Chapter 8 of 10

Chapter 8 — Mencari Penghuni Baru

1.1k words

Pagi berikutnya, Evan sudah berada di luar rumah sebelum matahari naik terlalu tinggi. Bukan karena rajin. Ia hanya sedang penasaran. Di tangannya terdapat buku catatan, sementara di bahunya tergantung tas kecil berisi air dan beberapa makanan. Koda berjalan di sampingnya. “Target hari ini,” kata Evan sambil menguap, “cari spesies baru.” “Woof!” “Dan jangan mengejar mereka.” Koda menoleh. “Woof.” “Gua serius.” Koda memalingkan wajah. Evan menyipitkan mata. “Gua kenal tatapan lu.” Mereka meninggalkan area The Living Haven melalui jalur kecil menuju padang rumput di sebelah timur. Sejak status tempat itu berubah menjadi kebun binatang, Evan mulai melihat lingkungan sekitar dengan cara berbeda. Sebelumnya ia hanya melihat lembah. Sekarang ia melihat habitat. Padang rumput. Hutan kecil. Sungai. Tebing. Daerah berbatu. Danau. Masing-masing memiliki kehidupan sendiri. “Kalau mau bikin kebun binatang yang bagus,” gumam Evan, “gua harus tahu apa yang sebenarnya hidup di sekitar sini.” Ia berhenti. Di depannya terdapat beberapa tanaman tinggi. Daunnya bergerak meskipun angin hampir tidak ada. Evan berjongkok. Ada bekas gigitan. “Herbivora.” Ia mengikuti jejak tersebut. Beberapa meter kemudian, ia menemukan kotoran kecil di antara rumput. Evan mengamati bentuknya. “Bukan kelinci.” Koda mengendus. Kemudian berjalan ke kiri. Evan mengikuti. Mereka menemukan jejak kaki bercabang. Evan tersenyum. “Rusa.” Jejak itu masih baru. Mereka terus berjalan. Tidak lama kemudian, suara langkah terdengar dari balik pepohonan. Evan langsung berhenti. Koda ikut berhenti. Beberapa detik kemudian— seekor rusa muncul. Tubuhnya ramping. Bulu cokelat. Tanduk kecil. Ia sedang makan daun. Evan tidak bergerak. Rusa itu menatapnya. Evan menahan napas. Kemudian perlahan duduk di tanah. “Tenang.” Rusa tersebut tidak pergi. Koda juga diam. Evan tersenyum. “Bagus.” Ia tidak mendekat. Tidak mencoba menyentuh. Hanya mengamati. Beberapa menit kemudian, rusa itu kembali makan. Evan membuka buku. Rusa lokal. Habitat: Padang rumput dan hutan terbuka. Makanan: Daun, rumput, tunas. Ia mengangkat kepala. “Spesies kelima.” System muncul. [Spesies baru teridentifikasi.] [Rusa.] [Kategori: Hewan Modern.] Evan mengangguk. Namun kemudian ia melihat sesuatu. Rusa itu tiba-tiba mengangkat kepala. Telinganya bergerak. Matanya mengarah ke hutan. Evan ikut melihat. Ada suara ranting patah. Krek. Rusa itu langsung berlari. Koda berdiri. “Jangan.” Koda tetap diam. Dari balik pepohonan muncul dua ekor rusa lain. Kemudian seekor anak rusa. Evan tersenyum. “Sekeluarga.” Ia memperhatikan mereka sampai menghilang di balik pepohonan. “Berarti habitat mereka gak jauh dari sini.” Evan menulis catatan tambahan. Kelompok rusa terdeteksi. Tidak perlu dipindahkan. Ia menutup buku. “Kalau mereka nyaman di sana, biarkan.” Koda menatap Evan. “Woof.” “Kenapa?” Koda berjalan menuju hutan. Evan mengikuti. “Lu nemu sesuatu?” Koda berhenti di dekat pohon besar. Ia mengendus tanah. Evan melihat ke bawah. Bulu. Hitam. Evan mengambil satu helai menggunakan ranting. “Hmm.” Ia melihat sekeliling. “Bukan rusa.” Bulu itu cukup panjang. Ada bekas cakaran pada batang pohon. Tinggi. Sangat tinggi. Evan mendongak. “Beruang?” Koda langsung melihat ke atas. Evan mengamati bekas cakaran. Empat garis panjang. “Sepertinya.” Ia menulis. Beruang — kemungkinan. Kemudian ia berhenti. “Kalau memang ada beruang di sini...” Ia melihat The Living Haven dari kejauhan. “...berarti nanti harus hati-hati kalau bikin jalur pengunjung.” Untuk pertama kalinya sejak kebun binatang itu berdiri, Evan mulai memikirkan pengunjung secara serius. Bukan karena ia ingin cepat terkenal. Namun karena kebun binatang yang memiliki habitat alami di dekatnya harus mempertimbangkan kehidupan liar di luar area. “Gak semua hewan yang gua temukan harus masuk zoo.” Ia memasukkan tangan ke saku. “Sebagian lebih baik tetap liar.” Koda menggonggong. “Woof.” “Betul.” Mereka melanjutkan perjalanan. Menjelang siang, mereka sampai di sebuah bukit kecil. Dari sana, Evan bisa melihat hampir seluruh Everdawn Valley. Main Lake terlihat berkilau. The Haven Tree tampak seperti titik hijau besar di tengah danau. Rumah pohon miliknya hampir tidak terlihat dari kejauhan. Evan duduk di atas batu. Ia membuka bekal. “Waktu makan.” Koda langsung duduk di depannya. “Lu dari tadi nunggu ini?” “Woof.” “Jujur banget.” Evan memberikan makanan Koda. Kemudian makan miliknya sendiri. