
Koda tetap berjalan di depan.
---
Mereka meninggalkan area utama The Living Haven.
Semakin jauh dari danau, semakin lebat pepohonan yang mereka temui.
Hutan di Everdawn Valley berbeda dengan hutan yang pernah Evan jelajahi di Bumi.
Beberapa pohon memiliki batang yang jauh lebih besar.
Ada tanaman dengan daun berwarna kemerahan.
Jamur-jamur kecil tumbuh di sekitar akar.
Namun sebagian besar kehidupan di dalamnya masih terasa familiar.
Burung.
Serangga.
Tupai.
Kadal.
Tanaman liar.
Evan berhenti beberapa kali hanya untuk memperhatikan jejak di tanah.
"Ini rusa."
Ia berjongkok.
Jejak kuku terlihat cukup jelas di tanah lembap.
"Masih baru."
Koda mengendus tanah.
Kemudian berjalan ke arah kiri.
Evan mengikuti.
Beberapa menit kemudian, mereka menemukan sesuatu.
Bukan rusa.
Melainkan pohon yang kulit batangnya tergores.
Evan mendekat.
Ia mengamati bekas tersebut.
"Beruang."
Koda langsung berhenti.
Telinganya berdiri.
Evan meliriknya.
"Tenang. Jejaknya sudah lama."
Koda tetap waspada.
"Lu lebih takut daripada waktu ketemu kambing."
Koda menatap Evan.
Evan mengangguk.
"Ya, gua juga nggak tahu kenapa."
Mereka melanjutkan perjalanan.
Namun setelah beberapa ratus meter, Evan mencium aroma yang berbeda.
Ia berhenti.
Aroma tanah basah bercampur dengan sesuatu yang lebih tajam.
Kemudian terdengar suara.
Krakk.
Sebuah ranting patah.
Koda langsung menoleh.
Evan mengangkat tangan.
"Diam."
Mereka menunggu.
Hutan kembali sunyi.
Kemudian terdengar suara langkah kecil.
Tap.
Tap.
Tap.
Dari balik semak muncul seekor rubah.
Tubuhnya ramping.
Bulunya berwarna cokelat kemerahan dengan bagian bawah tubuh yang lebih terang.
Rubah itu berhenti ketika melihat Evan.
Koda juga melihatnya.
Tidak ada yang bergerak.
Evan perlahan berjongkok.
"Hei."
Rubah itu mundur satu langkah.
Evan tidak mendekat.
Ia hanya mengeluarkan sepotong kecil makanan dari kantongnya dan meletakkannya di tanah.
Kemudian ia mundur.
Rubah tersebut mengamati makanan itu.
Lalu mengamati Evan.
Beberapa detik berlalu.
Rubah itu maju.
Satu langkah.
Dua langkah.
Ia mengambil makanan tersebut dan mundur lagi.
Evan tersenyum.
"Ya. Jangan buru-buru."
Rubah itu mulai makan.
Evan tidak melakukan apa-apa.
Ia hanya duduk di tanah.
Koda ikut duduk.
Beberapa saat kemudian, rubah tersebut selesai makan.
Ia tidak langsung pergi.
Ia justru duduk beberapa meter dari mereka.
Evan memperhatikan bentuk tubuhnya.
Tidak ada tanda-tanda cedera.
Bulu bersih.
Gerakannya normal.
Matanya juga jernih.
"Sehat."
Ia kemudian melihat ke arah sistem.
Panel muncul.
---
[Makhluk terdeteksi.]
Spesies: Rubah Merah
Kategori: Hewan Modern
Status: Liar
Kondisi: Sehat
[Pendaftaran sebagai penghuni The Living Haven tersedia.]
---
Evan diam.
Ia melihat rubah itu.
Kemudian melihat panel.
Kemudian kembali melihat rubah.
"Enggak."
Koda menoleh.
Evan menggaruk dagunya.
"Dia nyaman di sini."
Rubah itu berdiri.