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Kemudian terdengar suara dari atas. Huuuu... Evan mendongak. Seekor burung besar terbang melingkar. Ia mengenali bentuknya. Burung pemangsa yang kemarin. “Ah.” Evan mengambil buku. Burung itu turun. Semakin rendah. Kemudian mendarat di batu beberapa meter dari mereka. Koda menatapnya. Evan menahan bahunya. “Jangan.” Koda tetap duduk. Burung itu memandang mereka. Matanya tajam. Evan tidak bergerak. Ia memperhatikan bentuk kepala, paruh, sayap, dan pola bulunya. “Falcon?” Burung itu mengangkat sayap sedikit. Kemudian memiringkan kepala. Evan tersenyum. “Gua tebak aja.” System muncul. [Spesies belum dapat dikonfirmasi.] Evan mengangguk. “Yaudah.” Ia tidak memaksa. Burung itu akhirnya terbang lagi. Namun sebelum pergi, ia mengitari The Living Haven satu kali. Kemudian menghilang di balik gunung. Evan memperhatikannya. “Burung itu sering patroli di sekitar sini.” Ia menulis catatan. Burung pemangsa besar. Perilaku: Mengamati area dari ketinggian. Kemungkinan menetap di wilayah sekitar. Setelah makan, Evan dan Koda kembali. Saat mereka mendekati The Living Haven, Evan melihat sesuatu yang baru. Sekelompok burung kecil sedang berada di pepohonan dekat gerbang. Ada lebih banyak dari kemarin. Dan beberapa kelinci berada di luar area perlindungan. Evan tersenyum. “Kayaknya mereka mulai nyaman.” Ia membuka System. [Status The Living Haven] [Penghuni terdaftar: 14] [Spesies terdaftar: 5] [Spesies yang mengunjungi wilayah: 11] Evan mengangkat alis. “Sebelas?” [Spesies yang telah terdeteksi di sekitar wilayah.] “Berarti yang tinggal cuma lima belas? Yang lain cuma lewat?” [Benar.] Evan mengangguk. “Menarik.” Ia memandang lembah. Mungkin inilah yang paling ia sukai. The Living Haven bukan pulau buatan yang terpisah dari alam. Ia terhubung dengan ekosistem di sekitarnya. Hewan liar bisa datang. Pergi. Kembali. Dan memilih sendiri apakah mereka ingin berada di dekat manusia. Evan tersenyum. “Jangan-jangan kebun binatang gua nanti malah punya lebih banyak hewan liar daripada hewan yang didaftarkan.” System diam. “...Itu bukan pertanyaan.” Tetap diam. Evan tertawa. Malamnya, ia kembali ke rumah pohon. Namun sebelum tidur, ia membuka buku catatannya. Hari ini ia menulis beberapa hal. Spesies baru: Rusa. Spesies potensial: Beruang. Burung pemangsa: belum teridentifikasi. Spesies sekitar wilayah: 11+. Kemudian ia menulis satu kalimat terakhir: Tidak semua kehidupan harus menjadi penghuni. Evan berhenti. Ia melihat kalimat tersebut. Kemudian tersenyum. “Kayaknya ini penting.” Ia menutup buku. Namun sebelum ia sempat berbaring— [Pemberitahuan.] Evan membuka satu mata. [Kriteria fasilitas baru hampir terpenuhi.] “Fasilitas apa?” [Informasi akan tersedia setelah persyaratan terpenuhi.] Evan menatap System. “Gua mulai benci kalimat itu.” [Pernyataan dicatat.] “Lu bisa nyatet?” [Tidak.] “...” Evan menarik selimut. “Besok aja.” Di luar rumah, angin malam bergerak melewati The Haven Tree. Jauh di padang rumput, kawanan rusa bergerak menuju hutan. Burung-burung mencari tempat tidur. Kelinci kembali ke sarangnya. Dan di atas salah satu cabang tertinggi— burung pemangsa yang tadi ditemui Evan kembali bertengger. Mengawasi lembah. Mengawasi The Living Haven. Tanpa diketahui Evan, makhluk itu akan menjadi salah satu penghuni pertama yang memilih untuk tinggal dekat tempat tersebut. Namun untuk sekarang— Evan tidur nyenyak. Karena besok ia punya satu rencana sederhana. Mencari lebih banyak kehidupan.

End of Chapter 8