Ia melihat Evan sekali lagi.
Kemudian berbalik dan berjalan menuju hutan.
Evan tidak mengejarnya.
"Kalau dia mau datang, biar dia datang sendiri."
Panel sistem berubah.
---
[Keputusan diterima.]
[Makhluk liar tidak wajib menjadi penghuni.]
[The Living Haven menghormati pilihan makhluk hidup.]
---
Evan tersenyum kecil.
"Bagus."
Ia berdiri.
"Setidaknya sistem lu ngerti."
---
Mereka melanjutkan perjalanan.
Tidak lama kemudian, Evan menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik.
Sebuah sungai kecil.
Airnya mengalir dari arah pegunungan dan menuju Main Lake.
Lebarnya tidak lebih dari beberapa meter.
Airnya jernih.
Batu-batu besar terlihat di dasarnya.
Dan di antara batu tersebut...
Ada beberapa ikan.
Evan langsung berhenti.
"Oh."
Ia berjongkok di tepi sungai.
Ikan-ikan kecil bergerak cepat ketika bayangannya jatuh ke air.
Evan memperhatikan bentuk tubuh mereka.
"Bukan ikan yang ada di danau."
Ia mengeluarkan buku catatan kecil.
Kebiasaan lama.
Sebagai seorang biologist, melihat spesies baru selalu membuat rasa penasarannya muncul.
Ia menggambar bentuk sederhana ikan tersebut.
Kemudian menuliskan beberapa catatan.
Koda malah sudah bermain dengan air.
"Koda."
Byur!
Koda menggoyangkan tubuhnya.
Air mengenai celana Evan.
Evan menatapnya.
"..."
Koda tersenyum dengan cara yang hanya bisa dilakukan seekor anjing.
"Lu memang cari masalah."
Koda menggonggong.
Evan menghela napas.
Tapi ia tidak marah.
Sudah biasa.
---
Setelah hampir satu jam menjelajah, Evan menemukan sebuah area terbuka di tengah hutan.
Rumput tumbuh rendah.
Ada beberapa pohon buah liar.
Dan di ujung area itu terdapat sekumpulan rusa.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Seekor rusa jantan berdiri paling depan.
Tanduknya cukup besar.
Ia memperhatikan Evan dari kejauhan.
Evan tidak mendekat.
Ia hanya berdiri.
Rusa-rusa itu juga tidak panik.
Mereka hanya mengawasi.
Evan tersenyum.
"Jadi kalian juga di sini."
Ia sudah melihat jejak mereka sebelumnya.
Sekarang ia akhirnya menemukan sumbernya.
Sistem muncul.
---
[Spesies terdeteksi.]
Spesies: Rusa
Kategori: Hewan Modern
Status: Liar
[Pendaftaran sebagai penghuni tersedia.]
---
Evan melihat rusa-rusa itu.
Kemudian melihat lembah.
The Living Haven sudah memiliki kelinci, bebek, kambing, dan burung.
Namun belum memiliki hewan besar yang benar-benar hidup bebas di habitat luas.
Ia mulai memikirkan sesuatu.
Bukan kandang.
Bukan pagar kecil.
Melainkan sebuah habitat.
Tempat yang cukup luas sehingga rusa-rusa itu tidak merasa seperti berada di dalam penjara.
Evan membuka panel pembangunan.
Beberapa pilihan muncul.
---
[Fasilitas Habitat]
Paviliun Savana — Terkunci
Paviliun Hutan — Terkunci
Paviliun Temperate — Terkunci
Paviliun Gurun — Terkunci
Paviliun Dataran Beku — Terkunci
Paviliun Pegunungan — Terkunci
---
Evan membaca semuanya.
Kemudian tertawa kecil.
"Baru punya lima spesies udah disuruh mikirin beginian."
Ia menutup panel.
Belum waktunya.
Ia masih harus memahami tempat ini terlebih dahulu.
Ketika Evan kembali melihat ke arah rusa, seekor anak rusa keluar dari belakang induknya.
Anak itu menatap Koda.
Koda menatap balik.
Keduanya diam.
Koda kemudian memiringkan kepala.
Anak rusa ikut memiringkan kepala.
Evan menahan tawa.
"Jangan mulai."
Koda melangkah maju.
Evan langsung memegang kerahnya.
"Enggak."
Koda menoleh.
"Jangan ganggu mereka."
Koda duduk.
Rusa-rusa itu perlahan bergerak menjauh.
Evan membiarkannya.
Ia berdiri sambil memasukkan tangan ke saku.
"Kalau suatu hari mereka datang sendiri ke Haven..."
Ia melihat arah lembah.
"...gua bakal siapin tempat."
---
Matahari sudah mulai turun ketika Evan dan Koda kembali.
Begitu mereka keluar dari hutan, sesuatu membuat Evan berhenti.
Di kejauhan, dekat Haven Tree, burung pemangsa yang selama beberapa hari terakhir ia lihat sedang terbang rendah.
Burung itu berputar satu kali.
Kemudian turun.
Ia tidak mendarat di cabang.
Ia justru mendarat di tanah beberapa meter dari jalan utama.
Evan memperhatikannya.
Burung itu berdiri tegak.
Matanya tajam.
Ia tidak terlihat takut.
Evan perlahan mendekat.
Namun burung itu tidak pergi.
Evan berhenti pada jarak aman.
"Lu lagi."
Burung tersebut memiringkan kepala.
Evan tersenyum.
"Kayaknya lu punya urusan sama tempat ini."
Koda duduk di samping Evan.
Burung itu melihat mereka berdua.
Lalu melihat ke arah hutan.
Kemudian kembali menatap Evan.
Untuk sesaat, Evan merasa seolah-olah burung itu ingin menunjukkan sesuatu.
Ia mengerutkan kening.
"Lu mau nunjukin sesuatu?"
Burung itu mengepakkan sayap.
Kemudian terbang.
Bukan menjauh.
Ia terbang menuju hutan.
Evan melihatnya sampai menghilang di antara pepohonan.
Panel sistem muncul.
---
[Peringatan]
Makhluk terbang terdeteksi berada dalam radius The Living Haven.
Identifikasi spesies belum dikonfirmasi.
Status: Liar.
---
Evan membaca pesan itu.
Kemudian tersenyum tipis.
"Besok kita lihat."
Koda menggonggong.
Evan menoleh.
"Lu jangan ikut terbang."
Koda mengeluarkan suara pendek.
"Ya. Gua tahu."
Evan berjalan menuju rumah pohon.
Hari itu ia tidak membawa penghuni baru.
Tidak ada fasilitas baru.
Tidak ada pencapaian besar.
Namun untuk pertama kalinya sejak The Living Haven berdiri, Evan mulai memahami sesuatu.
Tidak semua kehidupan harus dikumpulkan.
Sebagian cukup dibiarkan datang dan pergi.
Sebagian membutuhkan tempat tinggal.
Sebagian hanya perlu dilindungi.
Dan sebagian...
mungkin suatu hari akan memilih sendiri untuk tinggal.
Di atas Haven Tree, burung pemangsa tadi kembali bertengger.
Matanya mengarah ke lembah.
Jauh di balik hutan, sesuatu bergerak.
Bukan rusa.
Bukan beruang.
Dan bukan pula hewan yang sudah Evan kenal.
Burung itu mengepakkan sayap sekali.
Lalu mengeluarkan suara nyaring yang menggema di seluruh lembah.
Evan berhenti di balkon rumahnya.
Ia menatap hutan.
"...Kayaknya besok gua nggak bakal santai."
Koda duduk di sampingnya.
Untuk pertama kalinya, anjing itu juga tidak menggonggong.
Mereka berdua hanya menatap kegelapan yang perlahan turun di atas Everdawn Valley.